//
archives

Drama

This tag is associated with 10 posts

CERPEN-MENGHALAU KABUT HATI

“Masih ingat saya?” suara bariton itu membuat Indy menoleh dengan gugup, sekaligus membuat lamunannya yang indah terburai. Si pemilik suara segera menjajari langkahnya tanpa permisi.

Indy pun terpaksa menghentikan langkah dan memandangi si pemilik suara dengan lebih cermat. Cowok itu jangkung, wajahnya tak kalah ganteng dari Christian Sugiono dengan kulitnya yang putih bersih dan tubuh yang atletis. Tapi, dimana Indy pernah melihatnya? Indy tak merasa pernah mengenalnya, atau jangan-jangan baterai otaknya sudah terlalu lemah, perlu dicharge ulang! Bagaimana mungkin sosok ganteng ini terhapus dari memorinya?

“Aduh, sayang sekali kalau kamu nggak ingat,” cowok itu tampak kecewa sekali. Ia menggelengkan kepalanya berulang kali.

“Siapa ya?” Indy mulai penasaran.

“Kamu benar-benar nggak ingat?” desaknya lagi, membuat Indy terenyum kering. “Sayang sekali………..” si ganteng itu pun kembali menggelengkan kepalanya.

“Memangnya dimana kita pernah ketemu?” tanya Indy makin penasaran. Masak sih ia sampai bisa melupakan owok ganteng itu?

“Justru saya tanpa sama kamu karena saya sendiri nggak ingat dimana kita pernah bertemu. Mungkin saja kamu bisa memberitahu saya kapan dan dimana kita pernah ketemu. Tapi karena ternyata kamu juga nggak ingat….. siapa ya yang kira-kira bisa memberitahu kita?” ujar si ganteng dengan kocak, membuat Indy keki setengah mati. Tapi melihat tampang innocent si ganteng, tak urung tawanya pun lepas berderai. Salahnya sendiri, berjalan sambil ngelamun! Batin Indy.

Saya Hendra,” akhirnya cowok itu menyebutkan namanya sambil mengulurkan tangannya dan segera disambut Indy dengan hangat.

“Indy…….” keduanya pun tertawa berderai.

Sampai sekarang, bila ingat perkenalannya yang unik dengan Hendra setahun yang lalu, Indy masih suka tersenyum sendiri. Hati dan pikirannya memang tak pernah lepas dari sosok ganteng Hendra, yang semakin lama semakin gencar menghujaninya dengan SMS berisi rayuan pulau kelapa. Hendra memang romantis. SMSnya selalu penuh dengan kalimat-kalimat puitis yang membuat mimpinya semakin indah.

Hampir setiap hari Hendra mengirim SMS, dan Indy yang lebih suka berbincang langsung biasanya segera menelepon Hendra tiap kali menerima SMSnya. Sebenarnya Indy hern, walaupun sudah berbulan-bulan mereka bertukar SMS, telefon, chatting, e-mail, namun tak sekalipun Hendra mengutarakan niatnya untuk berkunjung ke rumah Indy. Padahal segala macam cara Indy sudah berusaha memancing pertemuan kembali dengannya. Alamat rumah lengkap dengan denahnya bahkan sudah pernah dikirimkan Indy melalui e-mail kepada Hendra, namun Hendra tak juga bergeming.

Akhirnya, setelah pulsa handphone-nya mulai tekor dan id dimarahi mama karena boros. Indy pun berinisiatif untuk merancang pertemuan dengan Hendra. Melalui SMS, Indy mengundang Hendra merayakan ulang tahunnya yang ke tujuh belas. Indy bahkan dengan sengaja tidak mengundang teman-temannya seperti biasanya karena ia ingin perayaan ulang tahunnya yang ke tujuh belas nanti menjadi momentum yang penting daam hidupnya dengan merayakannya bersama cowok yang belakangan ini tak pernah lepas dari ingatannya.

Melalui SMS juga Hendra mengiyakan dan berjanji akan memberikan surprise pada hari ulang tahun Indy. Hal itu membuat Indy semakin berbunga-bunga. Ia pun semakin bersemangat merancang pesta ulang tahun yang akan dirayakannya bersama Hendra.

Ketika hari yang ditunggu-tunggunya tiba, Indy menjadi semakin tidak sabar untuk bertemu dengan Hendra. Sepulang sekolah, ia sengaja ke salon untuk mempercantik dirinya. Ia ingin sekali Hendra terpikat padanya, sama seperti cowok ganteng telah memenjarakan hatinya.

Kue tart telah dipesan jauh-jauh hari dari toko kue langgnanan mama. Masakan mama yang enak juga sudah siap terhoidang di meja. Tinggal menunggu kedatangan sang arjuna, istilah mama yang dari tadi tak henti-hentinya menggoda Indy.

Namun Hendra tak kunjung datang. Sampai malam menjelang, make-up Indy dan hidangan yang disiapkan di meja menjadi basi, cowok ganteng yang ditunggu-tunggu Indy tak juga menampakkan batang hidungnya. Akhirnya, tepat jam dua belaas malam Indy menyerah. Ia mencuci mukanya, memotong sendiri kue tartnya dan memakan hidangan yang sudah dingin sambil bercucuran air mata. Seluruh penghuni rumah sudah tidur, tanpa berani bertanya mengapa tamu yang ditunggunya tidak datang.

Esok paginya, Indy jatuh sakit. Demamnya yang tinggi sampai hampir 39 derajat celcius, membuat seisi rumah cemas. Yunia, sahabat karib Indy, tak kalah panik. Ia langsung menemui Indy sepulang sekolah begitu tahu Indy sakit. Dokter keluarga juga sudah dipanggil, namun Indy masih saja menggigil. Akhirnya Indy dibawa ke rumah sakit. Ia masih mengingau terus dan demamnya tak juga turun.

Yunia yang merasa terenyuh melihat kondii sahabatnya berinisiatif menghubungi Hendra, cowok yang tak henti-hentinya dibicarakan Indy di sekolah. Sayang sekali Hendra tak mau menjawab SMSnya, bahkan ketika ditelepn cowok itu mengatakan bahwa ia tidak kenal dengan Indy.

Yunia menjadi bingung dibuatnya. Sebenarnya ada apa sih, antara Indy dan Hendra? Kalau Hendra tidak mengenal Indy, mengapa Indy tampak semangat sekali bila sedang membicarakan Hendra? Yunia benar-benar tak habis pikir!

Hendra melengkahkan kakinya yang panjang dengan santai mengitari kawasan Senayan. Minggu pagi seperti itu, Senayan menjadi surga bagi mereka yang doyan olahraga sambil mencuci mata.

Kedua bola matanya tak hentinya menangkap sosok cantik yang sedang jogging di sekelilingnya. Sesosok gadis bertubuh mungil dengan pakaian olahraga berwarna pink segera menarik perhatiannya. Gadis itu cantik sekali, dan ia sendirian! Pas sekali untuk diajak kenalan!

“MASih ingat saya?” tanya Hendra sambil menajajri langkah gadis mungil itu. Suara baritonnya terdengar memikat. Namun Yunia, gadi mungil yang berpakaian olahraga warna pink itu tak menoleh sedikitpun.

“Masih ingat saya?” ulang Hendra lebih keras, mengira gadis itu tak mendengar suaranya.

Mendadak Yunia berhenti. Ia menatap Hendra dengan tajam, lalu berkata dengan tenang. “Tentu saja saya ingat kamu, Hendra!”

“Kamu tahu nama saya?” Hendra terperanjat karena tak mengira akan mendapat jawaban seperti itu. Ia merasa belum pernah bertemu Yunia, dan pertanyaan yang diajukannya tadi memang hanya sebagai umpan untuk dapat berkenalan dengan gadis yang menarik hatinya.

“Kapan dan dimana kita pernah bertemu?” tanya Hendra gencar.

“Kira-kira setahun yang lalu, disini juga.”

“Oh ya? Kok saya tidak ingat……. padahal saya tak mungkin lupa bila saya kenal gadis secantik kamu……..”

“Mungkin kamu tidak ingat saya, tapi kamu pasti ingat Indy, sahabat saya yang telah kamu permainkan perasaannya. Masih mau tebar pesona lagi? Maaf, saya tidak tertarik!” ujar Yunia dengan tenang.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Hendra meninggalkan Yunia dengan muka memerah. Cowok ganteng itu bahkan berlari-lari kecil tanpa berani menoleh lagi. Dari kejauhan, Indy yang menyaksikan kejadian itu tertawa terbahak-bahak melihatnya. Kabut yang selama ini menyelimuti hatinya perlahan terhalau pergi. Selamat tinggal, Hendra! Bisiknya kepada angin.

Cerpen dan Drama (Mengenangmu)

ALUR CERITA

 

Kisah cinta antara Vano dan Shevy berawal ketika Shevy ditabrak Vano pada hari pertama masuk sekolah. Kian lama Vano menyukai Shevy. Saat di taman, Vano menyatakan perasaan sukanya pada Shevy. Tetapi Shevy belum memberi kepastian pada Vano. Kemudian Exi marah-marah dan menampar Shevy. Saat Vano mengetahui peristiwa itu, Vano menampar Exi.

Beberapa ahri kemudian, Vano kecelakaan dan lukanya sangat parah. Lalu Vano diajak tante Luna ke Singapura untuk operasi plastik. Setelah kembali ke Indonesia, Vano akan memberi kejutan pada Shevy. Akan tetapi setelah Vano tiba di rumah Shevy, Shevy sedang daam keadaan sakit. Shevy terkena penyakit kanker darah. Semua teman-teman Shevy datang ke rumahnya, termasuk Exi dan Naya. Kemudian Shevy menyatukan Vano dan Exi, meskipun Vano sangat kecewa sekali terhadap Shevy. Setelah menyatukan Vano dan Exi, Shevy menghembuskan nafas terakhirnya. Shevy pergi untuk selama-lamanya. Shevy meninggalkan sejuta kenangan.

ADEGAN I

Lembutnya belaian kasih sayang dari orang tua, memang tak akan pernah dirasakan oleh seorang Vano Ringga Ditya. Remaja yang baru menginjak 17 tahun ini, telah ditinggalkan orang tuanya sedari kecil. Entah kemana orang tuanya pergi, Vano takkan pernah tahu. Harta kekayaan yang melimpah ruah, takkan pernah sanggup untuk menepis kesepiannya. Hari demi hari telah dilaluinya tanpa kehadiran orang tua doi sisi Vano. Vano hanya diasuh dan dibesarkan oleh tantenya yang kebetulan tidak memiliki seorang anak. Maka dari itu, Vano menganggap tantenya itu seperti orang tuanya sendiri.

Pagi itu sang mentari telah memancarkan sinar indahnya ke alam semesta. Untuk hari pertama masuk sekolah di kelas XI SMA ini, Vano tidak ingin melakukan kegiatan seperti biasanya, yaitu terlambat masu kelas. Mulai sekarang, Vano ingin menjadi lebih baik lagi. Pagi ini Vano sangat terburu-buru sekali, arena sudah hampir pukul 07.00.

Vano             :   “Tante….!!! (berdiri di depan pintu sambil setengah berteriak) Vano berangkat duolu ya, Assalamu’alaikum….” (pergi begitu saja tanpa mendengar salam dari tanteny)

Tante Luna    :   (lari tergopoh-gopoh dari dapur, sambil membawa serbet piring di pundaknya) “Wa’alaikum salam…. hati-hati ya, nak…! (mengeluh) Dasar anak muda jaman sekarang, eblum dijawan salamnya ja, udah keburu pergi. Aaahhh… udah lah nggak pa-pa…” (pergi menuju dapur kembali

Sesampai di sekolahan, Vano disambut dua temennya yang sudah lengket sedari kecil. Siapa lagi kalau bukan Ncho dan Kevyn.

Vano             :   “Hai Kev….. Nyc……! Gimana liburannya, seru nggak…???” (sambil menjabat tangan kedua sohibnya itu secara bergantian)

Nycho           :   “Yoi, seruuu banget pastinya. Malahan tuh ya, kemarin itu aku ke Paris segala….” (berucap kagum)

Kevyn           :   “Yaa… biasalah, palingan juga aku ke Amrik. Sebenernya sih aku udah bosen kesana mlulu, abis tiap kali liburan pasti kesana….”

Nycho           :   “Wuihhhh…. canggih bener sih, Kev……??!!?”

Kevyn           :   “Ya, iyalah…. Siapa dulu dong, Kevyn…..” (tertawa lepas diikui Nyvho dan Vano)

Karena terlalu happy, Vano nggak melihat kalau ada 3 cewek di depannya. Alhasil, Vano menabrak salah satu di antara mereka (sebut saja Shevy) dan buku yang dibawa oleh Shevy tersebut berceceran menghiasi lantai. Dengan segera Vano membantu mengambilkan buku Shevy yang jatuh berceceran di lantai.

Vano             :   (sambil membantu Shevy mengambilkan buku) “Sorry ya….. aku tadi nggak sengaja….” (memberikan buku pada Shevy)

Shevy            :   (tersenyum dan menerima bukunya) “Ya, nggak pa-pa kok. Aku juga tau kalo kamu nggak sengaja nabraknya….”

Essa               :   (agak marah) “Makanya, kalo jalan pake mata dong….!! jangan pake mata kaki. Liat tuh gara-gara kecerobohan kamu itu, temen ku jadi jatuh, tau….??!!”

Ovi                :   (setengah berbisik di telinganya Essa) “Bukan Shevy yang jatuh, tapi bukunya….”

Essa               :   Oya sorry…. maaf, kliru, bukan temen aku ding yang jatuh, tapi bukunya, he…. he…. he……”

Nycho           :   “Makanya kalo ngomong yang bener, jangan asal ngomong aja….?!!”

Vano             :   (menahan tawa) “Ya maaf deh kalo gitu…. aku tadi kan ngggak sengaja, lagian temen kamu juga nggak luka parah kok, dan nggak perlu dibawa ke rumah sakit sehala kan…??”

Essa               :   “Tapi kan kalo tadi Shevy jatuh gimana? Terus kepalanya kebentur lantai, gimana? Terus kepalanya berdarah, lalu Shevy pingsang? Itu kan namanya luka parah….???!!”

Obi                :   (menggertak) “Essa….! Jangan gitu dong, kan Shevy udah nggak pa-pa….”

Nycho           :   “Vi… temen kamu kayaknya perlu diperiksain lagi, deh….!!??”

Kevyn           :   “Liat aja tuh, suhu kepalanya aja udah ncapai 180o Celcius. Kan bahaya banget tuh…??” (tertawa, diikuti yang lainnya kecuali Essa yang mulai ngambek)

Ovi                :   (merangkul pundak Essa) “jangan ngambek gitu dong, Sa…?? kan kita semua cuman bercanda….??”

Essa               :   “Iya bercanda…. tapi jangan kelewatan gitu dong…!???”

Shevy            :   “udah…. udah…. kalian nggak perlu ribut gitu dong, kan aku udah nggak pa-pa. Oya…. Vi… Sa….  kita ke kelas dulu, yuk…??! Kalo gitu aku duluan ya…. Makasih ya Van udah bantuin ambilin buku-buku ku…” (pergi meninggalkan dan melempar senyum kepada Vano)

Vano             :   “Sama-sama….” (membalas senyuman Shevy dan memandang cewek itu, hingga mereka bertiga memasuki kelasnya)

Vano             :   “Nyc… Nycho, siapa sih cewek tadi? Kok, kayaknya aku belum pernah liat dia deh…??”

Nycho           :   “Cewek yan gmana? Cewek yang tadi itu kan banyak banget….??”

Vano             :   “Itu tuh… yang abis aku tabrak tadi….!!”

Kevyn           :   “Oooooo….. kalo yang kamu tabrak itu namaya Shavy Ardila Prananda. Tapi manggilnya cukup Shevy aja. Dia anak IPS 3, emang sih dia jarang kelihatan, karena kegiatannya tuh di perpus mlulu kalo di sekolahan. Oya… dia tinggal sama kakaknya, namanya Kak Shiva….”

Nycho           :   “Kok kamu tau sih…???”

Kevyn           :   “Lhoh… aku kan tetangganya dia, jelas aja aku tau tentang dia….!!?”

Vano             :   “Pantesa aja kamu lancar critanya….”

Setelah itu mereka bertiga memasuki kelas barunya masing-masing di kelas XI.

 

ADEGAN 2

Sejak peristiwa itu, Vano memikirkan Shevy terus. Bayang-bayang Shevy selalu menghantui langkah-langkah Vano. Wajah kalem Shevy nampak melintasi alam pikirnya. Vano tidak bisa melenyapkan bayang-bayang wajah Shevy dari pikirannya. Rupanya Shevylah yang membuat hidupnya yang jadi tak tentram.

Kian lama, Vano tidak dapat memendam rasa ini pada Shevy. Akhirnya setelah berunding dengan Nycho, Kevyn dan Tante Luna, Vano memutuskan untuk melepaskan panah asmaranya kepada Shevy. Keputusan Vano sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat. Vano telah mengatur waktu dan kondisi yang tepat untuk mengutarakan maksudnya kepada Shevy.

Keesokan harinya, saat Shevy sedang baca buku sendirian di taman, Vano datang membawa seuntai bunga mawar yang disembunyikan di balik punggungnya.

Vano             :   (mendekati Shevy) “Ehmm…. boleh duduk, nggak…???”

Shevy            :   (tanpa memperhatikan Vano) “Silakan aja, nggak ada yang nglarang kok….??”

Vano             :   (duduk di sebelah Shevy) “Serius amat sih bacanya…???”

Shevy            :   (cuek, dan tetep konsen sama bukunya) “Ya nggak pa-pa kan…???”

Vano             :   (ragu-ragu) “Aku boleh ngomong sesuatu nggak???”

Shevy            :   (tetep nggak menghiraukan Vano) “Ngomong aja…. emang dari tadi kamu nggak nyadar ya, kalo kamu udah ngomong? Disini juga nggak terpampang poster “dilarang ngomong” kan? Ya… jadi ngomong aja….”

Vano             :   (agak jengkel) “Kamu jutek banget sih….??”

Shevy            :   (masih konsen sama buku) “Emang kalo jutek kenapa?”

Vano             :   (mulai marah) “Shev…. aku ini Vano. Vano yang dulu nabrak kamu. Masak kamu lupa sih….???”

Shevy            :   (tersentak kaget) “Vano….??!?!? Ya ampun….. sorry ya, Van Aku nggak tau kalo yang di sebelah aku itu kamu. Sorry ya, Van…..??”

Vano             :   (tersenyum) “Nggak pa-pa kok, biasa aja lagi…..”

Shevy            :   “Oya…. katanya kamu tadi mau ngomong sama aku. Mau ngomong apa…???”

Vano             :   “Tapi janji ya… kamu nggak akan marah…???!”

Shevy            :   “Ya tergantung…. kalo ngomongnya nyakitin, pasti aku marah dong…. Tapi kalo kamu nggak nyakitin aku, aku nggak bakal marah…..”

Vano             :   (diam sesaat) “Gimana ya…. mungkin ini akan menjadi kejutan buat kamu. Tapi, kalo aku pendam lama-lama aku bisa stress sendiri….”

Shevy            :   (penasaran) “Ngomong apa sih, kok kayaknya serius banget…???”

Vano             :   “Ehmm… jadi gini (hening sesaat) Aku akan coba crita dikit aja sama kamu, nggak banyak-banyak amat kok. Eeee… aku ini suka sama seorang cewek, itu cewek sangat cantik, baik, ramah, dan kalem banget. Dia adalah cewek pertama yang bisa luluhin hati aku….”

Shevy            :   “Trus, gimana dengan tuh cewek? Apa dia juga udah tau kalo kamu suka sama dia…???”

Vano             :   “Nah… itu masalahnya, aku juga nggak tau itu cewek juga suka sama aku atau nggak? Aku bingung nih…..??!?”

Shevy            :   (menghela nafas) “Andai aja tuh cewek ada disini, pasti udah aku kasih tau dia….”

Vano             :   “Nggak perlu kecewa gitu dong! Kan tu cewek nggak jauh-jauh amat dariku. Tuh cewek udah ada di hadapan aku sekarang ini, yaitu kamu Sehvy…. udah lama banget aku suka sama kamu, Shev…..”

Shevy            :   (kaget setengah mati) “Apaa…..??? Apa kau bilang? Kamu suka sama aku??!! Kamu nggak gila kan….???”

Vano             :   “Aku akan lebih gila lagi kalo aku slalu jauh darimu, Shev. Shev…. gimana Shev…? Kamu mau nggak nerima ……” (duduk menyembah Shevy, dan menyerahkan bunga mawar itu pada Shevy)

Shevy            :   (cemas dan bingung) “Aduuh…. nggak usah gitu deh…. berdiri aja, kan malu dilihat temen-temen…??”

Vano             :   (berdiri) Ok, sekarang aku udah berdiri. Trus gimana Shev, kamu mau nerima aku nggak???” kalo kamu nerima, ambilah bunga ini. Tapi kalo kamu nolak, buanglah bunga ini….!”

Shevy            :   “Aduuhhh gimana ya…??? (merenung) Ok deh, aku pilih salah satu dari pernyataan kamu itu…” (Shevy mengambil bunga mawar itu dari tangannya Vano, dan bahagialah Vano…)

Shevy            :   “Tapi kamu jangan seneng dulu….??? Bukan berarti aku nerima kamu. Aku akan bawa bunga ini dulu. Kalau aku nerima kamu, aku nggak akan balikin bunga ini. Tapi kalau aku nolak kamu, aku akan balikin bunga ini. Gimana setuju, nggak…..???”

Vano             :   “Ok, Shev….. aku akan slalu setia nunggu kamu sampai kapanpun. Aku nggak akan nyerah gitu aja, Shev…..”

Setelah Vano selesai bicara, Shevy segera pergi dari tempat itu. Ternyata harapan Vano tak seindah apa yang dibayangkannya. Namun Vano cekup seneng juga, karena Shevy sudah mau menerima bunganya. Kini tinggal Vano yang harus menunggu dan terus menunggu jawaban dari Shevy.

ADEGAN 3

Di sekolahan, sedang gempar-gemparnya kabar Vano nembak Shevy. Hal itu membuat si Exi, musuh utama Shevy panas seketika. Exi memang suka sama Vano sejak dulu, tetapi Vano tidak pernah mau tahu akan hal itu. Makanya Exi sudah nggak tahan lagi mendengar kabar buruk itu.

Exi                :   (marah-marah) “Sialan banget tuh cewek….!!! brani-braninya dia ngrebut Vano ku……??!!”

Naya             :   “Iya.. ya… kalo dipikir-pikir, masih mendingan kamu, deh Xi….”

Exi                :   “Ya iya lah…. Mana ada cewek yang dapet nandingin aku. Exi gitu loch….??!?!”

Naya             :   “Xi…. gimana kalo ita hajar aja tuh cewek…???”

Exi                :   “Boleh…. tapi gimana dong, caranya…??!?”

Naya             :   “Gampang aja, nggak susah-susah amat kok. Kita kasih pelajaran yang ringan-ringan aja dulu. Baru kalo dia udah ngganggu Vano lagi, kita hajar habis-habisan dia….???”

Exi                :   “Ok juga ide kamu….. jadinya aku nggak percuma punya temen kayak kamu…..??!?!”

Naya             :   “Ya iya dong….”

Exi                :   “Sekarang kita tinggal mikir waktu yang tepat untuk nglaksanain ide kamu itu…?!”

Naya             :   “Kenapa harus mikir…..? sekarang aja bisa kok…”

Exi                :   “Apa nggak terlalu cepet..???”

Naya             :   “Malahan semakin cepet kita bertindak, semakin baik pula hasilnya..”

Exi                :   “Baik…. kalo gitu kita samperin aja tuh cewek sekarang juga….!!!”

Naya             :   “Ok, siapa takut…..”

