Manusia tak pernah tahu bahwa di dunia ini tidak ada yang abadi. Kekekalan dan keabadian hanya akan ada di akhirat. Wajah-wajah semua di muka bumi ini suatu saat akan hancur dan musnah kecuali wajah Sang Pencipta. Tak seorangpun yang dapat mengelak dari takdir dan kuasa Allah SWT. Melalui bencana, Tuhan memperingatkan atas kelalaian dan kesombongan manusia di muka bumi ini. Tapi manusia tak pernah sadar akan semua itu, manusia hanya berpikir bahwa bencana terjadi karena peristiwa alam. Perbuatan manusia di dunia semua akan dipertanggungjawabkan di akhirat nanti. Sungguh rugi manusia hidup di dunia, bila tidak pernah ingat akan kematian. Seiring waktu bergulir, detik, menit, hari, bulan, tahun ajal manusia pasti sampai. Dari hal di atas dapat disimpulkan bahwa di dunia tidak ada yang abadi, akhiratlah yang selamanya abadi.
Identitas Buku :
Judul : ‘Aisyah Yang Cerdas Dan Yang Dicinta
Judul Asli : Qishshoh A’zhom Zaujah
Penulis : Ahmad Ibu Salim Baduwilan
Penerjemah : Kamran As’at Irsyady, Lc
Cetakan : Pertama, Juli 2007
Tebal : 197 halaman
“WANITA TELADAN”
Mendengar kata ’Aisyah, tentu akan terbayang oleh kita kecantikannya, kecerdasannya dalam ilmu fiqih dan hukum, kemampuannya dalam menghafal Hadits Nabi, kebersahajaannya dalam hidup, dan masih banyak lagi predikat kebaikan lainnya yang Allah anugerahkan kepada dirinya untuk kemaslahatan dirinya, orang-orang disekitarnya, dan seluruh umat manusia yang mau mengambil pelajaran, kebaikan, dan contoh teladan darinya.
Keunggulannya dalam menyerap ilmu dari perguruan tinggi kenabian dan kemampuannya menghafal setiap materi yang dia terima dari guru besarnya, utusan Allah, telah menghasilkan bahan pendidikan yang dapat kita manfaatkan sepanjang hayat. Bahkan banyak riwayat Hadits yang mencapai ribuan telah sering kita baca sampai sekarang.
Selain itu, ‘Aisyah merupakan guru teladan dan seorang sosok problem solver yang sangat mumpuni, ketika isu tersebarnya skandal perselingkuhan melanda dirinya hingga banyak kalangan mencap dan memberinya predikat yang sungguh tidak layak disandang, mengingat asal keturunannya, suaminya, latar belakang hidupnya yang menjadikan dia seorang yang bersahaja, dan pendidikan yang dikenyamnya selama berdampingan dengan manusia terpilih dan terbaik Rasulullah. ‘Aisyah yang suci dan disucikan, yang jujur, bersahaja, dan putri seorang Shiddiq (yang bersahaja), telah mampu memecahkan problem yang sangat besar, bahkan mungkin sulit bagi orang zaman sekarang siapapun dia, ketika mengalami sesuatu yang bisa jadi merupakan cobaan terbesar yang pernah menimpa seorang wanita baik-baik dan terhormat, yaitu tuduhan berzina, sehingga menyebarlah berbagai isu miring mengenai dirinya yang bergerak cepat seperti api membakar rumput kering, untuk memecahkan masalah ini secara sendirian tanpa bantuan dan dukungan dari siapapun.
Kestablian dan ketegaran jiwa dalam menghadapi krisis serta kecerdasan dan kesigapannya mengambil langkah menyelesaikan masalah yang menjadi kunci keberhasilan menghadapi masalahnya, telah meluluskan ujian dan menyelamatkannya dari tujuan jahat tersebut. Kebersahajaan, ketawadhu’an, dan penistaan dirinya di hadapan Allah, terwujud dengan sikapnya memohon pertolongan kepada Allah lewat do’a, sholat, dzikir, berbaik sangka kepada Allah dan kaum muslimin yang terkait dengan masalahnya, dan tetap optimis.
Sungguh, ‘Aisyah ibunda kaum mukminin, sangat layak kita kagumi dan kita jadikan sosok teladan, khususnya bagi kaum wanita, yang tak akan pernah sirna ditelan zaman. Dia telah memberi banyak informasi kenabian dan hukum Al Qur’an sebagai pedoman dan penyelamat hidup kita.
Untuk mengetahui lebih jauh bagaimana sosok wanita cerdas, cantik, dan bersahaja, serta pakar fiqih dan ahli hukum yang rendah hati ini, penerbit Irsyad Baitus Salam menyajikan buku ‘Aisyah yang Cerdas dan yang Dicinta, yang diangkat dari karya tulis Ahmad Ibnu Salim Badwilan dari bukunya berjudul Qishshoh A’zhom Zaujah. Penerbit mengemasnya dengan bahasa yang sangat sederhana dan untaian kata yang cukup menarik, sehingga pembaca mendapatkan sesuatu yang lebih dari buku ini, serta dapat mengambil ibrah, teladan, dan manfaat yang sebesar-besarnya.
SEJARAH SINGKAT
1. Nabi Adam AS.
Sesudah langit dan bumi, malaikat, jin dan iblis diciptakan maka Allah hendak menciptakan makhluk yang akan diperintah untuk mengelola bumi. Hal itu diutarakan kepada para malaikat, “Aku akan menciptakan manusia untuk menjadi pengatur di bumi”. Demikianlah Allah kemudian menciptakan Adam dari tanah liat dan lumpur hitam. Setelah terbentuk kemudian dimasukkan roh kedalamnya.
Adam merasa kesepian karena tidak memiliki pasangan. Allah maha tau, maka ketika Adam tertidur di bawah pohon yang teduh, Allah menciptakan manusia, yang berasal dari tulang rusuk Adam, yang bernama Hawa. Adam sangat terkejut, ketika terbangun, karena di sampingnya telah duduk seorang wanita cantik, indah dan menakjubkan. Wanita itu berkata bahwa ia akan mendampingi hidupnya. Mereka hidup bahagia di surga. Mereka boleh bersenang-senang sepuas hati, namun mereka dilarang untuk memakan buah khuldi.
Suatu ketika iblis berhasil masuk surga. Ia berusaha membujuk Adam dan Hawa untuk memakan buah khuldi, namun Adam dan Hawa tidak terbujuk rayuanya. Iblis tidak putus asa. Saat Adam dan Hawa baru berjalan-jalan keliling surga, mereka berdua kelelahan. Iblis mendekatinya dan menyuruh untuk memakan buah khuldi. Iblis berkata bila mereka memakan buah itu, maka akan hidup kekal tanpa mengalami kematian. Adam Hawa mulai mendengar perkataan iblis, iblis juga bersumpah atas nama Allah, kalau ia merasa kasihan dengan Adam Hawa. Kemudian Adam Hawa percaya dengan perkataan iblis dan kemudian mereka memakan buah tersebut. Allah mencela perbuatan mereka. Allah berkata jika syetan adalah mungsuh nyata mereka. Setelah makan buah itu, aurat mereka terbuka. Mereka menutup auratnya dengan daun yang ada di surga. Dengan tertunduk malu dan menyesal, mereka telah mengakui kesalahanya dan apabila Allah tidak mengampuni mereka dan memberi rahmat kepada mereka, maka mereka termasuk golongan orang yang merugi.
2. Nabi Idris AS.
Nabi Idris adalah turunan keenam Nabi Adam. Menurut riwayat Nabi Idris bermukim di Mesir. Berdakwah untuk agama Allah. Serta memberi petunjuk kepada pengikutnya agar senantiasa menetapi kebenaran menyelamatkan diri dari siksan akhirat dan kehancuran serta kebinasaan dunia.
Disebutkan dalam suatu riwayat bahwa Nabi Idris adalah orang yang pertama mengajarkan tentang menjahit, menata pakaian, ilmu falak, dan tulis menulis dengan pena. Menurut tafsir Ibnu Hatim, Nabi Idris wafat takala berada di langit ke 4 dan dibawa malaikat. Konon demikian cerdiknya Nabi Idris ini sehingga ia pernah melihat surga dan neraka.ia ingin menetap di surga itu hanya dihuni setelah hari kiamat maka ia tidak diperkenankan tinggal disana. Maka ia hendak kembali ke dunia. Nabi Idris tidak mau kembali ke dunia karena nyawanya telah dicabut maka ia memilih tinggal di langit.
3. Nabi Nuh AS.
Nabi Nuh adalah orang cerdas dan sabar. Ia mengajak kaumnya melihat alam semesta ciptaan Allah. Langit dengan bulan bintang dan mataharinya, bumi dan kekayaan yang ada di dalamnya. Semua itu menjadi buti tanda kekuasaan dan keesaan Allah. Dakwah Nabi Nuh di lakukan dengan giatsiang dan malam.baik secara sembunyi dan terang-terangan. Nabi Nuh diangkat menjadi Nabi atau Rasul ketika usia 450 tahun dan wafat pada usia 950 tahun. Meski demikian pengikut Nabi Nuh hanya sedikit dan tidak lebih dari 100 orang. Pengikut Nabi Nuh kebanyakan hanya para kafir miskin para bangsawan, orang-orang kaya dan terpandang di masyarakat malah memusuhinya. Setelah dakwah disampaikan menemukan jalan buntu dan pengikutnya tidak bertambah maka Nabi Nuh mengadukan kaumnya itu kepada Tuhan dan berdoa. Allah mengabulkan doa Nabi Nuh dan memberi petunjuk agar Nabi Nuh membuat kapal yang sangat besar, dengan perahu itu Nabi Nuh dan kaumnya yang beriman akan selamat, sedangkan kaumnya yang ingkar akan di tenggelamkan dengan banjir yang sangat besar sehingga tak seorangpun dari mereka ada yang selamat. Semua akan binasa.
4. Nabi Hud AS.
Nabi Hud adalah seseorang yang berlapang dada, berbudi tinggi, pengasuh, penyantun, sabar namun tegas dan cerdas. Beliau di utus ketengah-tengah kaumnya untuk menegakkan kebali ajaran yang benar. Mengembalikan umat yang tersesat dan begelimang dosa menuju jalan yang terang di bawah ampunan Allah. Tetapi ajakan Nabi Hud kepada kaumnya hanya di lecehkan. Bahkan mereka berani mencerca Nabi Hud dan perbuatanya makin keterlaluan, maksiat merajalela.
Allah menurunkan azab atas kedurhakaan mereka. Bangsa Add kemudian ditimpa musim kemarau panjang selama 3 tahun. Belum keadaan demikian Nabi Hud masih berkenaan memberikan peringatan kepada kaumnya. : “Hai kaumku, mohon ampunlah kamu kepada Allah, niscaya Allah akan menurunkan hujan yang deras atasmu dan menambah kekuatanmu dan berpalinglah dari dosa”
5. Nabi Shalih AS.
Nabi Shalih adalah keturunan Nabi Nuh AS. Menurut silsilah beliau adalah putra Ubaid bin Isamud bin Amir bin Iram bin Sam bin Nuh AS. Nabi Shalih diutus di tengah-tengah Tsamud, bekas reruntuhan kaum Add. Bangsa Tsamud ternyata lebih pandai dari kaum Add. Bangsa Tsamud mengerjakan dosa, kemaksiatan, kedurhakaan dan menyembah berhala. Nabi salih berkata pada kaumnya, agar kaumnya mau menyembah Allah, dan jangan menyembah selain Allah. Kaum Tsamud tak menghiraukan Nabi Shalih berdakwah tanpa mengharapkan upah dari kaumnya. Kaum Tsamud menuntut Nabi Shalih untuk mengeluarkan mukjizat. Nabi Shalih berdoa kepada Allah agar diberikan mukjzat dan Allah mengabulkan doanya. Orang-orang kafir terkejut melihat onta besar dan gemuk, Nabi Shalih berpesan supaya kaumnya memeras susu unta tersebut. Syaratnya jika hari ini unta minum air maka penduduk tidak boleh mengambil air sumur ataupun sebaliknya.
Suatu hari orang-orang kafir mengadakan sayembara, siapa yang dapat mebunuh unta tersebut maka berhak mendapat perempuan cantik. Ada 2 orang pemuda yang mengikuti sayembara tersebut dan berhasil membunuh onta tersebut. Nabi Shalih memberikan waktu 3 hari untuk bangsa Tsamud agar bertobat. Namun mereka tidak menghirokanya. Setelah 3 hari datanglah sebuah bencana yang amat besar.
6. Nabi Ibrahim AS.
Beliau adalah putra Aazar (Tarih) bin Jarih bin Tanur bin Siruj bin Ra’u bin Falij bin ‘Abir bin Syalh bin Arfaksyad bin Sam bin Nuh as.. Lahir di Faddam A’ran wilayah kerajaan Babilon, yang waktu itu di perintah raja bengis dan mempunyai kekuasaan absolut yaitu Namrudz sebelum lahir raja Namrudz bermimpi melihat seoarang anak lelaki dapat masuk ke dalam kamarnya lalu mencapai mahkota dan menghayutkanya. Ibrahim lahir dan dibesarkanya di goa. Suatu saat Ibrahim mencoba keluar dari goa ia sangat takjub. Nabi Ibrahim mengajak kaumnya untuk meninggalkan penyembahan terhadap berhala. Ayah Ibrahim adalah pembuat berhala, dan Ibrahim mengajak ayahnya ikut dengan dia tapi ayahnya tidak mau. Nabi Ibrahim seorang Nabi yang cerdas dan ahli logika dan strategi yang ulung. Karena sudah merasa tidak aman Ibrahim dan istrinya memutuskan untuk pindah ke Syam (Palistina) Ibrahim dapat hidup tentram dan makmur dan harta yang berlimpah ruah.
7. Nabi Luth AS.
Anak dari saudara Nabi Ibrahim, ia ditugaskan di negeri Sadum (Sodom) penduduknya berkelakuan hina dan keji. Nabi Luth memberikan nasiahat padanyaagar mengingat adanya hari pembalasan dan ayazab allah yang sangat keji. Masarakatnya menentang Nabi Luth, para malaikat datang kerumah Nabi Luth dan menjelaskan kedatanganya, bahwa azab Allah akan datang pada kaum Luth, sebab itu Luth dan kaumnya pergi pada tengah malam. Kaum Nabi Luth yang durhaka itu dihujani dengan batu dari tanah yang terbakar.
8. Nabi Ismail AS.
Siti Hajar adalah ibu Nabi Ismail, karena perintah Allah Ibrahim neninggalkan Siti Hajar dan Ismail di Mekah yang saat itu tdak ada air dan tanaman.ketika bekal mereka habis, siti hajar berlari dari gunung Saffa dan gunung Marwa tetapi tak mendapatkan air, waktu kembali ke tempat anaknya, di tempat itulah keluar air. Saat Ismail dapat berlari dan berbicara, Allah memerintahkan untuk menyembelih ananknya, Ismail bersedia namun saat di sembelih Allah menggantikan Ismail dengan kambing besar. setelah besar Nabi Ismail dan Nabi Ibrahim di perintahkan mendirikan Ka’bah. Setelah selesai mereka diperintahkan untuk mengajak kaumnya menunaikan Haji.
9. Nabi Ishak AS
Ishak adalah putra Ibrahim dari istrinya Sarah. Pada saat Ishak menjadi Nabi, umatnya bisa hidup dengan tenang dan rukun dan diberi rahmat kemakmuran yang melimpah ruah oleh Allah.
10. Nabi Ya’qub AS.
Dari pasangan Nabi Ishak dan Rifqah, lahirlah 20 orang putra pertama Ish dan kedua Ya’qub. Ish sangat disayangi ayahnya. Sedang Ya’qub disayangi ibunya.
