//
archives

Sejarah Indonesia

This tag is associated with 5 posts

PROSES PERKEMBANGAN KOLONIALISME DAN IMPERIALISME NEGARA BARAT DAN PENGARUHNYA DI BERBAGAI DAERAH

Latar belakang datangnya negara Barat atau Eropa di dunia Timur

Pada pertengahan abad ke-15 perubahan politik, ekonomi, sosial terjadi di negara-negara Eropa dan Asia Barat. Hal ini mengakibatkan bangsa-bangsa Eropa keluar dari wilayahnya untuk mencari wilayah baru yang dirasa lebih menguntungkan.

Tujuan kedatangan orang-orang Eropa ke dunia Timur

  1. Menguasai perdagangan rempah-rempah langsung dari sumbernya.
  2. Menguasai wilayah strategis baik untuk perdagangan maupun basis militer.
  3. Menguasai sebanyak mungkin kekayaan sumber daya suatu wilayah.
  4. Turut campur dalam urusan politis suatu wilayah.

 

TERBENTUKNYA KOLONIALISME DAN IMPERIALISME BARAT DI BERBAGAI DAERAH

Kolonialisme

Adalah penguasaan suatu negara atas negara lain atau wilayah lain dengan maksud memperluas wilayah negara itu.

Imperialisme

Adalah sistem politik yang bertujuan menguasai negara lain untuk mendapatkan kekuasaan dan mencari keuntungan yang lebih besar.

Negara-negara Eropa yang mempunyai andalan dalam pembentukan dan mengembangkan kolonialisme dan imperialisme di Indonesia yaitu : Portugis, Belanda, Perancis dan Inggris.

1. Kolonilisme dan imperialisme Portugis di Indonesia

Portugis merupakan negara Eropa pertama yang datang di dunia Timur melalui jalan laut.  Hal ini dapat dilihat dari :

  1. Tahun 1486 Bartholomeus Dias berhasil mencapai Tanjung Harapan.
  2. Tahun 1498 Vasco da Gama menginjakkan kaki di Calicut.
  3. Tahun 1502 Alfonso d’Albuquerque menguasai pelabuhan Malaka. Merupakan langkah awal mengusai wilayah perdagangan dan pelayaran di Asia Tenggara.

Imperialisme Portugis adalah imperialisme kuno (ancient imperialisme) dengan semboyan 3G, yaitu Gold (emas), Gospel (agama), dan Glory (Kejayaan). Dalam proses perluasan kekuasaan, bangsa Portugis banyak mendapat perlawanan bangsa Indonesia. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal, antara lain :

  1. Pertugis menjalankan sistem monopoli.
  2. Portugis menyebarkan agama Katholik.
  3. Portugis ikut campur tangan urusan dalam negeri.
  4. Banyak pejabat Portugis yang melakukan korupsi.
  5. Persaingan dengan bangsa Barat sendiri

Portugis menguasai Malaka, perdagangan Indonesia beralih ke Aceh. Minat Portugis menguasai melalui Aceh, tapi mendapat perlawanan oleh rakyat Aceh. Kemudian Portugis pergi ke Maluku Utara, saat itu terjadi peperangan antara Ternate + Portugis melawan Tidore + Spanyol yang dimenangkan oleh Ternate yang dibantu oleh bangsa Portugis.

Datanglah Spanyol yang dipimpin oleh Ferdinand Magelans (1519 – 1521) ke Filipina. Kemudian tahun 1521 Spanyol menduduki Maluku Utara dan bergabung dengan Tidore untuk mengimbangi Ternate dan Portugis.

Karena Spanyol dan Tidore telah kalan atas Portugis dan Ternate, maka muncullah perjanjian “Dessilas” yang intinya (1534) ekspedisi Spanyol hanya diijinkan sampai Maluku Utara, sedangkan penjelajahan Indonesia hanya boleh dilakukan Portugis. Pada tahun 1515 Portugis berhasil diusir oleh rakyat Ternate di bawah pimpinan Sultan Baabullah.

2. Kolonialisme dan imperialisme Belanda di Indonesia mulai dari ekspedisi untuk kapal dagang Belanda

Ekspedisi I dipimpin oleh Cornelist Van de Houfmant (1596) gagal, sebab mendapat perlawanan dari rakyat pesisir utara. Ekspedisi II pimpinan Jacob Van Heck, 2 tahu kemudian (1598) Banten berhasil sebab kedatangan Belanda dengan ramah, sopan terhadap rakyat Banten. Pada saat bersamaan Banten melawan Portugis dimanfaatkan oleh Belanda untuk menjalin kerjasama di bidang perdagangan. Setelah Belanda berhasil mendapatkan keuntungan besar, mereka pulang ke negeri asal dengan membawa hasil.