Mereka berdua kemudian pergi menuju ke kelasnya Shevy. Ternyata Shevy sedang duduk sendirian di kelas. Ini kesempatan emas bagi Exi dan Naya.

Exi                :   (mendekati Shevy) “Heh… jelek…!!! Brani banget sih kamu deketin cowok ku…??!! Kamu nggak tau ya siapa aku…..! Kasian banget sih…..”

Shevy            :   (marah) “Maksud kamu apa…??? Datang kesini marah-marah…..??!”

Naya             :   (narik rambut Shevy) “Maksudnya tu ya, kamu nggak boleh deketin Bano, ngerti……??!!!”

Shevy            :   (Mencoba menarik rambutnya) “Apa hak kamu nglarang aku deket sama Vano????”

Exi                :   “Bego banget sin…..!!” (bersiap untuk memukul Shevy)

Shevy            :   “Emang kalo aku bego kenapa?”

Exi                :   “Plaaakkk…..” (Exi menampar Shevy dengan tangan kanannya)

Shevy            :   (memegangi pipi kirinya, sambil mengaduh kesakitan) “Aduuuh…. keterlaluan banget sih, kamu!”

Exi                :   Kenapa kalo aku keterlaluan? Kamu nggak suka….??? Sana panggil Vano tersayang mu….!!”

Tiba-tiba aja Vano Cs muncul, rupanya Exi dan Naya takut juga sama mereka.

Vano             :   (marah-marah) “Heh…. kamu ngapain Xi……??? Beraninya dua lawan satu…..!!”

Naya             :   “Siapa yang ngelawan Shevy….??? Kita kan cuman ngasih pelajaran aja sama dia….????”

Exi                :   “Lagian dia dulu kok yang salah…..??!?!”

Nycho           :   “Hallaaaah….. nggak usah muna, deh….. ngaku aja. Mana mungkin ngasih pelajaran sampai pipi Shevy memar gitu….????”

Kevyn           :   “Udah Van…. hajar aja dia…??!!”

Vano             :   “Plaakkkk……” (Vano maampar Exi rupanya. Tak kuasa menahan sakit, Exi langsung nangis)

Exi                :   (terisak-isak) “Jahat banget sih kamu, Van……”

Vano             :   “Kenapa? Sakit ya…… emang enak ditampar…???”

Nycho           :   “Sukurin……. gimana rasanya ditampar sama Vano…???”

Kevyn           :   “Rasanya… pait, asem, manis, atau pedes. Ha….. ha……ha…… (tertawa diikuti Nycho). Gitu aja nagis, cengeng banget sih…..???”

Vano             :   “Biarin aja dia nangis, biar dia rasakan gimana enaknya ditampar….”

Exi                :   “Kenapa sih Van…. kamu benci banget sama aku..??? Aku kan ngga benci sama kamu…???”

Vano             :   “Kamu mau tau kenapa aku benci kamu….. (diam sesaat) Pikir aja sendiri….??!?!”

Naya             :   (marah) “Keterlaluan banget sih kalian semya….!! Ayo Xi…. kita pergi aja dari sini…!!! udah muak aku ngeliat tampang-tampang mereka….” (menarik tangan Exi dan mengajaknya pergi)

Vano             :   “Shev…. kamu nggak pa-pa kan…??” (cemas)

Shevy            :   “Nggak pa-pa kok, cuman pusing dikit aja, paling juga ntar sembuh sendiri…..”

Vano             :   “Syukur deh kalo gitu, aku cukup seneng ngedengernya…..”

Nycho           :   (meledek) “Ceile….. yang lagi kasmaran nih yee……”

Kevyn           :   “Udah, Shev…. kamu trima aja Vano…!!! Dia kan nggak jahat-jahat banget sama kamu…..!!”

Shevy            :   (hanya membalas dengan senyuman, dan kemudian pergi meninggalkan mereka)

Setelah itu Vano diikuti Kevyn dan Nycho, juga ikutan pergi dari tempat itu.

ADEGAN 4

Dua hari kemudian, setelah Vano menampar Exi, terdengar kabar bahwa Vano terkena kecelakaan saat mengenarai mobilnya. Lukanya sangat parah, Vano masih bisa bertahan untuk hidup. Vano sangat bahagia sekali, ketika bisa melihat dunia lagi. Namun, kebahagiaan itu hanyalah sekejap saja, ternyata Vano harus menerima kenyataan, bahwa ia harus memiliki wajah yang cacat

Tante Luna    :   (memegang tangan Shevy dan hampir menangis) “Doakan kami ya, nak agar operasinya Vano nanti dapat berhasil…….”

Shevy            :   (matanya berkaca-kaca) “Tante….. kami semua tidak akan pernah berhenti untuk doain Tante ataupun Vano. Kami semua sayang sama Vano…..” (menitikkan air mata)

Nycho           :   “Iya tante… kami semua tidak akan henti-hentinya berdoa untuk kesembuhan Vano. Kami pengin Vano cepet dioperasi dan cepet sembuh, lalu kembali kesini lagi.

Essa               :   (hampir menitikkan air mata) “Tante…. tante nggak usah sedih..??? kan kita semua jadi ikut sedih…???”

Ovi                :   “Iya tante…. tante nggak usah nangis, kita nggak ingin liat tante nagis. Kita ingin tante tetep tersenyum.”

Tante Luna    :   “Makasih ya, nak…. Kalian semua memang temen Vano yang paling perhatian..” (menghapus air mata)

Vano             :   (tersenyum, agar tidak terlalu sedih) “Makasih ya, temen-temen….. kalian semua telah memberi support, kalian semua my best friend. Oya Shev…. (memandang Shevy) Aku akan slalu nunggu jawaban dari kamu sampai kapanpun juga….”

Tante Luna    :   “Ya udah…. yuk Van, kita segera berangkat!!”

Kevyn           :   “Tunggu Van…. kita semua pengin ngasih kamu kenang-kenangan. Emang nggak begitu berharga banget buat kamu, tapi ini akan mengingatkan kamu pada kita semua (memberikan sebuah bingkisan pada Vano) Cepet sembuh ya, Van….?!?”

Vano             :   “Makasih ya, Kev….. Aku akan slalu inget sama kalian semua. Jangan lupain aku ya temen-temen… dan jangan lupa doain aku. Aku pergi dulu ya……” (melambaikan tangan)

Semuanya membalas lambaian tangan Vano, dan air matalah yang mengiringi kepergiannya. Setelah Vano dan Tante Luna pergi, Shevy, Nycho, Essa, Kevyn, dan Obi juga ikutan pergi untuk kembali ke rumah masing-masing.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahunpun ikut berganti. Tak terasa sudah satu tahun lamanya Vano dan Tante Luna di Singapura. Hari ini Vano akan pulang ke Indonesia sendirian, karena Tante Luna akan disana dulu. Tiba di Indonesia, Vano langsung menuju ke rumahnya.

Shevy            :   “Rencananya Vano akan memberi kejutan pada Shevy….!?!”

Vano             :   (mengetuk pintu) “Assalamu’alaikum……….”

Kak Shiva     :   “Wa’aikum salam………..” (membukakan pintu)

Vano             :   “Maaf…… apa benar ini rumahnya Shevy Ardila Prananda…??”

Kak Shiva     :   “Iya benar ini rumahnya Shevy, mari silahkan masuk…..”

Vano             :   “Kalau boleh tau, mbak ini siapa ya…???”

Kak Shiva     :   (duduk di kursi) “Mari silahkan duduk dulu…! Ehm…. saya ini kakaknya Shevy, kalo adik ini siapa ya…???”

Vano             :   “Saya temennya Shevy  yang di Singapura itu lho, Mbak…??”

Kak Shiva     :   “Oooo……. kamu pasti Vano ya…… Soalnya Shevy itu sering crita ke Mbak soal temennya yang di Singapura itu. Oya….. akhir-akhir ini Shevy sering mengigau nyebutin nama kamu terus, mungkin Shevy udah kangen sama kamu……”

Vano             :   “Masak sih, mbak….????”

Kak Shiva     :   “Yaaa…. mungkin aja. Oya…. saya buatkan minuman dulu ya? Sebentar, kamu disitu dulu aja….” (pergi menuju dapur)

Vano             :   “Nggak usah repot-repot, Mbak…. saya belum haus kok…??”

Kak Shiva     :   “Udah… nggak pa-pa kok….”

Setelah itu Kak Shiva menuju ke dapur. Sementara itu, Shevy datang menuju ke tempat duduknya Vano.

Vano             :   (berdiri, sambil menyalami Shevy) “Shevy, ya……..”

Shevy            :   (tersenyum) “Kok tau…..???”

Vano             :   “Masak kamu lupa sih sama aku…?? Aku Vano…. Vano Ringga Ditya, inget kan…???”

Shevy            :   (belum percaya) “Masak sih kamu Vao…?? Aku nggak yakin kalo kamu Vano, kecuali kamu nunjukin buktinya…. Lagian Vano kan di Singpura???”

Vano             :   “Iya….. aku baru aja pulang dari Singapura. Tapi kalo kamu masih belum percaya, ini buktinya…” (mengambil sebuah bingkisan yang dulu pernah diberikan Kevyn sebelum pergi ke Singapura, yaitu berupa foto antara Vano dan temen-temennya dulu, lalu memberikannya pada Shevy)

Shevy            :   (kaget) Ya ampun…. ini bener-bener kamu, Van???!? Kamu beda banget… sampai aku aja nggak kenal kamu. Oya Van…. berarti operasi plastik kami berhasil, dong…??”

Vano             :   “Yaaa.. gitu deh! Sorry ya aku nggak ngasih tau kamu dulu kalau aku mau balik kesini. Rencananya sih aku mau ngasih kejutan dan akhirnya berhasil juga….”

Shevy            :   “Ya ampun sampai segitunya kamu Van………..”

Tiba-tiba mereka berdua dikejutkan oleh Kak Shiva, yang tidak membawa minuman melainkan membawa Nycho, Kevyn, Essa, Ovi, Exi, dan Naya. Mereka semua segera melepas kerinduan mereka kepada Vano yang sudah setahun di Singapura.

Kak Shiva     :   “Sorry ya Van, Mbak nggak jadi buatin minuman katanya tadi kamu nggak haus, akhirnya mbak putusin untuk ngundang temen-temen kamu kesini…….”

Shevy            :   (tersenyum) “Tenang aja Kak…. Shevy nggak pa-pa. Shevy nggak bakalan pergi ninggalin mbak….?!?!”

Kak Shiva     :   (menagis terharu) “Shev…… Shevy nggak boleh ngomong kayak gitu… Mbak janji, mbak akan slalu jagain kamu……”

Shevy            :   “Makasih ya, Mbak….. Mbak emang kakak Shevy yang paliiiiiing baik……!!?!?”

Vano             :   “Mbak…… Shevy kenapa…..????!?!”

Shevy            :   “Mbak… aku mohon Mbak… jngan ceritain ke semua orang….!!!”

Kak Shiva     :   (diam sesaat) “Ehmmm…. jadi gini. Shevy itu udah lama banget mengidap penyakit yang mematikan. Shevy nggak pernah mau cerita sama mbak, Shevy tertutup banget tentang masalah penyakitnya itu. Baru kemarin malem dia mengeluh, kalo dia mengidap penyakit kanker darah…..” (tak kuasa menahan air matanya keluar)

Exi                :   “Ya ampun, Shev….. Kenapa kamu nggak pernah mau cerita sama aku….?? Emang sih aku dulu pernah jahatin kamu…..”

Shevy            :   (tersenyum) “Nggak pa-pa kok, Xi, yang penting kamu udah mau jadi sahabat ku. Oya, mbak…. tolong ambilin bunga mawar yang di kamarku itu dong, Mbak….??”

Kak Shiva     :   “Tungu bentar ya Shev…. mbak ambilin dulu…..”

Setelah itu Kak Shiva pergi ke kamarnya Shevy, dan tak lama kemudian muncul dengan membawa bunga.

Kak Shiva     :   (memberikan bunganya pada Shevy) “Ini Shev……..”

Shevy            :   (berdiri, walaupun masih belum seimbang) “Van…. pada hari ini, aku akan pilih salh satu dari pilihanmu itu. Aku memutuskan bahwa aku terima bunga itu, tapi bukan aku yang akan menjadi milikmu. Exil lah yang pantas menjadi pasangan hidupmu……”

Vano             :   (kaget, kecewa) “Tapi Shev…. kenapa mesti Exi? Aku kan nggak suka sama dia. Aku cuma suka sama kamu….!???”

Shevy            :   “Sorry Van…. aku nggak bisa. Aku merasa hidupku nggak akan lama lagi….”

Essa               :   Shev…. kamu nggak boleh ngomong gitu dong, kita semua nggak mau kehilangan kamu….!!”

Ovi                :   “Kamu harus kuat, Shev…!! Kamu nggak boleh nyerah…!!”

Naya             :   “Kamu harus semangat, Shev…. kamu nggak boleh putus asa…..”

Shevy            :   “Makasih, ya temen-temen atas dukungannya. Tapi aku udah nggak kuat lagi. Oya, Van…. suka nggak suka kamu harus nerima Exi. Dia udah lama banget suka sama kamu. Mulai sekrang kalian udah menjadi sepasang kekasih. Van…… jika kamu pengin aku pergi dengan tenang, bahagiakanlah Exi…. kamu jangan pernah membuat Exi sedih…. ya….!!???’

Vano             :   (agak jengkel) :Shev….. kamu ngomong apa sih? Aku nggak ngerti deh….!!?”

Shevy            :   (duduk) “Udah, nggak perlu ada yang dimengerti lagi, semuanya udah jelas. Oya… buat Essa, Naya, Ovi, Kevyn, dan Nycho… kalian semua jangan pernah musuhan…. Ciptakanlah persahabatan. Buat Kak Shiva, jangan sedih ya bila Shevy udah nggak ada. Mbak harus tabah dalam menghadapi kenyataan ini… Mbak nggak boleh terlarut dalam kesedihan. Mungkin ini adalah akhir dari sebuah kebahagiaanku………….”

Setelah itu, Shevy jatuh tergeletak ke pangkuannya Kak Shiva. Shevy telah menghembuskan nafas terakhirnya, setelah menyatukan Vano dan Exi. Shevy akan pergi untuk selama-lamanya, namun Shevy masih akan tetap hidup di dalam hati kita. Deraian air mata telah mengiringi kepergian Shevy meninggalkan sejuta kenangan terhadap orang-orang yang ditinggalkan. Terlebih-lebih Vano yang sangat amat mengharapkan Shevy berada di sisinya. Mengenangmu, ialah sebuah kata yang pantas untuk diucapkan Vano. Selamat tinggal Shevy….. selamat jalan sobat…….

Cerpen dan Drama (Kugapai Cintaku)

RINGKASAN CERITA

Keyla, gadis yang beranjak dewasa itu mulai tertarik sama cowok. Dia mempunyai tiga sahabat yang sangat care sama dia. Lita, ketua genk-nya yang bijaksana, Abel yang lemot alias tulalit tapi asyik, dan Erlitha yang alim dan care sama sahabatnya itu. Mereka sekolah di Tunas Bangsa. Sedangkan Reno, kakak Lila sekolah di Tunas Cendikia, kakak beradik yang hanya terpaut satu tahun itu tampak akur.

Pagi hari, Keyla melihat Aretha dan Valen yang sedang ngobrol berdua, kakak beradik itu menampakkan keakraban pada Keyla. Keyla menghampiri Aretha sejak pertemuan itu, si ganteng Valen tetapi playboy sekaligus pengedar dan pemakai narkoba suka sama Keyla. Valen menyuruh Aretha untuk dikenalin sama Keyla. Tapi tak disangka, ternyata Sheera anak kelas sebelah suka sama Valen. Ketika Aretha mengenalkan kakaknya sama Keyla, ternyata Keyla juga suka sama Valen, mereka pun jadian.

Suatu hari Keyla ingin mengenalkan Valen sama teman-temannya, Lila, abel, Erlitha dan Ergi. Ketika sudah berkenalan. Abel dan Erlita setuju kalau Keyla jadian sama Valen. Tetapi Ergi dan Lila tidak setuju, karena Lila merasa aneh dan curiga pada Valen, dan ingin menyelidiki siapa Valen sebenarnya. Lila lebih mudah menyelidiki Valen karena Valen seklah di SMU Tunas Cendikia sama dengan Reno kakaknya.

Lila terkejut ketika dugaannya selama ini tentang Valen benar, setelah ia mengetahuinya dari Reno. Ia ingin memberitahukannya kepada Keyla dan teman-temannya. Tapi diluar dugaannya, Lila dituduh memfitnah Valen. Keyla tidak percaya apa yang dikatakan Lila begitu juga dengan Abel dan Erlita.

Suatu hari Keyla memergoki Valen dan Sheera sedang bermesraan di taman. Saat itu Keyla sadar bahwa dia telah diduakan sama Sheera. Saat itu juga Keyla putus sama Valen. Keyla lari sekuat tenaga, tapi tak disangka di depannya ada cowok tegap yang sedang membawa setumpuk buku dia tabrak. Keyla minta maaf sama cowok tadi dan mencoba memunguti bukunya. Ternyata cowok itu Reno kakak Lila. Sewaktu Keyla beranjak pergi, kakinya terkilir. Reno mencoba membantunya. Tiba-tiba Lila datang dari WC. Lila kaget Keyla yang kesakitan. Mereka membawa Keyla ke rumahnya. Keyla minta maaf sama Lila, begitu pula Abel dan Erlita juga meminta maaf. Di saat itu Lila mengenalkan Reno kepada Keyla. Mereka ngobrol bareng, saat itu tumbuhlah benih-benih cinta di antara mereka. Saat itu mereka sering jalan bareng.

Reno merasa waktu yang tepat untuk menyatakan cintanya pada Keyla. Reno pergi ke rumah Keyla dengan membawa bunga mawar. Dengan dukungan Lila, Ergi, Abel dan Erlita. Keyla menerima Reno, mereka punjadian.

Di tengah kebahagiaan itu datang Sheera, ia ingin minta maaf sama Keyla. Sheera mengetahui siapa sebenarnya Valen dan Aretha. Aretha mengetahui kalau Valen membuat itu semua sebagai pelampiasan karena ia tak tahan dengan orang tuanya yang hampir broken home, Keyla memaafkan Sheera.

Sesaat itu tampaknya Aretha dan Valen datang. Valen ingin meminta maaf sama Keyla dan teman-temannya. Mereka memaafkan Valen, tetapi dengan syarat ia mau berubah dan mau menjadi anak baik-baik, Valen menyetujuinya.

Akhirnya dengan rasa senang, Reno jadian sama Keyla, Lila yang setia sama Ergi. Sedangkan Valen dengan dukungan keluarganya dia mau ke pusat rehabilitasi.

DIALOG

EPISODE 1

Hari Senin terlihat suasana yang damai, langit bersinar terang. Awan terlihat putih, jam menunjukkan pukul 06.45, terlihat Lila dan Reno terburu-buru berangkat ke sekolah masing-masing. Lila ke Tunas Bangsa dan Reno ke Tunas cendikia. Kakak beradik yang hanya terpaut satu tahun itu tampak tergesa-gesa.

Reno             :   “Cepetan dong, udah siang nih…!!!” (dengan nada marah-marah)

Lila                :   “Iya…. iya…. nggak sabaran banget sih jadi orang…!!”

Reno             :   “Buruan….! Kuhitung sampe lima kalau nggak cepetan aku tinggal ya…?? Satu…. dua…… tiga……”

Lila                :   “Yap…. Aku udah siap! Ayo berangkat….. let’s go kakakku yang ganteng…..!”

Reno             :   “Uh…. kalau ada maunya aja muji-muji, dasar klemer….!!!!”

Lila                :   “Biarin, klemar-klemer gini tapi punya cowok nggak kayak kakak, katanya ganteng..?? Tapi kok sampe hari ini masih jomblo.” (Lila PD)

Reno             :   “Mulai deh sombongnya, mentang-mentang udah punya cowok…”

Lila                :   “Biarin.. Weee……”

 

ADEGAN 2

Di jalan dekat SMA Tunas Bangsa tampak Keyla yang sedang berjalan tergesa-gesa.

Keyla            :   “Aduh…. udah masuk belum yah, kok sepi banget?”

Di sisi lain terlihat Aretha bersama seorang laki-laki

Keyla            :   “Hayo pada ngapain, udah mau masuk kok masih pacaran…?”

Aretha           :   “Eh… Kak Aya…?”

Valen            :   “Eh… itu siapa dik?”

Aretha           :   “Kak Keyla, kakak kelasku.”

Valen            :   “Wow…. kakak kelas kamu, kenalin dong sama kakak.”

Aretha           :   “Ih… kakak apa-apaan sih? Masa mau kenalan sama cewek aja nyuruh aku?”

Valen            :   “Ya udah, kalo kamu berhasil ngenalin kakak sama dia, kakak akan ngasih kamu hadiah.”

Aretha           :   “Hadiah….??!? Bener nih kak?”

Valen            :   “Bener dong……..”

Aretha           :   “Ya udah, besok kakak anterin aku lagi, tapi agak pagan, biar bisa ketemu kak Aya.”

Valen            :   “Lho kamu bilang namanya Keyla, kok kamu panggilnya Aya?”

Aretha           :   “Kakak….. Aya itu nama panggilan dia. Udah ah, sna kakak berangkat ntar kesiangan lagi!!”

Valen            :   “Iya… iya…. tapi janji lho, besok kamu harus kenalin kakak sama Keyla.”

 

ADEGAN 3

Di kelas Keyla terlihat teman-temannya yang sedang asyik ngobrol.

Keyla            :   “Pagi temen-temen, lagi pada ngapain nih?”

Lila                :   “Pagi juga Keyla, biasa kita lagi gosip nih.”

Keyla            :   “Eh… aku juga punya gosip lho….”

Erlita             :   “Gosip apaan…??”

Abel              :   “Iya Key, gosip apaan?”

Keyla            :   “Gosip tentang Aretha, adik kelas kita yang pendiem itu.”

Lila                :   “Emang kenapa sama Aretha?”

Keyla            :   “Ternyata Aretha yang pendiem itu, udah punya cowok.”

Erlita             :   “Masak sih! Cowoknya ganteng nggak?”

Keyla            :   “Nah itu dia, aku nggak nyangka kalo cowoknya Aretha ganteng banget. Kayaknya dia cewek paling beruntung deh, soalnya dia bisa dapetin tuh cowok.”

Abel              :   “Laho katanya ganteng, tapi kok buntung sih? Emang apanya yang buntung, kakinya???”

Erlita             :   “Bukan buntung Abel, tapi beruntung……!!”

Ergi               :   “Lila…….” (panggil Egi)

Lila                :   “Eh Ergi, ada apa?”

Ergi               :   “Kamu udah makan belum?”

Keyla            :   “Ehem…. ehemmm….”

Lila                :   “Ih…… apaan sih kamu?”

Abel              :   “Key, kamu kenapa batuk-batuk, keselek ya?”

Keyla            :   “Iya nih, keselek.” (jawab Keyl kesal)

 

ADEGAN 4

Esok harinya di SMU Tunas Bangsa

Keyla            :   “Eh Aretha udah berangkat nih, biar pacarannya bisa lama yah?”

Aretha           :   “Ih kakak, apa-apaan sih. Dia buka pacarku, tapi dia kakakku.”

Keyla            :   “Oooo….. kakak kamu, aku pikir pacar kamu?”

Aretha           :   “Ya udah, kak Aya mendingan kesini aja sekalian. Aku kenalin sama kakakku.” (menarik tangan Keyla)

Valen            :   “Hai…. aku Valen.” (sambil mengulurkan tangan)

Keyla            :   “Keyla……..” (membalas uluran tangan Valen)

Aretha           :   “Eh…. aku ke kelas dulu yah, kalian ngobrol aja berdua.”

Keyla            :   “Eh….. jangan tinggalin aku dong!!!”

Valen            :   “Key…. kapan-kapan kita jalan berdua yuk?”

