//
archives

Laporan study

This tag is associated with 1 post

REPORTASE STUDY TOUR KE PULAU BALI

PULAU BALI

A. Cara Hidup Masyarakat Bali

Bali merupakan pulau yang berpenduduk padat. Sebagian besar mereka tinggal di desa-desa yang saling berdekatan. Di Bali bagian selatan dengan penduduk 2000 sampai 4000 orang, terhampar di sepanjang daratan-daratan yang subur dialiri saluran irigasi. Pada daratan ini biasanya jarak antara satu desa dengan desa lainnya hanya sejauh lima belas menit berjalan kaki melewati pematang sawah. Di sepanjang pantai utara desa-desa terbentang sepanjang laut Jawa. Secara tradisional organisasi social di Bali berdasarkan pada sistem banjar, setiap desa biasa memenuhi kebutuhanya secara lengkap, Menyuplai semua keperluan dan fungsi yang dibutuhkan dari baru lahir sampai meninggal. Sekarang ini seperti pada semua Negara-Negara industri, kota-kota dan pusat-pusat pariwisata menyerap banyak tenaga dari daerah-daerah dan dalam beberapa hal memusatkan arus barang dan jasa.

Organisasi-organisasi di desa-desa merupakan salah satu aspek yang paling unik dari pulau yang sangat menawan ini. Desa atau banjar lebih merupakan suatu unit komunal, mirip seperti suatu keluarga besar. Pola kehidupan desa dan masyarakatnya sangat erat kaitanya dengan agama dan kehidupan religius masyarakatnya. Organisasi kemasyarakatan yang paling utama disebut banjar, yang merencanakan semua kegiatan upacara termasuk pernikahan dan kremasi, serta menjadi mediator terhadap masalah-masalah yang muncul di masyarakat. Setiap desa sedikitnya mempunyai satu banjar yang rata-rata beranggotakan antara 50 sampai 100 kepala keluarga. Setiap banjar memiliki pusat pertemuan yang disebut Balai Banjar.

B. Kepercayaan Masyarakat Bali

Sebagian besar masyarakat Bali mememeluk agama Hindu, yang menjadi dasar agama Hindu adalah Animisme dan Dinamisme. Masyarakat Bali mempercayai adanya tiga Dewa yaitu :

  1. Brahmana sebagai Dewa Pencipta.
  2. Wisnu sebagai Dewa Pemelihara.
  3. Syiwa sebagai Dewa Pelebur.

Trimurti dikembangkan dengan mendapat pasangan yaitu Trisakti :

  1. Saraswati melambangkan Dewi kebijaksanaan dan pengetahuan.
  2. Laksmi melambangkan Dewi kecantikan dan kebahagiaan.
  3. Parwati melambangkan Dewi keberanian dan kegarangan.

Kitab Suci agama Hindu adalah Weda artinya Pengetahuan, yang terbagi menjadi empat bagian. yaitu :

  1. Regweda berisi syair pujian terhadap para Dewa.
  2. Samaweda berisi syair dan nyanyian suci dalam upacara.
  3. Yajurweda berisi doa-doa pengantar sesaji dalam upacara.
  4. Atarwaweda berisi mantra untukmenyembuhkan orang sakit dan jampi untuk sihir serta ilmu gaib mengusir penyakit dan para musuh.

C. Upacara Keagamaan

Upacara keagamaan pada hari-hari spesial yang disebut “adalan” yaitu:

  • Setiap pura dan tempat suci memiliki hari dan tanggal khusus sebagai perayaan ulang tahunya,atau adalan setiap 210 hari termasuk sanggah keluarga yang lebih kecil yang ada di setiap keluarga. Karena alas an inilah maka secara praktis setiap beberapa periode ada acara adalan di desa-desa Bali.
  • Galungan : Secara harafiah merupakan suatu perayaan terciptanya alam semesta. Dimana Sang Maha Pencipta Tuhan Yang Agung beserta roh-roh leluhur dipuja dan dimohon untuk turun ke dunia serta bersama kembali sanggar keluarga. Sebuah penjor bamboo yang dihias dengan janur dan bunga beserta altar bamboo digantung lamak ditempatkan di sisi pintu gerbang setiap rumah.
  • Kuningan : Sepuluh hari setelah Galungan, pada hari ini dipersembahkan lebih banyak sesaji di pasang lamak yang segar kepada leluhur, Barong diarak sepanjang jalan diiringi oleh barisan anak-anak.
  • Nyepi : Tahun baru masyarakat Bali menurut kalender tahun Saka merupakan hari tanpa aktivitas dan sunyi senyap di seluruh bali selama 24 jam. Pada hari ani tidak boleh menyalakan api, karena itu harus memasak sehari sebelumnya. Sehari sebelum Nyepi dipersembahkan sesajen (mecacu) sebagai penyucian yang dilakukan secara besar-besaran di setiap desa dengan tujuan untuk menetralisir pengaruh roh-roh jahat dan di petang harinya digelar penyucian spirit secara global oleh sejumlah besar anak-anak yang berpakaian khusus, diarak keliling desa memegang api obor, berteriak sambil memukul benda-benda tertentu sebagai musik untuk mengusir roh jahat. Secara tradisional hari raya Nyepi dirayakan dirumah sambil berpuasa, berdoa, dan bermeditasi. Namun keluarga Brahmana yang menjalankan sistem ini.

D. Kehidupan Sosial

Masyarakat Bali dalam kehidupan bermasyarakatnya dibagi menjadi empat kastra yang terdiri dari :

  1. Kasta Brahmana          : Kalangan pendeta / pemuka agama Hindu.
  2. Kasta Ksatria              : Kalangan Prajurit.
  3. Kasta Waisya              : Para pedagang dan petani.
  4. Kasta Sudra                : Rakyat jelata / biasa.

Dalam adat Bali pemberian nama seseorang dibagi menjadi tiga :

  1. Berdasarkan golongan atau warna
  2. Brahmana :Nama yang diberikan pada saat upacara keagamaan dengan diberi nama Ida Bagus atau Ida Ayu.
  3. Ksatria : Sebagai keturunan raja atau prajurit, dengan nama Cokorda Ngurah yang berasal dari kata Cokorde yang berarti Kaki Dewa.
  4. Waisya : Sebagai keturunan dari kaum pedagang atau petani, diberi nama I Gusti Ngurah atau I Gusti Ayu.
  5. Sudra : Keturunan rakyat biasa, diberi nama sesuai urutan kelahiran.
    1. Berdasarkan urutan kelahiran
    2. Gede / Wayan sebagai anak pertama / paling tua (Puthu)
    3. Made (Madeah) sebagai anak yang ditengah (Nengah)
    4. Nyoman (Anom) sebagai anak yang paling muda .
    5. Ketut (Katutan) sebagai anak yang paling akhir.
    6. Berdasarkan pemberian orang tua

Nama yang diberikan orang tua yang berada di tengah atau di akhir setelah nama dari golongan atau urutan kelahiran.

E. Kebudayaan Masyarakat Bali

Masyarakat Bali memiliki berbagai macam kebudayaan yang diwarisi secara turun temurun dari nenek moyang. Kebudayaan tersebut meliputi kebiasaan ataupun adapt istiadat yang selalu ditaati oleh masyarakat Bali anntara lain yaitu :