VOC merupakan perhimpunan dagang swasta Belanda. Kongsi ini mempunyai kewajiban membantu pemerintah Belanda untuk mendapatkan dana. Sebaliknya pemerintah Indonesia perlu memberikan VOC hak-hak istimewa. Hak Actrroi (hak paten) yaitu :

-          Hak monopoli perdagangan

-          Hak memiliki angkatan perang berperang

Tujuan didirikannya VOC adalah :

  1. Menghilangkan persaingan yang akan merugikan para pedagang Belanda.
  2. Menyatukan tenaga untuk menghadapi saingan dari bangsa Portugis dan pedagang-pedagang lainnya di Indonesia.
  3. Mencari keuntungan sebesar-besarnya untuk membiayai perang melawan Spanyol.

Langkah pertama VOC untuk mencapai tujuanya adalah :

Merebut Maluku dari tangan Portugis

  • Tahun 1605 VOC berhasil merebut benteng Portugis di Ambon yang kemudian sampai rentang Victoria. Peristiwa ini menjadi tonggak penjajahan Belanda di Indonesia.
  • Tahun 1609 VOC mengangkat Pieter Both sebagai Gubernur Jendral I sampai mengikat perjanjian dengan penguasa di Maluku seperti : Hitu, Banda dan Haruku. Dan selalu mencantumkan hak monopoli perdagangan VOC dan pengakuan VOC terhadap kedaulatan pengusaha-pengusaha setempat.
  • VOC mengikat Jayakarta dengan usaha mendirikan pusat kekuasaan dan pemerintahan di wilayah itu. Di bawah pimpinan Jan Peter Zoon Coen. Jayakarta diserang dan dibakar kemudian pada tahun 1619 berubah menjadi kota baru Batavia.
  • Mulai saat itu VOC dapat menghargai segala gerak-gerik pelayaran di Selat Sunda dan Selat Malaka. VOC juga semakin konsolidasi dalam upaya menaklukkan seluruh wilayah Indonesia.

Kekuatan VOC di Mataram

-     Pada pemerintahan Sultan Agung (1613 – 1645)

Berkeinginan untuk menyatukan daerah-daerah di pulau Jawa tetapi dihalangi oleh VOC di Batavia. Tahun 1628 serangan I dipimpin oleh Tumenggung Bahurekso.

-     Tahun 1629 Mataram melakukan serangan II berhasil merebut benteng Holandia.

-     Sultan Agung wafat diganti oleh Sultan Amangkurat I (1645 – 1677)

Lemah dan kejam terhadap rakyat, lebih condong dan bersahabat dengan VOC. Mendapat perlawanan dari bupati Madura Trunojoyo, Amangkurat I terdesak kemudian putranya Adipati Anom meminta bantuan VOC. Perlawanan tidak seimbang, Trunojoyo berhasil ditangkap dan tewas di tangan Amangkurat II (1679) di Kediri.

-     Selama Mataram di bawah kekuasaan VOC, banyak perlawanan bermunculan termasuk dari Untung Suropati yang tidak tega melihat bangsanya diperlakukan sewenang-wenang.

-     Tahun 1703 Amangkurat II wafat diganti putranya Sunan Mas (Amangkurat III).

Tidak diakui kekuasannya oleh VOC karena VOC lebih suka Pangeran Puger yang kemudian berhasil merebut tahta Mataram dan diberi gelar Pakubuwono I. Tahun 1708 Sultan Mas ditangkap dan dibuang ke Srilangka.

-     Pada pemerintahan Pakubuwono II, campur tangan VOC semakin merugikan Mataram, muncul perlawanan dari kemenakan dan adik Pakubuwono II, yaitu Mas Said dan Pangeran Mangkubumi dengan taktik gerilya.

-     VOC behasil dikalahkan di tepi sungai Bogowonto. Komandan VOC Mayor De Clark terbunuh. Saat perang berlangsung tahun  1749. Pakubuwono II wafat dan diganti Pakubuwono III.

-     Perjanjian Giyanti adalah perjanjian antara Pangeran Mangkubumi dengan VOC pada tahun 1955. isi perjanjian tersebut antara lain :

1)      Mataram Timur diberikan pada Pakubuwono II dengan ibukota Surakarta.