Keyla            :   “Berdua….???”

Valen            :   “Iya… aku sama kamu.”

Keyla            :   “Kemana……?”

Valen            :   “Terserah kamu aja.”

Keyla            :   “Gimana ya….. aku pikir-pikir dulu deh.”

Valen            :   “Oke, aku tnggu.”

Valen pun pergi meninggalkan Keyla.

Sheera           :   “Key, tadi siapa?”

Keyla            :   “Eh Sheera, dia Valen temenku.”

Sheera           :   “anak sekolah mana?”

Keyla            :   “Tunas Cendikia….”

Sheera           :   “Eh…. dia udah punya cewek belum yah?”

Keyla            :   “Emang kenapa….?”

Sheera           :   “Eee…. kayaknya aku suka deh sama dia.”

Keyla            :   “Ooo….. gitu…..”

Ergi               :   “Key….. Lila mana?”

Keyla            :   “Eh Ergi, mungkin Lila di kelas.”

Ergi               :   “Ya udah, makasih ya aku duluan.”

Sheera           :   “Key….! Aku kenalin dong sama Valen??!?!”

Keyla            :   “Kamu minta tolong aja sama Aretha, soalnya Valen itu kakaknya Aretha.”

Sheera           :   “Bener Key, ya udah makasih ya, aku ke kelas duluan.”

 

ADEGAN 5

Di kelas Keyla tampak Abel, Erlita dan Lila

Keyla            :   “Hai semua…..”

Erlita             :   “Hai juga, kok kayaknya kamu lagi seneng deh, hayo ada apa?”

Keyla            :   “Ternyata cowok kemarin itu kakakny Aretha, bukan cowoknya.”

Lila                :   “Lha terus hubungannya sama kamu apa?”

Keyla            :   “Hubungannya, gini tadi kakaknya Aretha si Vlen ngajak aku pergi.”

Abel              :   “Wah seneng dong….?

Keyla            :   “Ya, gitu deh…..”

Erlita             :   “Ya udah, tak doain ngedate kamu sama dia suk bizz…”

Abel              :   “Emang Valen nggak punya motor yah, kok ngedatenya naik bis?”

Lila                :   “Abel….. maksud Erlita itu sukses abis……”

Erlita             :   “Makanya jadi orang jangan tulalit, kebanyakan baca buku sih…. jadinya kutu buku deh.”

Abel              :   “Eh Ta……. emang bukuku banyak kutunya yah?”

Erlita dkk      :   “Ihhh…. capek deh…!!!”

Lila                :   “Key….. ntar kalo udah jadian, jangan lupa kenalin ke kita.”

Erlita             :   “Iya Key………”

Keyla            :   “Iya…. kalian tenang aja, pasti aku akan kenalin Valen sama kalian.”

 

ADEGAN 6

Akhirnya Keyla dan Valen pun resmi jadian, Keyla menepati janjinya pada temen-temannya untuk mengenalkan Valen dengan mereka. Mereka berempat janjian di suatu tempat.

Lila                :   “Eh….. udah pada dateng yah? Sory aku telat, soalnya tadi nunggu Ergi lama banget.”

Ergi               :   “Iya….. maafin aku juga, soalnya aku tadi harus nganterin ibuku ke tempat nenek.”

Abel              :   “Iya…. iya… nggak pa-pa kok.”

Erlita             :   “Udah hampir setengah jam nungguin, kok Keyla belum dateng juga ya? Atau jangan-jangan dia lupa. La, kamu kan ketua genk, ngingetin Keyla untuk disiplin dong!”

Abel              :   “Iya dong La…. Keyla disuruh compalin dong….!!”

Erlita             :   “Disiplin, bukanya complain…!!”

Abel              :   “Iya…. iya…. disiplin.”

Erlita             :   “Uhh… dasar tulalit!”

Lila                :   “Udah deh, kalian berdua jangan ribut terus, capek nih dengerinnya. Panas nih kuping ku….”

Abel              :   “La, kuping kamu kok panas? Emang habis jemuran dimana?”

Erlita             :   “Abelll…………..!!”

Lila                :   “Udah, biarin aja.”

Ergi               :   “Iya Ta….. biarin aja.”

Tak lama kemudian Keyla datang.

Keyla            :   “Sory yah aku telat, maklum hrus nunggin cowokku dulu.”

Ergi               :   “Nggak pa-pa kok Key, aku sm Lila jug baru dateng.”

Lila                :   “Iya Key, nggak pa-pa kok, cowok kamu mana?”

Keyla            :   “Tuh lagi ke WC, bias setoran….”

Abel              :   “Key, cowok kamu setoran sama rentenir ya? Emang di WC ada rentenir?”

Erlita             :   “Udah den Bel, kalo nggak tau mendingan diem aja, ya…??”

Keyla            :   “Udah Ta, Abel bener kok.” (sambil cekikikan)

Abel              :   “Tuh kan bener…. kamunya aj yang sewot.”

Erlita             :   “Ugghhhh…….”

Keyla            :   “Tuh, dia dateng….”

Abel              :   “Key, ganteng ya, kalo gantengnya kayak gini artis-artis kalah dong?”

Lila                :   “Biasa aja deh kalian, cowoknya Keyla lumayan.” (meremehkan)

Keyla            :   “Sini honey, aku kenali sama temen-temenku.”

Valen            :   “Halo semuanya, kenalin aku Valen pacarnya Keyla.”

Mereka berbincang-bincang tentang pengalaman mereka masing-masing. Erlita dan Abel suka dengan penampilan Valen. Sedangkan Lila dan Ergi merasa nggak suka sama Valen. Lila bertekad ingin menyelidiki sipa Valen sebenarnya.

 

ADEGAN 7

Di rumah Lila, terlihat Reno sedang asyik membaca bukunya.

Lila                :   “Kakakku yang ganteng, lagi ngapain nih?”

Reno             :   “Nggak liat apa aku lagi baca buku…!!”

Lila                :   “Duh galaknya…. pantes aja nggak punya cewek.”

Reno             :   “Udah deh, mau ngapain…..? langsung aja, to the point….”

Lila                :   “Nggak mau apa-apa kok, cuma………..”

Reno             :   “Cuma….cuma…. cuma apaan…???”

Lila                :   “Ih…. kakak mas pelit banget dimintain tolong adiknya yang cantik ini…!!”

Reno             :   “Ya udah…. apaan?”

Lila                :   “Gini kak, kakak kan sekolah di SMA Tunas Cendikia, kakak kenal nggak sama Valen?”

Reno             :   “Valen Calvin Indrawan?”

Lila                :   “Iya kak, kakak kenal ya?”

Reno             :   “Darimana kamu kenal Valen? Dia kan anak nggak bener…”

Lila                :   “Nggak bener gimana maksud kakak?”

Reno             :   “Valen itu pengedar sekaligus pemakai, alias junkie….”

Lila                :   “Apa….. dia junkie? Aku nggak nyangka, padahal kalau dilihat dari luar dia oke banget…”

Reno             :   “Oke sih oke, tapi kalu penampilannya doang yang oke, difatnya jelek, gimana?”

Lila                :   “Aku juga udah duga sih kak, dia bukan anak baik-baik, kasian Keyla…”

Reno             :   “Siapa tuh Keyla??”

Lila                :   “Temenku kak…. pcarnya Valen…”

Reno             :   “Mendingan kamu kasih tau si Keyla, supaya jangan deket-deket sma Valen. Selain junkie dia juga playboy lho….”

Lila                :   “Ya udah kak, makasih ya….”

Reno             :   “Eit… ada imbalannya, bikinin jus jeruk sana…!!”

Lila                :   “Uh maunya, ya deh sekali-kali nggak pa-pa….”

Reno             :   “Nah gitu dong, sebelumnya makasih yah…”

 

ADEGAN 8

Di kelas Lila,terlihat temen-temenny yang selalu ngumpul-ngumpul.

Abel              :   “Key… cowok kamu tuh siapa? Valen? Iya Valen, dia ganteng ya..??”

Erlita             :   “Iya Key, dia ganteng banget.”

Keyla            :   Iya dong, siap dulu Keyla pertama aku liat dia aja aku udah langsung suka, tapi kayaknya Sheera anak kelas sebelah juga suka den sama dia….”

Erlita             :   “Biarin aja dia suka sama Valen, kan sekarang Valen udah jadi milik kamu…”

Lila tiba-tiba datang dengan muka ditekuk.

Lila                :   “Halo semuanya……..”

Keyla            :   “La… kamu kenapa? Muka kamu ditekuk gitu….”

Lila                :   “Aku mau ngomong sesuatu sama kalian, tapi kalian jangan marah ya… terutama kamu Key.”

Keyla            :   “Aku……. emang ada apa sih?”

Erlita             :   “Iya….. kayaknya serius banget….”

Lila                :   “Aku mau ngasih tau tentang Valen….”

Abel              :   “Valen sowok Keyla maksud kamu?”

Lila                :   “Iya…! siapa lagi?”

Keyla            :   “Emang kenapa sama Valen…??”

Lila                :   “Ternyata cowok kamu tuh, cowok nggak bener. Dia sebenernya pengedar sekaligus junkie…!!”

Erlita             :   “Junkie…? Mksud kamu pemakai narkoba gitu??!?!?”

Lila                :   “Iya…..”

Keyla            :   “Nggak mungkin La…. aku tahu siapa Valen, aku nggak nyangka sahabatku sendiri tega fitnah cowokku.” (beranjak meninggalkan Lila)

Lila                :   “Keyla…. dengerin dulu dong!!”

Erlita             :   “La….. kamu slah kali…?!?”

Abel              :   “Iya…. kamu salah kali….” (Abel dan Erlita meninggalkan Lila sendiri)

Lila                :   “Temen-temen…. dengerin aku dulu dong….!!”

Ergi               :   “Keyla…. Lila mana kok nggak ikut kalian sih?”

Keyla            :   “Nggak tau…..”

Ergi               :   “Lhoh…. kok jawabnya ketus gitu sih? Emang ada ap sama kalian?”

Keyla            :   “Mendingan kamu tanya aja sama Lila….”

Ergi bergegas menemui Lila yang sedang termenung sendiri di kelas.

Ergi               :   “La…. sebenernya apa sih yang terjadi antara kamu dan temen-temen?”

Lila                :   “Ergi….. aku harus gimana….? Aku tuh bingung….”

Ergi               :   ‘Bingung kenapa? Cerita dong mungkin aku bisa bantu kamu…..”

Lila                :   “Kamu inget sama Valen cowok Keyla…???”

Ergi               :   “Iya aku inget, emang kenapa sama Valen?”

Lila                :   “Dia itu sebenernya pemakai narkoba, udah gitu dia playboy lagi….”

Ergi               :   “La… kamu tau dari mana tentang Valen?”

Lila                :   “Aku tau dari Kak Reno.”

Ergi               :   “Berarti Keyla kasian dong, kita harus bilang sama dia.”

Lila                :   “Aku tadi udah bilang sama Keyla, tapi dia nggak percaya, dia malah nuduh aku fitnah Valen…”

Ergi               :   “Ya udah….. ntar aku bantuin ngomong ke Keyla….”

Lila                :   “Makasih ya….”

Pagi harinya, tanpa disengaja Keyla melihat Valen sedang asyik ngobrol dengan Sheera. Saat Sheera pergi ke kelas untuk meletakkan tas, Keyla segera menghampiri Valen.

Keyla            :   “Ohh… jadi kamu sekarang udah duain aku sama Sheera…??”

Valen            :   “Enggak Key, aku nggak duain kamu….”

Keyla            :   “Udah deh… kamu nggak usah ngeles, buktinya kamu asyik ngobrol sama Sheera, sampe aku dateng aja kamu nggak tau….!”

Valen            :   “Aku cuma tanya kamu udah berangkat belum, tapi Sheera malah ngajak ngobrol….”

Keyla            :   “Sheera tuh suka sama kamu, jadi dia pasti memanfaatkan waktu buat deketin kamu….”

Valen            :   “Biarin ja dia suka sama aku, yang penting aku Cuma suka sama kamu.”

Keyla            :   “Ih… gombal banget sih! Eh… aku ke kelas dulu yah.”

Valen            :   “Huh… hampir aja ketahuan kalu aku duain dia sama Sheera.”

Sheera datang menghampiri Valen.

Sheera           :   “Yank… Keyla ngapain nyamperin kamu?”

Valen            :   “ah nggak pa-pa….”

Sheera           :   “Jngan-jangan kamu cowoknya Keyla ya…??”

Valen            :   “Emang sih, aku dulu cowoknya Keyla tapi sekarang kami udah putus. Kan aku udah nemuin kamu, cewek yang lebih sempurna dari Keyla.”

Sheera           :   “Eh kayaknya udah mau masuk deh… aku ke kelas dulu yah….??”

Valen            :   “Ohe honey, hati-hati yah…”

Bel pulang pun berdentang, anak-anak segera meninggalkan kelas masing-masing.

Ergi               :   “Key… tunggu dong! Ada yang mau aku omongin sama kamu.”

Keyla            :   “Ada apa sih Gi? Kok kayaknya serius banget….”

Ergi               :   “Ini masalah kesalahpahaman antara kamu dan Lila….”

Keyla            :   “Sorry aku nggak ada waktu buat dengerin itu semua.” (meninggalkan Ergi)

Ergi               :   “Key…. dengerin dulu dong!!!”

Keyla tidak menghiraukan panggilan Ergi dan bergegas pulang ke rumahnya.

 

ADEGAN 9

Saat perjalanan pulang, Keyla melihat seorang laki-laki yang sudah ia kenal. Dia adalah Valen, tapi di sisi Valen tampak Sheera, mereka sedang asyik ngobrol. Keyla mengamati mereka dari kejauhan.

Valen            :   “Sayang…. tau nggak sih, aku tuh sayang banget sama kamu. Kecantikanmu bagai bidadari….”

Sheera           :   “Ah… sayang. Biasa aja deh….”

Valen            :   “Bener deh, aku nggan bo’ong… suer….”

Sheera           :   “Bener nih….? sayang, besok kita jalan yuk?”

Valen            :   “Ayuk…. buat sayangku yang satu ini, apa sih yang nggak?”

Keyla menghampiri mereka berdua

Keyla            :   “Ow…. jadi gini kelakuan kamu di belakangku, ngakunya mau nganterin Aretha ke toko buku tapi ternyata kamu malah mesra-mesraan sama Sheera…!!!”

Sheera           :   “Eh Keyla…. kamu apa-apaan sih? Trima dong kenyataan kalau kamu itu udah putus sama Valen…”

Keyla            :   “Apa….. putus…..??”

Sheera           :   “Iya putus….! Valen sudah crita kok sama aku. Kalau Valen sama kamu udah putus….!”

Keyla            :   “Valen… kamu kok tega banget! Nggak nganggep aku cewek kamu, padahal demi kamu, aku rela musuhin Lila sahabat aku sendiri….!!”

Valen            :   “Key… dengerin penjelasanku dulu.”

Keyla            :   “Udah… nggak ada yang perlu dijelasin. Semua udah jelas, sekarang lebih baik kita putus seperti apa yang kamu mau….!!”

Valen            :   “Key… please dengerin aku dulu….”

Keyla            :   “Aku nggak butuh penjelasan dari kamu….!!” (lari meninggalkan Valen dengan Sheera)

Sheera           :   “Valen… sebenernya ada apa sih??”

Valen            :   “Udah… udah…. nggak ada apa-apa kok…”

 

ADEGAN 10

Reno membawa setumpuk buku yang ia pinjam dari perpustakaan bersama Lila. Reno terlihat sendiri karena Lila mampir ke WC. Saat Reno menengok ke belakang, tak disangka ia menabrak Keyla. Keyla terjatuh, dia segera memunguti buku-buku Reno. Tapi saat dia ingin berdiri, kakinya terasa sakit, sehingga dia tidak dapat berjalan.

Keyla            :   “Ow….. soru kak, nggak sengaja…” (memunguti buku Reno)

Reno             :   “Nggak pa-pa kok, saya juga salah.”

Keyla            :   “Saya yang salah kok.” (sambil bangun dari jatuhnya)

Reno             :   “Sini saya bantu berdiri….” (Reno menarik tangan Keyla)

Keyla            :   “Aw…. skit banget kakiku, aku nggak kuat jalan nih….”

Reno             :   “Mana yang sakit, sebelah mana…???”

Tiba-tiba Lila datang dari belakang

Lila                :   “Lho… kak! Ada apa sih?”

Reno             :   “Ini ada cewek, kakinya terkilir….”

Lila                :   :Keyla…. ya udah, lebih baik kita bawa dia ke rumah kita, kak…”

Lila memapah Keyla ke rumahnya.

Keyla            :   “La.. maafin aku yah. Ternyata dugaan kamu tentang Valen benar….”

Lila                :   “Iya… iya…. dari dulu aku nggk pernah marah sama kamu kok. Eh… tadi aku udah telepon Abel sama Erlita, mereka aku suruh kesini….”

Tak lama kemudian Abel sama Erlita datang

Erlita             :   “La…. gimana keadaan Keyla?”

Lila                :   “Keyla udah baikan kok….”

Abel              :   “La… aku sama Erlita minta maaf ya, karena udah nggak percaya sama kamu, trus kami malh musuhin kamu.”

Lila                :   “Iya…iya…. aku udah dari dulu maafin kalian.”

Reno             :   “Udah-udah, sedih-sedihnya kayak di film aja….!”

Keyla            :   “La…. dia siapa kamu? Kok dia ada disini???”

Lila                :   “Dia kakakku, kak Reno.”

Keyla            :   “Eh kak… maafin aku yah, tadi udah nabrak kakak.”

Reno             :   “Ah, nggak pa-pa… biasa aja kali….”

 

ADEGAN 11

Sejak pertemuan Reno dan Keyla, mereka jadoi sering pergi berdua. Reno suka dengan Keyla, begitu juga sebaliknya. Suatu hari Reno ingin menyatakan cintanya ke Keyla.

Reno             :   “Assalamu’alaikum…..” (Reno menyembunyikan bunga mawarnya)

Keyla            :   “Wa’alaikum salam, eh…. kak Reno, sendirian aja kak?”

Reno             :   “Iya nih…..”

Keyla            :   “Masuk kak… Silahkan duduk.”

Lila                :   “Keyla……..!”

Erlita             :   “Key………..”

Abel              :   “Keyla, ada di rumah nggak?”

Keyla            :   “Bentar yah kak, aku liat dulu siapa yang dateng. Iya…..iya… bentar!”

Lila                :   “Cepeten dong………!”

Keyla            :   Eh…. kalian. Ayo masuk….!”

Lila                :   “Kak Reno…!!! Ngapain disini???”

Reno             :   “Ah….nggak pa-pa cuma maen doang.”

Lila                :   “Hayo jangan bo’ong, maen pa maen….??”

Abel              :   “Iya mas, bohon itu dosa lho…”

Erlita             :   “Tumben tulalitnya ilang, bisa nyambung juga kamu, Bel….”

Abel              :   “Ah kamu…. ngeledek aku terus kerjaannya.”

Erlita             :   “Biarin….”

Lila                :   “Udah deh, kalian berdua tuh akur kenapa sih?”

Erlita             :   “Ah… aku kan cuma bercanda, gini-gini sebenernya aku sayang lho sama Abel…”

Lila                :   Nah…. gitu dong…”

Reno             :   “Mumpung kalian semua ada disini, aku mau terus terang sama Keyla.”

Abel              :   “Cieeee……..”

Erlita             :   “Sssttttt……”

Reno             :   “Key… sejak pertama kali aku ketemu sama kamu dan jalan beberapa hari ini. Aku ngerasa kalau ada yang lain sama kamu, Key aku suka sam kamu, aku sayang banget sama kamu….”

Keyla            :   “Sebenernya sejak pertama aku ketemu sama Kak Reno, aku udah simpati, sebenernya aku juga sayang sama Kak Reno.”

Reno             :   “Jadi… kamu mau jadi pacarku…???”

Keyla            :   “Gimana ya…?”

Reno             :   “Jika kamu trima aku berarti kami trima bunga ini.”

Abel              :   “Trima Key….”

Erlita             :   “Trima….. trima…..”

Lila                :   “Trima aja Key….??!!”

Keyla            :   (sambil menerima bunga dari Reno) “Aku mau kok jadi pacar kamu….”

Abel              :   “Hore….. jangan lupa traktirannya ya, Key?”

Keyla            :   “Ah…. kalian maunya aja, tapi beres deh….”

Di sela-sela kebahagiaan mereka tiba-tiba dari luar terdengar suara.

Sheera           :   “Permisi……..”

Keyla            :   “Eh Sheera…. ada apa kesini? Sini masuk……!”

Sheera           :   “Aku kesini cuma ingin minta maaf sama kamu, karena aku udah ngrebut Valen dari kamu.”

Kayla            :   “Ooo…. soal itu aku udah maafin kamu kok, malahan aku mau kasih tau sam kami kalau Valen itu……….” (perkataannya terputus)

Sheera           :   “Aku udah tau kok siapa itu Valen…..”

Lila                :   “Emang kamu tau dari mana, Sheer??”

Sheera           :   “Aku tau dari Aretha, adiknya.”

Ergi               :   “Emang kamu nggak takut sama dia, Sheer?”

Sheera           :   “Valen itu emang pemakai dan pengedar tapi sebenarnya dia itu baik kok.”

Erlita             :   “Alasan dia gituan apa an?”

Abel              :   “Gituan apaan sih maksudnya?”

Ergi               :   “Bel, kalau nggak mudeng diam aja deh! Lagi seius nih….”

Erlita             :   “Iya Bel, diam aja deh….!!!”

Abel              :   “Iya…. iya……”

Sheera           :   “Sebenernya dia itu kayak gitu karena si Valen itu nggak tahan sama ortunya yang sering berantem gitu….. dan ia ngerasa itulah satu-satunya pelarian dari masalah itu.”

Abel              :   “Oooo….. gitu ya?!?!”

Erlita             :   “Gita…. gitu…. emang kamu tau?”

Abel              :   “Tau dong……..!”

Dari luar terdengar suara memanggil-manggil

Aretha           :   “Assalamu’alaikum………”

Lila                :   “Biar aku aja yang liat….”

Aretha           :   “Kak Lila? Kak, Keylanya ada nggak?”

Lila                :   “Ngapain kamu kesini sama kakak kamu???”

Valen            :   “Lil, aku kesini cuma mau minta maaf sama Keyla.”

Lila                :   “Masuk deh….”

Aretha           :   “Makasih……”

Valen            :   “Key, aku kesini mau minta maaf terutama ama kamu dan temen-temen kamu. Ergi, Lila, Erlita, abel, Sheera maafin aku yah…??” (menunduk)

Keyla            :   “Udah deh Len. Kita maafin kamu kok. Kami Cuma berharap kamu bisa berubah dan nggak akan ngelakuin itu lagi….”

Valen            :   “Makasih ya semua, aku janji aku nggak akan ngelakuin ini lagi dan aku ingin menjadi nak baik-baik.”

Ergi               :   “Ya syukur deh kalau gitu……..”

Valen            :   “Eh…. ini siapa?”

Abel              :   “Ini tuh kak Reno, kakak Lila sekaligus……”

Erlita             :   “Pacarnya Keyla.”

Valen            :   “Selamay ya Key. Eh.. siapa nama kamu? Reno…  kuharap kamu dapat ngejaga Keyla dengan baik.”

Reno             :   “Ok bos, aku akan jaga Keyla dengan baik.”

Ergi               :   “Udah jangan sedih, ini saatnya happy….. happy gitu, ya kan???”

Erlitha           :   “Tul… tuh kata Ergi, ni saatnya happy….”

Abel              :   “Emang siapa yang lagi ulang tahun?”

Keyla dkk     :   “Abel…….????” (menjitak Abel)

Akhirnya Reno dan Keyla jadian, Lila setia sama Ergi. Sedangkan Valen pergi ke pusat rehabilitasi dan berjanji akan menjadi anak baik-baik dengan dukungan keluarga dan teman-temannya.