Pada saat usia lanjut, Nabi Ishak tak dapat melihat. Ia sering dilayani oleh Ish. Ish pandai berburu dan sering mendapat kijang. Sedang Ya’qub senang berada di Ruah mempelajari ilmu-ilmu agama. Ish iri terhadap adiknya yang mendapat doa baik dari ayahnya, Ish mengancam akan membunuh Ya’qub maka Ishak memerintahkan pergi ke negeri Faddan Araam di Irak. Ia berjalan di malam hari karena sebab itu anak keturunanya anak Israil artinya berjalan malam.
Ia sampai di Irak dengan selamat, ia bertemu dengan pamanya. Pamanya berkata : kau boleh tinggal di sini, kau akan ku kawinkan dengan anakku, tapi syaratnya kau harus mengembalakan ternakku yang banyak selama 7 tahun inilah maharnya. Ya’qub setuju, setelah 7 tahun bekerja ia dikawinkan dengan putri pamanya yang bernama Layya. Kemudian mengembalakan kambing lagi selama 7 tahun dan dikawinkan dengan Rahil adik Laylya.
11. Nabi Yusuf AS.
Yusuf adalah putra Nabi Ya’qub. Diantara 12 orang anak-anak Ya’qub, Yusuf dan Bunyaminlah yang paling dicintai, hal ini menimbulkan iri hati saudara-saudaranya. Yusuf wajahnya sangat tampan dan lebih tampan dari saudara-saudaranya yang lain. Ketika ia di tinggal ibunya (meninggal) ia makin disayang oleh ayahnya. Pada suatu malam ia bermimpi, ia melihat 11 bintang bulan dan matahari bersujut kepadanya esok harinya ia ceritakan hal itu kepada ayahnya. “11 bintang adalah saudara-saudaramu, matahari adalah ayahmu dan bulan adalah ibumu. Semua akan menghormatimu, kelak kau akan menjadi orang besar maka jangan sampai saudara-saudaramu tahu, jika saudaramu tahu maka ia akan mencelakakanmu. Namun tanpa sepengetahuan Yusuf dan ayahnya ada salah seorang saudaranya mengetahui pembicaraan ayahnya itu mereka makin membenci Yusuf dan berusaha mencelakakannya. Pada suatu hari ia mengajak Yusuf untuk berburu. Mula-mula Nabi Yaqub tidak mengijinkan, tetapi setelah Ia mengajukan kesanggupannya untuk menjaga Yusuf, Ia tidak melarangnya lagi.
Di tengah hutan tiba-tiba mereka menyekap Yusuf dan memasukkan ke sumur, namun sebelum itu ia melepas bajunya dilumuri darah hewan buruannya, setelah pulang ia mengatakan kepadanya kalau Yusuf dimakan srigala hingga bajunya berlumuran darah. Nabi Ya’qub sangat sedih dan ia menangis sehingga matanya buta.
Tidak beberapa lama Yusuf di dalam sumur, ada serombongan kafilah yang hendak mengambil air, mereka menemukanya Yusuf, mereka akan menjual Yusuf kenegeri Mesir, sesampai di Mesir Yusuf benar-benar dijual sebagai budak, pembelinya adalah seorang mentri bernama Kitfir, kemudian diserahkan kepada istrinya yang bernama Zulaiha. Mereka tidak mempunyai anak, mereka bermaksud menjadikanya anak angkat. Kini Yusuf hidup di lingkungan istana dan dijadikan kepala pelayan di istana, setelah sang raja mengetehui kebenaran dan kesucian Yusuf, ia mengangkat Yusuf menjadi mentri ekonomi kerajaan Mesir.
12. Nabi Ayyub AS.
Ayyub adalah orang yang kaya raya. Allah memberi cobaan yang dialaminya. Setelah menjadi orang yang kaya raya, Allah menjadikan orang yang miskin, anak-anaknya mati, selain itu Ayyub juga sakit kudis dan penyakit berbahaya, teman-temanpun menjauhinya dan Ayyub diusir oleh tetangganya. Istrinya semakin lama enggan bila di suruhnya. Karena marahnya Ayyub akan meukul istrinya seratus kali. Setelah sembuh nazar Nabi Ayyub tidak di perkenankan oleh Allah setelah itu Nabi Ayyub mengikat lidi yang berjumlah 100 dan dipukulkan satu kali ke istrinya.
13. Nabi Dzulkifli AS.
Dzulkifli adalah anak Nabi Ayyub. Seorang raja tua mengadakan sayembara, barang siapa yang dapat berpuasa pada waktu siang dan malam hari melaksanakan shalat dia akan menjadi penggantinya. Akhirnya Dzulkifli menjadi raja. Suatu hari datanglah syetan yang menyamar menjadi manusia, namun dia tetap sabar menghadapinya. Saat terjadi peperangan dan umatnya meminta jaminan atas keselamatan mereka Ia pun berdoa kepada Allah, Allah mengabulkanya.
14. Nabi Syuaib AS.
Walau dengan usaha keras, Syuaib menyampaikan nasihat dan peringatan. Namun mereka tidak pernah menghiraukan sama sekali. Sebagai balasan, Allah memberikan azab berupa sambaran petir dan gempa bumi. Setelah itu Syuaib berdakwah kepada kaum Ashabul Aikah dan mengajak mereka malah membantah. Tiba-tiba datang awan yang menaungi dengan awan hitam pekat dan guntur yang menghancurkan merka.
15. Nabi Musa AS.
Dahulu Mesir dipimpin oleh Fir’aun. Dahulu anak laki-laki harus dibunuh. Ibu Musa menghanyutkan ke dalam sungai Nil. Permaisuri Fir’aun melihat dan membawa ke istana. Karena rayuan permaisuri Fir’aun mau merawat bayi itu. Saat dewasa Musa membunuh kelompok Fir’aun dan karena itu ia dikejar-kejar dan ia pergi. Di jalan ia bertemu 2 wanita dan menolong mereka mengambilkan air. Mereka adalah putri Nabi Syuaib. Musa diambil menantu. Tidak berapa lama kemudian, Musa kembali ke Mesir. Di Mesir dia bertarung dengan para ahli sihir. Musa mengalahkan para tukang sihir itu. Musa mendapat wahyu agar pergi ke Palestina. Fir’aun mengetahui hal itu dan mengejarnya. Sampai di Laut Merah, Musa memukulkan tongkatnya. Seketika laut terbelah. Musa dan pengikutnya melewatinya, Fir’aun pun juga melewatinya. Setelah sampai di tepi, Nabi Musa kembali memukulkan tongkatnya. Fir’aun dan pengikutnyapun tenggelam saat Nabi Musa sampai di Palestina, Bani Istrael tidak mau memasuki palestina.
16. Nabi Harun AS.
Mengisahkan Nabi Harun tidak bisa lepas dari kisah Nabi Musa karena Ia adalah juru bicara Nabi Musa. Kini tibalah Nabi Musa menerima wahyu dari Allah. Ia telah memerintahkan Nabi Harun menjaga umatnya jangan mereka sampai kufur, lalu Nabi Musa naik ke gunung Thursina untuk ber khalwat. Di atas gunung lalu Ia memohon kepada Allah : Ya Tuhan dapatkah aku melihat Engkau. Allah berfirman : engkau tidak sanggup melihatKu tetapi cobalah lihat bukit itu, jika Ia dapat berdiri tegak maka kau akan dapat melihatku. Selanjutnya Allah menurunkan kitap Taurat yang berupa kepingan-kepingan batu, di dalamnya tertulis pedoman hidup dan penuntun ibadah kepada Allah SWT. Ketika Nabi Musa turun dari bukit Ia terkejut kaumnya telah tersesat mereka membuat patung anak sapi yang terbuat dari emas. Lalu Nabi Musa memerintahkan kaumnya untuk bertaubat kepada Allah. Diantara kaumnya diajak ke bukit Thursina untuk memohon ampun buat kaumnya. Setibanya di bukit datanglah awan tebal yang menyelimuti seluruh buklit, Nabi Musa dan kaumnya masuk ke dalam awan itu dan mereka segera bersujud. Selagi bersujud mereka mendengar percakapan Nabi Musa dengan Tuhannya. Pada saat itu timbulah dalam benak mereka untuk melihat Allah. Setelah Nabi Musa selesai bercakap-cakap dengan Allah, mereka berkata kepada Nabi Musa “kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami dapat melihat Allah dengan terang”. Sebagai kontan atas kelancangan mereka itu Allah mengirim halilintar yang menyambar dan merenggut nyawa mereka. Nabi Musa sedih melihat nasib mereka, karena mereka orang-orang terbaik yang di kumpulkan dari kaumnya. Ia memohon kepada Allah agar mereka di ampuni dosanya dan di hidupkan lagi, dan Allah mengabulkan doanya.Nabi Musa kemudian menyuruh orang-orang itu bersumpah untuk berpegang teguh dengan kitap Taurat sebagai pedoman hidup. Melaksanakan perintahnya dan menjahui larangannya.
17. Nabi Daud AS.
Sesudah Nabi Harun dan Nabi Musa wafat, kaum Bani Israel dipimpin oleh Yusya bin Wun. Mereka dapat menguasai tanah Palistina dan bertempat tinggal di istana. Namun setelah Yusya’ bin Nuh meninggal, mereka terpecah belah. Isi kitab taurot berani mereka rubah dan ditambah-tambah. Ahirnya hilanglah kesatuan persatuan mereka, tanah Palistina diserbu dan dikuasai bangsa lain. Bani Israel menjadi bangsa jajahan yang tertindas, mereka meridukan pemimipin yang tegas dan gagah berani melawan penjajah. Lalu Nabi Daud di angkat sebagai pemimpin perang, Ia selalu menang dan Ia diangkat sebagai raja. Nabi Daud diistimewakan Allah, yaitu dengan ditundukanya gunung-gunung supaya memuji Allah dan Nabi Daud pada waktu pagi siang dan malam, demikian pula burung-burung telah ditundukan kepada Daud untuk berkumpul memuji Allah dan Daud. Mukjiat Nabi Daud di antaranya besi dapat dilunakkan seperti lilin dan dapat dirubah seperti kehendaknya. Kitab yang diturunkan kepada Nabi Daud adalah kitap Zabur yang berisikan pelajaran, peringatan dan nyanyian pujian kepada Tuhan.
18. Nabi Sulaiman AS.
Nabi Sulaiman adalah putra Nabi Daud, keistemewaan Nabi Sulaiman adalah dapat berbicara dengan binatang, menguasai jin dan setan.
Hampir tak seorangpun yang mengetahuinya kematian Nabi Sulaiman. Baik dari golongan jin maupun manusia. Nabi Sulaiman baru mengetahui setelah tongkatnya bersandar rapuh dimakan rayap dan beliau jatuh tersungkur di lantai. Doa Nabi Sulaiman dikabulkan oleh Allah agar tak seorangpun memiliki kerajaan besar kaya raya seperti kerajaan Nabi Sulaiman. Walaupun kaya raya Nabi Sulaiman tetap tunduk dan patuh kepada perintah Allah.
19. Nabi Ilyas AS.
Kaum Nabi Ilyas itu menyembah patung yang di sebut Ba’al. Nabi Ilyas mengajak kaumnya untuk meninggalkan penyembahan terhadap berhala itu dan hanya kepada Allah saja, tetapi mereka tidak mau, mereka tetap membangkang dan mengejeknya. Mereka malah merencanakan akan membunuh Nabi Ilyas. Allah tidak membiarkan hambanya yang shaleh dan iklas beramal itu dianiaya orang-orang kafir. Kaum durhaka itu diazab dengan datangnya musim kemarau yang panjang beberapa tahun lamanya. Barulah mereka ingat Nabi Ilyas, mereka datang kepadanya mohon agar didoakan supaya hujan turun. Setelah hujan turun mereka melupakan Nabi Ilyas. Maka datanglah azab Allah. Mereka ditimpa gempa bumi yang dahsyat sehingga mati dan bergelimpangan. Sedang Nabi Ilyas dan para pengikutnya diselamatkan oleh Allah.
20. Nabi Ilyasa AS.
Seperti yang disebut dalam Al-Qur’an : “Dan ingatlah akan Ismail, Ilyasa, dan Dzulkifli, semuanya termasuk orang-orang yang paling baik”. Nabi Ilyasa, adalah pengikut Nabi Ilyas. Sejak kecil beliau sudah taat kepada Allah. Setelah Nabi Ilyas wafat, maka beliau diangkat menjadi Nabi dan Rosul. Pada masa Nabi Ilyasa, penduduk Bani Israel hidup rukun, tentram dan makmur karena bertakwa dan berbakti kepada Allah. Setelah beberapa tahun kemudian Nabi Ilyasa, wafat. Kaum Bani Israel sangat sedih kehilangan beliau.
21. Nabi Yunus AS.
Nabi Yunus bin Mata termasuk orang yang salih, sejak sebelum diangkat menjadi Nabi dan Rosul beliau memang seorang ahli ibadah yang tekun. Namun beliau ada kelemahanya yaitu mudah hilang harapan. Ia mengajak kaumnya meninggalkan berhala dan menyembah Allah, tetapi hanya 2 orang yang mau. Yaitu Rubil dan Tanuh. Rubil seorang yang alim dan bijaksana, Tanuh seorang yang tenang dan sederhana.
Nabi Yunus mengacam kaumnya jika tidak mau insaf, beliau akan meninggalkan mereka dan Allah akan menurunkan siksa selama 40 hari. Setelah 40 hari tiba-tiba munculah awan gelap di pagi hari “Bertambah siang mereka melihat cahaya mereka seperti api hendak turun dari langit. Mereka ketakutan, berbondong-bondong mencari Nabi Yunus tetapi tidak ketemu. Mereka bertobat dan menjalankan ajaran Nabi yunus. Siksa tak jadi diturunkan”.
Tiba di tepi laut Nabi Yunus menumpang kapal. Di tengah laut kapalnya oleng di hantam ombak. Nahkoda memutuskan untuk melempar Nabi Yunus. Seekor ikan pus besar diperintahkan Allah menelan Nabi Yunus. Di dalam perut ikan itulah Nabi Yunus sadar akan kesalahanya telah meninggalkan kaumnya. Atas kesungguhanya dalam berdo’a dan karena rahmat Allah maka Nabi Yunus dikeluarkan dari perut ikan paus. Ia tiba di tepi pantai dalam keadaan sakit dan lemah. Kaumnya menyambut kedatanganya dengan gembira. Tak kurang dari 100.000 orang telah diseru Nabi Yunus untuk menyembah Allah.
22. Nabi Zakaria AS.
Umur Nabi Zakaria dan istrinya sudah tua. Padahal sejak usia muda, mereka mendambakan seorang putra. Pekerjaan Nabi Zakaria adalah sebagai tukang kayu, tetapi dakwah yang dilakukan untuk membimbing umat lebih diutamakanya, siang malam ia berdoa bersama istrinya. Ahirnya doanya di kabulkan. Istrinya mengandung. Sesudah diberikan anak laki-laki di beri nama Yahya.
Sesudah dewasa Nabi Yahya beristri Isya binti Fakud bin Miyal. Isya mempunyai saudara perempuan bernama Hanah. Hanah diperistri oleh Imron. Dari pasangan Hanah dan Imron ini lahirlah Maryam, Ibu Nabi Isa. Nabi Zakaria dan Nabi Yahya dikenal sebagai Nabi yang gigih memperjuangkan ajaran Allah.
23. Nabi Yahya AS.
Nabi Yahya adalah anak dari Nabi Zakaria. Nabi Yahya adalah Nabi yang bertakwa dan berbakti kepada orang tuanya.
24. Nabi Isa AS.
Isa lahir dari wanita suci yang tidak punya suami. Saat hamil Maryam mengasingkan diri. Setelah Isa lahir dan dibawa ke tengah masyarakat, Maryam mendapat berbagai tuduhan. Isa yang saat itu masih kecil dapat berbicara. Nabi isa wafat bukan karena dibunuh atau disalib, yang mereka salib adalah dari golongan mereka sendiri yang mirip dengan Nabi Isa as.