2)      Mataram Barat diberikan pada pengaran Mangkubumi (Hamengku buwono I) dengan ibukota Yogyakarta.

3. Pemerintahan Hindia Belanda

Melalui konferensi London (1814) Inggris mengembalikan emua daerah kekuasaan Belanda yang pernah dikuasai Inggris. Sejak saat itu, Belanda kembali berkuasa di Indonesia. Kebijakan yang dilakukan pemerintah Hindia-Belanda dalam bidang ekonomi adalah menyelenggarakan “Sistem tanam paksa” tau Culture Stelsel (Awang Cultur) yang berlangsung selama 40 tahun (1830 – 1870).

Sistem tanam paksa ini diusulkan oleh Johanes Van den Bosh Gubernur Jendral Hindia-Belanda pada tahun 1830 – 1833. hakikat dari sistem tnam paksa atau cultur stelsel adalah bahwa penduduk sebagai ganti membayar pajak tanah sekaligus, harus menyediakan sejumlah hasil bumi yang nilainya sama dengan pajak tanah itu.

Sebab diadakan tanam paksa antara lain :

  1. Hutang yang ditanggung pemerintahan Hindia-Belanda dari VOC sebanyak 136,1 jiwa (Gulden) merupakan beban berat.
  2. Pemasukan uang kas ke negara lain dengan jalan penanaman kopi, landrete ataupun dengan cara lain yang tidak banyak memberi hasil.
  3. Perang jiwa (1825 – 1830) banyak memakan biaya.

Tujuan tanam paksa adalah untuk memasukkan uang ke kas negara sebagai hutang dan dapat dibayar dan keperluan pemerintah Belanda termasuk biaya perang dapat dicukupi.

Cara yang ditempuh ialah memaksa penduduk menanami sebagian tanahnya  dengan tanaman yang laku di pasaran Eropa, seperti : kopi, gula, kaps, gandum, cengkih, nila, teh, tembakau, kayu manis dan sebagainya. Biaya hasil bumi yang dipaksa untuk ditanam adalah berupa hasil bumi yang biasanya diekspor ke pasaran Eropa, dan dari ekspor tersebut pemerintah mengharapkan keuntungan yang besar.

Tanam paksa dilaksanakan terutama di Jawa karena daerahnya sudah terbuka, tenaga kerja cukup dan struktur pemerintah feodal memudahkan pelaksanaan. Di Sumatera Barat dan Sulawesi Utara juga dilakukan tanam paksa tetapi tidak seberat di Jawa.

Ciri-ciri pemerintahan feodal di Jawa antara lain :

  1. Raja adalah dewa pemilik tanah atau dunia.
  2. Petani hanya sebagai penggarap tanah.
  3. Hubungan antara raja dan bangsawan dengan rakyat dalam bentuk patron dan client.
  4. Ikatan raja dengan petani berdasarkan kepercayaan suci.
  5. Kebudayaan kesatria (wayang) yang dipengaruhi Hindu dan Islam mirip unsur pokok kebudayaan Jawa.

Pelaksanaan tanam paksa menimbulkan banyak reaksi, antara lain sebagai berikut :

  1. Tindakan menentang tanam paksa oleh golongan penguasa swasta Belanda yang menghendaki kebebasan berusaha di Indonesia.
  2. Tindakan menentang tanam paksa oleh perseorangan yang memiliki jiwa kemanusiaan, seperti :
  • Barron Van Hoevel seorang pendeta yang pernah tingal di Indonesia.
  • Edward Dovwes Dekker (1820 – 1887) pejabat Belanda yang pernah menjadi asisten residen Lebak (Banten) dengan memasuki nama samaran “Multatuli” yang berarti aku telah banyak menderita.

BELA NEGARA PANGERAN DIPONEGORO

Tema   :  Upaya Bela Negara

When   :  Merebut kemerdekaan sebelum 1600 – 1945

Judul   :  Pahlawan Kemerdekaan

Sejak akhir abad ke-17 sampai menjelang pahlawan Diponegoro, kerajaan Mataram mengalami kemerosotan. Daerah pantai di utara Jawa diambil alih oleh Belanda. Pada akhir abad ke-19, masyarakat Jawa Tengah khususnya di wilayah kerajaan Mataram merasa gelisah dan kecewa. Kebencian dan kekecewaan timbul di seluruh lapisan masyarakat.