THE END

Putri Ulat Sutra

RINGKASAN CERITA

Dipinggir sebuah desa, berdirilah sebuah gubuk yang sederhana. Dalam gubuk itu, hiduplah seorang gadis yang bernama Rara Telasih yang hidup sebatang kara. Kedua orang tuanya sudah meninggal. Tak jauh dari rumah Rara Telasih berdirilah sebuah rumah. Disana tinggallah sebuah keluarga yang kikir dan sombong. Dalam rumah itu ada 2 orang anak dan satu ibu, anak itu bernama Dea dan Mita, sedang ibunya bernama Romlah.

Pada suatu siang dihutan Rara Telasih bertemu dengan seorang kakek tua yang berpakaian compang-camping. Kakek itu tampaknya sedang kehausan, lalu Rara pun menolong kakek itu. Ketika kakek itu selesai makan Rara Talasih diberi seekor ulat sutra, setelah itu Rara pun hidup dengan seekor ulat sutra itu.

Hingga 3 bulan telah berlalu. Rara kaget ketika melihat seekor ulat sutra itu mengeluarkan sesuatu yang mengkilat dari tubuhnya, lalu Rara pun memintainya dan merajutnya hingga menjadi sebedah selendang. Pada waktu di jalan Rara bertemu dengan Mita dan Dea. Mereka mengingini selendang Rara. Paginya Rara pergi kesungai untuk mengambil air, tapi tanpa sengaja selendang itu jatuh terbawa arus air sungai hingga selendang itu akhirnya ditemukan oleh Pangeran, lalu Pangeran itu membawa selendang ke kerajaan. Lalu setelah hari itu pangeran terus mencari siapa pemilik selendang itu. Setelah tahu bahwa yang mempunyai seorang perempuan, maka Pangeran pun berniat untuk mempersunting Rara Telasih. Setelah itu mereka pun hidup bahagia.

Episode I

Di pinggir desa berdirilah sebuah gubuk yang sederhana. Disana tinggallah seorang gadis desa yang sangat cantik dan baik hati, namanya Rara Telasih. Dia hidup sebatang kara dan orang tuannya sudah meninggal.

Tidak jauh dari rumah Rara Telasih itu, juga tinggallah sebuah keluarga yang berisikan 2 orang anak bernama Mita dan Dea, dan ibu yang bernama Rusti. Dia tinggal dirumah yang lebih megah peninggalan dari mantan suami bu Rusti, tapi sayang keluarga itu kikir dan sombong.

Pagi yang cerah itu ditengah jalan menuju hutan, Rara Telasih yang ingin mencari kayu bakar untuk dijual dan hasilnya sebagai kebutuhan hidupnya, tetapi secara tiba-tiba Rara Telasih bertemu dengan Dea dan Mita.

Mita : Hai, anak miskin! Mau kemana loe?
Rara : Siapa yang kalian tanya, rasa-rasa di tempat ini tidak ada yang bernama anak miskin.
Dea : Aduh-aduh kamu itu bodoh sekali ya? Yang aku anak miskin itu kamu? Masa kayu sih.
Mita : Capecx deh? Ditanya kok malah diam, pakai ngeles lagi, dasar anak miskin!
Rara : (Dengan sabar menjawab), aku mau pergi kehutan mencari kayu bakar untuk dijual.
Dea : Oh, cari kayu bakar? Kasihan banget sih. Hidup Cuma 1 kali kok, menderita.
Mita : Udah, deh de’ gak ada manfaatnya ngomong sama anak miskin! (sambil berjalan pulang).
Siang itu dihutan dibawah pohon yang rindang Rara sedang beristirahat. Tiba-tiba ada seorang kakek tua, dia berpakaian compang-camping, kakek itu tampak lelah dan haus, dia mendatangi Rara yang sedang istirahat.
Kakek : Permisi cu?
Rara : Ya kakek, ada apa?
Kakek : Cu kasihanilah kakek, kakek kehausan dan kelelahan.
Rara : Oh ya kek, mari duduk dahulu. Kek, kebetulan saya bawa air minum, tapi saya tidak bawa makanan.
Kakek : Oh, gak apa-apa cu, minuman ini sudah lebih dari cukup buat kakek untuk melepas haus dan lelah. 

Permisi cu, semoga amalmu diterima oleh yang kuasa? Kakek pergi dulu ya?.

Rara : Ya kek, hati-hati dijalan ya kek?
Kakek : Ya cucuku?
Setelah itu Rara pulang. 

Seminggu setelah kejadian itu. Kakek mandatangi rumah megah itu. Dirumah itu ada keluarga yang sombong dan kikir. Di teras rumah ada Mita dan Dea yang sedang bermain-main. Kemudian kakek itu datang masih seperti pada waktu bertemu Rara, pakaian kakek itu masih compang-camping.

Kakek : Permisi Nak!
Dea : Ada apa kek! Mencari siapa? Rasanya kami tidak kenal dengan kakek.
Kakek : (Dengan nada memelas) kasihanilah kakek, sudah 3 hari kakek tidak makan, perut kakek lapar nak! To ……….
Belum selesai bicara Mita menyahut!
Mita : Apa kamu bilang, kasihan, emng kamu siapa saya, keluarga bukankan, kita juga mau makan susah, malah disuruh ngasih kakek maka! Udah sana pergi-pergi!
Lalu Ibu Romlah pun datang!
Ibu Romlah : Ada apa kok ribut-ribut?
Dea : Ini bu ada pengemis.
Mita : Ya bu, pengemis ini mau minta makanan sama kita!
Ibu Romlah : Oh, kakek mau minta makan, gak ada. Disini nggak ada makanan! Sudah sana pergi jauh-jauh dari rumahku (sambil mendorong tubuh kakek itu).
Kakek itupun pergi, tapi dalam hatinya berkata “Ya Allah ternyata didunia ini masih ada saja orang yang pelit dan sombong, jauhkanlah hambamu ini dari orang-orang  yang seperti itu”. 

Lalu kakek itupun meneruskan perjalanan. Ternyata kakek itu berjalan menuju rumah Rara. Tiba didepan pintu, kakek itu berkata.

Kakek : Permisi? (sembari mengetuk pintu).
Rara : Oh, kakek ada apa? Tunggu kek, kayaknya saya pernah bertemu dengan kakek, tapi dimana?
Kakek : Apa iya nak! Kakek lupa!
Rara : Sebentar kek, saya ingat-ingat dulu …… O ya kek, bukankah kakek yang meminta air minum di hutan 1 minggu yang lalu bukan?
Kakek : Oh ya, kakek ingat, kamu anak yang baik hati itu kan? Maafkan kakek, yang kedua kalinya, kakek sydah 3 hari tidak makan, badan kakek rasanya lemas sekali.
Rara : Mari kek singgah kedalam, masih ada sedikit nasi yang bisa dimakan, silahkan dimakan kek dan istirahatlah dulu digubug saya.
Kakek : Terima kasih nak.
Rara : Sama-sama kek!
Rara Telasih mempersiapkan hidangan untuk kakek. Dengan lahap kakek itu menyantap hidangan hingga habis. Setelah kenyang kakek itu berkata
Kakek : Terima kasih nak, kakek akan melanjtkan perjalanan. Kakek tak bisa membalas kebaikanmu, kakek hanya punya seekor ulat sutra ini, peliharalah dengan baik.
Rara : Terima kasih kek, saya akan memelihara ulat ini dengan baik. 

Kakek boleh mampir ke gubuk saya kapan saja.

Kakek : Ya terima kasih.
Episode 2
Kemudian kakek itu pergi. Setelah hari itu, rara hidup dengan ulat sutra itu, ulat itu diplihara dengan baik. 3 bulan kemudian tanpa sengaja Rara melihat sesuatu yang mengkilat dari tubuh ulat itu.
Rara : Apa ini, saya tarik saja ah?
Lalu Rara menarik benang itu.lalu memintalnya dan merajutnya hingga menjadi sebedah selendang dan kemanapun dia pergi selendangnya selalu dibawa. Di sore yang cerah itu Rara pergi jalan-jalan, dia bertemu dengan Mita dan Dea.
Dea : Wow, si miskin mau kemana loe? Dan apa yang kau bawa.
Mita : (Sambil mendekati Rara). Bagus banget, darimana kamu dapat selendang itu, kamu pasti mencuri ya!
Rara : Ampun Dea, Mita ini hanya selendang murahan yang saya beli di pasar.
Mita : Dari mana kamu dapat uang!
Dea : Iya, kamu kan hanya jual kayu bakar, mana cukup uangmu untuk beli selendang sebagus itu!
Rara : Sumpah, demi Allah, ini hanya selendang murahan, tolong biarkan saya pergi!
Mita : Apa! Kamu bilang mau pergi, tunggu……tunggu……enak saja kamu mau pergi, serahkan dulu selendang mu!
Tanpa bicara apa-apa Rara langsung pergi begitu saja.
Dea : Eh, mau kemana kamu! Jangan pergi!
Mita : Kak Dea, aku mau selendang itu.
Dea : Aku juga mau, masak selendang sebagus itu aku tidak mau.
Mita : Kak kalau begitu, bagaimana kalau kita mintakan selendang itu kepada ibu pasti Rara mau memberikannya, Rara kan takut pada ibu.
Kemudian dia menceritakan semua perihal selendang itu pada ibunya, dan ibunya pun menyetujuinya. Tetapi pagi itu Rara pergi ke sungai hendak mengambil air, tetapi secara tiba-tiba angin kencang berhembus dan melayangkan selendang Rara hingga jatuh kealiran sungai.
Rara : Aduh, selandangku! Bagaimana ya? Saya tidak bisa mengambilnya.
Dengan perasaan sedih dan kecewa, akhirnya Rara pun pulang. Tetapi sampai dirumah, Ibu Romlah sudah ada didepan rumah Rara.
Ibu Romlah : Hai anak miskin, mana selendangmu? Anakku menginginkan selendangmu.
Rara : Maaf bu, selendangnya tidak ada!
Ibu Romlah : Alah, jangan pura-pura pasti kamu sembunyikan.
Rara : Tidak bu, selendang itu hilang terbawa arus sungai yang mengalir pada waktu aku mau mengambil air.
Episode 3
Ibu itu tidak percaya. Namun akhirnya pergi jua, tetapi dipinggir sungai lewatlah Pangeran bersama pengawal pulang dari berburu.
Pangeran : Wow apa itu yang berkilaun di air.
Pengawal : Mana Pangeran! Saya tidak melihat.
Pangeran : Itu yang ada di air dekat batu!
Pengawal : Oh itu mungkin baju putih Pangeran!
Pangeran : Bukan, tolong pengawal ambilkan benda itu!
Pengawal : Oh ya Pangeran, akan saya ambilkan.
Ternyata setelah diambil betapa indahnya selendang ini!
Pangeran : Selendang ini milik siapa? Indah sekali.
Pengawal : Mungkin milik Permaisuri Raja yang sedang lewat sini pangeran? 

Mungkin jatuh saat ada angin dan dia tidak mengetahuinya.

Sampai di istana, hati Pangeran gelisah memikirkan selendang itu dan diapun menghadap Ayahandanya dan Ibunya.
Pangeran : Ayahanda, saya menemukan selendang ini disungai waktu berburu.
Ayahanda : Memang milik siapa selendang itu? Indah sekali, mungkin itu milik Permaisuri Raja yang jatuh.
Pangeran : Justru itu Bunda, saya kesini mau memohon kepada Ayah untuk mengumumkan perihal selendang ini.
Ayahanda : Coba, kesini saya lihat? Wow indah sekali.
pangeran : Ya Ayahanda, selendang itu indah sekali. Tolong umumkanlah siapa pemilik selendang ini.
Ayahanda : Atas dasar apa kamu ingin mengumumkan perihal siapa pemilik selendang ini anakku?
Pangeran : Karena selendang ini bukan milikku dan aku akan mengembalikan selendang ini kepada yang punya. Jika yang punya ini seorang laki-laki akan kujadikan keluarga, tetapi jika yang punya perempuan akan saya persunting.
Ibunda : Sungguh mulia hatimu anakku. Ibu bangga mempunyai anak sepertimu?
Pangeran : Terima kasih Bunda.
Ayahanda : Baiklah anakku, karena niatmu mulia, Ayah akan mengabulkan permintaanmu.
Pangeran : Terima kasih Ayah?
Ayahanda : Ya, sama-sama anakku.
2 jam setelah itu, Raja memerintahkan pengawalnya untuk mengumumkan perihal selendang iut.
Ayahanda : Pengawal!!!
Pengawal : Ya Raja, ada apa memanggil saya.
Ayahanda : Umumkanlah kepada rakyat tentang siapa pemilik selendang ini dan seluruh rakyat untuk datang ke depan istana.
Pengawal : Baik Raja!
Episode 4
Pagi harinya didepan Istana sudah banyak masyarakat yang datang banyak sekali yang mengaku-aku sebagai pemilik selendang itu, itu membuat Pangeran bingung. Ayahanda dan Pangeran didepan istana.
Pangeran : Ayah, sesungguhnya siapa pemilik selendang itu.
Ayahanda : Sabar anakku, kita tunggu saja dulu.
Karena Pangeran bingung, akhirnya acara itu dibubarkan. 

Pada suatu malam Pangeran bermimpi bertemu dengan seorang kakek tua. Kakek tua itu memberi petunjuk, jika Pangeran mampu mengumpulkan 1000 pengemis yang ada di Negara Kartapura, sang Pangeran akan dapat menemukan pemilik selendang itu?

Pagi hari di istana sang Pangeran pun menemui Ayahnya.

Pangeran : Ayahanda, semalam saya bermimpi, saya didatangi seorang kakek tua. Kakek itu mengatakan bahwa jika aku dapat mengumpulkan 1000 pengemis, aku akan dapat menemukan siapa pemilik selendang itu.
Ayahanda : Lalu apa yang akan kau lakukan anakku?
Pangeran : Aku akan menuruti apa yang menjadi perintah dari mimpiku tadi malam, apakah Ayah menyetujuinya.
Ayahanda : Terserah kamu anakku.
Pagi harinya sudah terkumpul 1000 pengemis di depan Istana, yang telah diperintahkan pengawal. Setelah itu Istana menjamu 1000 pengemis dengan makanan enak-enak dan Pangeran pun mengutarakan maksudnya. Ia menceritakan mimpinya dihadapan para pengemis. Setelah itu tampak lelaki tua maju dan menghadap Pangeran, dia membisikkan sesuatu kepada Pangeran.
Pengemis : Ampun Pangeran, saya telah mengganggu Pangeran, saya ingin bicara kepada Pangeran!
Pangeran : Bukaknkah kakek yang hadir dalam mimpi saya semalam.
Pengemis : Benar Pangeran, saya minta tolong kumpulkan masyarakat lagi, nanti Pangeran akan menemukan siapa pemilik selendang itu.
Pangeran : Apa kakek tidak bohong.
Pengemis : Tidak Pangeran, jika saya berbohong maka hukumlah saya.
Dan Pangeran pun mempercayai omongan pengemis itu. Pagi harinya terkumpullah seluruh masyarakat desa dan banyak masyarakat desa yang mengaku-aku sebagai pemilik selendang itu, termasuk 3 permpuan yang kikir dan sombong itu, tapi Pangeran tidak puas akan jawaban masyarakat. Hingga ada peserta terakhir yang ragu-ragu.
Pangeran : Siapa namamu? Kau tampaknya peserta terakhir. Apakah kau dapat membuktikan jika selendang sutra ini milikmu? 

(sambil memperlihatkan selendang).

Rara : (Dengan ragu-ragu) Ampun Pangeran nama saya Rara Telasih, sebenarnya yang berhak memiliki selendang itu adalah seorang kakek pengemis, karena dari dia saya bisa membuat selendang itu.
Entah ada angin apa yang menghampiri Pangeran, sehingga Pangeran mempercayai dan tertarik dengan kata-kata Rara. 

Kemudian Rara mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya!

Pangeran : Apa yang kamu bawa itu, Rara?
Rara : Ampun Pangeran, ini adalah seekor ulat sutra pemberian dari seorang kakek. (sambil memberikan ulat itu ke Pangeran).
Dan Pangeran percaya bahwa Rara adalah pemilik selendang itu dan dia akan menepati janjinya yang pernah ia katakan.
Pangeran : Jadi kamu yang mempunyai ulat itu?
Rara : Iya, Pangeran.
pangeran : Sesuai dengan janjiku, jika selendang itu milik laki-laki akan aku jadikan saudaraku, tapi kalau perempuan akan kujadikan permaisuri, maukah kamu menjadi istriku? Rara Telasih.
Rara : Dengan senang hati Pangeran. Tapi saya orang miskin sedangkan Pangeran anak dari penguasa negeri ini.
Pangeran : Saya tidak ingin membedakan yang miskin atau kaya, yang terpenting ialah orang yang mempunyai selendang itu. Jadi apakah kamu mau menjadi permaisuriku?
Rara : Dengan senang hati Pangeran, aku mendampingi Pangeran.

MAK COMBLANG TERJEBAK CINTA

RINGKASAN CERITA

Sepasang sahabat bernama Chaca dan Oliv, di sekolah mereka kedatangan seorang siswa cowok yang ganteng, dia bernama Ruben. Mula-mula deket sama Chaca, lalu Oliv juga terpesona dan jatuh cinta sama Ruben. Lalu Oliv minta bantuan sama Chaca untuk comblangin Ruben sama Oliv.

Pada suatu malam, Ruben mengajak Chaca makan malam. Saat itu Chaca kelihatan cantik sekali, akhirnya Ruben mulai suka sama Chaca. Ketika makan malam, Chaca menceritakan tentang Oliv dan berkata bahwa Oliv suka sama Ruben.

Malam itu Oliv ke rumah Chaca dan masuk ke kamar Chaca menemukan buku diary dan membacanya. Oliv langsung marang, di sekolah Chaca dan Oliv sedang bertengkar. Ruben datang dan menarik Chaca dan menyatakan cintanya ke Chaca serta minta maaf sama Oliv. Dia seketika langsung shock dan masuk rumah sakit. Pada akhirnya dokter memberi tahu bahwa Oliv tidak bisa diselamatkan lagi karena penyakit kanker yang diderita Oliv sudah sangat parah. Dan akhirnya Ruben sama Chaca jadian dan Oliv menutup matanya untuk selamanya.

 

MAK COMBLANG TERJEBAK CINTA

EPISODE I

Di pagi yang cerah, sepasang sahabat sedang berbincang-bincang tentang film cinta pertama yang baru mereka tonton kemarin. Tiba-tiba bel masuk berbunyi dan mereka masuk ke kelas. Sebelum pelajaran dimulai Pak Kepala Sekolah datang dan memperkenalkan siswa baru.

Kepsek          :   “Pagi, anak-anak…….”

Murid           :  “Pagi, pak…….!”

Kepsek          :   “Sebelumnya, bapak minta perhatian kalian sebentar, karena bapak akan memperkenalkan siswa baru pindahan dari Jakarta.” (sejenak bapak Kepsek memandang Ruben dan mempersilahkan untuk memperkenalkan diri)

Kepsek          :   “Ya Ruben, silahkan.”

Ruben           :   “Terima kasih Pak, pagi temen-temen!”

Murid           :   “Pagiiiii………..!”

Ruben           :   “Perkenalkan nama saya Ruben Adi Pratama, panggil saja Ruben. Saya pindah dari Jakarta.”

Cika              :   “Ohhh, pindahan dari Jakarta ya? By the way any why busway, udah punya cewek belum, daftar boleh dong?”

Ruben           :   “Boleh, tapi sayangnya aku belum buka pendaftaran.”

Rico               :   “Huuuuu….. kasihan deh, dasar cewek centil!”

Cika              :   “Biarin aja, gini-gini kan dulu kamu pernah naksir sama aku…!”

Rico               :   “Eh, itu kan dulu. Beda sama sekarang…..!”

(Pak Ali tiba-tiba datang dan Pak Kepsek kembali ke ruangannya)

Ruben           :   “Hai, gue Ruben dan loe siapa?”

Chaca           :   “Nama gue Chaca.” (sambil bengong melihat Ruben)

 

EPISODE II

Sesaat bel istirahat berbunyi dan semua murid keluar dari kelas, lalu menuju ke kantin.

Oliv               :   “Cha, loe beruntung banget bisa satu bangku sama Ruben.”

Chaca           :   “Ah biasa aja.”

Oliv               :   “Loe, mau minum apa, gue ambilin?”

Chaca           :   Terserah loe aja deh…!”

Oliv               :   “Ya udah, gue ambilin minum dulu ya.” (tanpa pandang sana-sini Oliv menabrak Ruben, Oliv terjatuh lalu Ruben menangkapnya)

Oliv               :   “Sory….. sory, gue nggak sengaja.”

Ruben           :   “Oh…. nggak pa-pa. Lain kali hati-hati ya!”

Oliv               :   “Sekali lagi sory ya.”

(sambil pergi menuju Chaca dan menceritakan kejadian yang baru dialaminya tadi)

Oliv               :   “Cha…. tahu nggak? Tadi gue ketemu sama siapa?”

Chaca           :   “Nggak, gue nggak tahu, emang ketemu sama siapa?”

Oliv               :   “Ih Chaca, tadi gue ketemu sama Ruben. Gini….. gini……. gue ceritain, tadi waktu ambil minuman, gue nggak sengaja nabrak Ruben sampae-sampe gue mau jatuh. Tapi pada saat itu juga Ruben nangkap gue dan…….. pokoknya gue seneng banget Cha, kayaknya gue suka sama deh sama dia .”

Chaca           :   “Huuuu dasar!”

(bel masuk berbunyi dan mereka pergi ke kelas untuk pelajaran)

Pak Ali          :   “Anak-anak, hari ini kita ulangan! Siapkan selembar kertas cepat, awas jangan ada yang nyontek!”

Murid           :   “Huuu…… gimana sih pak, kita kan belum belajar!”

Pak Ali          :   “Lhoh, itu kan tugas kalian di rumah untuk belajar, udah pokoknya kita hari ini ulangan!”

Chaca           :   “Oliv…! Kamu udah belajar belum?”

Oliv               :   “Udah dong, Oliv gitu lho.”

Chaca           :   “Matu gue, padahal hue kan belum belajar, mana ulangannya Pak Ali lagi…”

(ulangan berlangsung selama satu jam dan pada saat itu Chaca nyontek lalu ketahuan Pak Ali)

Pak Ali          :   “Chaca, keluar kamu!!!”

Chaca           :   “Salah saya apa pak?”

Pak Ali          :   “Udahlah, jangan berlagak bego. Sekarang kamu bersihkan WC sampai bersih hingga bel pulang bunyi!”

Chaca           :   “Mampus gue………”

 

 

 

EPISODE III

Beberapa lama kemudian bel pulangpun berbunyi, lalu Ruben menghampiri Chaca dan mengajaknya pulang.

Ruben           :   “Hei Cha! Udah selesai belum bersihinnya?”

Chaca           :   “Udah….! Udah jangan ngledek, mendingan loe pergi sekarang!”

Ruben           :   “Cantik, maksud saya kesini baik kok, Cuma ngajak loe pulang bareng sama gue.”

Chaca           :   “Nggak usah sok baik deng loe, gue tahu kalo loe mau ngledek gue kan?”

Ruben           :   “Beneran deh, gue kesini Cuma mau nolongin loe, suwer…”

Chaca           :   “Ya udah, gue cuci muka dulu. Awas jangan ngintip, kalo sampe loe ngintip, gue jitak loe!”

Ruben           :   “Ih….. siapa juga yang mau ngintip, GR banget sih!!!”

(Ruben menunggu di luar dan Chaca keluar dari toilet)

Chaca           :   “Yuk pulang….. gue udah siap.”

Ruben           :   “Lha, gitu dong! Kalo gitu kan manis kan…”

Chaca           :   “Huuu, apaan sih baru nyadar ya, gue kan manis dari dulu.”