25. Nabi Muhammad SAW
Lahir dari ibu yang bernama Aminah dan ayah bernama Abdullah. Pada 12 Rabiul Awal tahun gajah, pada usia 7 bulan di kandungan, ayahnya meninggal. Dan saat umur 6 tahun ibunya meninggal. Setelah itu nenek yang mengasuhnya meninggal dunia. Kemudian dia ikut pamannya, pada usia 11 tahun Muhammad ke Syam bersama pamannya dan bertemu pendeta. Pendeta itu menceritakan kerasulan Muhammad dan menasehati paman Muhammad untuk segera membawa Muhammad kembali ke Mekkah.
Saat usia 15 tahun Muhammad menyaksikan perang Fijar. Setelah dewasa ia berdagang untuk Siti Khodijah dan akhirnya menikah. Pada usia 40 tahun Muhammad mendapatkan wahyu yang pertama di gua Hira’. Muhammad menyiarkan agama secara sembunyi-sembunyi, karena penganiayaan maka Nabi Muhammad dan kaumnya hijrah ke Habsyah. Kaum quraisy melakukan pemboikotan terhadap Bani Hasyim dan Bani Mutholib. Namun banyak yang menghentikan sehingga keadaan kembali ke semula. Karena kematian istrinya Siti Khodijah dan Abu Tholib, kaum Quraisy semakin menyakiti Nabi. Akhirnya Nabi pergi ke Thaif, Nabi Muhammad melakukan Ira’ Mi’raj pada malam 27 Rajab tahun ke-11 sesudah beliau diangkat menjadi rasul. Saat berhaji, Nabi melakukan perjanjian dengan orang Yasrik dan disebut dengan perjanjian Aqobah. Rasulullah Hijrah ke Madinah. Pada hari Senin tanggal 8 Rabi’ul Awal tahun 1 Hijriah Nabi tiba di Quba. Disana Nabi mendirikan masjid yang pertama. Pada tanggal 12 Rabiul Awal Nabi tida di Madinah dan disambut dengan meriah. Dalam enciptakan suasana tentram, damai dan aman.
Rasulullah mengadakan perjanjian dengan kaum Yahudi. Perang Badar terjadi pada bulan Ramadhan tanggal 17 tahun 2 Hijriah, yang dimenangkan oleh umat Islam. Perang uhud pada bulan Sya’ban tahun 3 Hijriah. Dimenangkan kaum Quraisy karena umat Islam tidak menghiraukan perintah Nabi untuk tetap bertahan diatas gunung. Selain itu masih banyak peperangan yang terjadi yaitu perang Khandaq, perang Mu’tah, perang Tabuk dan lain-lain. Perjanjian Huddaibiyah terjadi antara umat Islam yang dipimpin Nabi dan kaum Quraisy dipimpin Abu Sofyan pada bulan Dzulhijjah 6 H. Tiga bulan sebelum Nabi Muhammad wafat, yang dikerjakan pada tanggal 25 Dzulqaidah 10 H diikuti 100.000 orang.
Beliau meninggalkan umatnya berupa Al Qur’an dan Hadits. Sebagaimana sabda Nabi yang pernah disampaikan dalam khotbah Jum’at di Masjid Namirah, yang artinya : Kutinggalkan untukmu dua perkara tidaklah kamu akan tersesat selama-lamanya, selama kamu masih berpegang kepada keduanya, yaitu kitabullah (Al Qur’an) dan sunnah Rasulullah (Al Hadits)”.
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbetuk) lain……..” (Al-Mu’minun : 12 – 14)
Teks di atas merupakan penggalan dari ayat suci Al Qur’an yang menjelaskan proses kejadian manusia. Tahapan-tahapan yang dijelaskan dalam Al Qur’an memang suatu kebenaran yang dapat dibuktikan secara medis dan ilmu kedokteran modern, padahal teks itu lahir sekian ratus tahun lalu pada masa Muhamamd SAW, dan perkembangan ilmu kedokteran belumlah canggih.
Memang, seringkali pembuktian ayat Al Qur’an ini baru disadari atau baru dipahami setelah kecanggihan dunia kedokteran ditemukan, lebih-lebih mereka yang merealisasikan-nya bukanlah mereka yang beriman kepada kitab suci Al Qur’an. Dengan kata lain, banyak hal yang ditemukan oleh orang non-muslim, sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Al Qur’an, dan baru disadari oleh umat Islam setelah melihat kembali kitab suci Al Qur’an. Maka tidak sedikit kalangan cerdik cendikia yang mengungkapkan sindiran bahwa umat Islam hanya mampu mencari legitimasi penemuan baru dari Al Qur’an, tanpa mampu melakukan upaya menemukan dan merealisasikan kandungan Al Qur’an dalam kerja-kerja yang lebih konkrit. Mohammad Arkoun, salah seorang pemikir Maroko pernah mengatakan bahwa musuh dan tantangan dunia Islam di masa depan tidak selamanya dari dunia luar, tetapi ada hal yang seringkali terlupakan adari dalam diri sendiri. Diperlukan pembongkaran (dekonstruksi) dan otokritik sehingga dapat melahirkan sesuatu yang tak terpikirkan atau karya-karya cemerlang guna menyongsong masa depan.
Bila kita kembali pada penjelasan ayat di atas, kita dapat merenungkan tahapan-tahapan pembentukan manusia yang begitu sederhana. Dalam ayat lain dikatakan air mani sebagai air yang hina. Namun, dalam kenyataannya tidak sedikit diantara kita yang lupa darimana kita berasal. Padahal, tidak ada ruang sombong bila kita merenungkan kembali asal kita. Awal nula kita adalah pertemuan sperma dan ovum di dalam perut rahim ibu. Dari hari ke hari pertemuan sperma-ovum ini berubah menjadi gumpalan darah, daging, tulang belulang hinga berbentuk bayi atau manusia kecil. Semua proses ini memerlukan perjuangan panjang dan banyak pihak yang terkait di dalamnya, lebih-lebih faktor ibu sebagai orang yang ditempati kandungannya. Ini juga menunjukkan bahwa mulai dari proses awal kehidupan manusia, kita sudah banyak melibatkan pertolongan orang lain, dan ini tidak bisa dilakukan oleh satu orang dengan dirinya sendiri.
Kita bisa lihat bagaimana seorang ibu menyiapkan kandungannya sebagai tempat yang nyaman di alam rahim, memantau dan mengkontrol perkembangan sang janin dari hari ke hari, memberikan gizi dan segala hal yang diperlukan, bahkan tidak jarang, ia harus mengorbankan atau mempertaruhkan nyawanya saat kelahiran. Berpa kali ia harus bolak-balik ke dokter, mengekang dirinya dengan berbagai makanan yang dapat merusak kenyamanan sang janin, merelakan dirinya untuk istirahat total selama berbulan-bulan hanya di atas tempat tidur. Ini hanya bagian kecil yang dapat disebutkan dari pengorbanan ibu, bahkan tidak sedikit kasus ibu yang tidak mampu mempertahankan keberadaan sang calon janin karena berbagai kondisi dan kelemahan manusia, ia harus menghadapi peristiwa keguguran atau abortus, dan juga kuret.
Semoga kita mampu bersikap bijak dan merenungkan kembali asal kejadian kita, sehingga kita mampu menjauhkan diri dari bersikap sombong, lebih-lebih kepada kedua orang tua. Prof. Quraish Shihab mengatakan bahwa untaian proses kejadian manusia itu begitu mengagumkan dan membuktikan kepada kita akan kuasa Allah SWT, hingga dapat mengantarkan manusia mencapai kesempurnaan hidup dunia dan akhirat.
Pada waktu pagi hari udara begitu segar, saya bangun pagi pukul 05.00 WIB untuk mengerjakan sholat Subuh bersama-sama di mushola. Selesai sholat, saya berdzikir dan berdo’a kepada Allah SWT supaya diberi petunjuk dan diberi ilmu yang bermanfaat di dunia dan di akhirat. Sesudah selesai, saya langsung pulang ke rumah untuk membantu ibu memasak di dapur. Selesai memasak, saya langsung mandi untuk mempersiapkan diri ke sekolah. Setelah selesai berpakaian rapi, saya lalu makan bersama keluarga. Lalu saya minta uang saku kepada orang tua saya untuk ongkos buat sekolah. Sesudah itu, saya izin pamit untuk berangkat ke sekolah.
Pada waktu sampai di sekolah, saya bertemu kembali dengan teman-teman. Saya bersikap biasa kepada mereka, kebanyakan teman saya berasal dari keluarga mampu, sedang saya berasal dari keluarga yang pas-pasan. Waktu itu saya juga tidak ingin teman-teman tahu kondisi saya yang sebenarnya, sehingga saya selalu menutupi keadaan saya dengan berpura-pura kaya. Sebagai misal, saat kami berkumpul dan ngobrol seputar acara televisi, lagu-lagu terbaru, gisip selebritis yang lagi naik daun, dan lain-lain. Saya menghindar dengan berpura-pura mau ke belakang. Pernah juga ada teman yang ngajak tukar kado, saya pun terpaksa berbohong bahwa ada acara di ruah saudara. Bukannya saya tidak mau tukar kado bersama mereka, tetapi saya tidak punya uang untuk membeli kado.
Pada waktu mau pulang, saya tidak berani bilang ke teman-teman karena takut mereka ikut. Mereka ingin sekali ke desa saya, karena desa saya dekat. Saya juga tidak ingin mereka mengasihani saya kalau tahu keadaan saya yang sebenarnya. Saya lelah dengan harus berbohong terus menerus kepada teman-teman saya sendiri. Dan pura-pura jadi orang kaya, sedangkan saya sendiri anak orang yang serba pas-pasan.
Pulang dari sekolah, malah saya jadi kepikiran dengan teman-teman saya yang kaya tadi. Saya menjadi minder dan malu sendiri, jadinya saya tidak pede dengan kemiskinan saya.
Pada waktu sore hari selesai sholat Ashar, saya berdzikir dan berdo’a. Selesai berdo’a saya malah menangis, sampai-sampai Pak Ustadz yang namanya Pak Sholikhin menghampiri saya dan bertanya kepada saya, kenapa saya menangis dan juga menanyakan masalah apa yang sedang saya hadapi.
“Assalamu’alaikum”, kata pak ustadz. Saya menjawab, “Wa’alaikum salam”, sambil mengusap air mata saya. Pak ustadz bertanya, “Ada apa nak, kamu menangis? Apa ada yang menyakiti kamu atau kamu sedang ada masalah? Tolong kamu ceritakan kepada Bapak, siapa tahu Bapak bisa bantu”. Saya menjawab, “Tidak ada apa-apa pak ustadz”. Pak ustadz malah bingung, “Bapak tidak percaya, buktinya kami sampai menangis? Sekarang Bapak tahu, kamu ada masalah dengan sekolah atau dengan teman-teman kamu?” Saya menjawab, “Iya Pak, ini masalah dengan teman-teman saya”.
Saya mulai menceritakan semua yang menimpa diri saya kepada pak ustadz. Begini ceritanya, “Di sekolah teman-teman saya termasuk orang yang mampu, sedang saya anak orang yang serba pas-pasan, lalu saya minder dan iri kepada mereka. Bahkan saya ingin seperti mereka tapi sayang saya tidak bisa. Lalu bagaimana pak solusi untuk jalan keluarnya? Hal inilah Pak, yang mengganggu pikiran saya”.
Pak ustadz mulai paham dengan apa yang telah saya ceritakan. Dia berkata, “Oooo, jadi masalah kamu itu tentang materi ya? Pantas kamu sampai menangis begitu.” Lalu pak ustadz mulai memberi solusi untuk jalan keluarnya dan bagaimana saya seharusnya.
Masalahmu adalah kesalahan konsep dan persepsi, dalam memandang harta kepemilikan. Kamu menganggap bahwa kemiskinan itu adalah suatu kemuliaan. Kamu merasa bahwa orang miskin itu tidak memiliki harga sama sekali, rendah, dan memalukan. Sedangkan orang kaya itu terhormat, bermartabat dan membanggakan. Kalau kita kebetulan jadi orang kaya, pasti kita akan merasa lebih bermartabat, lebih tinggi derajatnya, dan pasti menganggap rendah dan remeh orang-orang yang miskin.
Sedangkan bila kebetulan kita jadi anak orang miskin, kita akan merasa rendah diri, tidak berharga, tidak berarti, dan terhina. Kita merasa malu memiliki orang tua yang miskin. Dengan materi kita bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhan seoerti makanan, minuman, rumah, kendaraan, biaya sekolah, kesehatan dan sebagainya.
Nilai-nilai spiritual menyiratkan pesan Allah, bahwa satu-satunya standar yang membedakan kualitas manusia adalah kemauan dan ketakwaannya kepada Allah. Hal ini tercermin lewat kebersihan akal, hati, dan kemuliaan perilaku. Bila keimanan dan ketakwaannya ini juga dibarengi dengan kedalaman ilmu kauliyah (ilmu agama) dan ilmu kauniyah (ilmu pengetahuan dan teknologi guna kemaslahatan hidup di dunia, seperti ilmu kedokteran, teknik, ekonomi, politik, sosial, psikologi, hukum, sastra, dan sebagainya).
Keimanan dan ketakutan tersebut bernilai semakin tinggi dan memiliki kekuatan membangun. Orang kaya tidak akan mudah merasa minder karena dirinya miskin tidak pula memuliakan seseorang karena kekayaan materi. Mereka akan jauh meras “kurang” bila berhadapan dengan orang-orang beriman yang memiliki kualitas keimanan dan ketakwaan yang lebih tinggi. Tetapi perasaan seperti ini justru akan membuatnya semangat untuk mengikuti langkah-langkah orang-orang yang berkualitas tersebut.
Cintailah orang tuamu, jangan sakiti mereka dengan merasa malu memiliki orang tua yang sederhana. Mengingkari keadaan dengan berbohong sebenarnya malah akan semakin menyiksamu, karena kamu sesungguhnya sedang menciptakan, membangun, dan membesarkan konflik pada dirimu sendiri. Parahnya lagi, jika kamu menjelma menjadi orang lain dan bukan dirimu sendiri. Ubahlah cara pandangmu, niscaya Allah akan mengayakan jiwamu.
Selesai memberikan nasehat, saya mengucapkan terima kasih kepada pak ustadz. Saya sngat menyesal, kenapa saya tidak bersyukur dengan apa yang telah Allah SWT berikan kepada saya, sebagai misal : sudah diberi kenikmatan untuk tidur, bisa makan, bersekolah dan sebagainya. Saat itulah saya mulai sadar bahwa kemiskinan itu tidak hina dan juga tidak rendah.
Saya mengucapkan terima kasih banyak kepada pak ustadz yang telah menolong dalam menghadapi masalah seperti ini, dan juga telah memberikan jalan keluar bagaimana saya seharusnya sehingga sekarang saya sudah mulai lega dan tenang. Sampai sekarang pun saya bisa melakukan pekerjaan yang ringan seperti biasa. Saya juga tidak malu dan minder lagi dengan orang kaya, karena saya punya keimanan yang tidak mereka punyai.
Dengan keimanan ini, saya akan mulai mengajarkan kepada teman saya bagaimana cara berbuat baik dengan tidak memamerkan harta yang mereka punya, serta akibat yang ditimbulkan dari kesombongan yang mereka punya.
A. Pengertian Bisnis
Secara bahasa bisnis mempunyai beberapa arti : usaha, perdagangan, toko, perusahaan, tugas, urusan, hak, usaha dagang, usaha komersial dalam dunia perdagangan atau bidang usaha[1]. Sehingga memperlibatkan bisnis sebagai aktifitas riil ekonomi yang scara sederhana dilakukan scara sederhana dilakukan dengan cara jual beli atau pertukaran barang dan jasa.
Secara istilah (Hughes and Kapoor), bisnis adalah suatu kegiatan usaha individu yang terorganisasi untuk menghasilkan laba atau menjual barang dan jasa guna mendapatkan keuntungan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat[2].