Who    :  Pangeran Diponegoro

Dalam perjuangannya, Pangeran Diponegoro dalam menghadapi Belanda, beliau dibantu oleh Kyai Maja dan Sentot Alibasya Prawirodirjo. Taktik atau siasat perang Diponegoro membuat Belanda dan prajuritnya kalang kabut menghadapi siasat itu. Untuk memadamkan perlawanan terhadap siasat Diponegoro, Belanda mencoba mengangkat Sultan Sepuh menjadi sultan kembali di Jawa Tengah. Setelah itu Sultan Sepuh diasingkan Belanda di Raffles di Pulau Pinang. Setelah mendengar berita itu, rakyat Jawa Tengah mulai khawatir dan langsung memberitahukan berita itu kepada Pangeran Diponegoro supaya cepat menindaklanjuti agar tidak terlalu lama.

Where :  Mengadakan perundingan di Magelang

Pangeran Diponegoro akhirnya bersedia mengadakan perundingan dengan pihak Belanda. Perundingan diadakan di Magelang dan dijanjikan bahwa Belanda akan berlaku jujur. Dalam pengertian apabila perundingan gagal, maka Pangeran Diponegoro diperbolehkan kembali ke tempat pertahanannya. Dengan dasar kepercayaan dan keyakinan Pangeran Diponegoro berangkat tanggal 21 Februari 1830. Pangeran Diponegoro beserta pasukan-pasukannya tanggal 8 Maret 1830 tiba di Magelang.

What   :  Perjuangan mengusir penjajah

Perlawanan Pangeran Diponegoro ternyata mempunyai pengaruh yang sangat besar dan meluas. Bagi pasukan Belanda perlawanan Pangeran Diponegoro sangat cukup berat dan membawa korban cukup banyak atau tidak sedikit. Dalam usaha melawan Pangeran Diponegoro, Belanda telah banyak kehilangan pasukan sekitar 8.000 orang Eropa dan 7.000 orang serdadu pribumi serta biaya yang dibutuhkan sangat banyak yang harus dikeluarkan kurang lebih 20 juta Gulden. Banyak uang uang dikeluarkan Belanda untuk membiayai pasukan dan makanannya setiap hari, tapi usaha Belanda tidak sia-sia karena Pangeran Diponegoro dapat diasingkan dan ditangkap, kemudian diasingkan ke Manado.

How    :  Kiprah Pangeran Diponegoro dalam mengusir penjajah

Dalam perjuangannya, Pangeran Diponegoro dibantu oleh Kyai Maja dan Sentot Alibasya Prawirodirjo. Dengan itu mereka ingin mengusir penjajah secepatnya tetapi atas perintah De Kock, pada tahun 1927 tentara Belanda mendirikan benteng di seluruh Jawa Tengah. Siasat itu sering disebut dengan Benteng Stelse karena setiap daerah yang telah dikuasai Belanda didirikan benteng dan setiap benteng tersebut di tempatkan pasukan patroli dengan gerakan yang sangat cepat.

Dalam jangka lama, siasat benteng itu terlihat keberhasilannya. Pasukan Pangeran Diponegoro yang tidak mendapatkan kesempatan untuk bergerak dengan bebas karena mengalami kesulitan untuk mengadakan hubungan satu sama lain. Dari keadaan tersebut, Belanda mulai menjalankan politik devide et impera.

Kekuatan pasukan Pangeran Diponegoro semakin lemah karena terputusnya hubungan dengan teman-temannya. Akhirnya, Kyai Maja tertangkap oleh Belanda dan kemudian diasingkan ke Manado dan wafat pada tahun 1848 di tempat pengasingannya yang terakhir, yaitu di Tosea. Sentot Prawirodirjo pun ditangkap oleh Belanda bersama-sama dengan Bupati Imogiri, tetapi Pangeran Diponegoro tidak menyerah lalu beliau mengadakan perang Diponegoro.

Why    :  Mengapa pada saat itu dijajah ?

Pada masa itu dijajah karena Belanda menginginkan wilayah dan ingin mengambil alih pemerintahan Mataram. Selain itu Belanda juga ingin memasukkan peradapan Barat yang menentang ajaran agama Islam di wilayah Jawa Tengah dan wilayah sekitar kerajaan Mataram. Selain itu rakyat juga dibebani dengan bermacam-macam pajak maka dengan itulah Pangeran Diponegoro ingin mengusir Belanda dari Jawa Tengah dan untuk mencapai kemerdekaan.

Tujuan   :  Pahlawan Kemerdekaan

Pangeran Diponegoro dan pengikutnya bertujuan untuk mengusir Belanda dan memerdekakan tanah air, dan mereka juga tidak ingin kalau kerajaan Mataram diambil alih oleh Belanda untuk memasukkan budaya Barat kepada masyarakat Jawa Tengah.