(lalu mereka masuk ke mobil dan segera jalan. Di perjalanan Ruben ngobrol sama Chaca)

Ruben           :   “Cha…. gimana sih loe bisa dihukum?”

Chaca           :   “Nggak tau ah….”

Ruben           :   “Nggak mungkin kalo loe nggak tau. Pasti loe bikin kesalahan?”

Chaca           :   “Gue ketahuan nyontek tadi waktu ulangannya Pak Ali.”

Ruben           :   “Emang kenapa sih loe pake nyontek segala?”

Chaca           :   “Soalnya gue semalem nggak belajar, daripada nilai gue jelek, ya mendingan gue nyontek.”

Ruben           :   “Cha… rumah loe yang mana?”

Chaca           :   “Itu yang depan, berhenti aja disini. Thanks ya….!!”

Ruben           :   “Sama-sama. Kapan-kapan gue boleh nggak ke rumah loe?”

Chaca           :   “Boleh aja, ya udah gue masuk dulu ya?”

(Ruben tidak langsung pulang, tapi melihat sampai Chaca masuk ke dalam rumah)

 

EPISODE IV

Pada malam hari saat Chaca aa di rumah ingin istirahat, baru nuli di buku diarynya tentang isi hatinya kalo dia suka sama Ruben. Oliv datang dan membunyikan bel rumah Chaca. Chaca langsung menutup buku diarynya dan membukakan pintu.

Oliv               :   “Cha….! gue mau curhat nih sama loe!!”

Chaca           :   “Soal apa? Cepet masuk ke dalam, di lura dingin nih!!!”

Oliv               :   “Gue mau tanya soal Ruben.”

Chaca           :   “Oooo… Ruben ank baru itu.”

Oliv               :   “Ya, Ruben siapa lagi? Dia kan ganteng banget.”

Chaca           :   “Emang sih, dikit.”

Oliv               :   “Cha, ambilin gue minum dong, gue haus banget nih!”

Chaca           :   “Bentar ya, gue ke dapur, loe ke kamar gue dulu aja, ntar gue susul.”

(tak lama kemudian, Chaca datang dengan membawa minuman)

Chaca           :   “Nih minumnya, cepet mau ngomong apa?”

Oliv               :   “Bentar kenapa sih, nggak sabaran benget jadi orang!”

Chaca           :   “Iya, tapi cepet!!”

Oliv               :   “Gini lho Cha…. gue suka sama Ruben pada saat pandangan pertama.”

Chaca           :   “Haah… loe suka sama Ruben?”

(Chaca bengong dan memikirkan apa yang akan terjadi kalo dia juga suka sama Ruben. Padahal Chaca tahu kalau Oliv menderita sakit kanker yang sudah semakin lama)

Oliv               :   “Heiii… hallo….. Cha… Cha….!!”

(Chaca kaget dan menjerit histeris)

Chaca           :   “Ya……. apaan sih, ngagetin aja!”

Oliv               :   “Habisnya, loe bengong aja sih! Denger tuh ada bel bunyi.”

(Chaca lalu melangkahkan kakinya untuk membukakan pintu, sementara ibunya Chaca manggil-manggil dengan kerasnya)

Ibu Chaca     :   “Cha……! bukain pintunya! Mama pulang nih…. Chaca……. Chaaa kemana sih tu anak!”

Chaca           :   “Ya mam, bentar.”

(Kemudian Chaca membukakan pintu)

Ibu Chaca     :   “Kemana aja sih kamu? Mama panggil-panggil nggak disaut, pakai acara jerit-jerit segala lagi!”

Chaca           :   “Maaf mam, soalnya Cha-ca lagi ada di kamr sama Oliv.”

Ibu Chaca     :   “ Oh, jadi Oliv ada diini tho, pantesan betah di kamar.”

Chaca           :   “Eh mam, udah dulu ya, aku mau temenin Oliv, da mami….!”

(lalu Chaca ke kamar menemui Oliv)

Chaca           :   “Sorry ya Liv, nunggu lama. Mamaku baru pulang.”

Oliv               :   “Nggak pa-pa, biasa aja lagi.”

Chaca           :   “Oya, tadi udah sampai apa tadi?”

Oliv               :   “Dasar pikun, cewek kok pikun!”

Chaca           :   “Jangan gitu dong, ntar gue marah nih.”

Oliv               :   “Ya…. iya, kita terusin ngobrolnya. Gue minta tolong nih sama loe?”

Chaca           :   “Mau minta tolong apa?”

Oliv               :   “Gue sebenarnya suka sama Ruben.”

Chaca           :   “Terus……….”

Oliv               :   “Gini Cha….. loe comblangin gue sama Ruben, gimana?”

Chaca           :   “Oh, soal itu gampang. Tapi gimana caranya?”

Oliv               :   “Loe kan sebangku sama Ruben. Loe ngomong kalo ada yang naksir dia, gitu.”

Chaca           :   “Kalau dia mau tahu orangnya siapa, yang mana…. gimana?”

Oliv               :   “Yah….. gampanglah jawab aja gue.”

Chaca           :   “Ya, gue coba deh besok.”

Oliv               :   “Kayaknya udah malam nih, gue ngantuk pingin pulang.”

Chaca           :   “Gue antar ke depan yuk….!”

Oliv               :   “Oya, nyokap loe mana?”

Chaca           :   “Oh… nyokap gue lagi istirahat.”

(Oliv dan Chaca berjalan menuju ke luar untuk mengantar dan menemani Oliv sampai dapat taksi)

 

EPISODE V

Pagi-pagi Chaca sudah berada di gerbang sekolah untuk menunggu Ruben dan kahirnya Ruben pun datang.

Chaca           :   “Ben…… Ruben, gue mau ngomong sama loe.”

Ruben           :   “Mau ngomong apa?”

Chaca           :   “Pokoknya penting………!!”

Ruben           :   “Nanti aja ngomonngnya, gue mau ngerjain PR dulu.”

Chaca           :   “Yaudah, ntar malam loe jemput gue dan ke rumah makan biasa, OK??”

Ruben           :   “Lhoh, kok gitu?”

Chaca           :   “Udahlah, pokoknya loe jemput gue.” (mendorong Ruben ke kelas)

(Ruben terburu-buru ke kelas dan Chaca menunggu Oliv di gerbang)

Chaca           :   “Oliv, loe mau tau nggak?”

Oliv               :   “Apa…..?”

Chaca           :   “Gue udah berhasil.”

Oliv               :   “Berhasil apanya?”

Chaca           :   “Gue udah ngomong sama Ruben.”

Oliv               :   “Serius loe…..!”

Chaca           :   “Ya, iyalah! Gue srius, ntar malem mau ngomongnya.”

Oliv               :   “Ya, itu mah belum namanya……….”

Chaca           :   “Tapi kan udah mau berhasil?”

Oliv               :   “Makasih Cha, loe emang sahabat gue yang paling baik.”

 

EPISODE VI

Matahari mulai sembunyi dan mengintip di ufuk barat dan Chaca pun siap-siap untuk makan malam sama Ruben. Dan beberapa menit kemudian suara klakson berbunyi, itu tandanya bahwa Ruben sudah datang. Chaca segera ke depan untuk menemui Ruben. Kemudian mereka berangkat.

Chaca           :   “Ma, aku pergi dulu ya!!”

Ibu Chaca     :   “Sayang, mau pergi kemana sih malem-malem? (melihat Chaca dengan perhatian) Wah, malem ini kami cantik bange!!”

Chaca           :   “Ah, mama bisa aja. Chaca mau makan malem sama Ruben.”

Ibu Chaca     :   “Siapa Ruben itu, pacar kamu ya?”

Chaca           :   “Bukan ma, Cuma temen kok.”

Ibu Chaca     :   “Temen apa temen………..?”

Chaca           :   “Beneran ma, temen………”

Ibu Chaca     :   “Ya udah, mama percaya sama kamu, hati-hati ya….”

Chaca           :   “Da mama….. Assalamu’alaikummmmm.” (sambil mencium tangan mamanya)

(Ruben seketika terpesona dengan kecantikan Chaca, ketika melihatnya tampil seperti selebriti Bollywood, dan Rubenpun mulai tertarik dan jatuh cinta sama Chaca)

Chaca           :   “Hey…. Ben! Kenapa loe ngeliat gue kayak gitu?”

(Ruben kaget)

Ruben           :   “Habis loe cantik banget malem ini, kayak artis Bollywood….”

Chaca           :   “Ah, masak sih, Ben! Kepala gue jadi gede nih.”

Ruben           :   “Beneran, loe emang cantik banget….”

Chaca           :   “Udah ah, ayo cepetan! Ntar keburu malem lagi……..!!”

(Ruben segera membukakan pitu mobil buat Chaca dan masuk, beberapa saat kemudian mereka sampai di tempat tujuan)

Ruben           :   “Cha…. loe mau makan dan minum apa?”

Chaca           :   “Terserah deh, pokoknya yang paling enak.”

(Ruben kemudian memanggil pelayan restoran dan memesan makanan)

Ruben           :   “Mbak…….”

Pelayan         :   “Ya, mas mau pesen apa?”

Ruben           :   “Makanan dan minuman yang paling enak disini.”

Pelayan         :   “Berapa, mas?”

Ruben           :   “Dua makanan dan dua minuman, cepat nggak pake lama.”

Pelayan         :   “Baik mas, tunggu bentar ya….”

(Kemudian pelayan mengambil pesanan mereka, dan beberapa saat kemudian datang membawa makanan pesenan Ruben)

Pelayan         :   “Ini mas, pesenannya.”

Rub + Cha    :   “Makasih ya………”

(sambil makan dan mulai ngobrol)

Ruben           :   “Oh ya Cha…. katanya loe mau ngomong, mau ngomong apa sih?”

Chaca           :   “Gini Ben, sebenarnya sahabat gue itu suka sama loe.”

Ruben           :   “Sahabat loe yang mana?”

Chaca           :   “Oliv………….”

Ruben           :   “Oliv………????” (dengan kaget dan memuntahan makannnya di meja makan)

Chaca           :   “Gimana Ben………?”

Ruben           :   “Gue nggak bisa jawab sekarang…..”

Chaca           :   “Ya, nggak pa-pa, gue nggak maksa kok.”

(beberapa lama kemudian mereka pulang, Chaca diantar pulang. Sesampai di rumah Chaca langsung tidur dan paginya Oliv sudah menunggu di gerbang untuk menunggu Chaca yang pada akhirnya datang juga)

Oliv               :   “Chacaaaa………..”

Chaca           :   “Apaan sih Liv, teriak-teriak.”

Oliv               :   “Gimana…???”

Chaca           :   “Gimana apanya?’

Oliv               :   “Yang kemarin gue bilang itu…..”

Chaca           :   “Ohh itu, beres….. tinggal nunggu jawaban Ruben aja.”

Oliv               :   “Jadi belum ada jawaban, tapi nggak pa-pa deh, namanya juga usaha, kali aja di bukain hatinya untuk gue.”

Chaca           :   “Iya gitu dong, jangan nyeah, semangat.”

 

EPISODE VII

Malam-malam Oliv datang lagi ke rumah Chaca untuk ngobrol tentang Ruben.

Oliv               :   “Chaca….”

Chaca           :   “Ya tunggu sebentar (Chaca membuka pintu), Oliv….. ada apa malem-malem kesini?”

Oliv               :   “Ya…… biasalah.”

(mereka langsung ke kamar Cahaca, kemudian Chaca mengambil minum seperti biasa)

Chaca           :   “Gue ambilin minum dulu ya!”

(sementara Chaca mengambil minuman, Oliv keliling di kamar Chaca dan menemukan buku diary, dibukanya langsung dibaca lalu ia kelihatan shock)

Oliv               :   “Nggak, nggak mungkin…………..”

(Chaca masuk dengan membawa minuman)

Chaca           :   “Kenapa sih, Liv….”

(Oliv langsung keluar dengan marah, menangis dan kecewa)

Chaca           :   “Kamu kenapa nangis………..???”

Oliv               :   “Udahlah Cha, jangan berlagak bego lagi. Mulai detik ini juga gue nggak mau lihat muka loe lagi. Gue udah muak sama loe…”

Chaca           :   “Tapi kenapa, kasi penjelasan dong Liv….”

(Oliv kemudian lari keluar dan langsung memanggil taksi)

 

EPISODE VIII

Esoknya Chaca mencari Oliv untuk minta penjelasan tentang kejadian tadi malam.

Chaca           :   “Oliv, kenapa semalam loe marah-marah? Muak sama gue dan kenapa sih loe jadi benci sama ge?”

Oliv               :   “Ohhh, jadi loe masih pura-pura nggak tahu kalogue marah sama loe?”

Chaca           :   “Liv, bener nih gue nggak tahu, memang ada apa sih, tiba-tiba aja loe kayak gitu?”

Oliv               :   “Heh…. buka lebar-lebar telinga loe! (dengan nada membentak) Cha, gue nggak nyangka ternyata sahabat gue sendiri yang gue percaya nggak lebih dari seorang munafik. Sekarang jawab ya dengan jujur! Apa loe suka sama Ruben???”

(Chaca hanya diam dan Ruben saat itu tiba-tiba datang dan menarik tangan Chaca)

Ruben           :   “Cha…. gue mau ngomong sama loe.”

Oliv               :   “ Tunggu ben! Gue juga lagi ada perlu sama Chaca….”

Ruben           :   “Tapi ini lebih penting………”

(lalu Ruben berseru dan menceploskan kata-kata, disitu juga masih ada Oliv)

Ruben           :   “Cha, gue sebenarnya suka sama loe. Dan Oliv maafin gue nggak bisa cinta sama loe, tapi aku nggak bisa bohongin perasaan gue sendiri.”

Oliv               :   “Oooo, jadi loe lebih milih dia daripada gue.”

(Oliv seketika itu jatuh dan penyakitnya kambuh, lalu dia dibawa ke rumah sakit. Sementara Ruben dan Chaca juga ke rumah sakit, kemudian Chaca menghubungi orang tua Oliv)

Chaca           :   “Malam tante. Ini mamanya Oliv? Saya Chaca, temennya Oliv tante.”

Ibu Oliv        :   “Ya, saya sendiri. Ada apa ya?”

Chaca           :   “Begini tante, Oliv sekarang ada di rumah sakit. Penyakitnya kambuh, tante.”

Ibu Oliv        :   “Apa… Oliv di rumah sakit?”

Chaca           :   “Iya tante, sekarang Oliv di rumah sakit Mandala Jakarta kamar UGD.”

(Ibu Oliv buru-buru ke rumah sakit dan menemui Chaca dan Ruben)

Ibu Oliv        :   “Gima keadaan Oliv?”

Chaca           :   “Itu tante, lagi ditangani sama dokter.”

(pak dokter keluar dari kamar UGD dan ibu Oliv bertanya sama dokter)

Ibu Oliv        :   “Dok, gimana keadaan anak saya?”

Dokter          :   “Begini bu, kita bicara ke ruangan saja.” (mereka pergi ke ruang dokter)

Dokter          :   “Bu, anak ibu mengalami shock berat sehingga penyakit kankernya kambuh.”

Ibu Oliv        :   “Dokter, tolong sembuhkan anak saya.”

Dokter          :   “Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi sepertinya Tuhan berkehendak lain.”

Ibu Oliv        :   “Dokter, sembuhkan anak saya, saya akan bayar berapapun biayanya asalkan anak saya bisa sembuh.” (dengan menangis merengek-rengek)

Dokter          :   “Yang sabar ya, bu…….”

(lalu mereka keluar, sementara Ruben dan Chaca menunggu Oliv di sampingnya, Oliv kemudian sadar)

Oliv               :   “Cha……” (Chaca dan Ruben segera memandang Oliv)

Chaca           :   “Ya, ada apa Oliv?”

Oliv               :   “Cha aku minta maaf yah, karena aku selama ini udah kasar dan marah sama kamu.”

Chaca           :   “Udahlah Liv, yang penting sekarang kamu harus sembuh.”

Oliv               :   “Aku udah rela bila kamu jadian sama Ruben, emang kamu udah jodoh sama Ruben.”

Ruben           :   “Liv, jangan ngomong gitu dong.”

Oliv               :   “Aku mohon, kalian jadian yah…..” (ngomong dengan tersendat-sendat)

(lalu Oliv mengangkat tangannya, Ruben dan Chaca disatukan tangan mereka, dan Oliv pada saat itu akan menghembuskan nafas terakhir)

Oliv               :   “Ben, jaga….. Chaca dengan baik, ya.”

Ruben           :   “Baik, Liv…..”

Oliv               :   “Seeelamat tinggal, semuanyaaaaa……………!!!”

Chaca           :   “Oliv…….. Oliv…….. bangun Oliv…….” (sambil menangis)

(Ruben hanya tertunduk sambil meneteskan air mata)

Oliv meninggal dengan tenang karena sudah menyatukan mereka.

THE END

Drama Teater Malin Kundang

RINGKASAN CERITA

 

Pada jaman dahulu kala, tinggallah sepasang suami istri di sebelah desa pesisir pantai, tepatnya di Padang, Sumatera Barat. Suami istri tersebut hidup bahagia sampai akhirnya mereka dikaruniai seorang anak. Pada suatu hari sang suami berpamitan kepada istrinya untuk pergi melaut. Pada saat sang suami sudah berangkat melaut, Zaenab melahirkan seorang bayi laki-laki yang diberi nama Malin Kundang.

Selang beberapa tahun, Malin sedang berjalan. Malin diejek oleh temannya karena bapaknya tidak ada. Ketika Malin berumur 18 tahun, Malin meminta izin kepada ibunya. Malin ingin pergi melaut untuk mencari ayahnya dan akan membawanya pulang. Sang ibu tidak mengijinkan Malin untuk pergi melaut tetapi Malin sangat ngotot ingin bertemu bapaknya, maka sang ibu mengijinkannya.

Suatu hari, ketika kapal sedang berlayar di tengah lautan lepas, kapal itu diserang oleh para bajak laut. Maka terjadilah peperangan yang besar di lautan itu. Tetapi berkat Malin yang hanya pengawal biasa yang bisa mengalahkan para bajak laut itu. Pada saat itu pula Malin bertemu dengan Baginda Rama Putra dan anaknya Dewi Kartika. Baginda Rama Putra kagum dengan Malin, maka Baginda Rama Putra menginginkan Malin menikahi anaknya Dewi Kartika.

Setelah beberapa hari pernikahan itu, ada kejadian yang menyedihkan, karena ayahanda Dewi Kartika meninggal akibat sakit tua yang dideritanya. Setelah kematian Baginda Rama Putra, betapa berkuasanya Malin. Ia telah menjadi orang yang kaya, sampai-sampai ia berbohong pada Kartika tentang orang tuanya yang telah meninggal.

Pada suatu hari, Kartika ingin mengetahui tempat kelahiran Malin. Setelah Malin tiba di desa, banyak warga desa yang menyambutnya. Di lain tempat, kedua sahabat Malin semasa kecil pergi untuk memberitahukan ibu Malin. Setelah itu, Ibu Malin menemui Malin, tetapi Malin tidak mengakuinya bahwa ibu itu bukan ibunya. Dan akhirnya Ibu Malin mengutuk Malin menjadi batu, seketika itu terjadi keanehan pada Malin beserta awak kapalnya. Ombak besar, petir menyambar dan hujan lebat terjadi di lautan. Kapal mengalami oleng dan berubah menjadi batu. Setelah mendengar berita itu, betapa sedih dan kecewanya ibu Malin.

 

NASKAH TEATER MALIN KUNDANG

 

Pada jaman dahulu, tinggalah sepasang suami istri di sebuah desa di pesisir pantai, tepatnya di Padang, Sumatera Barat. Suami istri tersebut hidup bahagia sampai akhirnya mereka dikaruniai seorang anak.

 

EPISODE 1

Bapak            :   “Bu… bapak ingin bicara, Bu……”

Zaenab          :   “Ada apa pak, sepertinya penting sekali….”

Bapak            :   “Iya bu, bapak mau bicara sebentar, meksi berat bapak harus bicara sekarang juga pada ibu. Bapak mohon ibu mau mengijinkan bapak untuk pergi berlayar mencari ikan bersama teman-teman…”

Zaenab          :   “Tak usah, Pak. Cuca sedang buruk, ombak di laut sangat besar. Ibu takut terjadi sesuatu pada Bapak….”

Bapak            :   “Tak usah khawatir, Bu. Doakan saja semoga bapak selamat dan bisa pulang kembali. Kalau tak begini besok kita bagaimana untuk menjalani hidup???”

Zaenab          :   “Tapi berjanjilah, Bapak akan pulang cepat. Jangan lama-lama, Pak. Dan bapak akan berangkat kapan?”

Bapak            :   “Nanti malam, Bu….!”

Selang beberapa hari setelah suami Zaenab pergi untuk melaut, ia melahirkan seorang bayi laki-laki dan diberi nama Malin Kundang. Ras senang bercampur sedih yang ia rasakan karena suaminya tak kunjung pulang. Hingga Malin beranjak besar. Ketika Malin sedang berjalan di pinggiran pantai.

Teman Malin :   “Hei…. anak haram!”

Malin             :   “Apa kamu bilang…??”

Teman Malin :   “Anak haram, apa kurang keras aku mengatakannya??”

Malin             :   “Aku bukan anak haram…!!!”

Teman Malin :   “Jika kamu bukan anak haram, dimana ayahmy berada?”

Malin             :   “Ayahku….. ayahku ada, tetapi ayahku sedang bekerja…!”

Teman Malin :   “Jika bekerja, kenapa tak pulang-pulang?”

Malin             :   “Kalian jahat, aku bukan anak haram…..!!”

Malin berlari sambil menangis, ia mengadu kepada ibunya.

Malin             :   “Bu….. ibu…..!” (sambil menangis)

Zaenab          :   “Ada ada, Malin? Apa yang terjadi….??”

Malin             :   “Bu…. tadi waktu aku sedang berjalan, ada orang yang mengejek aku dan mengatakan kalau aku anak haram. Memang bapak kemana, Bu?”

Zaenab          :   “Dulu, saat kamu masih dalam kandungan, Bapak pergi untuk melaut tetapi sampai sekarang tak kunjung pulang.”

 

EPISODE 2

Ketika Malin berumur 18 tahun.

Teman Malin :   “Eh Malin… ada kabar gembira…!!”

Malin             :   “Kabar apa? Sepertinya kbar yang menggembirakan, ya…??”

Teman Malin :   “Iya…! Besok akan ada kapal yang transit di pantai ini. Dan yang kudengar kapal itu akan menuju ke kota. Apa kau mau ikut untuk cari ayahmu? Mungkin saja ayahmu bekerja di kota….!!”

Malin             :   “Apa benar yang kamu katakan? Terima kasih, sekarang aku akn menemui ibu dan meminta izin….”

Ketika sampai di rumah.

Malin             :   “Ibu…. Malin mau bicara. Besok akan ada kapal yang akan menuju kota. Malin mohon, ibu mau mengijinkan Mlain untuk pergi mencari ayah….!!??”

Zaenab          :   “Jangan Malin….!! Ibu takut terjadi sesuatu padamu…. Apa kau tega meninggalkan ibu seorang diri….??”

Malin             :   “Percayalah, Bu.. Malin akan baik-baik saja. Dan Malin berjanji akan membawa ayah pulang….”

Zaenab          :   “Jika itu keinginanmu, ibu hanya bisa mendoakan semoga kau selamat sampai tujuan dan dapat bertemu dengan ayahmu, nak….?”

Malin             :   “Terima kasih, Bu…. Besok, jika kapalnya sudah datang, Malin akan berangkat…”

Selang beberapa hari, setelah Malin pergi. Ibu Zaenab tinggal sendiri di rumahnya yang reot. Ia hanya berharap agar anaknya selamat. Tetapi Zaenab tak tahu apa yang terjadi dengan Malin.