  • Setiap laki-laki di Bali baik muda maupun tua selalu memakai ikat kepala yang dikenal dengan (udheng) yang bertujuan mengikat pikiran laki-laki untuk tidak berfikir negatif.
  • Pohon kelapa di Bali dianggab suci karena semua kebutuhan unyuk upacara berasal dari pohon kelapa seperti : Janur dan buah kelapa.
  • Pohon besar yang ada di pulau Bali selalu dikelilingi kain kotak-kotak berwarna hitam dan putih yang melambangkan dua bineda yang berarti dua sifat antara baik dan buruk yang saling hidup berdampingan dan didekat pohon besar diberi sesaji.
  • Di setiap jembatan terdapat patung yang difungsikan sebagai penunjuk arah dan diberi sesaji serta dipercaya adanya penunggu.
  • Adanya hiasan Penjor yang terbuat dari janur yang melambangkan seekor naga. Beberapa macam penjor antara lain :
  1. Penjor Hias : Penjor yang digunakan hanya untuk hiasan saja yang biasanya berada di depan rumah yang berisi dari hasil bumi dan jajanan .
  2. Penjor Galungan : Penjor yang digunakan untuk tempat persembahan sebelum hari raya Galungan, yang dilaksanakan setiap 6 bilan sekali, yang melambangkan seekor naga yaitu Naga Basuki melambangkan keselamatan.
  • Adanya upacara Ngaben / pembakaran mayat .

Ngaben berasal dari kata ngabuin yang berarti menjadi abu dengan tujuan unyuk mengambil mikro kosmos tubuh menjadi makro kosmos.Terdapat lima unsure pembentuk pance mata bute :

  1. Pertiwi       : Tanah
  2. Apah         : Zat padat
  3. Tije            : Zat cair
  4. Bayu          : Zat gas
  5. Angkase    : Sinar

Terdapat 3 syarat upacara Ngaben :

  1. Adanya mayat yang di Ngaben
  2. Adanya biaya (sekitar 20 juta)
  3. Adanya hari baik

Dalam upacara Ngaben terdapat 3 jenjang yaitu :

  • Secara langsung

Orang yang meninggal dibuatkan alat pengusung jenazah dan alat pengurung jenazah, juga terdapat burung cendrawasih yang berfungsi untuk mengantarkan arwah ke surga. Dalam upacara Ngaben atau pembakaran mayat menggunakan kompor pembakaran mayat, kemudian abu jenazah dibawa ke tengah laut dan tidak disimpan setelah Ngaben, Kemudian melakukan upacara Nyegare Gunung yaitu abu jenazah diambil dan diletakkan di gunung  dengan tujuan meminta restu dari Dewa Gunung Agung di pura Besakih.

  • Secara tidak langsung

Apabila salah satu keluarga mengalami kematian dan belum bias melakukan upacara Ngaben dikarenakan tidak memiliki biaya, Mayatnya bisa dikubur terlebih dahulu sampai memiliki biaya untuk upacara Ngaben.

  • Secara simbolis

Dalam melaksanakan upacara Ngaben, hanya dilakukan dengan menggunakan simbol-simbol saja.

OBJEK – OBJEK WISATA

A. Tanah lot

Objek wisata Tanah Lot berada di kecamatan Kediri Tabanan. Tanah lot berasal dari kata tanah yang keras (alot) dan tanah yang berada di tengah laut. Di tanah lot sendiri memiliki objek wisata berupa Pure yang berada di atas sebuah karang, adanya air suci dan sebuah Gua yang ditempati ular suci.

Mata air suci yang berada di tanah lot ditemukan oleh seorang pendeta yang bernama Nyi Rata yang melihat pancaran sinar suci dan mengeluarkan air. Selain mata air suci, juga terdapat ular suci yang berwarna hitam-putih yang dipercaya berasal dari selendang Nyi Rata.

B. Pantai Tanjung Benoa

Terletak di sebelah utara kawasan BTDC Nusa dua dan sekitar 13 Km dari bandara Ngurah Rai Tuban. Pesisir timur Pantai Tanjung benoa merupakan pantai berpasir putih yang indah sebagai tempat untuk menyaksikan matahari terbit dan sering dipergunakan untuk berenang serta berbagai kegiatan wisata air. Di pantai tanjung benoa juga terdapat berbagai macam permainan air seperti : Banana boat, paraseling, dan lain-lain.