Sejarah Nusantara (1800-1942)

Abad ke-19

1800-1820 (Daendels, Perang Inggris-Belanda, Raffles)

  • 1800
    • VOC resmi dibubarkan pada 1 Januari; hak miliknya dialihkan kepada pemerintah Belanda.
    • Belanda kalah perang dan dikuasai Perancis. Wilayah-wilayah yang dimiliki Belanda menjadi milik Perancis.
    • Sultan dari Kraton Kanoman di Cirebon dibuang ke Ambon oleh pemerintah Belanda.
    • Sebuah pemberontakan kecil-kecilan pecah di bawah pimpinan Bagus Rangin.
  • 1802
  • 1803
    • Pemerintah Belanda (Republik Batavia) mengeluarkan keputusan kolonial yang menjadikan pemerintah Hindia Belanda bertanggung jawab kepada pemerintah Belanda (berbeda dengan VOC).
    • Tiga orang haji dari Minangkabau kembali setelah perjalanan naik haji ke Mekkah, dan bertemu dengan penganjur-penganjur gerakan Wahabi yang mulai menguat di Arabia dan menguasai Mekkah. Ketiga peziarah ini disebut “Padri” sesuai dengan pelabuhan Pedir (atau Pidie) di Aceh, tempat keberangkatan orang-orang yang naik haji. Gerakan Padri mulai berkembang di daerah Minangkabau, mengembangkan ajaran Islam yang lebih ortodoks yang melawan praktik-praktik tradisional setempat.
    • Britania menyerahkan Ambon kepada Belanda.
    • Mahmud Badaruddin II menjadi Sultan Palembang-Darussalam menggantikan ayahnya Sultan Muhamad Bahauddin.
  • 1806
    • Angkatan Laut Britania bertempur dengan tentara-tentara Prancis dan Belanda di lepas pantai Jawa.
    • Britania merebut Bangka.
    • Departemen Urusan Koloni didirikan di Belanda.
    • “Republik Batavia” di Belanda, di bawah kekuasaan Prancis, diubah menjadi “Kerajaan Belanda”, dengan Louis, saudara laki-laki Napoleon, sebagai rajanya.
  • 1807
    • Tondano memimpin pemberontakan melawan Britania di Minahasa.
    • Britania kembali menguasai Malaka.
    • Pemerintahan Belanda yang dikuasai Perancis menunjuk Daendels sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda.
  • 1808
    • 1 Januari Daendels tiba. Ia memindahkan tempat kediaman resminya ke Buitenzorg (kini dinamai Bogor). Daendels memerintah dengan menjalankan prinsip-prinsip pembaharuan dengan metode-metode kediktatoran ke Jawa. Daendels berusaha memberantas ketidakefisienan, korupsi, penyelewengan-penyelewengan dalam administrasi Eropa. Akibat rasa tidak suka dari naluri-naluri anti feodal, Daendels menganggap penguasa Jawa sebagai pegawai administrasi Eropa. Sehingga dimulailah suatu masa konflik yang sangat panjang.
    • Daendels secara resmi menguasai Lampung untuk Belanda.
    • Pakubuwono IV mengadakan hubungan damai dengan Daendels; Hamengkubuwono II menentangnya.
    • Mangkunegara II membentuk “Legiun Mangkunegaran” dengan pendanaan Belanda.
    • Daendels membebaskan Sultan Cirebon yang dibuang sebelumnya, namun pemberontakan di daerah pedesaan sekitar Cirebon berlanjut.
    • 18 Agustus Daendels menata kembali wilayah-wilayah di bawah kekuasaan Belanda di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Para bupati dan penguasa setempat dijadikan pegawai pemerintah Belanda.
    • Daendels memerintahkan serangkaian pekerjaan umum di sekitar Banten, termasuk pembangunan jalan-jalan raya dan sebuah pelabuhan baru, yang dilaksanakan oleh pekerja-pekerja setempat. Para pekerja itu memberontak karena beban pekerjaannya; Residen Belanda di Banten dibunuh. Daendels mengirimkan suatu pasukan militer untuk memadamkan pemberontakan dan menggantikan Sultan, yang dibuang ke Ambon.
    • Britania memutuskan untuk melepaskan Malaka; Stamford Raffles, yang saat itu seorang pegawai kecil, menulis surat yang penting kepada India yang isinya mendesak agar keputusan itu diubah. Keputusan diubah, dan Britania tetap tinggal di Malaka.