Di dalam kapal itu Malin ketahuan oleh para pengawal pemilik kapal, karena ia masuk kapal dengan mengendap-endap. Karena itu ia dihukum untuk menjadi pengawal kapal itu. Tujuan semula Malin untuk mencari ayahnya lam kelamaan sirna. Di dalam kapal ia merasa senang, karena ia bertemu dengan gadis cantik yang ternyata anak pemilik kapal itu. Suatu hari ia hendak berbincang-bincang pada puteri tersebut.

Malin             :   “Puteri… bolehkah hamba tahu siapa namamu…??”

Kartika          :   “Tentu, namaku Kartika. Dan siapa gerangan namamu pemuda tampan?”

Malin             :   “Nama saya Malin kundang, puteri. Maafkan saya jikalau saya sudah lancang kepada puteri. Saya hanya seorang pengawal yang berani-berani bicara pada puteri….”

Kartika          :   “Tak usah seperti itu….! kita sama-sama manusia, tak usah saling membeda-bedakan…”

Suatu hari ketika kapal sedang berlayar di tengah lautan lepas. Kapal itu diserang oleh para bajak laut, maka terjadilah peperangan yang besar di lautan itu. Tetapi berkat Malin yang hanya pengawal biasa yang bisa mengalahkan para bajak laut itu.

Baginda        :   “Wahai Malin Kundang….! Aku tak tahu dengan apa aku harus membalas semua kebaikan dan pengabdianmu. Untuk itu ku nikahkan kau dengan anakku dan akan kuberikan kekuasaan ini untuk mu….!!”

Malin             :   “Terima kasih Baginda, sebenarnya saya tidak pantas menerima kebaikan Baginda ini. Sungguh mulia hati Baginda….”

Baginda        :   “Ini semuanya tak ada nilainya dibandingkan semua yang kau lakukan. Oleh sebab ituakan kulaksanakan pernikahanmu dengan meriah.”

 

EPISODE 3

Keesokan harinya.

Dian              :   “Saya nikahkan Dewi Kartika dengan Malin Kundang dengan mas kawin seperangkat alat sholat, dan mas kawin tersebut lunas.”

Galih             :   “saya terimanikahnya Dewi Kartika dengan mas kawin tersebut tunai.”

Dian              :   “Sah…. sah….”

Setelah beberapa hari pernikahan itu, ada kejadian yang menyedihkan. Karena ayahanda Dewi Kartika meninggal akibat sakit tua yang dideritanya.

Kartika          :   “Ayah…. jangan tinggalkan Kartika sendiri…. Ayah harus berada disini menemaniku, ayah…..”

Baginda        :   “Jangan menangis anakku…..! Relakanlah ayah pergi. Malin…….”

Malin             :   “Iya Ayah, ada apa…?”

Baginda        :   “Jagalah Kartika dengan baik dan gantikanlah kedudukanku ini!”

Malin             :   “Baik, Ayah….”

Setelah kematian Baginda Rama Putra, betapa berkuasanya sekarang Malin. Ia telah menjadi orang yang kaya. Sampai-sampai ia berbohong pada Kartika tentang orang tuanya yang telah meninggal

Sore itu….

Kartika          :   “Kanda, dinda mempunyai suatu permintaan….”

Malin             :   “Permintaan apa…? Apa saja yang dinda inginkan pasti akan kanda kabulkan….”

Kartika          :   “Dinda ingin pergi ke desa dimana kanda dulu dilahirkan….”

Malin             :   “Tak usah, dinda! Apa yang akan dinda lakukan disana? Disana hanya ada warga yang bodoh….!”

Kartika          :   “Tapi kanda sudah berjanji akan mengabulkan semua keinginan dinda…”

Malin             :   “Baiklah dinda, jika itu dapat membuat dinda bahagia akan kanda penuhi….”

Esoknya, Malin dan istrinya bersiap-siap untuk melakukan perjalanan ke desa tempat lahir Malin. Malin dan istrinya pergi menuju desa tempat lahir dengan menggunakan kapal. Setelah kapal Malin tiba di desa, banyak warga desa yang menyambutnya.

Warga 1        :   “Wah Malin…..! Apa benar inikau? Sekarang kau telah berubah menjadi orang kaya. Siapa yang kau gandeng itu, istrimu?”

Warga 2        :   “Wah… cantik sekali istrimu, Malin….!”

Kartika          :   “Siapa mereka, kanda? Apakah mereka saudaramu?”

Malin             :   “Apa yang dinda katakan? Mana mungkin orang-orang seperti mereka menjadi saudaraku…”

Warga 1        :   “Sungguh kejam kau, Malin! Betapa sombongnya dirimu kini! Lihat saja tidak akan lama kebahagiaan dan kekuasaanmu…!!”

Di lain tempat, kedua sahabat Malin semasa kecil pergi untuk memberi tahukan kepada Ibu Malin. Setibanya di rumah Ibu Zaenab.

Sahabat M 1  :   “Bu Zaenab…. Bu Zaenab…. Bu, ayo kita pergi ke pantai untuk menemui Malin! Sekarang dia di pantai ini bersama istrinya….”

Zaenab          :   “Apa benar yang kalian katakan…???”

Sahabat M 2  :   “Benar sekali… sekarang para warga sedang menghampiri Malin, Bu… mari kita cepat-cepat ke pantai….!!!”

Zaenab          :   “Ayo nak, bawa ibu untuk menemui Malin….!!”

Ketika sampai di pantai.

Zaenab          :   “Malin…. Malin….. apa benar ini kamu, nak? Sekarang kamu sudah berubah menjadi orang kaya. Dan apakah gadis cantik ini menantu ibu?”

Malin             :   “Siapa kau…. orang tua jelek!!”

Zaenab          :   “Malin, apa kau lupa? Ini ibumu, nak…???”

Kartika          :   “Apa benar kanda, yang orang tua itu katakan?”

Malin             :   “tidak…. aku tak sudi punya orang tua seperti dia. Lagipula ibu dan ayahku sudah lama meninggal…!!”

Zaenab          :   “Apa benar Malin, kau telah menganggap ibu meninggal…??”

Malin             :   “Sudah kubilang, aku tak mengenalmu…!! Mari dinda, kita secepatnya pergi dari desa yang kumuh ini…!!”

Kartika          :   “Tapi, aku ingin lebih lama lagi disini….?!”

Malin             :   “Tak usah lama-lama disini, cepat kita pergi dari sini….!!!”

Zaenab          :   “Jangan tinggalkan ibu lagi, Malin! Kembalilah dan pulanglah, Malin….!!”

Malin             :   “Minggir kau orang tua…!! Jangan menghalangi jalanku…!!”

Zaenab          :   “Dasar anak durhaka! Kukutuk kau jadi batu….!!!”

 

EPISODE 4

Seketika itu terjadi keanehan pada Malin beserta awak kapalnya. Ombak besar, petir menyambar dan hujan lebat terjadi di lautan itu. Kapal mengalami oleg dan berubah menjadi batu. Setelah mendengar berita itu, betapa sedih dan kecewanya Ibu Malin.

CERPEN CINTA YANG TERTUNDA

RINGKASAN CERITA

Bel tanda masuk kelas telah berbunyi, Ryan dan teman-temannya yang masih di halaman sekolah segera berlari karena tidak ingin mendapatkan hukuman dari guru yang mengajar. Beberapa menit kemudian ibu guru masuk ke kelas bersama dengan seorang murid baru. Seorang gadis yang bernama Nyla, pindahan dari SMA Negeri 10 Bandung. Setelah Nyla memperkenalkan diri di depan kelas, ibu guru mempersilahkan Nyla untuk duduk dan dia duduk di dekat Ryan. Setelah Nyla duduk di samping Ryan, mereka saling berjabat tangan.

Beberapa jam kemudian bel istirahat berbunyi, Ryan bertemu dengan Sari dan Sera. Nyla memperkenalkan mereka berdua kepada Ryan kemudian mereka pergi ke kantin bersama.

Suatu ketika, waktu Nyla pulang sekolah sendiri, dia dihadang oleh sekumpulan preman dan tanpa sengaja Ryan melihat Nyla diganggu oleh preman tersebut. Kemudian Ryan melawan segerombolan preman tersebut dan pada akhirnya preman-preman itu lari dan Ryan hanya terluka sedikit di bagian kepala karena Ryan habis dipukuli.

Dari kejadian itu, hubungan Ryan dan Nyla semakin dekat dan akhirnya mereka pun jadian. Ryan berencana mengundang orang tua Nyla untuk makan malam bersama di rumah Ryan. Malam itu orang tua Nyla datang ke rumah Ryan dan saling berbinca-bincang dengan orang tua Ryan, tapi setelah orang tua Ryan mengetahui kalau ayah Nyla hanya seorang supir angkot. Ayah Ryan marah dan mengusir Nyla dan orang tuanya untuk pergi, tapi Ryan berusaha mencegah kemudian Ryan bertengkar dengan ayahnya. Ayah Ryan beralasan itu semua demi kebaikan keluarga Ryan.

Peristiwa malam itu membuat hubungan Ryan dan Nyla semakin renggang. Nyla pun sudah mempunyai kekasih baru, tapi Nyla sebenarnya masih sayang sama Ryan. Ryan pun frustasi dia hanya bisa mabuk-mabukan dan suatu ketika Ryan mabuk dan berada di tengah jalan raya. Di depan Ryan ada mobil kemudian menabrak Ryan. Nyla yang pada waktu itu pergi ke pasar bersama ibunya melihat Ryan kecelakaan. Kemudian berlari dan berteriak memanggil Ryan.

Setelah itu, Ryan dibawa ke rumah sakit. Setelah sembuh Ryan menjelaskan semua apa yang telah terjadi sebenarnya. Akhirnya keluarga Ryan mempercayai perkataan Ryan, dan orang tua Ryan pun merestui hubungannya dengan Nyla. Merekapun dapat bersatu kembali seperti duku lagi.

 

D I A L O G

 

ADEGAN I

Bel tanda masuk kelas telah berbunyi. Ryan dan teman-temannya yang masih di halaman sekolah berlari tergesa-gesa karena tidak ingin mendapatkan hukuman lagi dari guru yang mengajar.

Ryan             :   (membuka pintu dengan nafas ngos-ngosan) “Syukur…. syukur…. untung aja gurunya belum masuk kelas. Kalau saja sudah masuk kelas pastu aku akan diberi hukuman lagi.” (sambil menuju ke bangkunya)

Rama            :   “Kamu juga sih, kalau saja kamu nggak ngajak kita kumpul dulu, pasti kita nggak akan terlambat….!”

Ryan             :   “Iya deh, aku minta maaf……!!!”

Tak lama kemudian guru yang mengajar datang

Guru              :   “Selamat pagi, anak-anak….!!!”

Murid             :   (murid pun dengan serentak memlabas salam dari ibu guru) “Pagi, bu…….!!!”

Guru              :   “Hari inikalian akan mendapatkan teman baru. Ia pindahan dari Bandung. (Ibu guru pun memanggil siswa baru itu yang masih ada di luar). Ayo nak, silahkan masuk…. (masuklah seorang gadis yang cantik dengan gaya yang masih malu-malu). Nah, sekarang silahkan perkenalkan diri kamu…!!”

Nyla              :   “Selamat pagi temen-temen……. Perkenalkan, nama saya Nyla Puspitasari, saya pindahan dari SMA N 10 Bandung.”

Guru              :   “Baik, kalau begitu silahkan duduk di…… di bangku sebelah Ryan!”

Ryan             :   (jantungnya berdebar-debar) “Hah….. di sebelahku??”

Nyla              :   (duduk di bangku smping Ryan) “Hai…. aku Nyla….” (menyodorkan tangan)

Ryan             :   “Ry… Ryan….”

Guru              :   “Baiklah anak-anak, sekarang kita mulai pelajaran hari ini….!!”

 

ADEGAN II

Beberapa jam kemudian bel istirahat berbunyi

Guru              :   “Anak-anak, karena bel istirahat sudah berbunyi, silahkan kalian untuk istirahat….!!!!”

Murid             :   “Iya bu………!!”

Ryan             :   “Nyl, kamu disini kan masih murid baru. Gimana kalau aku ajak kamu keliling ke sekolahan ini???”

Tiba-tiba dua orang siswa dari kelas lain datang

Sari               :   (berlari menuju tempat duduk Nyla) “Hai Nyl…. gimana rasanya di kelas barumu ini, pasti menyenangkan…???”

Serra             :   “Kamu ini gimana sih Sar? Orang baru pertama kali masuk kelas kok, pasti Nyla msih malu-malu. (memandang Ryan) Oya… Nyl, siapa nih…???”

Nyla              :   “Oya, perkenalkan dia namanya Ryan. Dia ini temen pertama aku di kelas ini. Ryan kenalin ini Sari dan Serra.”

Ryan             :   “Ryan………….”

Sari               :   “Sari……….”

Serra             :   “Serra………..”

Nyla              :   “Eh Sar…. Ser…. aku laper nih, ke kantin yuk? Yan, aku ke kantin dulu yah….?”

Ryan             :   “Iya… silahkan (memandang Nyla yang pergi ke kantin) Oh Tuha, cantik sekali gadis itu……”

 

ADEGAN III

Siang hari sepulang sekolah

Nyla              :   (pulang sekolah dengan jalan kaki, tiba-tiba segerombolan preman menghadangnya) “Si…. siapa kalian…??!?!!”

Preman         :   “Halo cantik, sendirian aja nih????” (preman mendekati Nyla)

Nyla              :   (lari ketakutan) “Tolong…….tolong………….” (terjatuh)

Preman         :   “Ha… ha…. ha….. mau lari kemana kau manis/”

Tiba-tiba Ryan datang……..

Ryan             :   (menendang dari belakang salah satu preman) He… siapa kalian? Ada maksud apa kalian ganggu temenku….???”

Preman         :   (dengan wajah marah) “Hei, bocah sialan… Siapa kau? Beraninya melawan kami….??!?!”

Ryan             :   “Aku temennya….. Emangnya kamu mau apa?”

Preman         :   “Kurang ajar, beraninya kamu melawan kami….?!?!”

Dan terjadilah perkelahian yang hebat. Sampai-sampai preman itu kalah melawan Ryan.

Ryan             :   (berjalan ke arah preman yang terkapar) “Rasain….!!!” (kemudian pingsan)

Nyla              :   “Ya… Ryan, kamu nggak pa-pa kan???”

 

ADEGAN IV

10 menit kemudian di taman Nyla membersihkan luka Ryan

Nyla              :   (memangku kepala Ryan sambil mengobati lukanya) “Ryan bangum….!!”

Ryan             :   (sadarkan diri) “Nyl… kamu nggak pa-pa kan…???!”

Nyla              :   “Nggak… aku nggak pa-pa kok. Makasih ya atas bantuannya….?!”

Ryan             :   (duduk) “Sama-sama Nyl…. Kamu pulangnya aku anter aja ya? Aku takut kalau ada prema yang menghdang kamu lagi….”

 

ADEGAN V

Malamnya di rumah Nyla

Nyla              :   (melamun) “Ternyata Ryan baik sekali. Dia berantem sama preman sampai babak belur cuma buat nglindungi aku….” (terbayang-bayang wajah Ryan)

Tiba-tiba dari luar kamar ada yang mengetuk pintu

Ibu Nyla        :   “Nyla……..!!!”

Nyla              :   (kaget) “I… iya bu…..! (membuka pintu) Ada apa, bu….???”

Ibu Nyla        :   “Kamu lagi ngapain sih….??”

Nyla              :   “Ibu mau tau aja….”

Ibu Nyla        :   “Ya udah, kalau gitu cepet keluar! Makan malamnya udah siap tuh…..”

Nyla              :   “Iya bu……”

Sementara itu di kamar Ryan

Ryan             :   (melamun) “Nyla…. Nyla….. Kenapa wajahmu selalu terbayang dipikiranku…??”

Esok harinya di sekolah

Roy               :   (melihat wajah Ryan yang babak belur) “Kenapa muka kamu yan? Kok kayak tahu gosong gitu…..??”

Ryan             :   “Tahu gosong mulutmu…!!! Aku habis berantem, tau…..!!”

Rama            :   “Beranten…..? berantem sama siapa??”

Ryan             :   “Beranten sama prema, kemarin….”

Nyla              :   (Nyla datang) “Yan…. gimana muka kamu, masih sakit nggak….?”

Ryan             :   “Eh… Nyla…!!! Eee… nggak pap-pa kok….”

Nyla              :   “Bener…. udah sembuh??” (sambil memegang muka Ryan yang memar)

Roy               :   “Ehem…. ehemm….”

Ryan             :   “Udahlah, aku nggak pa-pa kok…”

Nyla              :   “Bener nih, kamu nggak pa-pa…??”

Ryan             :   “Iya bener…. Nih lihat (sambil memukul pipiny yang emmar dan menahan rasa sakit)

Nyla              :   “Ya udah kalau gitu…….” (meletakkan tasnya di meja dan pergi keluar)

Ryan             :   “Aduh…. aduh….” (meringik kesakitan)

Rama            :   “Katanya nggak pa-pa…??” (sedikit menyindir)

Ryan             :   “Kalau Nyla tahu kan malu (sambil memukul Rama). Eh… ngomong-ngomong setelah kejadian kemarin, malemnya itu aku terbayang terus oleh wajah Nyla. Mungkin kamu tahu nggak apa maksudnya…??”

Rama            :   “Ya ampun, Ryan….! Masak kamu nggak tahu sih? Itu namanya kamu lagi jatuh cinta pada pandangan pertama…….”

Roy               :   “Emangnya bener Yan? Kamu lagi jatuh cinta pada Nyla………”

Ryan             :   (malu-malu) “Mungkin iya, karena aku belum pernah ketemu sama cewek secantik dia……..”

Roy               :   “Ya udah, tinggal apalagi? Ungkapin cintamu sama dia….!”

Ryan             :   “Tapi aku malu nih……….”

Roy               :   “Ya ampun Yan, demi cinta gitu loh, ngapain kita harus malu….”

 

ADEGAN VI

Sementara itu di kantin, Nyla dan temen-temennya

Nyla              :   (menunggu kedtangan Sari dan Serra) “Mana sih tu orang? Masak jam segini belum nongol-nongol juga….” (kemudian Sari dan Serra datang)

Sari & Serra  :   “Hai….. Nyl…!!”

Nyla              :   “ Hai juga…..! Kemana aja sih, aku tungguin juga??”

Sari               :   “Sorry….. sorry tadi jalanan macet, bener nggak Ser…?”

Serra             :   “Iya, maklumlah Jakarta…..”

Setelah Sari dan Serra duduk, Ryan datang dengan temen-temennya.

Ryan             :   (menuju tempat duduk Nyla dan teman-temannya) “Nyl, bisa bicara sebentar nggak……??”

Nyla              :   “Mau bicara apa? Disini aja………….”

Ryan             :   “Nggak bisa Nyl, soalnya ini darurat…..” (dengan rasa gugup)

Nyla              :   “Baiklah…………”

Ryan             :   “Gimana kalau kita bicara di bangku yang kosong itu aja…..?? (sambil menunjuak bangku kantin yang kosong)

Nyla              :   (berdiri) “Baik…. bentar ya Ser…. Sar……”

Roy               :   (duduk di bangku tempat Nyla duduk) “Hai…… (sambil senyum-senyum) Kenalin namaku Roy dan ini temenku Rama…..!”

Sari               :   “Gue Sari dan ini Serra….”

Sementara itu Nyla dan Ryan sampai di bangku kosong.

Nyla              :   (duduk) “Mau ngomong apa sih…..?”

Ryan             :   (gugup) “Eee…ee.. Nyl, sejak kejadian kemarin, malamnya aku… aku teringat ke kamu terus, Nyl. Dan sejak itu otu aku…. aku….. suka sama kamu. Kamu mau nggak jadi pacarku….??”

 

ADEGAN VII

Nyla              :   “Yan, sebenernya sejak kejadian kemarin siang, malamnya aku juga mikirin kamu kok, dan aku juga sayang sama kamu, tapi cuman sebagai sahabat….”

Ryan             :   “Jadi…. jadi kamu nggak terima cintaku, Nyl…???”

Nyla              :   “Ya… nggak gitu Yan, gimana ya…….”

Ryan             :   “Gimana dong, aku diterima nggak nih……???? Please terima ya??? Aku janji nggak akan macem-macem sma kamu…” (sambil bersujud di depan Nyla yang sedang berdiri)

Nyla              :   “Sorry Yan, aku nggak bisa jawab sekarang. Aku butuh waktu buat menjawabnya.” (Nyla langsung ninggalin Ryan)

Serra             :   “Nyl…. tadi kamu ngapain aja sama Ryan? Kok, kelihatannya seriun banget……! atau jangan-jangan kalian beranten???”

Nyla              :   “Nggak kok, tadi aku cuma…….”

Serra             :   “Cuma apa Nyl….? Kamu tu kalau ngomong yang jelas dong!”

Nyla              :   “Ta… tadi itu Ryan nembak aku dan kelihatannya dia berharap banget, gimana dong, terima nggak…..????”

Serra             :   “Nyl, sebaiknya jangan diterima aja, soalnya dia itu…. dia itu…. play boy…!!”

Nyla              :   “Lhoh…. emangnya ceweknya siapa aja?”

Serra             :   “Pokoknya banyak banget deh……”

ADEGAN VIII

Keesokan harinya, Ryan menunggu jawaban dari Nyla dengan penuh rasa cemas. Akhirnya Ryanpun dapat bertemu dengan Nyla.

(Ryan mengejar Nyla sambil memanggil namanya. Setelah Nyla berhenti, Ryan mengajak Nyla ke taman)

Ryan             :   “Gimana Nyl….. kamu terima kan….????”

Nyla              :   “I…i….iya, tapi kamu harus berubah, karne aku nggak suka cowok play boy…!!”

Ryan             :   “Bener Nyl…..??? Thanks ya…….”

Nyla              :   “Ya… ya….. ya……”

Ryan             :   “Oya Nyl, besok malem, kamu aku undang buat makan malam di rumahku. Sekalian ajak orang tua kamu juga, aku mau kenalin kamu ke orang tuaku….”

Sepulang sekolah di rumah Nyla

Nyla              :   (dengan hati yang genbira) “Ayah…… yah……!!!”

Ayah Nyla     :   “Ada apa sih Nyl, kok teriak-teriak…??”

Nyla              :   “Yah…. besok malem kita diundang makan malam….”

Ayah Nyla     :   “Diundang sama siapa, Nyl??”

Nyla              :   “Pacarku, si Ryan……”

Ayah Nyla     :   “Oh….. kamu sudah punya pacar, ya….??”

Nyla              :   “Iya yah, ayh nggak marah kan….?” (sambil memohon)

 

ADEGAN IX

Ketika Nyla sampai di sekolah, dia langsung disambut oleh teman-temannya. Di balik teman-teman Nyla ada juga Ryan yang sedang duduk sembari menunggu pacar barunya.

Ryan             :   “Pagi Nyl… Baru datang, ya….?”

Nyla              :   “Eh, Ryan….. Iya nih.” (berjalan menuju tempat duduknya)

Temen Nyla  :   “Duh, yang lagi asyik pacaran. Mesra anget sih, mau dong…..” (sambil meninggalkan kelas)

Tiba-tiba ada seorang siswa datang menemui Ryan dan Nyla yang sedang asyik ngobrol di bangkunya.

Shinta            :   “He Yan……! Ni siapa sih? Oh, jadi ini cewek baru kamu yang murahan banget. Yan, masak kamu tega ninggalin aku demi cewek kampung ini. Norak banget tau nggak???” (sambil merayu ryan yang sedang duduk)

Ryan             :   “Apa-apaan sih kamu….??!! Emangnya aku itu siapanya kamu?” (Ryan membentak Shinta)

Nyla              :   “Udahlah Yan, nggak enak kan didenger sama anak-anak lain…..” (berusaha untuk menenangkan Ryan)

Shinta            :   “Eh, aku mau tanya…. Apa kamu yang namanya Nyla…???!!” (sambil membentak)

Nyla              :   “I…. iya mbak, saya Nyla. Emangnya ada apa mbak?” (sambil ketakutan)

Shinta            :   “Aku peringatkan kamu ya…! Jangan sekali-kali kamu deketin Ryan, karena Ryan itu cowokku, awas kamu ya…..!!”