Di pantai tanjung benoa tidak hanya terkenal karena keindahan pantainya tetapi juga terkenal karena tempat penangkaran penyu yang terletak pada delta kawasan Pantai tanjung benoa sekitar 13 km dari bandara Ngurah Rai, Tuban. Daerah Deluang Sari merupakan sebuah delta kecil di kawasan Tanjung Benoa yang oleh penduduk setempat digunakan sebagai tempat penangkaran penyu dan pertunjukan berbagai macam satwa. Pada saat air pasang untuk menuju lokasi tersebut harus menggunakan boat atau perahu (jukung) selama sekitar 10 Menit perjalanan. Di sekitar lokasi tersebut merupakan kawasan hutan bakau (mangrove) yang dilindungi Negara.

C. Garuda Wisnu Kencana ( GWK )

Patung Garuda Wisnu Kencana berlokasi di bukit unggasan, Jimbaran Bali. Patung ini merupakan karya masterpiece Bali Yang bernama I Nyoman Nuarta, yang saat ini dikembangkan taman budaya menjadi land mark bagi pariwisata Bali dan Indonesia.

Wajah patung Dewa Wisnu dalam agama Hindu sebagai Dewa Pelindung yang mengendarai burung Garuda, diambil dari cerita “ADI PARWA” dalam Mahabarata, dimana rasa bakti dan pengorbanan burung Garuda untuk menyelamatkan ibunya dari perbudakan, akhirnya dilindungi oleh Dewa Wisnu.

Patung Garuda Wisnu Kencana memiliki ketinggian 140 m, untuk untuk mengikat tata ruang dengan jarak pandang dengan jarak sampai dengan 20 Km , sehingga dapat terlihat dari Kuta, Sanur, Nusa dua, hingga Tanah lot. Patung tersebut akan dilapisi emas seberat 40 Kg, Proses pembuatan patung Garuda Wisnu Kencana berada di daerah atau areal seluas 1.5 ha dan secara keseluruhan seluas 250 ha, yang terletak di bukit Memedi. Di GWK selain patung Dewa Wisnu juga terdapat mata air dan patung yang menyerupai kepala kura-kura.

D. Pantai Kuta

Pantai kuta berada di desa Kuta, Kecamatan Kuta Kabupaten Badung atau 2 Km sebelah utara Bandara Ngurah Rai, Tuban. Dahulu KUta dan pantai Kuta merupakan sebuah perkampungan nelayan yang keberadaanya sangat sepi dan sekitarnya banyak semak belukar Disamping itu pantai kuta juga dipergunakan sebagai pelabuhan niaga dan maritim untuk kerajaan-kerajaan Bali. Dan sekarang telah berubah menjadi kota kecil internasional lengkap dengan sarana dan prasarana penunjang pariwisata. Pantainya yang berpasir putih sepanjang kurang lebih 4 Km tersebut sangat digemari oleh wisatawan untuk berjemur, menikmati sunset  atau berselancar dan berenang.

E. Cening Ayu

Cening Ayu merupakan tempat belanja oleh-oleh makanan khas Bali. Makanan khas Bali yang ada di Cening Ayu seperti : Kue gambir yang berbentuk kotak segi empat yang terbuat dari ketan dan karang serta gula aren, dodol yang dibungkus dengan daun jagung, minuman khas Bali (arak Bali), brem dan kacang rahayu. Selain makanan khas Bali juga terdapat souvenir khas Bali yang dijual di Cening Ayu.

F. Pementasan Tari Barong

Tari Barong merupakan tarian yang menggabarkan pertarungan antara “kebajikan” melawan “kebatilan”. Dalam pementasan Tari Barong dimulai dengan gending pembukaan, kemudian dilanjutkan Tari Barong yang terdiri dari 5 babak :

  • Gending Pembukaan

Barong dan kera sedang berada di dalam hutan yang lebat, kemudian dating 3 orang bertopeng yang menggambarkan sedang membuat keributan dan merusak ketenangan hutan. Mereka bertemu dengan kera dan akhirnya berkelahi, dimana kera dapat memotong hidung salah seorang dari mereka.

  • Babak Pertama

Dua orang penari muncul dan mereka adalah pengikut-pengikut Dewi Kunthi yang sedang dalam perjalanan untuk menemui patihnya.