Dalam pandangan lain, bisnis adalah aktivitas yang berorientasi mencari laba dari mereka yang terlibat dalam jual beli barang dan jasa unutk memuaskan kebutuhan dan keinginan masyarakat (Boone dan Kurtz)
B. Bisnis dalam Al Qur’an
Di dalam Al Qur’an terdapat terma-terma yang mewakili apa yang dimaksud dengan bisnis. Dimana dalam Al-Qur’an didapat terma At-Tijarah, Al-Bai’u, tadayantum dan isytara.
Tijarah bermakna berdagang atau berniaga. Menurut Ar-Raqhib Al-Astahani, tijarah bermakna pengolahan harta benda untuk mencari keuntungan[3]. Ar-Raqhib menjelaskan bahwa tijarah dalam Q.S Asyaff (61) : “Wahai orang-orang yang beriman sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya.”
Ayat ini menjelaskan tentang petunjuk transaksi yang menguntungkan, perniagaan yang bermanfaat dan keberhasilan yang kekal. Perniagaan dimaksud adalah tetap dalam keimanan, keikhlasan amal kepada Allah dan berjihad dengan jiwa dan harta dengan menyebarkan agama dan meninggikan kalimat-Nya.
Al-Bai’u berarti menjual atau memberikan sesuatu yang berharga dan mengambil daripadanya suatu harga dan keuntungan. Terma bai’un dalam Al Qur’an digunakan dalam 2 pengertian :
Tadayantum dalam Al Qur’an digunakan dalam pengertian muamalah, yakni : jual beli, utang piutang, sewa menyewa, dan sebagainya (QS. Al Baqarah (2) : 282.
Sedangkan Isytata dalam QS. AT Taubah : 11 digunakan dalam istilah membeli diri sendiri dan harta orang-orang mukmin atau dengan kata lain mirip dengan orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhoaan Allah. Dengan demikian, Isytata lebih banyak mengandung makna transaksi antara manusia dengan Allah atau transaksi sesama manusia yang dilakukan karena dan untuk Allah, juga transaksi dengan tujuan keuntungan manusia walaupun dengan menjual ayat-ayat Allah.
Dengan demikian terma yang terambil dari Al Qur’an tersebut pada hakikatnya tidak semata-mata bersifat material, dan hanya bertujuan mencari keuntungan material semata, tetapi bersifat material sekaligus immaterial, bahkan lebih meliputi dan mengutamakan hal yang bersifat immaterial dan kualitas.
C. Paradigma Bisnis yang Berspektif Al Qur’an
Yaitu cara pandang tertentu yang dijadikan andasan bagi bisnis dengan mengacu pada Al Qur’an, dengan aksioma berikut :[4]
Kesatuan (Unity)
Yakni pengusaha muslim dalam melakukan aktivitas bisnis tidak akan melakukan 3 hal : Pertama, diskriminasi di antara pekerja, penjual, pembeli, mitra kerja atas pertimbangan ras, warna kulit, jenis kelamin atau agama. Kedua, terpaksa atau dipaksa melakukan praktik mal bisnis. Ketiga, menimbun kekayaan atau serakah karena hakikatnya kekayaan merupakan amanah Allah.
Keseimbangan
Yakni pembelanjaan harta benda dilakukan dalam kebaikan dan tidak pada sesuatu yang dapat membinasakan diri. Ini berarti antara konsumsi, distribusi dan produksi berhenti pada suatu titik keseimbangan.
Kehendak Bebas
Berarti manusia punya kebebasan untuk membuat perjanjian termasuk menepati janji atau mengingkarinya.
Pertanggung Jawaban
Hal ini diimplementasikan paling tidak 2 hal : Pertama, dalam menghiotung margin, keuntungan nilai upah harus dikaitkan dengan upah minimum. Kedua, return dari pemberi pinjaman dihitung berdasarkan pengertian yang tegas bahwa besarnya tidak dapat diramalkan dengan probabilitas kesalahan nol dan tidak dapat lebih dahulu ditetapkan.
Kebenaran : Kebajikan dan Kejujuran
Dimaksudkan sebagai niat, sikap dan perilaku yang benar, meliputi : proses akad, mencari atau memperoleh komoditas, pengembangan maupun dalam perolehan laba.
D. Praktek Bisnis Rasulullah
Kehidupan perniagaan pada masa Rasulullah, bangsa Arab merupakan fakta yang telah dikenal dalam sejarah. Mata pencaharian penduduk di kawasan itu pada khususnya dengan kondisi wilayah yang kering, padang pasir, penuh dengan bebatuan dan pegunungan tandu adalah berdagang. Tidak ada hasil pertanian yang dapat dipetik di wilayah itu. Al Qur’an menggambar kan situasi itu dalam do’a nabi Ibrahim :
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan keturunanku di lembah yang tandus di dekat rumah suci-Mu (Ka’bah)” (QS. 14 : 37)
Konsep Perdagangan Internasional
Sebagaimana disebutkan : empat putra Abdul Manaf memperoleh ijin kunjungan dan keamanan dari para penguasa negara-negara tetangga Syiria, Irak, Yaman dan Ethiopia, dan mereka dapat membawa kafilah-kafilah ke berbagai negara ini tanpa takut.[5] Selain itu, ia juga mempunyai gagasan untuk membeli barang-barang kebutuhan bangsa Arab yang dapat dijual kembali pada suku-suku Arab dalam perjalanan pulang.
Realitas ini juga meningkatkan reputasi kota Mekkah sebagai pusat perniagaan yang akan menarik perhatian para pedagang dan saudagar kaya dari dalam negeri. Aktivitas perdagangan ini juga memberikan kesempatan luas pada kaum Quraisy untuk menjalin hubungan persahabatan dengan penduduk Syiria, Irak, Iran, Yaman, Ethiopia serta membuat mereka mampu mengadakan kontak langsung dengan budaya dan peradaban dari berbagai negara.
Karir Dagang Muhammad
Setelah kematian kakeknya Muhammad tinggal bersama pamannya, Abu Tholib yang berprofesi sebagai pedagang sebagaimana kebanyakan pemimpin Quraisy lain, sebab berdagang merupakan pendapatan utama penduduk kota Mekkah.[6]
Muhammad mendapat kesempatan luas untuk memasuki dunia bisnis dengan cara menjalankan modal orang lain, baik dengan upah maupun berdasarkan persetujuan bagi hasil sebagai mitra.
Bisnis Setelah Perkawinan
Setelah menikah dengan Khadijah, nabi tetap melangsungkan usaha perdagangannya seperti biasa. Namun sekarang nabi bertindak sebagai manajer sekaligus mitra dalam usaha istrinya. Terdapat catatan tentang beberapa hubungan dagang nabi dengan berbagai macam orang. Tak diragukan lagi, ini memberikan petunjuk bahwa nabi benar-benar menggeluti bidang perdagangan.
Transaksi Dagang
Terdapat cukup bukti untuk mendukung adanya transaksi dagang Muhammad sebelum dan sesudah kenabian di Mekkah maupun di Madinah. Diriwayatkan bahwa nabi melakukan transaksi baik untuk penjualan maupun pembelian. Namun, di antara masa kenabian dan hijrah ke kota Madinah, terdapat lebih banyak transaksi pembelian daripada transaksi penjualan.
Pasar-pasar
Deskripsi mengenai tempat-tempat perdagangan di Arabia pada masa-masa itu juga akan memperlihatkan bahwa kemungkinan besar nabi telah mengunjungi tempat-tempat perdagangan ini berulang kali. Selama masa mudanya untuk tujuan-tujuan dagang. Seluruh pasar dagang ini diadakan di semananjung Arabia, dimana orang-orang dari timur dan selatan berdatangan kesana secara berkelompok untuk menjalankan perdagangan.
Festival Perdagangan Arab
Mungkin perlu ditekankan bahwa pasar-pasar dagang ini bukanlah merupakan pasar lokal. Seorang pedagang yang profesional harus mendatangi pusat-pusat perdagangan serta pasar-pasar secara teratur untuk mempertahankan bisnis serta koneksi-koneksi perdagangannya.
E. Perilaku Bisnis Legal dan Illegal
Bisnis legal adalah perbuatan bisnis yang sesuai dengan ketentuan hukum. Sedangkan menurut Islam adalah segala perbuatan bisnis yang sesuai dengan landasan syariah.
Secara garis besar, penilaian terhadap suatu bisnis dikatakan legal diisyaratkan dari landasan kebaikan, ketidakrusakan dan keadilan. Secara garis besar, penilaian terhadap suatu bisnis dikatakan sesuai dengan tuntunan syariah dilandasi dari 3 hal, yaitu : kebaikan, ketidakrusakan, dan keadilan.
Praktek bisnis illegal adalah mencakup semua perbuatan bisnis yang tidak baik, jelek (secara moral), terlaran, dan membawa akibat kerugian bagi pihak lain, maupun yang meliputi aspek hukum yang disebut bussiness crimes. Bussines crimes adalah tindak pidana dalam bisnis, yaitu perbuatan tercela yang dilakukan oleh pelaku bisnis atau pegawai baik untuk kepentingan bisnisnya maupun yang merugikan bisnis pihak lain.
Perilaku praktek bisnis illegal diasumsikan seperti penyakit, yang dalam Al Qur’an diasumsikan dengan landasan :[7]
Al Bathil, yaitu segala sesuatu yang tidak mengandung apa-apa di dalamnya atau manfaat baik di dunia maupun di akhirat.
Dalam kaitan bisnis adalah setiap praktek bisnis yang mengandung unsur kebatilan : banyak maupun sedikit, sembunyi maupun teran-terangan, dan dapat menimbulkan ketidakseimbangan dan ketidakadilan. Menimbulkan akibat moral maupun akibat hukum yang mengikutinya, baik menurut hukum agama maupun hukum positif.
Al Faad, yaitu kerusakan atau kebinasaan
Mengurangi hak atas suatu barang yang didapat atau diproses dengan menggunakan media takaran dinilai Al Qur’an seperti telah membuat kerusakan di muka bumi.
Azh Zhulun, yaitu meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya
Dalam kaitannya dengan bisnis diantaranya memakan harta riba, dan memakan harta dengan jalan bathil.
F. Jenis-jenis Praktek Bisnis Illegal
Riba
Yaitu suatu proses bisnis yang terjadi dengan adanya keharusan kelebihan dari modal, baik kelebihan ditetapkan di awal maupun di akhir batas waktu.
Mengurangi timbangan atau takaran
Dilarang karena terdapat unsur kecurangan dan penipuan dengan sengaja mengurangi hak orang lain.
Gharar atau judi
Yaitu jual beli yang tidak memenuhi perjanjian dan tidak dapat dipercaya, dan karena tidak adanya kepastian.
Penipuan (Al Ghabn)
Yaitu membeli sesuatu dengan harga yang lebih tinggi atau lebih rendah dari harga rata-rata.
Penimbunan
Yaitu pengumpulan dan penimbunan barang-barang tertentu yang dilakukan dengan sengaja sampai batas waktu untuk menunggu tingginya harga barang tersebut.
Skandal, korupsi, dan kolusi
Skandal adalah perbuatan yang memalukan atau perbuatan yang menurunkan martabat seseorang. Korupsi berarti menyuap, emnyogok, membusukkan, merusakkan dan memperburuk atau dalam istilah lain adalah penyelewengan.
Monopoli dan Oligopoli
Monopoli adalah suatu situasi dalam pasar dimana hanya ada satu atau segelintir perusahaan yang menjual produk atau komoditas tertentu yang tidak punya pengaruh yang mirip dan ada hambatan bagi yang lain untuk masuk dalam bidang tersebut.
Oligopoli adalah salah satu bentuk monopoli antara pengusaha dengan pengusaha lainnya.
[1] Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka, 1989), hlm. 121
[2] H. Buchori Alma, Pengantar Bisnis……., hlm. 16
[3] Ar-Raqhib Al-Asfahani, Al-mufradat fi Gharib………., hlm. 73
[4] R. Lukman Fauroni, Etika Bisnis dalam Al-Qur’an…… hlm. 142
[5] Afzalurrahman, Muhammad as a Traider, Jakarta : Yayasan Swarna Bhumy, 1995, hlm. 4
[6] Ibid. hlm. 5
[7] R. Lukman Fauroni, Etika Bisnis dalam Al Qur’an, Jogjakarta : Pustaka Pesantren 2006, hlm. 108
Rasulullah, Tauladan Sepanjang Zaman
Pada zaman sebelum kerasulan Muhammad saw, masyarakat Arab terdiri dari golongan atas (bangsawan) dan golongan bawah. Yang pertama otoriter menguasai hak monopoli politik dan ekonomi, dan mengatur sendi kehidupan dengan sewenang-wenang. Sebagian dari mereka adalah pedagang-pedagang pemeras. Sedangkan lapisan bawah terdiri dari kaum lemah dan miskin, dan budak-budak tertindas. Di tenganh kondisi seperti ini, muncul gejolak persaingan antar suku yang atheis dan maraknya perbudakan.
Persaingan, dinamisasi sosial ekonomi antar suku terus bergejolak. Masyarakat terkepung dalam cekaman ketakutan. Sering terjadi konflik antar suku yang berakhir dengan peperangan. Masing-masing bertujuan berebut kekuasaan. Masing-masing suku ingin memegang hak otoriter di jazirah yang panas itu.
Mereka adalah orang-orang atheis dan musyrik. Itulah sebabnya perbudakan berkembang dan hak azasi masyarakat terinjak-injak. Kaum waanita ditempatkan sebagai golongan kelas bawah. Wanita dianggap sebagai benda yang tidak dapat diajak berperang. Maka bayi perempuan yang tak berdosa begitu lahir boleh langsung dibunuh. Sebagian besar mereka pemabuk dan berperilaku tak terpuji.
Abu Hisyam mengisahkan 50 hari sebelum Muhammad lahir (571 M) Abrahah Asyam, Gubernur Ethiopia di Yaman berusaha menghancurkan Baitullah di Makkah. Gubernur ini menyebar propaganda kepada penduduk Makkah dengan intimidasi agar menyembah berhala di kuil yang baru dibangun Abrahah di San’a. Namun penduduk Makkah bersikeras menolak dan berusaha mempertahankan Baitullah itu.
Merasa wibawanya dilecehkan, Abrahah memutuskan menyerbu Makkah dengan mengerahkan berpuluh-puluh pasukan gajah. Serangan Abrahah ini mengalami kegagalan karena pada saat mendekati kota Makkah muncul beribu-ribu burung Ababil yang menjatuhkan kerikil dari neraka sehingga pasukan gajah morat-marit. (QS al-Fiil: 1-5)
Lalu lahirlah bayi Muhammad. Sepanjang masa pertumbuhan hingga ia menginjak dewasa, suasana kehidupan masarakatnya tidak banyak mengalami perubahan. Peras-memeras tetap saja menjadi trend. Kejahilan terus merajalela yang ditandai dengan mabuknya manusia terhadap kesenangan dunia. Minuman keras dan wanita, menjadi obyek pemuas yang sangat populer.
Pada zaman kerasulan Muhammad, tata kehidupan masyarakat di jazirah Arab berangsur-angsur berubah. Status kebangsawanan dan budak disamakan dalam jamaah. Kehidupan menjadi penuh kebersamaan dalam persaudaraan Islam dengan menjunjung tinggi standar moralitas.
Menghadapi tantangan
Sejarah perjuangan Nabi Muhammad saw dalam menegakkan Islam selalu menghadapi rintangan dan tantangan yang berat. Namun semua itu dihadapinya dengan penuh keteguhan iman, tidak tergiur atas keanekaragaman tawaran baik harta, tahta, maupun wanita.
Andai saja Nabi mau menghentikan perjuangannya untuk Islam atau melepas sama sekali ajaran Islamnya, maka kedudukan raja, harta yang melimpah bahkan wanita-wanita yang cantik telah tersedia. Namun semua itu ditepis, dan ia tetap meneruskan misi perjuangannya dalam menegakkan Islam sampai titik darah penghabisan. Bahkan di saat menjelang ajal, Nabi masih sempat berwasiat kepada umatnya agar selalu tetap menjaga shalat dan ibadahnya.