Kemudian Shinta pergi meninggalkan Nyla sambil mendorong Nyla.

Nyla              :   “Yan…. emangnya cewek tadi itu pacar kamu juga ya….??” (Nyla membentak Ryan)

Ryan             :   “Bu….. bukan….. bukan kok Nyl, dia itu paling-paling Cuma sirik aja sama kamu. Soalnya kamu pacar aku, jadi sekarang kita lupain aja kejadian tadi. Mendingan sekarang kita ke kantin aja, aku laper nih…..” (Ryan berusaha membujuk Nyla yang sedang menangis)

 

ADEGAN X

Malam hari di rumah Ryan

Nyla              :   (mengetuk pintu) “Assalamu’alaikum……..”

Ryan             :   “Wa’alaikum salam (menuju pintu dan membukakannya) Eh Nyla….”

Nyla              :   “Kenalin, ini ayahku…”

Ryan             :   “Malam, om…..”

Ayah Nyla     :   “Malam………….”

Ryan             :   “Mari silahkan masuk…….”

Di dalam rumah

Ayah Ryan    :   (turun dari tangga) “Eh, ayah Nyla sudah datang…..”

Nyla              :   “Malam om…. tante.”

Ayah Nyla     :   “Malam (sambil menjabat tangan Nyla dan ayah Nyla). Mari silahkan duduk! (menuju ke meja makan). Ngomong-ngomong perusahan Bapak dimana?”

Ayah Nyla     :   “Maaf pak, saya tidak punya perusahaan. Saya hanya seorang supir angkot.”

Ayah Ryan    :   “Heh… sopir angkot???!? Masak anak sopir angkot menjadi pacar anak seorang perngusaha terkaya di kawasan ini. Apa kata dunia? Ingat ya pak, saya tidak akan izinkan anak saya untuk berhubungan dengan anak bapak!” (dengan wajah marah)

Ayah Nyla     :   (dengan wajah marah) “Saya tidak terima penghinaan ini….!! Memang saya hanya seorang sopir angkot tapi saya masih punya harga diri. Ayo Nyla…. kita pulang..!!!” (menarik Nyla)

Nyla              :   “Tapi, yah…..” (tidak mau)

Ayah Nyla     :   “Nyla….!!! Ayo cepet pulang! Kita tinggalkan rumah orang yang terhormat ini!?!?!”

Ryan             :   “Nyla…… (mengejar Nyla) Pa, apa maksud perkataan papa tadi?” (wajah marah)

Ayah Ryan    :   “Ryan, dia itu tidak cocok untuk kamu, karena………….”

Ryan             :   (memtong perkataan ayahnya) “Karena apa pa? Karena ayah Nyla seorang sopir angkot….???  Iya…….?” (pergi)

Ayah Ryan    :   (mengejar Ryan) “ Tapi Ryan, itu demi kebaikanmu……..”

Dan pada saat itulah hubungan Nyla dan Ryan menjadi renggang. Dn akhirnya Nyla pun sampai mendapat kekasih baru. Tapi dalam hati Nyla masih mencintai Ryan. Pada saat Ryan mengatahui hal itu, ia menjadi frustasi.

Beberapa waktu kemuadian, di jalan raya……….

Ryan             :   (mabuk)

Nyla              :   (pulang dari pasar bersama ibunya)

Ryan             :   (berjalan di tengah jalan dan kemudian tertabrak mobil)

Nyla              :   (menyaksikan kejadian itu) “Ryan……!! (berlari). Tidak Ryan, jangankamu tinggalkan aku……”

Kemudian Ryan dibawa ke rumah sakit terdekat oelh Nyla dan ibunya. Setelah orang tua Ryan datang, Nyla dan ibunya langsung diusir oleh orang tua Ryan. Enam bulan kemudian Ryan sembuh dari sakitnya.

Ryan             :   “Ma…. pa….. Sebenernya yang nyelametin nyawa Ryan itu Nyla dan ibunya.”

Ayah Ryan    :   “Lho… kok bisa? Bukannya sudah jelas kalau mereka itu mau membunuh kamu???”

Ryan             :   “Enggak ma, pa….. itu semua nggak bener. Ayolah ma, pa….. maafin mereka, kita udah berutang budi sma mereka. Kalau bukan karena mereka, Ryan pasti sudah mati….” (Ryan menggerutu)

Yah Ryan      :   “Tapi Yan, papa………….”

Ryan             :   “Ya udah kalau papa tetep nggak mau maafin mereka, Ryan bakalan pergi dari sini….!!” (gertak Ryan)

Ibu                 :   “Pa, gimana nih? Rupanya Ryan masih belum bisa melupakan Nyla. Kelihatannya Ryan memang bener-bener cinta sama Nyla. Pa, kalau gitu kita maafing aja mereka, apa salahnya sih, pa……?”

 

ADEGAN XI

Beberapa minggu kemudian Ryan dan orang tuanya pergi ke rumah Nyla, mereka bermaksud untuk minta maaf atas kesalahan yang mereka buat.

Ryan             :   “Assalamu’alaikum……”

Nyla              :   “Wa’alaikum salam, Eh…. Ryan, om… tante……. Ma…! ini ada mama, sama papanya Ryan.”

Ibu Nyla        :   “Ada apa kalian datang lagi kesini. Apa anda mau menghina kami lagi?”

Ayah Ryan    :   “Bukan bu, kedatangan kami kesini, kami mau minta maaf atas kesalahan kami yang dulu….” (ayah Ryan memohon)

Ayah Nyla     :   “Tidak perlu minta maaf….!!! Sebaiknya anda sekarang juga pergi dari rumah saya. Saya tidak sudi menerima tamu yang sudah mempermalukan saya….!!!” (ayah Nyla marah-marah)

Ayah Ryan    :   “Pak, sekarang saya sadar bahwa cinta bukanlah kita lihat dari materi, tapi dari hati anak kita masing-masing. Tapi kalau bapak tetap tidak mau memaafkan kami, saya juga tidak memaksa, permisi, pak… bu…..”

Ayah, ibu dan Ryan pun pergi meninggalkan rumah Nyla.

Nyla              :   “Ibu….. Ayah kenapa sih nggak mau memaafkan mereka? Mereka kan tulus minta maaf?”

Ayah Nyla     :   “Nyla, ayah Cuma nggak mau kamu dihina. Ayah sayang sma kamu Nyla…..?!?”

Nyla              :   “Kalau ayah emang sayang Nyla. Nyla mohon maafin mereka dan restui hubungan kami.

Ayah Nyla     :   “Yah, kala itu memang keinginan kamu, ayah kabulkan.”

Nyla              :   “Bener yah, makasih ya yah. Ayah emang ayah yang paling baik…..”

Ayah dan ibu Nyla tersenyum melihat anak satu-satunya dapat tersenyum lagi. Nyla pun menelpon Ryan dan mengatakan kabar baik ini kepada Ryan. Setelah itu Ryan memberitahu ibu dan ayahnya kalau orang tua Nyla mau memaafkan mereka.

Satu minggu kemudian orang tua Nyla diundang makan malam di rumah Ryan. Setelah mereka tiba di rumah Ryan mereka disambut dengan senyuman.

Ayah Ryan    :   “Saya pikir, bapk dan ibu tidak mau memaafkan kami…”

Ayah Nyla     :   “Semua ini saya lakukan hanya untuk putri saya satu-satunya, pak.”

Ibu nyla         :   “Sekarang kita mulai lembaran baru dan membentuk keluarga yang seperti dulu lagi.”

Ibu Ryan       :   “Yang pasti, tanpa ada pemrusuhan…..”

Semua ikut tertawa.

Ryan             :   “Berarti, hubungan kita direstui, pa……..? (ayah Ryan mengangguk). Hore…. yess…..!!!!”

Kemudian Ryan mengajak Nyla ke taman yang ada di samping rumah Ryan, mereka kelihatan bahagia sekali. Rasanya seperti mimpi, akhirnya cinta yang mereka miliki dapat bersatu kembali dan Ryan sekarang bukan lagi anak yang play boy.

THE END

CERPEN CINTA YANG TERPENDAM

Cerita ini berawal dari seorang cewek yang bernama Vina yang sedang jatuh cinta kepada seorang cowok yang bernama Zuly. Awalnya Vina bertemu Zuly di sebuah supermarket, waktu itu hari Minggu sekitar pukul 5 sore. Vina mengajak saya untuk berbelanja di supermarket, dan setelah saya dan ina selesai belanja tanpa disengaja Vina menabrak seorang cowok yang ternyata cowok tadi bernama Zuly. Setelah beberapa hari kemudian Vina bertemu lagi dengan Zuly di sebuah jembatan dekat rumah kos Zuly. Waktu itu Vina sedang lari pagi, dengan perasaan kaget Vina berdiri dan sambil berkata kepada Vina.

“Vin, kayaknya cowok yang ada di jembatan itu seperti cowok yang kamu tabrak di supermarket kemarin, deh?”

“Mana sih? Nggak mungkin to ya, kalau cowok kemarin ada disini?” jawab Vina sambil membantah temannya tadi.

“Tapi kenyataannya bener dia kok? Beneran aku nggak bohong, sumpah deh!!!” sahut temannya dan mencoba untuk meyakinkan Vina.

“Iya bener cowok itu yang aku tabrak di supermarker kemarin,” jawab Vina baru percaya.

“Tunggu, tapi kenapa cowok itu bisa ada disini ya?” Vina berhenti dan bertanya kepada temannya.

“Lho, kenapa kamu tanya saya, Vin? Orang saya juga tidak tahu, gimana kalau kamu dekati dia dan bicara sama dia!” jawab teman Vina dan memberi saran kepada Vina.

“Boleh juga, katamu tadi!” jawab Vina.

Kemudian Vina dan temannya tadi mendekati Zuly yang sedang duduk di jembatan. Setelah dekat Zuly, Vina berkata kepada Zuly.

“Permisi, boleh duduk disini nggak?” tanya Vina.

“Ya, boleh silahkan!!!” jawab Zuly mempersilahkan.

“Terima kasih…. Oh, iya saya kemarin belum minta maaf, soalnya kemarin kami buru-buru sih, jadi belum sempat minta maaf, deh?” Vina minta maaf kepada Zuly.

“Nggak apa-apa, toh kemarih aku juga buru-buru,” jawab Zuly dengan santai.

“Zuly, kamu tinggal di rumah itu tho?” tanya Vina tentang tempat tinggalnya.

“Ya, aku tinggal disitu, kalau kamu tingga dimana ya?” tanya Zuly kepada Vina.

“Kalau aku tingga di desa sebelah RT.02/RW.06?” jawab Vina.

“Oo… kalau tidak salah rumah kamu di depannya ada pohon kedondong yang tinggi kan?” tanya Zuly.

“Kok kamu tahu, sih!” jawab Vina heran.

“Setiap hari Jum’at pagi kamu sering mengajak adik kamu jalan-jalan di luar, kan?” tanya Zuly dengan PD-nya.

“Lho…. kok kamu tahu juga sih?!??” jawab Vina heran lagi.

“Kan, setiap hari Jum’at pagi aku lari pagi lewat depan rumah kamu, masak kamu nggak tahu? Padahal aku lewat, kamu sering  di luar kan, dan kamu selalu merhatiin aku?!!” jawabnya dengan rasa PeDe.

“Oh, aku baru ingat, kamu sering lewat pakai baju warna ungu kan? Dan kalau lari kamu sering pakai I Pod dan sambil dengerin musik to?” jawabnya sambil menjelaskan.

“Lho… tu inget…?!?” jawab Zuly.

Kemudian setelah pertemuan itu mereka tidak pernah ketemu lagi, karena Zuly haru pindah dari situ. Sebenarnya dia tidak mau pindah karena dia masih ingin lebih mengenal lagi tentang Vina, tapi kepindahan itu sangat mendadak dan merekapun belum sempat bertemu dan rencanaya hari Jum’at mereka ingin bertemu untuk bertukar nomor Handphone, tapi belum sempat bertemu Zuly sudah pindah bersama orang tuanya. Pertemuan waktu itu merupakan yang pertama dan sekaligus yang terakhir. Beberapa hari setelah kepindahan Zuly, Vina mendatangi rumahnya dan ternyata di rumah itu ada seorang laki-laki yang menempatinya, Vina bertanya kepada laki-laki itu.

“Permisi Mas, numpang tnya, yang tinggal disini yang namanya Zuly ada nggak?” tanya Vina.

“Maaf, adik ini siapanya Zuly, ya?” tanya laki-laki itu kepada Vina.

“Oh… saya temannya Zuly, kalau Mas siapanya Zuly, ya?” jawab Vina.

“Oh… kalau saya bukan siapa-siapanya Zuly, tapi sayangnya Zuly dan keluarganya sudah pindah dari sini. Memangnya Mbak tidak dikabari to sama Zuly?” tanya laki-laki itu pada Vina.

“Tidak, memangnya pindahnya kapan ya, dan kalau boleh tahu pindah kemana, ya?”

“Sudah dua minggu yang lalu, dan saya tidak tahu pindahnya kemana.”

“O… kalau begitu terima kasih, saya pulang dulu, permisi….”

Setelah Vina mengetahui kalau Zuly sudah pindah, hati Vina merasa sakit karena Vina menyadari bahwa pertemuan itu membuat Vina mencintai Zuly. Tapi Vina masih berharap agar Zuly akan datang. Selang beberapa bulan Zuly datang ke rumah lamanya untuk mengambil barang yang disukai dia, dan sekaligus Zuly ingin mengundang Vina untuk datang ke pesta pernikahannya. Zuly kemudian mendatangi rumah Vina, dan setiba di rumah Vina, Vina sedang duduk di teras bersama keluarganya. Kemudian Zuly berkata :

“Assalamu’alaikum…………….”

“Wa’alaikum salam…..” jawab salam dari keluarga Vina.

“Bu… Vinanya ada?”

“Iya ada, itu dia?”

“Mari, masuk nak….”

“Terima kasih, bu…..”

“Zuly, gimana kabarnya?” Vina menanyakan kabar kepada Zuly.

“Oh… aku baik-baik saja kok, kalau kamu….?”

“Sama, masih seperti dulu….” jawab Vina

“Vin, to the point saja ya, soalnya waktuku nggak banyak.”

“Ya, emangnya ada apa sih?”

“Nggak, kedatanganku kemari, aku mau minta maaf, soal yang dulu waktu aku pindah aku nggak kasih tahu kamu dulu, dan sekarang aku mau undang kamu untuk datang ke pernikahanku yang rencananya mau dilaksanakan 1 minggu lagi, kamu mau datang, kan?”

Setelah mendengar kalau Zuly ingin menikah, hati Vina sakit dan Vina harus menahan air mata di depan Zuly, dan Vina harus berpura-pura di depan Zuly, dan sangat terpaksa Vina akan hadir di acara pernikahannya. Dan saat itu Vina harus memendam perasaannya tentang Zuly, dan meskipun sekarang Vina sudah mendapat cowok yang lain, tapi cinta pertama Vina adalah Zuly dan Vina akan mencoba untuk melupakan Zuly. Dan Vina mencoba untuk mencintai laki-laki itu.

THE END

DRAMA CINTA SEGITIGA

ADEGAN I

Pagi-pagi saat liburan di Bandung, Radit mengajak Arya untuk joging di tengah jalan. Mereka bertemu dengan dua cewek yang cantik, yaitu Viona dan Lia. Lalu mereka berkenalan.

Radit             :   “Pagi-pagi gini, jogging yuk….!”

Arya              :   “Bentar, aku cuci muka dulu yachhh….”

(di saat joging)

Arya              :   “ Eh Dit….. ! ada 2 cewek cakep tuh, kita kenalan yuk!!”

Radit             :   “Kamu tu ya, kalau lihat cewek cakep, kayak lihat uang satu milyar aja…..”

Arya              :   “Tapi kamu mau khan….???”

Radit             :   “Yach…..!!! Itu kan naluri laki-laki……”

Arya              :   “Kalau gitu let’s go…………..!!!”

(mereka kemudian berlari mendekati kedua cewek itu)

Viona             :   “Eh, lihat deh…..! ada cowok lari kearah kita lho….??”

Lia                 :   “Emang kenapa? Biar aja, mereka satu sekolah sama kita khan……..???”

Viona             :   “Lihat yang satu, ganteng lho………”

Arya              :   “Hai……. kita boleh kenalan nggak…?”

Viona             :   “Oh….. boleh banget.”

Radit             :   “Radit…….” (menyodorkan tangan kepada Lia)

Lia                 :   “Lia….!!!”

Arya              :   “Kenalin, namaku Arya! Kalau kamu siapa?”

Viona             :   “Viona…..”

Setelah mereka berkenalan, mereka langsung pulang ke rumah masing-masing.

 

ADEGAN II

Setelah liburan selesai mereka kembali ke Jakarta. Hari pertama masuk sekolah, mereka kelihatan sangat bergembira saat bel masuk berbunyi. Siswa-siswi masuk dan Pak Boby pun masuk kelas. Ratu pun terlambat dan Pak Boby marah-marah.

Margareth     :   “Pagi Fi….. udah lihat Radit apa belum? Aku kangen nih sama Radit! Waktu liburan kemarin aku nggak ketemu sama dia….”

Sofia             :   “Tuh orangnya dateng….!” (sambil menunjuk Radit yang baru saja masuk kelas)

Arya              :   “Pagi Dit…! Tuh dicariin sama gebetan kamu…..”

Radit             :   (melihat Margareth kemudian melihat Sofi dan tersenyum. Margareth dan Sofi membalas senyuman Radit)

Kemudian mereka masuk ke kelas untuk memulai pelajaran pertama bersama guru mereka yaitu Pak Boby.

Pak Boby      :   “Pagi anak-anak…….!” (kata Pak Boby dengan tegas)

Siswa            :   “Pagi Pakkkk…………….!!” (jawab para siswa dengan serentak)

Tiba-tiba datang seorang siswa  yang datang terlambat, Ratu namanya.

Ratu              :   “Pagi Pak….. maaf saya terlambat.”

Pak Boby      :   “Kenapa kamu bisa terlambat, heh……” (berbicara keras dengan mata melotot)

Ratu              :   “Itu pak, anu…… anu…… saya tadi anu……” (belum selesai berbicara sudah dipotong Pak Boby)

Pak Boby      :   “Bangun kesiangan kan? (berkata dengan suara parau dan keras) Bapak tidak mau dengar alasan kamu……”

Ratu              :   “Dengarkan penjelasan saya dulu Pak! Saya bukan bangun kesiangan tapi…….” (berkata dengan memaksa agar Pak Boby percaya)

Pak Boby      :   “Sudah…. nggak ada tapi-tapian!!! (memotong pembicaraan Ratu lagi, sambil membentak-bentak Ratu) Ya sudah, sana…………… sekarang kamu duduk dengan Radit…!!!”

Ratu              :   “Iya Pak, makasih …..” (berkata nada pelan dengan muka kesal)

Radit             :   “Huh……. gimana sih kamu ini! Pertama masuk sekolah udah telat…..!!?”

Ratu              :   “Biarin aja!” (sambil mengejek Radit)

 

ADEGAN III

Saat istirahat, di taman sekolah Margaret dan Sofi duduk sambil mengobrol. Dengan sembunyi Radit memperhatikan Sofi

Margaret       :   (melihat Radit) “Eh…. lihat! Radit ngliatin kamu tuh!!”

Sofi               :   “Biarin aja!!!” (berkata sambil tersenyum)

Tiba-tiba di belakang Radit

Andrey          :   “Ha…yo….. ngapain kamu? Lihatin siapa sih???”

Radit             :   (kaget) “Ah…. kamu ngagetin aku aja….”

Andrey          :   “Awas ya….. kalau kamu deketin Margaret, dia kan gebetan aku!!”

Radit             :   “Iya…. ya…. aku tahu.”

Ratu tiba-tiba datang menghapiri Radit dan Andrey. Tiba-tiba Ardi memanggil Ratu.

 

Ardi               :   “Hey….. lagi pada ngapain kalian disitu???”

Ratu              :   “Daripada kita nyelip-nyelip di pohon Cuma mau lihatin orang, mendingan kita ke kantin.”

Ardi               :   “Emangnya pada ngapain sih….???”

Andrey          :   “Mau tahu aja…..” (langsung pergi)

Ardi               :   “Yee….. ditanya malah pergi, emangnya ada sih Rat…..???”

Ratu              :   “Yah…… biasalah….. lagi lihatin cewek-cewek. Udah ah, yuk kita ke kantin…!!”

Margaret       :   “Rat….. Ratu….. tunggu, aku ikut…??”

Ratu              :   “Darimana aja sih kamu? Dicariin dari tadi kok nggak kelihatan?”

Margaret       :   “Sorry, tadi kan aku di perpus ngembaliin buku.”

Akhirnya merekapun pergi ke kantin bersama-sama.

 

ADEGAN IV

Saat mereka berada di ruang kelas…………..

Pak Boby      :   “Siang, anak-anak……….”

Siswa            :   “Siang, Pak…………!!!!”

Margaret       :   (melempar kertas pada Radit) “Hey…… Dit!!”

Ratu              :   “Kayaknya Margaret naksir kamu deh….!?!?”

Ratu pura-pura batuk.

Radit             :   “Emang kenapa kalo dia naksir sama aku….???”

Ratu              :   “Hati-hati aja, tuh lihat Andrey! Kalau kamu sampe deket sama Margaret kamu mesti berhadapan dulu dengan Andrey…”

Andrey          :   “Awas ya…. kalau kamu sampai deket sama Margaret…!!”

Radit             :   “Iya…. iya…. aku udah tahu….!!?!!”

Setelah pelajaran Pak Boby selesai, mereka pulang.

Margaret       :   “Rat….. Ratu…….!!!”

Ratu              :   “Ya…. ada apa?”

Margaret       :   “Kamu tetangga sama Radit kan?”

Ratu              :   “Iya…. emang kenapa? Kamu naksir Radit ya….???”

Margaret       :   “Tahu aja kamu kalau akau naksir dia. Jangan-jangan kamu naksir juga sama dia??”

Ratu              :   “Nggak…… siapa bilang?”

Sofi               :   (berteiak) “Mar…… Margaret…….!!”

Margaret       :   “Ya…. ada apa? Tunggu bentar Sof……”

Ratu              :   “Udah, sana deh, ditungguin Sofi tuh, kasihan dia….”

Margaret       :   “Ya deh, besok aja aku tanya lagi soal Radit ya, daaa…….”

Ratu              :   “Da juga………” (sambil melambaikan tangan)

Margaret datang mendekati Sofi.

Margaret       :   “Ada apa sih, Sof…???”

Sofi               :   “Tuh….. Radit udah pulang….”

Margaret       :   “Dit….. pulang bareng yuk…?!?!?!”

Radit menoleh dan tersenyum kearah Sofi, Sofipun membalas senyuman Radit. Di samping itu Margaret melihat Radit dan Sofi saling tersnyum.

Margaret       :   “Ayo Dit, kita pulang! Senyam-senyum terus dari tadi, emang kamu senyam-senyum sama siapa sih?”

Radit             :   “Enggak, aku nggak senyum sama siapa-siapa kok.”

Margaret       :   “Ya udah masuk ke mobil….! (membentak-bentak Radit sambil mendorong dan menarik si Radit ke mobil)

Radit             :   “Iya….. ya….. cerewet banget sih…!” (berbicara dengan nada kesal)

ADEGAN V

Malam harinya Radit ke rumah Sofi

Radit             :   “Assalamu’alaikum…….”