  • Babak Kedua

Pengikut-pengikut Dewi Kunthi tiba. Salah seorang pengikut Rangda berubah menjadi setan (semacam Rangdha) dan mamasukkan roh jahat kepada pengikut Dewi Kunthi yang menyebabkan mereka bias menjadi marah. Keduanya menemui patih dan bersama-sama menghadap Dewi Kunthi.

  • Babak Ketiga

Dewi Kunthi kemasukan roh jahat (semacam Rangdha) sehingga Dewi Kunthi bias menjadi marah dan berniat mengorbankan anaknya (Sahadewa) serta memerintahkan kepada patihnya untuk membuang Sahadewa ke hutan.

  • Babak Keempat

Turunlah Siwa dan memberikan keabadian kepada Sahadewa dan keabadian ini tidak diketahui Rangdha.

  • Babak Kelima

Karena sama saktinya maka pertarungan antara Barong melawan Rangdha ini tidak ada yang menang dan dengan demikian pertarungan dan perkelahian ini berlangsung terus abadi “kebajikan” melawan “kebatilan”.

G. Galuh

Galuh merupakan pusat pertenunan batik yang ada di Bali. Barang-barang yang dijual di Galuh sangat terjamin kualitasnya, baik yang berupa batik ataupun pakaian yang ada di galuh harganya cukup terjangkau terutama bagi para siswa diberikan diskon 50%. Lokasi galuh pun luas dan nyaman untuk berbelanja.

H. Desa Adat Panglipuran

Berada di Kabupaten Bangli, kata panglipuran berasal dari kata “pengeling pure” yang berarti eling = ingat dan pure = merupakan tempat leluhur. Dan kata dari kata “penglipur” yang berarti penghibur, karena setiap rumah dihiasi oleh atap bamboo.

Kehidupan sosial masyarakatya adalah hidup sebagai pedagang dan petani. Di desa Panglipuran tidak mengenal adanya poligami, bila salah satu warganya ada yang berpoligami maka akan mendapat hukuman yaitu akan dikucilkan atau tidak boleh bersatu dengan masyarakat dan ditempatkan di karang madu. Pemimpin di Desa Panglipuran disebut Jero Kebayan.

Bangunan rumah yang ada di Desa Panglipuran memiliki keunikan tersendiri yaitu di setiap rumah terdapat gapura yang memiliki ketinggian sama. Dengan tujuan agar orang yang masuk menunduk sebagai tanda hormat kepada tuan rumah. Diatas gapura terdapat bamboo runcing yang disebut Sanggah sebagai symbol dari nenek moyang. Bangunan rumahnya terdiri dari Pure dalem, Ruang Dangin, Bale Dawuh , dan Bale Delot.

I. Pasar Seni Sukawati

Pasar Sukawati berada di Desa Sukawati, Kecamatan Sukawati dan Kabupaten Gianyar. Pasar Sukawati merupakan pusat perbelanjaan pakaian dan souvenir khas Bali. Di Pasar Sukawati dibutuhkan keahlian untuk menawar harga barang yang dibeli, supaya mendapatkan harga murah.

J. Pantai Sanur

Pantai Sanur adalah sebuah tempat pelancongan pariwisata yang terkenal di pulau Bali. Tempat ini letaknya adalah persis di sebelah timur kota Denpasar, ibukota Bali. Sanur berada di kabupaten Badung.

Pantai Sanur terutama adalah lokasi untuk berselancar (surfing). Terutama ombak pantai Sanur sudah termasyhur di antara para wisatawan mancanegara. Tak jauh lepas Pantai Sanur terdapat juga lokasi wisata selam dan snorkeling. Oleh karena kondisinya yang ramah, lokasi selam ini dapat digunakan oleh para penyelam dari semua tingkatan keahlian.Pantai Sanur juga dikenal sebagai Sunrise beach (pantai matahari terbit) sebagai lawan dari Pantai Kuta.