Nabi dalam kepemimpinannya sebagai kepala negara, tidak saja pandai dalam memberikan nasihat dan fatwa, tapi juga bersatunya antara ucapan dan perbuatan. Nabi melakukan dulu apa-apa yang akan disampaikan kepada umatnya, setelah itu mengajak ummat untuk melakukan hal serupa.
Sebagai pemimpin bisa saja Nabi saw memerintahkan bawahannya dan meminta dirinya mendapat prioritas dalam segala hal. Namun semua itu ditepis, malah memilih kehidupan yang wajar, apa adanya, bahkan segalanya diserahkan untuk Islam.
Muhammad saw merasa takut kepada Allah swt bila dirinya berhidup mewah, sementara ummatnya hidup dalam kemelaratan. Bahkan Rasulullah terkenal dengan doa agar dalam kemaatiannya tergolong dalam kelompok orang-orang miskin. Allah mengabulkan, Nabi meninggalkan al-Qur’an dan al-Hadits sebagai pegangan hidup keluarga dan ummatnya.
Dalam menegakkan ketauhidan Islam, Rasulullah memberi garis yang tegas. Kaum Quraisy suatu saat menawarkan kompromi kepada Rasulullah dalam urusan beribadah yakni pada suatu waktu Rasulullah menyembah berhala Quraisy, di waktu lain kaum Quraissy menyembah Allah. Dengan tegan Rasulullah menolak dengan menyampaikan firman Allah swt, “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku.”
Jelas sekali ketegasannya, tidak ada kompromi dalam menyelenggarakan peribadatan. Namun sesama manusia boleh saling menghormati, selama antar pihak tidak saling mengganggu dan saling memusuhi. Ketika Nabi menyiarkan dakwah Islam banyak yang tidak mengakui apa yang diajarkan Nabi, meski begitu Nabi tetap menghormati mereka sebatas sesama manusia.
Dalam setiap pengambilan keputusan, Muhammad selalu bermusywarah untuk menentukan kata mufakat dengan berpijak pada petunjuk al-Qur’an. Apalagi untuk urusan-urusan keduaniaan, yang bisa jadi ada orang-orang tertentu yang lebih memiliki keahlian.
Di depan ummatnya ia selalu berpenampilan sederhana, mau mendengar pendapat mereka serta menampung aspirasi mereka. Hubungan Nabi dengan sahabat-sahabatnya begitu manusiawi, penuh kasih dan saling pengertian.
Kekhawatiran Barat
Pakar dari Barat, Will Durrant menilai, Muhammad saw merupakan sosok nabi yang berhasil meningkatkan ruhani dan moralitas suatu bangsa dari kebiadaban. Dia membawa ajaran Islam dan menyebarkannya ke Barat dan ke Timur. Tak heran bila Michael H Hart, seorang cendekiawan AS menempatkan Muhammad saw sebagai tokoh urutan pertama di antara 100 tokoh dunia yang memiliki peranan besar dalam sejarah ummat manusia. Meskipun bagi kaum muslimin tanpa itupun tidak berkurang walau sedikit kemuliaan beliau.
Kondisi realita di atas cukup menggelisahkan kalangan Barat. Dalam konteks kebangkitan kembali dunia Islam, Lothrop Stoddart mengatakan dunia Barat terkesan cemas terhadap kehadiran Islam setelah perang dunia II usai. Kendati dunia Islam dewasa ini mengalami pergolakan cukup hebat, ummat Islam tersebar antara Maroko dan Tiongkok, antara Washington dan Kongo, bergolak menuju Islam satu ide yakni Islam yang nyata, Islam yang membumi dalam kehidupan sehari-hari. Perubahan besar akan dirasakan oleh seluruh ummat manusia di muka bumi ini.
Paparan tauladan di atas memberikan penekanan bahwa sosok seperti itu masih dan terus relevan diikuti pada zaman ini dan mendatang. Apalagi melihat fenomena dekadensi moral, krisis figur dan krisis wibawa terjadi di mana-mana. Dan merupakan saat yang tepat bila pribadi Muhammad saw dijadikan sebagai acuan untuk menempuh kehidupan yang serba global ini. Bila pakar Barat terkagum-kagum pada pribadi Rasulullah saw, masihkan kaum muslimin tetap berpangku tangan tanpa ada upaya untuk meneladaninya?
Mengenang kembali Rasulullah tidak sebatas memeriahkan acara ritual di setiap peringatan kelahiran beliau. Juga tidak cukup sebatas terkagum-kagum. Tapi hendaknya ada upaya penyelarasan tingkah laku, sesuai dengan ajaran mulia yang beliau bawa. Menjunjung tinggi akhlak mulia dan menyebarkanluaskan rahmat bagi seluruh alam. (Zainul Hidayat)
Hujan dan Rahmat Allah
Hingga pertengahan Nopember ini hujan belum kunjung sudi menyapa begitu banyak kawasan di negeri kita. Ada pernah memang, sesekali hujan turun, tetapi hanya di wilayah tertentu, dan tidak datang-datang lagi. Di Bojonegoro Jatim, hujan pertama itu malah juga membawa angin sehingga 60 rumah rusak atau roboh.
Mencermati hal ini, rasanya sudah benar anggapan bahwa kesulitan yang banyak berdatangan di negeri kita ini berkait dengan ulah warganya. Sebab berbagai musibah itu saja sudah cukup mengguncang ketenangan –hingga yang terakhir soal TKI di Saudi yang dipulangkan– kok masih ditambah dengan diperpanjangnya masa kekeringan. Sementara yang paling merasakan dampak dari kekeringan itu juga rakyat kecil, yang insya Allah andilnya dalam membuat keruskaan di bumi negeri ini sama sekali tidak sebanding dengan yang besar.
Akhir 1997 ini nampaknya akan ditandai dengan berbaliknya banyak kemapanan. Gejolak mata uang sudah menggejala di seluruh dunia sehingga perusahaan-perusahaan multi nasional langsung merasakan rugi mendadak. Bila ini berkali-kali terjadi, apalagi terus-menerus, tidak mustahil kenyataan berbalik: kaum kaya menjadi miskin.
Berbagai kejadian yang jelas di luar dugaan itu kita pahami sebagai sinyal dari Allah swt. Barangkali sudah selayaknya bila Allah menurunkan teguran mengingat kedurhakaan manusia kian menjadi-jadi. Tatanan masyarakat dunia telah rusak, aturan moral tak jelas lagi, dan kebenaran sudah didasarkan pada suara terbanyak. Bila sudah demikian, apa salahnya manusia dihukum. Bukankah kecongkaan seperti itu merupakan bibit dari kebangkrutan dan perpecahan? Dan Allah tentu memiliki cara sendiri untuk melakukan ketentuan-Nya. Di antaranya dengan menunda jadwal kehadiran rahmat-Nya berupa hujan, atau membuat pasar saham global guncan, atau gunung meletus. Atau yang lain lagi, terserah kepada-Nya
Saudaraku seiman, saya ingin menceritakan kisah ini kepada anda sekalian, yang didalamnya terkandung nasehat dan pelajaran. Maka janganlah ragu, dan jangan segan-segan untuk mengirimkannya kepada orang-orang yang anda cintai, dan mendo’akan orang yg telah menulis, membaca dan mengutipnya.
Ya sebuah kisah yang menceritakan detik-detik terakhir wafatnya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam. Wafatnya Nabi kita tercinta Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam. Sebuah kisah yang sangat mengagumkan dan menggetarkan dada orang-orang yg beriman. Maka simaklah detik-detik yg mengharukan berikut ini.
Sebelum beliau wafat, beliau melakukan haji terakhir yang disebut sebagai haji wada’ (haji perpisahan). Saat beliau melakukan ibadah tersebut turunlah firman Allah SWT yg artinya:”Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan nitmat-Ku dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS.al-Maidah:3)
Maka menang9islah Abu Bakar as shiddiq ra. Bersabdalah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam kepadanya: “Apa yg membuatmu menangis dalam ayat tersebut?” Abu Bakar ra menjawab:” Ini adalah berita kematian Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam.”
Kembalilah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dari haji wada’ dan kurang dari tujuh hari wafat beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, turunlah ayat al-Qur’an paling akhir yg artinya: “Dan peliharalah dirimu dari (azab yg terjadi pada) hari yg pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yg sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).” (QS.al-Baqarah:281).
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam mulai menampakkan sakit beliau. Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam berkata:”Aku ingin mengunjungi syuhada ‘Uhud”, maka beliaupun berangkat pagi menuju syuhada ‘Uhud di awal-awal bulan Shafar tahun 11 H. Lalu berdiri diatas makam para syuhada dan berkata:” Assalamu’alaikum wahai syhada ‘Uhud, kalian adalah orang-orang yang mendahului kami dan kami insya Allah akan menyusul kalian, dan sesungguhnya aku, insya Allah akan menyusul kalian.”
Kemudian Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam pulang sambil menangis. Maka para sahabat bertanya kepada Rasululah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam: “Apa yang membuat anda menangis wahai Rasulullah ?” Beliau bersabda:” Aku merindukan saudara-saudaraku seiman.” Mereka berkata:” Bukahkah kami adalah saudaramu seiman wahai Rasulullah?” Beliau bersabda:” Bukan, kalian adalah sahabat-sahabatku, adapun saudara-saudaraku seiman adalah suatu kaum yg datang setelahku, mere ka beriman kepadaku sedang mereka belum pernah melihatku.”
Saya berdoa kepada Allah SWT mudah-nudahan kita semua termasuk mereka yg dirindukan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam.
Pada hari senin 29 Shafar beliau menghadiri jenazah di Baqi’. Ketika pulang beliau merasakan pusing di kepala dan panas badannya meninggi. Maka beliaupun mulai sakit dan terus bertambah sakit. Selama sakitnya itu beliau tetap memimpin shalat selama 11 hari dari 13 atau 14 hari masa sakit beliau. Sejak kamis malam, 4 hari sebelum wafat beliau, pada waktu shalat Isya’, beliau meminta agar Abu Bakar ra menggantikannya dalam memimpin shalat.
Tiga hari sebelum beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam wafat, sakit beliau mulai mengeras. Beliau saat itu berada dirumah Sayyidah Maimunah ra. Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:” Kumpulkanlah istri-istriku.” Maka berkumpullah istri-istri beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, beliau bersabda kepada mereka:” Apakah kalian mengizinkan aku untuk tinggal di rumah ‘Aisyah?” Maka mereka menjawab:” Kami mengizinkan anda wahai Rasulullah.”
Kemudian beliau berkeinginan untuk berdiri, akan tetapi beliau tidak mampu. Datanglah ‘Ali ibn Abi Thalib, dan al-Fadl ibn al-‘Abbas ra. Maka merekapun membopong Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, lalu mereka memindahkan beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dari kamar Maimunah ra menuju kamar ‘Aisyah ra.
Adapun para sahabat ra, baru pertama kali ini mereka melihat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dibopong di atas dua tangan. maka berkumpullah para sahabat ra dan mereka berkata:” Apa yang terjadi pada Rasulullah, apa yang terjadi pada Rasulullah?”
Mulailah manusia berkumpul di dalam masjid. Masjidpun mulai penuh dengan para sahabat ra. Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dibawa menuju rumah ‘Aisyah ra. Mulailah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam mencucurkan keringat, berkeringat dan berkeringat. Berkatalah ‘Aisyah ra:”Sungguh belum pernah aku melihat ada seorang manusia yg berkeringat deras seperti ini.” Maka dia mengambil tangan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dan dengannya dia mengusap keringat beliau. (Maka mengapakah dia mengusap keringat dg tangan beliau dan tidak mengusapnya dengan tangannya sendiri?) ‘Aisyah ra berkata:” Sesungguhnya tangan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam lebih lembut dan lebih mulia daripada tanganku, oleh karena itulah aku mengusap keringat beliau dengan tangan beliau dan tidak dengan tanganku.” (ini adalah sebuah penghormatan terhadap Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam)
‘Aisyah ra berkata:”Aku mendengar beliau berkata:”Laa Ilaha illallah, sesungguhnya kematian itu memiliki sekarat, Laa Ilaha illallah, sesungguhnya kematian itu memiliki sekarat.”
Mulailah suara-suara didalam masjid meninggi. Bersabdalah Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam:”Apa ini?” Berkatalah ‘Aisyah ra: “Sesungguhnya manusia mengkhawatirkan anda wahai Rasulullah.” Beliaupun bersabda: ”Bawalah aku kepada mereka.” Maka beliau berkehendak untuk bangun, akan tetapi tidak mampu. maka para sahabat menyirankan tujuh qirbah (timba) air kepada beliau hingga beliau bangkit, dan membawa neliau naik ke atas mimbar.
Jadilah khutbah tersebut adalah khutbah terakhir beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, menjadi kalimat terakhir Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dan doa terakhir Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam. Beliau bersabda:” Wahai manusia, kalian mengkhawatirkan aku?” Mereka menjawab:” Ya, wahai Rasulullah.” Bersabdalah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam:”Sesungguhnya tempat perjanjian kalian dengan aku bukanlah di dunia, tempat perjanjian kalian denganku adalah di haudh (telaga). Demi Allah, sungguh seakan-akan aku sekarang sedang melihat kepadanya di depanku ini. Wahai manusia, demi Allah, tidaklah kefakiran yang aku khawatirkan atas kalian, akan tetapi yang aku khawatirkan adalah dibukanya dunia atas kalian, sehingga kalian akan berlomba-lomba mendapatkannya, sebagaimana orang-orang sebelum kalian telah berlomba-lomba untuk mendapatkannya. Maka dunia itu akan membinasakan kalian sebagaimana dia telah membinasakan orang-orang sebelum kalian.”
Kemudian beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:”Allah Allah, shalat, Allah Allah, shalat.” (maksudnya; Aku bersumpah demi Allah terhadap kalian agar kalian menjaga shalat) beliau terus mengulang-ulangnya, lantas bersabda:” Wahai manusia, bertakwalah kalian terhadap kaum wanita, aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik terhadap kaum wanita.”
Kemudian beliau bersabda:” Wahai manusia, sesungguhnya ada seorang hamba, yang Allah SWT telah memberikan pilihan kepadanya antara dunia dan antara apa yang ada di sisi-Nya, maka dia memilih apa yang ada di sisi-Nya.”
Tidak ada yang memahami siapakah yang dimaksud dengan seorang hamba oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam tadi, padahal yang dimaksud oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam adalah diri beliau sendiri. Allah SWT telah memberikan pilihan kepada beliau dan tidak ada seorangpun yang paham selain Abu Bakar ra. dan kebiasaan para sahabat ra saat beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam sedang berbicara adalah mereka diam, seakan-akan ada seekor burung yang bertengger di atas kepala mereka. maka saat Abu Bakar ra mendengar perkataan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, dia tidak mampu menguasai dirinya, dengan serta merta dia menangis dengan sesengukan, dan ditengah masjid dia memotong pembicaraan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, dia berkata:”Kami tebus anda dengan bapak-bapak kami wahai Rasulullah, kami tebus anda dengan ibu-ibu kami wahai Rasulullah, kami tebus anda dengan harta-harta kami wahai Rasulullah.” dia mengulang-ulangnya, sementara para sahabat ra melihat kepadanya dg pandangan heran, bagaimana dia berani memotong khutbah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam?”
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda :”Wahai manusia, tidak ada seorangpun diantara kalian yg memiliki keutamaan di sisi kami melainkan kami telah membalasnya, kecuali Abu Bakar, aku tidak mampu membalasnya, maka aku tinggalkan balasannya kepada Allah SWT. Setiap pintu masjid ditutup kecuali pintu Abu Bakar ra tidak akan di tutup selamanya.”
Kemudian mulailah beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam berdo’a untuk mereka dan berkata pada akhir do’a beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam sebelum wafat:” Mudah-mudahan Allah menetapkan kalian, mudah-mudahan Allah menjaga kalian, mudah-mudahan Allah menolong kalian, mudah-mudahan Allah meneguhkan kalian, mudah-mudahan Allah menguatkan kalian, mudah-mudahan Allah menjaga kalian.”