Sofi               :   “Wa’alaikumsalam Wr. Wb. (sambil membukakan pintu) Radit….? tumben kesini, ada pa nih? Ayo silahkan masuk! Oya, kamu mau minum apa…..???”

Radit             :   “Makasih Sof…. Enggak usah repot-repot… Aku kesini Cuma mau ngomong sesuatu sama kamu….”

Sofi               :   “Mau ngomong apa sih, soal Margaret?” (berbicara dengan penuh rasa penasaran)

Radit             :   “Oh…. nggak, soal kita kok…..”

Sofi               :   “Maksud kamu apa? Aku jadi nggak ngerti.”

Radit             :   “Sebenarnya aku sudah lama memperhatikan kami….. kamu…. mau nggak jadi pacar aku? Aku tuh suka sama kamu udah lama tapi aku takut mau ngomongnya, jadi baru kali ini aku berani ungkapin perasaan aku ke kamu……………”

Sofi               :   “Kamu bercanda kan, Dit???”

Radit             :   “Aku ngga bercanda, Sof…. (sambil memegang tangan Sofi) Aku ini serius…..!!!”

Sofi               :   “Maaf…… aku nggak bisa….. (menarik tangannya) Karena……”

Radit             :   “Karena apa………….???!”

Sofi               :   “Selama ini kamu nggak ngerasa kalau Margaret suka sama kamu…….??”

Radit             :   “Tapi aku hanya suka sama kamu, buka sama Margaret….???”

Sofi               :   “Maaf ya Dit… Aku bener-bener nggak bisa.” (berkata dengan lembut meskipun berat hati mengatakan kepada Radit)

Radit             :   “Ya udahlah, kalu gitu aku pulang dulu.”

 

ADEGAN VI

Sampai di rumah Radit, Ratu sudah menunggu di depan rumah.

Ratu              :   “Kamu kenapa sih Dit? Muka kamu kok kelihatan kusut gitu?”

Radit             :   “Aku ditolak…………”

Ratu              :   “Hah….??? Ditolak….. ditolak siapa sih, Sofi yah…?”

Radit             :   (hanya mengangguk tidak berbicara apa-apa)

Tiba-tiba Ardi datang ke rumah Radit.

Ardi               :   “Eh.. Ratu…! Emang Radit cinta ya sama Sofi?” (berkata dengan penuh penasaran dan curiga)

Ratu              :   “Iya….. emang kenapa? Udahlah kamu diam aja!” (berkata keras dan jengkel sambil membentuk Ardi)

Ardi               :   “Yee….. Cuma tanya doank kok! Gitu aja kok marah??!!” (berkata dengan nada jengkel juga)

Tiba-tiba Andrey, Viona, dan Lia datang dengan muka merah padam, Andrey menarik kerah baju Radit lalu memukulnya.

Viona             :   “Sudah…. hentikan! Kalian ini kayak anak kecil aja…!!?”

Andrey          :   “Gara-gara dia, aku jadi ditolak sama Margaret…!”

Lalu Ardi berlari menuju ke arah Andrey dan…..

Ardi               :   (menarik Andrey) “Kalau kamu ditolak Margaret itu berarti Margaret nggak cinta sama kamu…..!!!!”

Viona             :   “Sudahlah, masih banyak kok cewek yang mau sama kamu Ndrey…” (menasehati Andrey)

Lia                 :   “Iya, itu benar apa yang dikatakan Viona. Kalian itu bisa berpikir dewasa sedikit nggak sih….!??!!”

Sementara itu Ratu menelpon Arya untuk segera ke rumah Radit. Tak berselang lama Arya pun datang.

Arya              :   “Ada apa sih, kok aku disuruh kemari ???”

Viona             :   “Baru aja Andrey tadi memukul Radit…..”

Arya              :   “Tahu nggak kamu, kamu tu nggak perlu ngejar-ngejar cewek yang nggak cinta sama kamu, karena ada kok yang cinta sama kamu, yang mau menerima kamu apa adanya.”

Andrey          :   “Siapa…..?? (berkata dengan penuh curiga)

Lia                 :   “Viona…… Viona teman satu kelas kita itu… dan dia sekarang ada disini.”

Arya              :   “Sebenarnya Viona itu udah lama suka sama kamu, tapi karena Lia pernah cerita kalau kamu suka sama Margaret, dia nggak jadi bilang perasaannya sama kamu.”

(semuanya pun terdiam sejenak dan akhirnya mereka satu-persatu pulang ke rumah masing-masing)

Lia                 :   “Aku pulang dulu yah, udah malam nih…..”

Viona             :   “Aku ikut Li…….!!”

Setelah mereka satu-persatu pulang, lalu Radit masuk ke dalam kamar untuk beristirahat karena Radit lelah sekali.

 

ADEGAN VII

Pagi hari di sekolah, Bu Siska mendengar kabar dari siswa bahwa tadi malam ada keributan di rumah Radit. Bu Siska memanggil Arya, Radit, Margaret, Sofi untuk menemuinya dan menjelaskan kepada Bu Siska.

Bu Siska       :   “Nanti pulang sekolah, Arya, Radit, Margaret dan Sofi ke ruangan saya….!!”

Margaret       :   “Memangnya ada apa ibu memanggil kami….??”

Bu Siska       :   “Semalam apa yang terjadi di rumah kamu, Dit? Sebenarnya saya tidak ingin ikut campur, tapi ini permintaan dari temen-temen kalian. Karena mereka tidak ingin persahabatan kalian hancur hanya karena rasa egois kalian….”

Pak Boby      :   “Seharusnya kalian saling mengerti dan memahami perasaan kalian masing-masing…”

Margaret       :   “Semalam saya sudah berpikir merelakan Radir untuk Sofi, karena saya tidak ingin persahabatan kita hancur.”

Radit             :   “Sofi….. apa kamu masih menolak cintaku…???”

Sofi               :   “Aku juga nggak bisa bohon kalau aku juga suka sama kamu.”

Akhirnya mereka pun saling bermaaf-maafan

Pak Boby      :   “Nah…. begini kan lebih enak……!!!”

(Raditpun memegang tangan Sofi dan semuapun mengucapkan selamat dan bertepuk tangan)

THE END

 

KESIMPULAN

Percintaan merupakan hal yang wajar di dunia remaja. Cinta segitiga sering terjadi di kalangan remaja dimana salam satu dari mereka harus mengalah, merelakan orang yang dicintainya bersama dengan yang lain untuk kebaikan keseluruhannya. Seorang yang mengalah harus sabar, mengerti tentang perasaan orang yang dicintainya.

Persahabatan dan cinta merupakan dua hal yang penting yang menjadi bagian hidup manusia. Namun, persahabatan lah yang lebih dipentingkan manusia daripada cinta, karena dalam hal ini kita sebagai manusia tidak ingin mengecewakan, menyakiti sahabat kita yang senantiasa menemani kita di kala senang maupun duka. Karena toh yang dicintai malah mencintai sahabatnya. Seorang teman yang baik mau merelakan perasaannya demi kebahagiaan mereka berdua.

Cerpen – Si Rambun Yang Berbakti

Di desa yang terpencil hiduplah gadis yang cantik jelita namanya Lindung Bulan. Dengan kecantikannya banyak pemuda dan pangeran datang melamarnya. Tak seorang pun diterima kecuali seorang pemuda yang hidup sederhana dan berbudi pekerti baik.

Suatu hari mereka menikah, mereka hidup bahagia dan dikaruniai dua orang anak laki-laki dan perempuan bernama Rambun Pameran dan Reno Pirang. Mereka hidup bahagia sekalipun hidup didesa jauh dari keramaian. Sayang seribu sayang kebahagiaan itu hanya hadir sesaat, karena sewaktu anaknya masih kecil. Belum genap satu bulan kematian suaminya. Sudah banyak laki-laki yang melamarnya, karena meskipun dia sudah janda dia tetap kelihatan cantik.

Janda yang cantik jelita sempat terdengar oleh Raja Angek Garang. Dia adalah penguasa Negeri Terusan Cermin yang terkenal kejam. Dia punya keinginan untuk mempersunting Lindung Bulan. Kemudian memerintahkan Hulu Balang yang dipimpin oleh Panglima Tadang untuk mengajak janda cantik itu ke Istana.

Setiba dirumah janda itu, Panglima Tadang membujuk dengan berbagai cara baik-baik, tetapi dia tidak mau, lalu dia menculik janda itu ke Istana. Sesampai disana janda itu tidak mau, kemudian janda itu dipenjara selama bertahun-tahun. Sementara itu Rambun dan Reno hidup dalam keadaan Yatim piatu.

Pada suatu hari Rambun menjumpai orang yang sedang berteduh di semak belukar, ia bernama Alang Bangkek. Keduanya bercakap-cakap dan akhirnya orang itu mengetahui bahwa Rambun adalah anak Lindung Bulan yang bertahun-tahun dipenjara.

Setelah diberi tahu keadaan ibunya oleh Alang Bangkek, Rambun sering marah-marah dan mulai belajar silat. Kakaknya belum mengetahui hal apa yang menimpa adiknya. Suatu hari Rambun menceritakan tentang keberadaan ibunya yang sudah bertahun-tahun dipenjara oleh Raja Angek Garang karena ibunya tidak mau dinikahi Raja, kepada kakaknya. Rambun tidak tahan dengan keadaan seperti ini dan ia memutuskan untuk pergi. Semua perbekalan selama perjalanan telah disiapkan oleh kakaknya.

Negeri yang dituju sangatlah jauh, karena itu Reno pun mengikuti adiknya. Perjalanan itu melewati hutan belantara, tetapi mereka tidak merasa takut. Dalam perjalanan ia merasa lelah dan kelaparan. Rambun jatuh sakit dan saat itu Reno memberikan nasi bungkus dan sebutir telur rebus. Kejadian itu berulang-ulang selama dalam perjalanan, hingga akhirnya Rambun sampai diladang tepi hutan.

Untuk melepas lelah Rambun beristirahat di pemilik kebun yang berada di tepi hutan, di tempat itu Rambun bekerja keras dan akhirnya Rambun menceritakan maksud dan tujuan ia menjajah sampai kesini. Dengan ramah tamah petani itu menjelaskan bahwa jalan sebelah barat harus dilaluinya. Kemudian Rambun meminta izin untuk melanjutkan perjalanan. Petani itu memberikan sebatang tongkat kepada Rambun, tongkat itu ia berinama Manau Sungsang.

Rambun melewati hutan belantara lagi, ditengah-tengah hutan itu ada seorang yang sedang dibelit ular. Rambun menolongnya dengan cara memukul kepala ular dengan tongkat Manau Sungsang miliknya. Orang itu berterima kasih kepada Rambun dan ia bertanya kepada Rambun mau kemana. Terusan Cermin kata Rambun, orang itu mengantarnya dengan cepat.

Setiba di Dusun Rambun lapar sehinnga dia pergi ke warung. Dia bekerja demi membayar kebaikan wanita itu yang sudah memberinya makan.

Dia minta izin untuk mengetahui keadaan ibunya. Setiba di Istana dia langsung menuju ke tempat ibunya yang ditawan. Saat itu dijaga ketat oleh Hulu Balang. Hulu Balang tadi berkata dan bertindak keras kepada Rambun. Rambun hilang kesabaran sehingga dipukulnya dengan tongkat, sehingga Hulu Balang lari kesakitan.

Palimo datang dan marah-marah kepada anak buahnya yang sudah tak berdaya, sehingga dia menghunuskan pedangnya. Tetapi Rambun terlebih dahulu memukul Palimo dengan tongkat sampai meninggal. Peristiwa itu disampaikan Hulu Balang kepada Raja, dan Raja pun marah-marah lalu menusukkan pedangnya kesalah satu Hulu Balang. Sambil mengayuh  pedang dia menyerbu Rambun, tongkatnya segera di pukulkan kepada Raja yang kejam itu tetap mengujurkan pedangnya.

Raja terus menyerang tetapi pada akhirnya pedang Raja itu dipkul Rambun, hingga terlepas. Raja dipukuli kepalanya, dia menjerit dan meninggal seketika.

Kemudian dia menuju penjara untuk membebaskan ibunya yang dirantai. Badan ibunya haus kering. Rambun dan Ibunya berpelukan erat-erat dan menangis penuh haru. Ibunya dibawa pulang menuju kampung halamannya dan berkumpul lagi dengan kedua anaknya.

Rambun berambisi tidak ingin menjadi Raja, karena dia ingin berjuang melawan kejahatan.

Mereka pun hidup bahagia selamanya.

Dialog Drama

Didesa yang terpencil hiduplah seorang gadis cantik jelita namanya Lindung Bulan. Dengan kecantikannya banyak remaja dan pangeran datang melamarnya. Tetapi tak seorang pun dapat menaklukkan hatinya kecuali seorang pemuda yang sederhana dan berbudi pekerti baiklah yang ia terima dan mereka pun menikah.
Dialog 1
Pemuda : “Aku sangat bahagia sekali kalau aku bisa memilikimu?”
Lindung Bulan : “Aku juga merasakan hal yang sama, seperti yang kau rasakan”
(Beberapa tahun kemudian)
Pemuda : “Istriku, tidak terasa sekarang kita sudah dikaruniai 2 anak yang sangat cantik dan tampan”
Lindung Bulan : “Iya, ya mas”
Pemuda : “Istriku, sekarang aku mau berangkat kerja, doakan aku ya? Supaya dimudahkan pekerjaannya dan rizki untuk menafkahi kau dan kedua anak kita”
Lindung Bulan : “Mas, tentu saja? Pasti akan aku doakan”
(Beberapa jam kemudian)
Pekerja : “Permisi, Apa ini benar rumahnya Lindung Bulan”
Lindung Bulan : “Iya benar ini rumah saya, ada apa ya?”
Pekerja : “Begini? Tadi pada saat suamimu bekerja, tiba-tiba suamimu tertimpa batu dari atas dan mengenai kepalanya, kami sudah berusaha namun sayang nyawa suamimu tak dapat ditolong lagi”
Lindung Bulan : (Mendengar hal itu ia lemas tak berdaya) “Tida, tidak mungkin suamiku belum meninggal, kau pasti bohongf”
(Beberapa tahun kemudian)
Banyak laki-laki yang datang untuk melamarnya tetapi tak satupun yang dia terima karena walaupun sudah janda tetapi dia masih cantik dan menarik.
Laki-laki : “Lindung Bulan, Maukah kau menjadi istriku?”
Lindung Bulan : “Sebelumnya saya minta maaf, saya tidak mau menerima lamaran anda karena saya masih mencintai almarhum suami saya”
Berita tentang janda cantik jelita itu sampai ke telinga Raja Angek Garang dan dia memerintahkan Panglima dan Hulu Balang untuk membawa Lindung Bulan ke Istana untuk dijadikan istrinya.
(Sampailah Panglima dirumah Lindung Bulan)
Panglima Tadang : “Permisi, apa benar ini rumahnya Lindung Bulan?”
Lindung Bulan : “Benar, ada apa ya dan siap anda?”
Panglima Tadang : “Saya Panglima Tadang, saya diutus Raja untuk membawamu ke Istana karena kau akan dijadikan istrinya?”
Lindung Bulan : “Maaf kalau saya lancang, saya tidak mau dijadikan istrinya”
Panglima Tadang : “Apa katamu, tetapi kau harus tetap ikut bersamaku sekarang! Kalau perlu aku akan memaksamu dengan cara keras!”
Lindung Bulan : “Tidak Panglima, saya tidak mau, kasihan anak-anak saya!”
(Panglima membawa Lindung Bulan dengan paksa)
Rambun & Reno : “Janganbawa ibu kami, jangan …… kami mohon”
(Sesampainya diistana)
Panglima Tadang : “Baginda, saya telah membawa Lindung Bulan”
Raja : “Bagus, sekarang bawa dia kemari aku mau lihat betapa cantiknya dia”
Panglima Tadang : “Baik Baginda saya akan membawanya sekarang”
Raja : “Oh ini yang namanya Lindung Bulan, ternyata benar kalau kau sangat cantik, walaupun kau janda. Lindung Bulan maukah kau menikah dengan ku? Aku berjanji apapun yang kau minta akan aku turuti, jika kau jadi istriku”
Lindung Bulan : “Maaf Baginda, saya tidak mau menjadi istri Baginda, saya tidak sudi menjadi istri Raja licik dan kejam seperti anda”
Raja : “Apa..! kamu menolakku, dan kau menghinaku! Panglima Tadang sekarang bawa dia pergi! Penjarakan dia dan jangan kau keluarkan dia!”
Panglima Tadang : “Baik Baginda Raja!”
(Hidup Reno dan Rambun sangat menderita semenjak kepergian ibunya, mereka harus bekerja untuk membiayai hidup mereka).
(Beberapa tahun kemudian).
Dialog 2
(Suatu hari Rambun menjumpai orang yang ia tidak kenal sedang berteduh di semak belukar).
Alang Bangkeh : “Namamu siapa nak? Mengapa kamu kemari”
Rambun : “Namaku Rambun, aku sedang mencari ibuku. Bertahun-tahun dia telah pergi meninggalkan saya dan kakek saya”
Alang Bangkeh : “Malang sekali nasibmu nak, Siapa nama ibumu?”
Rambun : “Lindung Bulan”
Alang Bangkeh : “Jadi kau anaknya Lindung Bulan”
Rambun : “Iya, benar”
Alang Bangkeh : “Rambun aku tahu dimana ibumu! Ibumu berada di Istana Raja Angek Garang, ibumu dulu dipaksa untuk menikah dengan raja, karena ibumu menolak raja memenjarakannya sampai sekarang”
(Setelah diberi tahu keadaan ibunya oleh Alang Bangkeh, Rambun sering marah-marah dan giat belajar silat hingga membuat Reno bingung).
Reno : “Rambun, mengapa belakangan ini kau sering marah-marah dan rajin silat”
Rambun : “Begini kak, sekarang aku tahu keberadaan ibu kita”
Reno : “Dimana ibu kita?”
Rambun : “Selama ini ibu kita dipenjara di Istana Angek Garang karena ibu tidak mau dijadikan istri”
Reno : “Kasihan ibu kita” (menangis).
(Rambun tidak tahan dengan keadaan ini dia memutuskan untuk pergi, perbekalannya sudah disiapkan oleh Reno).
Rambun : “Aku telah memutuskan untuk pergi mencari ibu, aku tak tahan melihat ibu menderita”
Reno : “Iya Rambun, ini aku bawakan bekal selama perjalananmu. Hati-hati kau selama perjalanan, aku akan selalu mendoakanmu”
(Negeri yang dituju sangatlah jauh, karena itupun Reno mengikutinya. Perjalanan itu melewati hutan belantara tetapi dia tidak takut).
Dialog 3
Rambun : “Aduh! Aku lelah sekali kepalaku pusing”
Reno : “Rambun! Kamu tidak apa-apa, apakah kamu sakit? Ini aku bawakan nasi bungkus dan telur rebus, makanlah!”
(Kejadian itu terus berulang-ulang selama dalam perjalanan, hingga akhirnya Rambun sampai di tepi ladang hutan untuk melepas lelah Rambun beristirahat di pemilik kebun yang berada ditepi hutan).
Rambun : “Bu petani, apa saya bisa membantu anda?”
Bu Tani : “Tentu saja nak, kemana anak kemari?”
Rambun : “Aku mau mencari ibuku yang dipenjara Angek Garang beberapa tahun yang lalu, tetapi saya belum tahu jalan menuju Istana Angek Garang”
Bu Tani : “Nak, ibu mengetahui jalan menuju istana”
Rambu : “Dimana bu?”
Bu Tani : “Terima kasih bu”
(Beberapa hari kemudian).
Rambun : “Bu, saya minta izin untuk melanjutkan perjalanan. Saya sangat berterima kasih atas kebaikan ibu selama ini?”
Bu Tani : “Iya nak, ibu hanya bisa memberimu tongkat ini, ini ibu berinama Manau Sungsang. Tongkat ini bisa menjagamu selama perjalanan”
Rambun : “Sekali lagi, terima kasih bu?”
Bu Tani : “Iya nak hati-hati dijalan”
(Rambun melewati hutan belantara yang ditengah-tengah hutan rimba itu ada seorang yang sedang dibelit ular, kemudian Rambun menolongnya dengan cara memukul kepala ular dengan tongkat Manau Sungsang).
Bu Tua : “Tolong…..tolong…..tolong! ada ular”
Rambun : “Sepertinya ada suara meminta tolong…. tapi siapa ya?” “Sepertinya arahnya dari sana itu.” 

“Tenang nek akan ku matikan ularnya”

Bu Tua : “Terima kasih nak, anak telah membantu nenek, kamu mau kemana nak?”
Rambun : “Saya mau ke Terusan Cermin nek?”
Bu Tua : “Sebagai balas budi, nenek ingin mengantarmu ke Terusan Cermin”
Rambun : “Terima kasih nek?”
Bu Tua : “Akhirnya nak, kita sampai di dusun, ya sudah nenek hanya bisa mengantarmu sampai sini saja. Nenek harus pulang, hati-hatilah kamu dijalan”
Rambun : “Tidak papa, terima kasih nek”
(Setibanya didusun dia lapar sehingga dia pergi kewarung).
Rambun : “Aduh, perutku sakit sekali! Disana ada warung”
Rambun : “Ibu saya minta makanan”
Penjaga Warung : “Iya nak, ini”
Rambun : “Ibu, saya tidak bisa membayar dengan uang, bagaimana kalau saya membantu ibu membereskan warung”
Penjaga Warung : “Tidak papa nak, ibu juga lagi membutuhkan orang yang mau membantu ibu”
Rambun : “Terima kasih bu”
(Beberapa hari kemudian)
Rambun : “Ibu, saya mau meneruskan perjalanan untuk mencari ibu saya yang sudah bertahun-tahun dipenjara”
Penjaga Warung : “Iya nak, ibu doakan supaya ibumu bisa bebas dan hati-hati dijalan”
Rambun : “Iya bu?”
(Setibanya di Istana)
Hulu Balang : “Mau kemana kau anak muda” (berkata kasar)
Rambun : “Jangan halangi aku” (memukulkan tongkatnya pada hulu balang)
Hulu Balang : (Lari kesakitan)
Panglima : “Kenapa kalian” (marah-marah). “Siapa kau anak muda!”
Rambun : “Jangan banyak omong” (memukul tongkatnya pada Panglima sehingga Panglima meninggal dengan mengenaskan)
Hulu Balang : (Menghadap Raja) “Baginda Raja ada seorang pemuda yang memaksa masuk dan membunuh Panglima”
Raja : (Marah-marah) “Apa katamu!” (menghunuskan pedangnya pada hulu balang)
Raja : “Siapa kamu!” (mengayuh dan menjuruskan pedanganya pada Rambun)
Rambun : “Aku Rambun anak Lindung Bulan” (sambil memukulkan tongkatnya pada Raja)
Raja : “Jadi kau anaknya Lindung Bulan” (menyerang dengan keras)
Rambun : “Iya benar” (berhasil melepaskan pedang raja dan memukul kepala raja dengan tongkat ajaibnya sehingga raja lari kesakitan)
Raja : (Kesakitan, meninggal seketika)
Rambun : (Segera menuju penjara tempat ibunya dikurung)
Lindung Bulan : “Kau siapa!”
Rambun : “Aku Rambun ibu? anakmu”
Lindung Bulan : “Rambun anakku” (menangis penuh haru)
(Mereka pulang kekampung halaman dan sampai dirumah).
Reno : “Ibu…. ibu aku sangat merindukanmu” (berpelukan penuh haru)
Lindung Bulan : “Anakku Reno, Rambun akhirnya kita bisa berkumpul lagi”
Reno : “Iya bu”
Rambun : “Ibu, jika aku diberi pilihan untuk menjadi raja, aku tidak akan mau karena aku ingin membela rakyat yang lemah”
Lindung Bulan : “Niatmu sangat mulia nak? Ibu akan merestui nya”
(Mereka hidup berbahagia untuk selamanya).

The End

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.