K. Hutan Pala Sangeh

Sangeh berada di desa Sangeh, Kecamatan Abian, Kabupaten Badung. Ada dua pendapat mengenai asal mula Sangeh yaitu Sangureh yang berarti (sang = tua dan ureh = kera), Sang-Ngeh yang berarti (sang = seseorang dan ngeh = mengetahui). Daya tarik Sangeh yaitu berupa :

  1. Adanya patung Kumba Karna Kerumbut.
  2. Terdapat sekitar 700 kera yang cukup jinak, yang merupakan kera berekor panjang, dada berbulu putih, berwarna abu- abu dan berjambul.
  3. Terdapat cagar alam yaitu berupa hutan pala (hutan homogen).
  4. Adanya bangunan pura yaitu :
    1. Pura Bukui Sari : Yang didirikan abad ke 17 oleh Raja Mangwi Tjokorde Sakti Blambangan. Yang berfungsi sebagai tempat untuk memuja Batara Gunung Agung.
    2. Pura Melantung : Pura khusus yang terdapat di sebelah pasar di Sangeh, untuk para pedagang.
    3. Pura Tirta : Untuk meminta mata air suci yang berada di sebuah lubang di bawah pohon.
    4. Pura Lanang Wadon : Terdapat sebuah pohon yang menyerupai dua jenis alat kelamin.

L. Danau Beratan Bedugul

Danau Beratan merupakan danau kaldera dengan ketinggian 1231 m diatas permukaan laut, dengan luas 3,8 km serta kedalaman maksimal 22 m. Volume air danau ini 0,049 km3 dan merupakan danau tertutup. Danau ini terletak di Kabupaten Tabanan dan bisa dijangkau dari jalan DenpasarSingaraja dalam waktu tempuh lebih kurang satu setengah jam.

Wisatawan dapat mengakses Danau Beratan melalui dermaga yang telah disediakan atau berhenti di sekitar Pura Ulun Danu Beratan. Di sini, wisatawan dapat melakukan berbagai aktivitas rekreasi air juga dapat dilakukan di sini misalnya naik perahu bermotor keliling danau, parasailing, naik sampan (canoeing), banana boating, water skiing dan lain-lain. Danau Beratan merupakan tempat favorite bagi parawisatawan yang memiliki hoby memancing.

Wisatawan dapat istirahat di penginapan yang tersedia di sekitar danau sambil menikmati keindahan pemandangan di sekitar danau dengan Pura Ulun Danu-nya yang menawan.

Jika wisatawan mengunjungi Danau Beratan, mereka juga dapat mengunjungi obyek lainnya yang berdekatan seperti Kebun Raya Eka Karya di Bedugul yang merupakan tempat rekreasi yang menarik dengan udaranya yang sejuk dan pasar sayur dan buah di Candi Kuning yang dapat dijangkau hanya dalam beberapa menit saja. Berbagai jenis buah, sayur mayur serta rempah-rempah bisa dibeli di sini dengan pilihan yang cukup beragam.

Tidak jauh dari Pura Ulun Danu, wisatawan dapat melihat bangunan mesjid yang berdiri megah. Hal ini menunjukkan adanya toleransi keagamaan yang tinggi antara umat-umat yang berbeda agama.

PENUTUP

Sebagai akhir dari Reportase ini, untuk menyampaikan informasi hasil Stdy Tour maka perlu saya sampaikan beberapa hal:

A. KESIMPULAN

Ada beberapa masalah pokok yang perlu saya laporkan dalam bentuk kesimpulan “ Reportase Study Tour “ Yaitu sebagai berikut :

  1. Kondisi objek wisata .

Setelah saya melaksanakan Stdy Tour ke Pulau Bali saya dapat mengambil manfaat berupa bertambahnya pengetahuan saya mengenai Bali selai itu saya juga merasa sangat senag ketika menikmati objek – objek wisata di Pulau Bali.

 

B. SARAN

Kepada SMA 1 Suruh

  1. Mohon dengan hormat agar pelaksanaan Study Tour yang akan datang ditingkatkan dengan semaksimal mungkin.
  2. Meningkatkan keharmonisan hubungan antara Guru dengan Murid sehingga dapat membuahkan interaksi yang positif.
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.