Dan kalimat terkahir yang beliau sampaikan sebelum beliau turun dari atas mimbar sambil menghadapkan wajah beliau kepada ummat dari atas mimbar adalah:” Wahai manusia sampaikanlah salamku kpd orang yg mengikutiku diantara ummatku hingga hari kiamat.” Setelah itu beliaupun dibawa kembali ke rumah beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam.
Masuklah Abdurrahman ibn Abu Bakar, dan ditangannya ada sebatang siwak. Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam terus melihat kearah siwak tersebut, tetapi tidak mampu berkata aku menginginkan siwak. ‘Aisyah ra berkata:”Aku paham dari pandangan kedua mata beliau, bahwa beliau menginginkan siwak tersebut. Maka aku ambil siwak itu darinya (yakni Abdurrahman ibn Abu Bakar), kemudian aku letakkan dimulutku, agar aku melunakkannya untuk Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, kemudian aku berikan siwak tersebut kepada beliau. Maka sesuatu yang paling akhir masuk ke dalam perut Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam adalah air ludahku.” ‘Aisyah ra berkata: ”Termasuk sebuah keutamaan dari Rabb-ku atasku adalah Dia telah mengumpulkan antara air ludahku dg air ludah Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam sebelum beliau wafat.”
Kemudian masuklah putrid beliau Fathimah ra pada waktu dhuha di hari Senin 12 Rabi’ul awal 11 H, lalu dia menangis saat masuk kamar Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam. Dia menangis karena biasanya setiap kali dia masuk menemui Rasullullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, beliau berdiri dan menciumnya di antara kedua matanya, akan tetapi sekarang beliau tidak mampu berdiri untuknya. Maka Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda kepadanya:” Mendekatlah kemari wahai Fathimah.” Beliaupun membisikkan sesuatu di telinganya, maka dia pun menangis. Kemudian beliau bersabda lagi untuk kedua kalinya:” Mendekatlah kemari wahai Fathimah.” Beliaupun membisikkan sesuatu sekali lagi, maka diapun tertawa.
Maka setelah kematian Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, mereka bertanya kepada Fathimah ra: “Apa yg telah dibisikkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam kepadamu sehingga engkau menangis, dan apa pula yang beliau bisikkan hingga engkau tertawa?” Fathimah ra berkata:” Pertama kalinya beliau berkata kepadaku:” Wahai Fathimah, aku akan meninggal malam ini.” Maka akupun menangis. Maka saat beliau mendapati tangisanku beliau kembali berkata kepadaku:” Engkau wahai Fathimah, adalah keluargaku yg pertama kali akan bertemu denganku.” Maka akupun tertawa.
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam memanggil Hasan dan Husain, beliau mencium keduanya dan berwasiat kebaikan kepada keduanya. Lalu Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam memanggil semua istrinya, menasehati dan mengingatkan mereka. Beliau berwasiat kpd seluruh manusia yg hadir agar menjaga shalat. Beliau mengulang-ulang wasiat itu.
Lalu rasa sakitpun terasa semakin berat, maka beliau bersabda:” Keluarkanlah siapa saja dari rumahku.” Beliau bersabda:” Mendekatlah kepadaku wahai ‘Aisyah!” Beliaupun tidur di dada istri beliau ‘Aisyah ra. ‘Aisyah ra berkata:” Beliau mengangkat tangan beliau seraya bersabda:” Bahkan Ar-Rafiqul A’la bahkan Ar-Rafiqul A’la.” Maka diketahuilah bahwa disela-sela ucapan beliau, beliau disuruh memilih diantara kehidupan dunai atau Ar-Rafiqul A’la.
Masuklah malaikat Jibril as menemui Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam seraya berkata:” Malaikat maut ada di pintu, meminta izin untuk menemuimu, dan dia tidak pernah meminta izin kepada seorangpun sebelummu.” Maka beliau berkata kepadanya:” Izinkan untuknya wahai Jibril.” Masuklah malaikat Maut seraya berkata:” Assalamu’alaika wahai Rasulullah. Allah telah mengutusku untuk memberikan pilihan kepadamu antara tetap tinggal di dunia atau bertemu dengan Allah di Akhirat.” Maka Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:” Bahkan aku memilih Ar-Rafiqul A’la (Teman yg tertinggi), bahkan aku memilih Ar-Rafiqul A’la, bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah yaitu :para nabi, para shiddiqiin, orang-orang yg mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah rafiq (teman) yg sebaik-baiknya.”
‘Aisyah ra menuturkan bahwa sebelum Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam wafat, ketika beliau bersandar pada dadanya, dan dia mendengarkan beliau secara seksama, beliau berdo’a:
“Ya Allah, ampunilah aku, rahmatilah aku dan susulkan aku pada ar-rafiq al-a’la. Ya Allah (aku minta) ar-rafiq al-a’la, Ya Allah (aku minta) ar-rafiq al-a’la.” Berdirilah malaikat Maut disisi kepala Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam- sebagaimana dia berdiri di sisi kepala salah seorang diantara kita- dan berkata:” Wahai roh yg bagus, roh Muhammad ibn Abdillah, keluarlah menuju keridhaan Allah, dan menuju Rabb yg ridha dan tidak murka.”
Sayyidah ‘Aisyah ra berkata:”Maka jatuhlah tangan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, dan kepala beliau menjadi berat di atas dadaku, dan sungguh aku telah tahu bahwa beliau telah wafat.” Dia ra berkata:”Aku tidak tahu apa yg harus aku lakukan, tidak ada yg kuperbuat selain keluar dari kamarku menuju masjid, yg disana ada para sahabat, dan kukatakan:” Rasulullah telah wafat, Rasulullah telah wafat, Rasulullah telah wafat.” Maka mengalirlah tangisan di dalam masjid. Ali bin Abi Thalib ra terduduk karena beratnya kabar tersebut, ‘Ustman bin Affan ra seperti anak kecil menggerakkan tangannya ke kanan dan kekiri. Adapun Umar bin al-Khaththab ra berkata:” Jika ada seseorang yang mengatakan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam telah meninggal, akan kupotong kepalanya dg pedangku, beliau hanya pergi untuk menemui Rabb-Nya sebagaimana Musa as pergi untuk menemui Rabb-Nya.” Adapun orang yg paling tegar adalah Abu Bakar ra, dia masuk kpd Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, memeluk beliau dan berkata:”Wahai sahabatku, wahai kekasihku, wahai bapakku.” Kemudian dia mencium Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dan berkata : ”Anda mulia dalam hidup dan dalam keadaan mati.”
Keluarlah Abu Bakar ra menemui manusia dan berkata:” Barangsiapa menyembah Muhammad, maka Muhammad sekarang telah wafat, dan barangsiapa yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah kekal, hidup, dan tidak akan mati.” Maka akupun keluar dan menangis, aku mencari tempat untuk menyendiri dan aku menangis sendiri.”
Inna lillahi wainna ilaihi raji’un, telah berpulang ke rahmat Allah orang yg paling mulia, orang yg paling kita cintai pada waktu dhuha ketika memanas di hari Senin 12 Rabiul Awal 11 H tepat pada usia 63 tahun lebih 4 hari. semoga shalawat dan salam selalu tercurah untuk Nabi kiat tercinta Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam.
Ya Allah, berikanlah rizqi kepada kami, syafaat kekasih kami Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dan satu teguk air yg menyegarkan dari haudh (telaga) beliau dg tangan beliau yg mulia.
(Dikutip dari majalah Qiblati edisi 07 tahun II)
Selama tigabelas tahun berada di Makkah, umat Islam tidak diperkenankan untuk melawan walaupun mereka telah dianiaya dan diusir dari tempat tinggal mereka sendiri. Setelah Nabi Muhammad SAW hijrah dari Makkah ke Madinah, beliau mengadakan hubungan dengan Non-Muslim dalam bentuk perjanjian-perjanjian dan beliau juga meletakkan dasar-dasar Khilafah Islamiyah.
Peperangan Badar merupakan perang pertama dalam sejarah Islam, dimana lawan berjumlah tiga kali lebih banyak daripada orang-orang mukmin. Pasukan Muslim pada waktu itu berjumlah 313 orang, 70 ekor onta, 2 ekor kuda, dan 8 bilah pedang. Pada waktu itu Nabi Muhammad SAW berbagi onta dengan Abu Lubaba RA, dan Ali bin Abi Thalib RA pun berbagi tunggangan sebagaimana umat Muslim yang lain. Adapun pihak lawan, terdiri atas 1000 pasukan bersenjata lengkap, 700 ekor onta, dan 100 ekor kuda.
Marilah kita membahas beberapa peristiwa yang terjadi sebelum, selama, dan setelah pertempuran, untuk memetik berbagai pelajaran dari perang ini.
Sebelum pertempuran, Nabi Muhammad SAW dalam keadaan sangat khawatir dan karenanya beliau berdo’a memohon pertolongan Allah SWT, karena jika kaum Muslim terkalahkan maka akan sangat beratlah bagi Muslim yang tersisa untuk mengemban tugas dari Allah SWT. Kesedihan ini tergambarkan dalam Firman Allah SWT, Surat Al-Anfal Ayat 9, 10.
Ketika kamu memohon pertolongan kepada Rabb (Tuhan)-mu, lalu dikabulkan-Nya bagimu, “Sesungguhnya Aku (Allah SWT) akan mendatangkan bantuan kepadamu seribu malaikat yang datang bersambungan.” Dan tidaklah hal itu dijadikan oleh Allah untukmu kecuali sebagai berita gembira dan untuk menenteramkan hatimu. Dan tiada lain kemenangan itu kecuali datang dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha bijaksana.
Allah SWT menyatakan bahwa bantuan berupa pasukan malaikat itu adalah untuk memberikan bukti lahiriah yang menenteramkan hati orang-orang beriman. Tetapi selanjutnya Allah SWT menegaskan, janganlah menganggap bahwa kemenangan itu karena pertolongan malaikat. Karena sesungguhnya kemenangan dan pertolongan itu datangnya dari Allah SWT semata, yang telah berkenan mengirimkan pasukan malaikat tersebut.
Para malaikat itu diperintah oleh Allah SWT untuk melakukan apa saja seperti Firman-Nya dalam Surat Al-Anfal Ayat 12:
Ketika Allah mewahyukan kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku beserta kamu sekalian, maka teguhkanlah (hati) orang-orang beriman. Akan Aku timpakan kedalam hati orang-orang kafir rasa ketakutan. Maka tebaslah leher mereka dan juga jari-jemari mereka.
Dari Ayat ini kita memperoleh pengetahuan bahwa para malikat itu tidak hanya menguatkan hati dan meneguhkan pendirian orang-orang mukmin, melainkan juga berperan aktif secara fisik dalam pertempuran. Abu Dawud Mazani dan Suhail bin Hanif meriwayatkan bahwa, “Ketika kami baru mengarahkan pedang kami kepada lawan, leher mereka telah terpenggal sebelum pedang kami menyentuh mereka.” Adalah kenyataan bahwa para malaikat itupun melaksanakan tugas bertempur. Ayat 50 dari Surat Al-Anfal menguraikan lebih jauh bagaimana kiprah para malaikat di medan pertempuran itu:
Dan Jika saja kamu dapat menyaksikan ketika para malaikat itu mencabut jiwa orang-orang kafir itu, dihantamnya wajah-wajah mereka dan punggung-punggung mereka seraya berkata, “Rasakanlah olehmu siksaan api yang membakar.”
Ayat ini menerangkan, bahwa ketika para malaikat memisahkan jiwa orang-orang kafir itu dari tubuh mereka, mereka pun disiksa dengan pukulan cambuk besi yang panas membara ke wajah dan punggung mereka. Allah SWT menjelaskan lebih lanjut dalam ayat selanjutnya (Al-Anfaal Ayat 51);
Demikian itu terjadi akibat perbuatanmu sendiri, Dan sungguh Allah tak sekali-kali hendak menganiaya hamba-hamba-Nya.
Juga diterangkan didalam Surat Al-Anfaal Ayat 14,
Rasakanlah kini olehmu siksa ini, dan sungguh bagi orang-orang kafir kelak (di akhirat ada lagi) siksa api neraka.
Maka kita dapatkan kesimpulan disini, bahwa pada waktu ‘Sakaratul-maut’ (saat manusia meregang nyawa) adalah saat yang teramat sangat menyusahkan bagi orang-orang yang tidak beriman, mereka mendapat siksa karena perbuatan mereka menentang Allah SWT dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa menentang Allah SWT dan Rasulullah SAW, maka Allah akan menimpakan siksa yang teramat pedih kepadanya.
Pada waktu itu, banyak lagi mukjizat lain yang terjadi sebelum berlangsungnya pertempuran. Misalnya, Nabi Muhammad SAW memperoleh gambaran melalui mimpi-mimpi, sebagaimana terdapat dalam Surat Al-Anfal Ayat 43 dimana Allah SWT berfirman:
Ketika Allah memperlihatkan kepadamu didalam mimpimu bahwa mereka (musuhmu) itu berjumlah sedikit. Dan sekiranya mereka diperlihatkan kepadamu berjumlah banyak tentulah kamu menjadi gentar dan akan terjadi perdebatan diantara kamu sekalian dalam urusan ini. Namun Allah menyelamatkanmu dari hal sedemikian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui isi-hatimu.
Walaupun musuh berjumlah lebih besar, Allah SWT memperlihatkan kepada Nabi Muhammad SAW bahwa musuh berjumlah kecil dalam mimpi beliau. Karena jika Allah SWT memperlihatkan jumlah yang besar maka tentulah Nabi SAW berbagi informasi dengan para sahabat, dan hal ini akan menimbulkan perbedaan pendapat diantara mereka. Ketidak-sepahaman, kapanpun dan dimanapun mempunyai akibat buruk. Ketidak-sepahaman di medan pertempuran adalah yang paling mengakibatkan kekacauan. Maka Allah SWT menyelamatkan orang-orang mukmin dari kekacauan itu dengan mukjizat-Nya melalui mimpi Rasulullah SAW.
Mukjizat yang lain terjadi ketika pertempuran berlangsung, sebagaimana dikisahkan dalam firman Allah SWT didalam kitab suci Al-Qur’an, Surat Al-Anfaal ayat 44.
Dan didalam pertempuran, nampak bagi kamu (orang-orang mukmin) bahwa mereka berjumlah sedikit, begitu juga mereka (orang-orang kafir) melihatmu berjumlah sedikit. Demikian itu agar Allah dapat menyelesaikan urusan yang harus dituntaskan-Nya. Sesungguhnya, kepada Allah sajalah kembalinya segala urusan.
Orang-orang beriman telah mengalami mukjizat di medan pertempuran. Dalam penglihatan mereka musuh berjumlah sedikit, hal inilah yang membuat mereka memiliki keberanian. Bagaimanapun, kebijaksanaan Allah SWT memperlihatkan yang sedemikian juga jumlah orang-orang mukmin dimata orang-orang kafir adalah agar orang-orang kafir bergegas memasuki medan laga sehingga dapat merasakan siksa Allah SWT.
Peristiwa menarik lainnya selama terjadinya pertempuran adalah kehadiran Syeitan dalam wujud Surakah bin Malik, pemimpin Banu Bakr, bergabung dengan pasukan kafir. Syeitan menjadikan perbuatan jahat orang-orang kafir tampak wajar bagi diri mereka, dan mengobarkan semangat tempur orang-orang kafir dengan perkataan yang dijelaskan AllahSWT didalam Surat Al-Anfal Ayat 48,
Dan syeitan menjadikan mereka memandang baik perbuatan mereka, dan mengatakan: “Tak seorang manusiapun yang bisa menang melawan kalian pada hari ini, dan akulah pelindung kalian.” Ketika pasukan kedua belah pihak sudah saling berhadap-hadapan, syeitan berbalik arah melarikan diri seraya berkata, “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kalian, aku melihat (pasukan malaikat) apa yang tidak bisa kalian lihat. Sesungguhnya aku takut kepada Allah. Dan Allah sangat keras siksanya.”
Kaum Muslim memenangkan pertempuran itu, namun Allah SWT menerangkan bahwa itu semua perbuatan Allah SWT, sebagaimana firman-Nya dalam bagian awal Surat Al-Anfal Ayat 17:
Maka, (yang sebenarnya) bukanlah kamu yang membunuh mereka, adalah Allah yang membunuh mereka, sesungguhnya bukanlah kamu yang melempar ketika kamu melempar, adalah Allah yang melempar mereka.
Disini Allah SWT menegaskan kepada Rasulullah SAW dan para sahabat bahwa, mereka tidak boleh menganggap kemenangan itu adalah hasil perjuangan mereka. Kemenangan itu berasal dari Allah SWT.
Kita juga diingatkan oleh Allah SWT bahwa ketika Rasulullah SAW meraup debu dan kerikil kemudian dilemparkan kearah lawan, dan berubah menjadi badai debu yang mengenai mata orang-orang kafir, sehingga mereka berlarian menghindar. Berubahnya segenggam debu menjadi badai debu ini adalah karena pertolongan Allah SWT, maka dari itu keseluruhan penaklukan pasukan kafir itu adalah berkat pertolongan Allah SWT semata.
Menjelang berakhirnya perang, pasukan Muslim terbagi dalam tiga kelompok. Satu kelompok mengejar pasukan kafir yang melarikan diri agar tidak kembali lagi. Kelompok ke-dua mulai mengumpulkan sisa-sisa perang yang berserakan di arena pertempuran, mereka ini muslim yang miskin dan begitu gembira mendapatkan aneka barang milik musuh yang kaya yang ditinggalkan di medan pertempuran. Adapun kelompok ke-tiga berdiri mengelilingi Nabi Muhammad SAW, berjaga-jaga jika saja ada seorang musuh yang menyelinap hendak mencelakai Rasulullah SAW. Ketika tiga kelompok ini berkumpul lagi di malam hari, timbul permasalahan diantara mereka perihal pembagian harta sisa perang. Kelompok pengumpul menganggap itu adalah hak mereka mengingat merekalah yang memungut harta-benda itu langsung dari arena pertempuran.
Kelompok yang lain berpendapat bahwa sudah selayaknya mereka mendapat bagian mengingat merekalah yang memungkinkan adanya kesempatan kelompok lain mengumpulkan harta-benda yang ditinggalkan musuh, sementara mereka mengejar-ngejar musuh yang berlarian menyelamatkan diri. Kelompok ke-tiga mengatakan bahwa merekapun berhak atas pembagian harta itu karena mereka telah melakukan hal terpenting, yakni melindungi Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana diriwayatkan oleh Ubadah bin Samit RA, bahwa ini adalah persoalan serius sehingga diantara mereka mulai bertingkah tidak lagi saling menghargai satu sama lain. Sejauh itu belum ada perintah perihal pembagian harta sisa ini. Pada umat-umat terdahulu, mereka dilarang memanfaatkan harta sisa perang. Biasanya mereka menyusun harta itu membentuk tiang sehingga jika petir menyambar dan membakar tumpukan harta-benda itu, itulah pertanda bahwa perjuangan (jihad) mereka diterima.
Allah SWT mewahyukan perintah pembagian harta sisa perang itu secara terperinci kepada Nabi Muhammad SAW. Ini terdapat didalam Surat Al-Anfal. Segera setelah para sahabat hadir untuk mengetahui isi petunjuk Allah SWT ini, perbedaan pendapat diantara mereka pun sirna. Harta itu dibagikan kepada semua yang berpartisipasi dalam pertempuran sesuai dengan petunjuk Allah SWT. Hal ini merupakan kemurahan Allah SWT sebagai hadiah untuk umat Nabi Muhammad SAW, berupa kenikmatan dan penghargaan kepada mereka dengan dijinkan-Nya memanfaatkan harta-benda yang tersisa dari peperangan. Peristiwa ini juga mengajarkan kepada kita bagaimana para sahabat Rasulullah SAW pada waktu itu bersatu-padu penuh semangat dalam mengikuti petunjuk dari Allah SWT.
Menurut seorang ahli sejarah non-muslim, Perang Badar adalah perang yang sangat penting dalam sejarah kehidupan manusia, karena berdampak jangka panjang terhadap sejarah kemanusiaan.
Sampai disini, kita telah banyak melihat kembali mukjizat-mujizat yang terjadi selama terjadinya perang Badar, dan bagaimana pertolongan Allah SWT datang kepada orang-orang yang teguh keimanannya. Seorang penyair Urdu menuliskan dengan sangat indah mengenai kekagumannya terhadap perang Badar,
“ Jika kamu (bisa) menghadirkan lagi suasana Badar, para malaikat masih bisa berdatangan baris demi baris untuk memberikan pertolongan bagimu.”
Saya berdo’a semoga Allah SWT menolong kita untuk mengikuti jejak Nabi Muhammad SAW dan para sahabat beliau, dan semoga kita dianugerahi-Nya keberhasilan sebagaimana yang telah dianugerahkan-Nya kepada para mujahid Perang Badar. Amiin.
Setelah orang-orang kafir Quraisy menderita kekalahan di perang Badar, dengan terbunuhnya beberapa tokoh mereka dan sisanya tunggang-langgang melarikan diri kembali ke Makkah, dan Abu Sofyan tiba di Makkah dengan kafilah dagangnya, maka Abdullah bin Abi Rabi’ah, ‘Ikrimah bin Abi Jahal, Shafwan bin Umayyah serta beberapa tokoh Quraisy lain yang anak, bapak dan saudara-saudara mereka tewas menja-di korban dalam perang Badar, datang menemui Abu Sofyan lalu berbicara kepadanya dan kepada para pedagang Quraisy yang ikut bersama-nya: “Hai orang-orang Quraisy, sesungguhnya Muhammad telah membi-nasakan kalian serta membunuh orang-orang terbaik kalian. Maka dari itu, bantulah kami dengan harta kalian itu untuk memeranginya. Mudah-mudahan kami dapat membalas dendam atas kematian orang-orang kita!” Abu Sofyan dan orang-orang yang bersamanya mengabulkan permintaan mereka itu.
Maka orang-orang kafir Quraisy sepakat memerangi Rasulullah SAW., setelah Abu Sofyan dan pedagang-pedagang Quraisy lainnya setuju memberi bantuan kepada mereka dengan mengikut sertakan ahabisy (kabilah-kabilah Arab di luar kabilah Quraisy yang bergabung dengan orang-orang Quraisy) yang patuh kepada mereka, antara lain kabilah Kinaanah dan penduduk Tihaamah. Mereka juga menyertakan istri-istri mereka sebagai jaminan agar mereka tidak melarikan diri dari medan perang. Abu Sofyan yang bertindak sebagai komandan perang berangkat bersama istrinya, Hindun binti Utbah. Ikrimah bin Abi Jahal berangkat bersama istrinya, Ummu Hakim binti al-Harits bin Hisyam bin Mughirah. al-Harits bin Hisyam bin Mughirah berangkat bersama istrinya, Fathimah binti al-Walid bin al-Mughirah. Shafwan bin Umayyah berangkat bersama istrinya, Barzah binti Mas’ud ats-Tsaqafiyah. Dan ‘Amr bin al-‘Ash berangkat bersama istrinya, Biriithah binti Munabbih bin al-Hajjaj.
Pasukan Quraisy ini terus berjalan hingga tiba di dua mata air, tepat-nya di lembah sebuah gunung bernama Sabkhah, sebuah saluran air di tepi lembah tepat menghadap kota Madinah. Ketika pasukan Quraisy tiba di tempat tersebut, Rasulullah dan kaum muslimin mendengar berita kedatangan pasukan itu. Rasulullah berkata: “Demi Allah, aku tadi meli-hat mimpi yang baik. Aku lihat lembu milikku disembelih dan kulihat salah satu sisi mata pedangku sumbing. (Rasulullah berkata: “Adapun lembu itu adalah beberapa orang sahabatku yang terbunuh. Adapun sumbing yang kulihat pada salah satu sisi mata pedangku adalah salah seorang dari keluargaku yang terbunuh.”)
Dan kulihat aku memasukkan tanganku ke sebuah baju perang yang kokoh, aku menakwil baju perang itu adalah kota Madinah. Rasulullah SAW., bersabda kepada para sahabat: “Jika kalian mau, tetaplah kalian tinggal di Madinah dan biarkan mereka di tempat persinggahan mereka. Jika mereka tetap berada di sana, maka tempat itu adalah tempat yang paling jelek. Dan jika mereka masuk kepada kita (di Madinah), maka kita perangi mereka di dalamnya.” Abdullah bin Ubay bin Salul berpendapat sama dengan Rasulullah, yakni hendaknya mereka tidak keluar untuk menghadapi kaum Quraisy.
Sebenarnya Rasulullah SAW., sendiri tidak ingin keluar dari Madinah untuk menghadapi mereka. Namun beberapa orang dari kaum muslimin yang dimuliakan oleh Allah untuk gugur sebagai syuhada pada perang Uhud dan peperangan lainnya yang tidak ikut hadir pada perang Badar berkata: “Wahai Rasulullah, keluarlah bersama kami untuk menghadapi musuh, agar mereka tidak melihat kita sebagai orang-orang yang penge-cut dan tidak memiliki nyali untuk menghadapi mereka.” Abdullah bin Ubay bin Salul berkata: “Wahai Rasulullah, tetaplah anda tinggal di Madinah dan jangan keluar ke tempat mereka. Demi Allah jika kita keluar niscaya musuh akan mengalahkan kita. Dan jika mereka masuk ke tempat kita niscaya kita akan dapat mengalahkan mereka. Biarkan mereka di tempatnya wahai Rasulullah. Jika mereka tetap berada di sana, sungguh mereka menetap di tempat yang paling jelek. Jika mereka masuk Madi-nah, mereka akan diperangi oleh kaum laki-laki dan dilempari batu oleh para wanita dan anak-anak. Dan jika mereka kembali ke negeri asalnya, mereka pulang dengan membawa kegagalan seperti ketika mereka datang.”
Para sahabat yang menghendaki pertemuan dengan orang-orang Quraisy tetap berada di tempat Rasulullah SAW., hingga beliau masuk dan mengenakan baju besinya. Hari itu hari Jum’at dan peristiwa itu terjadi ketika beliau selesai mengerjakan shalat. Pada hari itu salah seorang dari kaum Anshar bernama Malik bin Amr meninggal dunia. Maka Rasulullah menshalatkannya. Setelah itu beliau keluar menemui para sahabat dan mereka semua menyesal. Mereka berkata: “Kita telah memaksa Ra-sulullah untuk keluar. Dan itu tidak pantas kita lakukan.” Maka ketika Rasulullah datang menemui mereka, mereka berkata: “Wahai Rasulullah, kami telah memaksamu keluar, dan itu tidak pantas kami lakukan. Jika Anda berkehendak, silakan Anda duduk kembali (tidak usah keluar dari Madinah), mudah-mudahan Allah memberi shalawat kepada Anda.” Rasulullah bersabda: “Jika seorang nabi telah mengenakan baju besinya, ia tidak pantas melepasnya sampai dia berperang.” Kemudian Rasulullah berangkat bersama seribu orang sahabat nabi.
Ketika Rasulullah SAW., bersama para sahabatnya tiba di Asy-Syauth, daerah antara Madinah dan Uhud, Abdullah bin Ubay bin Salul bersama sepertiga pengikutnya memisahkan diri dari Rasulullah. Dia berkata: “Ia (Rasulullah) menuruti pendapat para sahabatnya dan tidak menuruti pen-dapatku. Wahai manusia, untuk apa kita membunuh diri kita sendiri di tempat ini?”
Setelah itu Abdullah bin Ubay bin Salul kembali ke Madinah bersama para pengikutnya, yaitu kaum munafiqin dan orang-orang yang dihinggapi keraguan. Mereka dikejar oleh Abdullah bin Amr bin Haram, yang kemudian berkata kepada mereka: “Wahai kaumku, aku ingatkan kalian kepada Allah. Hendaknya janganlah kalian menelantarkan kaum dan nabi kalian ketika mereka telah dekat dengan musuh.” Mereka menjawab: “Jika kami tahu kalian akan diperangi, niscaya kami tidak akan menyerahkan kalian, namun kami mengira perang tidak akan ter-jadi.” Ketika Abdullah bin Ubay bin Salul dan para pengikutnya bersi-keras untuk kembali di Madinah, Abdullah bin Amr bin Haram berkata: “Hai musuh-musuh Allah, semoga Allah menjauhkan kalian dan Dia akan membuat nabiNya tidak membutuhkan kalian.” Sementara itu kaum Anshar berkata: “Wahai Rasulullah, mengapa kita tidak meminta bantuan kepada sekutu-sekutu kita dari kaum Yahudi?”
Rasulullah bersabda: “Kita tidak membutuhkan mereka.” Rasulullah terus berjalan hingga singgah di sebuah jalan menuju gunung Uhud. Beliau menghadapkan unta dan pasukannya ke arah Uhud seraya bersabda: “Janganlah salah seorang dari kalian berperang sebelum aku menyu-ruhnya berperang.” Sementara orang-orang Quraisy menghentikan unta dan kuda mereka pada ladang yang berada di asy-Syamghah, dekat dengan saluran kaum muslimin. Ketika Rasulullah melarang mereka ber-perang hingga beliau perintahkan, salah seorang dari kaum Anshar berka-ta: “Pantaskah tanaman-tanaman Bani Qallah dijadikan padang gembala-an sementara kami tidak diberi bagian?”
Rasulullah SAW., bersama tujuh ratus orang sahabat bersiap-siap untuk berperang. Beliau menunjuk Abdullah bin Jubair saudara Bani Amr bin Auf sebagai komandan pasukan pemanah. Ketika itu Abdullah bin Jubair diberi sandi kain berwarna putih dan pasukan pemanah berjumlah lima puluh orang. Rasulullah bersabda kepadanya: “Lindungi kami dari pa-sukan berkuda orang-orang Quraisy dengan anak panah kalian, agar me-reka tidak menyerang dari belakang kita. Jika kita menang ataupun kalah tetaplah engkau di posisimu, agar kita tidak akan diserang dari arah ka-lian!” Rasulullah merapatkan kedua baju besi beliau dan menyerahkan bendera kepada Mush’ab bin Umair saudara Bani Abdud Daar. Ketika itu Rasulullah memberikan izin kepada Samurah bin Jundub al-Fazari dan Rafi’ bin Khudaij saudara Bani Haritsah untuk ikut berperang. Ketika itu keduanya baru berusia lima belas tahun. Sebelumnya beliau menyuruh keduanya kembali ke Madinah. Namun dikatakan kepada beliau: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Rafi’ adalah seorang pemanah yang hebat.” Maka Rasulullah pun mengizinkannya ikut berperang. Dikatakan pula kepada beliau: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Samurah pernah me-ngalahkan Rafi’.” Maka Rasulullah juga mengizinkannya ikut berperang. Selain itu Rasulullah memulangkan Usamah bin Zaid, Abdullah bin Umar bin al-Katthab, Zaid bin Tsabit salah seorang dari Bani Malik bin an-Najjar, al-Bara’ bin Azib dari Bani Haritsah, Amr bin Hazm dari Bani Malik bin an-Najjar, dan Usaid bin Dhuhair dari bani Haritsah, kemudian mengizinkan mereka ikut serta dalam perang Khandaq pada usia lima belas tahun.
Sementara itu kaum musyrikin berkekuatan tiga ribu tentara dan dua ratus ekor kuda yang diletakkan di samping mereka juga melakukan persiapan untuk berperang. Mereka menunjuk Khalid bin Walid sebagai komandan pasukan berkuda sayap kanan dan Ikrimah bin Abu Jahal sebagai komandan pasukan berkuda sayap kiri. Rasulullah SAW., bersabda: “Siapa yang siap mengambil pedang ini dengan haknya?” Beberapa orang sahabat berdiri untuk mengambilnya namun Rasulullah tidak menyerahkannya kepada seorang pun dari mereka. Abu Dujanah Simak bin Kharasyah saudara Bani Saidah berdiri seraya bertanya: “Apa haknya, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Engkau tebas musuh dengannya hingga pedang ini bengkok.” Abu Dujanah berkata: “Saya siap mengambilnya dengan haknya, wahai Rasulullah.” Maka Rasulullah menyerahkan pedang itu kepadanya. Abu Dujanah adalah seorang pemberani dan suka berjalan sombong di tengah peperangan jika telah meletus. Ia membuat tanda ikat kepala berwarna merah. Jika ia telah mengenakannya, maka orang-orang akan mengetahui bahwa ia akan berperang. Setelah meng-ambil pedang itu dari tangan Rasulullah, Abu Dujanah mengeluarkan ikat kepala warna merah, lalu mengenakannya di kepala dan berjalan som-bong di antara dua barisan. Ketika melihat Abu Dujanah berjalan dengan sombong Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya gaya jalan seperti itu ada-lah gaya jalan yang dibenci Allah kecuali di tempat seperti ini.”
Sementara itu Abu Sofyan bin Harb berkata memprovokasi para pe-megang bendera Bani Abdid Daar: “Wahai Bani Abdid Daar, kalian ditunjuk untuk memegang bendera perang kita pada perang Badar kemu-dian kita kalah sebagaimana kalian ketahui. Sesungguhnya pasukan itu didatangi dari arah para pemegang bendera. Jika para pemegang bendera kalah maka pasukan pun akan kalah. Sekarang terserah kalian, apakah kalian tetap akan memegang bendera perang atau kalian akan melepas-kannya, dan untuk itu kami melindungi kalian.” Orang-orang dari Bani Abdid Daar tertarik dengan tawaran Abu Sofyan dan berjanji kepadanya seraya berkata: “Kami serahkan bendera perang kepadamu. Besok pagi jika kita bertemu musuh, engkau akan tahu apa yang kami perbuat.” Memang sikap itulah yang diinginkan Abu Sofyan dari mereka.
Ketika kedua pasukan telah bertemu, Hindun binti Utbah berdiri bersama kaum wanita lainnya, kemudian mengambil rebana dan menabuhnya di belakang pasukan kaum musyrikin untuk mengobarkan semangat mereka.
Hindun binti Utbah pun bersya’ir:
“Wahai Bani Abdud Daar,
Duhai para pembela anak keturunan,
Yang memukul dengan pedang tajam.”
Hindu binti Utbah juga bersya’ir:
“Jika kalian maju, kalian akan kami peluk
Dan kami sediakan bantal kecil untuk bersandar
Namun jika kalian mundur, kami akan berpisah dari kalian dengan perpisahan yang tidak menyenangkan.”
Sedangkan kode kaum muslimin di perang Uhud adalah amit, amit.
Kedua pasukan pun bertempur hingga perang berkecamuk. Abu Dujanah bertempur hingga berada di tengah-tengah antara dua pasukan yang sedang berperang. Ia membunuh siapa saja yang ditemuinya. Di pihak kaum musyrikin terdapat seorang yang tidak membiarkan seorang pun yang terluka dari kaum muslimin kecuali dia membunuhnya seka-ligus. Orang musyrik tersebut mendekati Abu Dujanah. Maka aku pun (az-Zubair bin Awwam -pent) berdoa kepada Allah, mudah-mudahan Dia mempertemukan keduanya. Ternyata benar, keduanya pun bertemu dan saling menyerang. Orang musyrik itu memukul Abu Dujanah, namun perisai kulit melindungi Abu Dujanah dan menahan pedang orang tersebut. Kemudian Abu Dujanah memukulnya hingga tewas. Setelah itu Abu Dujanah mengayunkan pedangnya ke atas belahan rambut Hindun binti Utbah, namun kemudian ia menurunkan pedangnya kembali.
Abu Dujanah berkata: “Saya melihat manusia menyayati tubuh kor-ban dengan sayatan-sayatan, maka aku pun menghampirinya dan mengarahkan pedang kepadanya. Ternyata dia adalah seorang wanita, aku pun menghormati pedang Rasulullah untuk tidak membunuh dengannya se-orang wanita.”
Sementara itu Hamzah bin Abdul Muthalib bertempur hingga berha-sil membunuh Artha’ah bin Abdu Syurahbil bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Abdiddaar. Ia adalah salah seorang pembawa berdera kaum musyrikin. Setelah itu Siba’ bin Abdul ‘Uzza al-Ghubsyani yang biasa dipanggil Abu Niyar berjalan melewati Hamzah bin Abdul Muthalib. Hamzah ber-kata: “Kemarilah wahai anak pemutus kelentit!” Ibu Siba’ adalah seorang tukang khitan di Makkah.
Wahsyi, budak Jubair bin Muth’im berkata: “Demi Allah, aku lihat Hamzah bin Abdul Muthalib membunuh orang-orang Quraisy dengan pedangnya dan tidak menyisakan seorang pun. Aku lihat ia seperti unta yang belang-belang putih dan hitam. Tiba-tiba’ Siba’ bin Abdul Uzza lebih cepat kepada Hamzah bin Abdul Muthalib daripadaku. Hamzah berkata: “Kemarilah!” (Hamzah memanggilnya dengan panggilan yang jelek) Setelah itu hamzah memukul Siba’ bin Abdul Uzza tepat di kepalanya. Aku pun menggerak-gerakkan tombakku hingga ketika aku merasa telah siap, aku melempar-kannya ke arah Hamzah bin Abdul Muthalib dan tepat mengenai bagian bawah perutnya dan tombakku keluar di antara kedua kakinya. Hamzah bin Abdul Muthalib berusaha berjalan ke arahku namun tidak sanggup dan akhirnya terjatuh. Aku membiarkannya beberapa waktu, hingga ketika yakin ia telah mati aku mengambil tombakku dan kembali ke barak. Aku tidak mempunyai tujuan lain selain membunuh Hamzah bin Abdul Muthalib karena aku ingin menjadi orang merdeka.
Ketika aku tiba di Makkah aku langsung dimerdekakan. Selanjutnya aku tetap berdomisili di Makkah, hingga ketika Rasulullah berhasil menaklukkan Makkah, aku pun lari ke Thaif dan tinggal di sana. Ketika delegasi Thaif pergi mene-mui Rasulullah untuk menyatakan masuk Islam tiba-tiba terasa gelap semua jalan bagiku. Aku berkata pada diriku: “Aku akan pergi ke Syam atau Yaman atau negara lain.” Demi Allah, aku resah karena itu. Namun tiba-tiba seseorang berkata kepadaku: “Celakalah engkau, demi Allah, dia (Rasulullah -pent) tidak akan membunuh seseorang yang masuk dalam agamanya dan bersaksi dengan persaksian yang benar.” Mendengar per-kataan orang itu aku pun ikut bersama orang-orang pergi menemui Ra-sulullah di Madinah. Tidak ada yang lebih menakutkan diriku kecuali berdiri di hadapan beliau dan bersaksi dengan persaksian yang benar. Ketika Rasulullah melihatku, beliau bersabda: “Apakah engkau Wahsyi?” “Betul, wahai Rasulullah.” Jawabku. Selanjutnya beliau bersabda: “Du-duklah, dan ceritakan kepadaku bagaimana engkau membunuh Hamzah!” Setelah selesai aku menceritakan peristiwa itu, beliau bersabda: “Celaka engkau, sembunyikan wajahmu dariku! Aku tidak ingin melihatmu lagi.” Maka aku pun pergi, dan aku berharap semoga Rasulullah tidak melihat-ku lagi hingga beliau diwafatkan oleh Allah.
Di sisi lain, Mush’ab bin Umair bertempur melindungi Rasulullah. Ia dibunuh oleh Qami’ah al-Laitsi karena ia sangka Rasulullah. Setelah membunuh Mush’ab bin Umair, ia kembali ke Makkah dan berkata: “Aku telah membunuh Muhammad.” Ketika Mush’ab bin Umair gugur, Ra-sulullah menyerahkan berdera kepada Ali bin Abi Thalib yang kemudian bertempur bersama beberapa orang dari kaum muslimin. Ketika perang tengah berkecamuk, Rasulullah duduk di bawah bendera orang-orang Anshar dan menyuruh seseorang untuk menemui Ali bin Abi Thalib dengan membawa pesan hendaknya Ali bin Abi Thalib maju dengan membawa bendera perang. Maka ia pun maju sambil berkata: “Aku adalah Abul Qusham.” { pendekar pembawa bencana. Dia mengatakan seperti itu karena sebagai jawaban terhadap Abu Sa’ad yang mengatakan “Ana Qashim” (Saya pembawa bencana).}
Abu Sa’ad bin Abi Thalhah, pembawa bendera kaum musyrikin berseru: “Wahai Abul Qusham, apakah engkau bersedia perang tanding denganku?” Ali bin Abi Thalib menjawab: “Ya.” Kemudian keduanya melakukan perang tanding di antara barisan kaum muslimin dan barisan kaum musyrikin. Keduanya saling mengayunkan pedang dan akhirnya Ali bin Abi Thalib berhasil menebas Abu Sa’ad bin Abi Thalhah hingga terluka. Selanjutnya Ali bin Abi Thalib pergi dan tidak membunuhnya. Para sahabat pun bertanya: “Mengapa engkau tidak membunuhnya seka-ligus?” Ali bin Abi Thalib menjawab: “Ia datang kepadaku dengan kehor-matannya dan aku merasa iba kepadanya karena hubungan kekerabatan antara aku dengannya. Dan setelah itu aku tahu bahwa Allah Ta’ala telah me-matikannya.
Sementara itu Ashim bin Tsabit bin Abi Aqlah bertempur habis-habisan dan berhasil membunuh Musafi’ bin Thalhah dan saudaranya al-Julas bin Thalhah. Keduanya terkena anak panah Ashim bin Tsabit. Sebelum menemui ajalnya, salah seorang dari keduanya menemui ibunya yang bernama Sulafah dan meletakkan kepala di pangkuannya. Sulafah berkata: “Anakku, siapa yang melukaimu?” Ia menjawab: “Ketika sese-orang melemparku dengan anak panah, aku dengar ia berkata: “Ambillah ini, aku anak Abu Abi Aqlah.” Sulafah pun bernadzar jika Allah membe-rinya kesempatan untuk melihat kepala Ashim bin Tsabit, ia akan menyi-ramnya dengan minuman keras.
Handhalah bin Abu Amir al-Ghasil (yang dimandikan para malai-kat) bertemu dengan Abu Sofyan bin Harb di perang Uhud. Ketika Handhalah bin Abi Amir dapat mengatasi perlawanan Abu Sofyan bin Harb, tiba-tiba Syaddad bin Al-Aswad –anak Syu’ub– melihatnya lalu memukul Handhalah bin Abi Amir hingga gugur. Rasulullah SAW., bersabda: “Sungguh sahabat kalian, Handhalah, pasti akan dimandikan para malai-kat.” Ketika para sahabat menanyakan perihal Handhalah kepada istrinya: “Ada apa dengan Handhalah bin Abi Amir?” Istrinya menjawab bahwa Handhalah bin Abi Amir keluar dari rumah dalam keadaan junub ketika mendengar panggilan jihad.
Kemudian Allah Ta’ala menurunkan pertolongan kepada kaum muslimin dan menepati janjiNya kepada mereka. Kaum muslimin berhasil membunuh orang-orang musyrik dengan pedang-pedang mereka dan berhasil membobol pertahanan musuh. Kekalahan menimpa kaum musy-rikin dan tidak terelakkan.
Az-Zubair berkata: “Demi Allah, aku lihat gelang kaki Hindun binti Utbah dan teman-temannya tercecer dan tidak diambil sedikit pun. Tiba-tiba pasukan pemanah turun ke barak ketika kami berhasil membobol pertahanan musuh dan membiarkan punggung kami berada di depan pasukan berkuda musuh. Akhirnya kami diserang oleh pasukan berkuda musuh dari arah belakang, dan seseorang berseru: “Sesungguhnya Mu-hammad telah terbunuh.” Maka musuh pun berhasil mengalahkan kami setelah sebelumnya kami berhasil mengalahkan para pemegang bendera mereka hingga tak seorang pun yang berani mendekat. Bendera Quraisy yang terjatuh kemudian diambil oleh Amrah binti al-Qamah al-Hari-tsiyah dan diangkatnya tinggi-tinggi kepada orang-orang Quraisy yang kemudian berkumpul di sekitarnya.
Pertahanan kaum muslimin jebol, dan mereka diserang oleh musuh. Hari itu adalah hari ujian dan hari pembersihan. Allah memuliakan kaum muslimin dengan memberikan kepada mereka kesempatan mati syahid. Karena pertahanan kaum muslimin telah terbuka, maka musuh berhasil masuk ke tempat Rasulullah SAW., kemudian melempar beliau dengan batu hingga terjatuh dalam keadaan miring. Batu tersebut mengenai gigi seri, melukai wajah dan bibir beliau. Orang yang melempar beliau dengan batu itu adalah Utbah bin Abi Waqqash. Darah pun mengalir di wajah beliau. beliau mengusapnya seraya bersabda; ‘Bagaimana suatu kaum bisa bahagia, sedang mereka melukai wajah nabi mereka. Padahal ia mengajak mereka kepada Rabb mereka.”
Kemudian Allah Ta’ala menurunkan ayat:
“Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengadzab mereka, kare-na sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zhalim.” (Ali Imran: 128)
Abu Sa’id Al-Khudri RA., berkata bahwa pada perang Uhud, “Utbah bin Abi Waqqash melempar Rasulullah hingga memecahkan gigi seri sebelah kanan bagian bawah dan juga melukai bibir beliau. Abdullah bin Syihab az-Zuhri melukai kening beliau. Ibnu Qami’ah melukai bagian atas pipi yang menonjol hingga dua buah mata rantai besi masuk ke bagian atas pipi beliau. Rasulullah terjatuh ke dalam salah satu lubang yang dibuat oleh Abu Amir agar kaum muslimin terperosok ke dalamnya tanpa mereka sadari. Kemudian Ali bin Abi Thalib memegang tangan beliau dan Thalhah bin Ubaidillah mengangkat beliau hingga bisa tegak berdiri. Malik bin Sinan yakni Abu Sa’id al-Khudri mengusap darah dari wajah beliau dan menelannya. Kemudian Rasulullah bersabda: “Barang-siapa yang darahnya menyentuh darahku, niscaya ia tidak akan disentuh api Neraka.”
Ketika Rasulullah SAW., dikepung oleh orang-orang Quraisy, beliau bersabda: “Siapa yang siap mengorbankan nyawanya untukku?” Ziyad bin as-Sakan berdiri bersama lima orang dari kaum Anshar. Mereka bertempur habis-habisan melindungi Rasulullah hingga satu persatu me-reka gugur sebagai syuhada. Dan orang yang terakhir gugur dari mereka adalah Ziyad atau Umarah yang bertempur hingga terluka parah. Ketika dalam keadaan seperti itu datanglah serombongan kaum muslimin yang akhirnya berhasil mengusir orang-orang musyrik dari sekitar Rasulullah. Kemudian beliau bersabda: “Dekatkan ia kepadaku!” Lalu mereka pun mendekatkannya kepada Rasulullah yang kemudian menjadikan kaki be-liau sebagai bantalnya. Akhirnya Ziyad bin as-Sakan meninggal sedang pipinya berada di atas kaki Rasulullah.
Sahabat yang pertama kali melihat Rasulullah SAW., setelah kekalahan mereka dan ucapan orang-orang yang mengatakan bahwa beliau telah gugur adalah Ka’ab bin Malik. Ia berkata: “Aku melihat kedua mata Rasulullah yang suci bersinar dari bawah perisai kepala. Kemudian aku berteriak sekeras-kerasnya: ‘Wahai seluruh kaum muslimin, bergembira-lah kalian. Inilah Rasulullah.’ Rasulullah memberikan isyarat kepadaku agar aku diam.” –Bersambung-