    • Sulaiman Saidullah menjadi Sultan Banjar.
  • 1809
    • Daendels membangun jalan pegunungan dari Batavia ke Cirebon (Jalan Raya Pos/Groote Postweg), memerintahkan pemindahkan kota Bandung ke jalan tersebut (tempatnya sekarang). Pangeran Kornel, pemerintah setempat di Sumedang, menolak bekerja sama karena perlakuan yang buruk terhadap rakyat setempat.
    • Daendels melepaskan kekuasaan Belanda di Banjarmasin demi mengonsolidasikan kekuasaannya di Jawa.
  • 1810
    • Daendels melepaskan kekuasaan Belanda di Banjarmasin.
    • Bulan Mei, Britania menyerang dan merebut kembali Ambon, Ternate and Tidore.
    • Raden Rangga, ipar Sultan, memulai pemberontakan yang gagal melawan Belanda di Yogyakarta; Daendels bersama ribuan tentara berangkat ke Yogyakarta, memaksa Hamengkubuwono II mengundurkan diri dan menyerahkan kekuasaannya kepada Hamengkubuwono III.
    • Napoleon menganeksasi Belanda untuk Perancis. Daendels mengibarkan bendera Perancis di Batavia.
    • Raffles mengunjungi Lord Minto, Gubernur Jenderal Britania di India, di Kolkata (Kalkuta), mendesaknya agar mengusir Perancis dan Belanda dari Jawa. Minto setuju.
  • 1811
    • Januari, Daendels memaksakan perjanjian-perjanjian baru terhadap Yogyakarta dan Surakarta, isinya mencakup penghentian pembayaran uang sewa Belanda kepada kedua Sultan untuk wilayah-wilayah pantai utara.
    • Hamengkubuwono III menyerahkan Pangeran Natakusuma kepada Belanda, karena dicurigai terlibat dalam pemberontakan 1810.
    • Mei, Daendels digantikan oleh Jan Willem Janssens. (Tak lama kemudian Daendels bekerja di bawah Napoleon dalam peperangannya yang gagal di Moskwa.)
    • 3 Agustus pasukan-pasukan Britania dengan puluhan kapal berlabuh di Jawa.
    • Para pangeran setempat di Banten, yang masih dilanda pemberontakan karena beban pekerjaan-pekerjaan umum yang diperintahkan Daendels, menangkap dan memenjarakan Sultan Banten dan bekerja sama dengan Britania.
    • 26 Agustus Perang Jawa Britania-Belanda dimulai. Britania di bawah Lord Minto merebut Batavia. Belanda, yang menderita kekalahan yang hebat, mengundurkan diri ke Semarang. Jansen mundur ke daerah Semarang.
    • 18 September Pemerintahan Belanda dibawah Jansen menyerah kepada Britania di Salatiga.
    • Thomas Stamford Raffles sebagai wakil kerajaan Britania, diangkat sebagai Letnan Gubernur Jenderal Jawa. Dia berusaha menunjukkan perhatiannya terhadap kesejahteraan penduduk asli sebagai tanggung jawab pemerintah. Selain itu tindakan kebijaksanaan Raffles yang terkenal di Indonesia adalah memasukkan sistem landrente (pajak tanah) yang selanjutnya meletakkan dasar begi perkembangan perekonomian, Raffles juga mengenalkan sistem uang dan penekanan desa sebagai pusat administrasi.
    • Bagus Rangin ditangkap oleh Britania; pemberontakan di sekitar Cirebon mereda.
    • Penduduk Belanda di Palembang dan sekitarnya dibunuh, diduga karena perintah Sultan Mahmud Badaruddin II; Britania memerintahkan Badruddin digulingkan dan digantikan oleh saudara lelakinya, Husin Diauddin.
    • Hamengkubuwono II merebut kembali gelarnya di Yogyakarta.
    • Desember Raffles mengunjungi Kraton Yogyakarta sehingga membangkitkan sikap bermusuhan.
    • Pakubuwono IV mengirimkan surat-surat rahasia ke Yogyakarta yang menawarkan bantuan kepada Britania, namun juga mengharapkan Yogyakarta akan dapat memperluas daerahnya; Britania mulai melakukan perundingan rahasia dengan Hamengkubuwono III; Natakusuma menawarkan bantuan kepada Britania.
  • 1812
    • 12 Januari Raffles mengeluarkan pengumuman untuk menata ulang dan memodernisasikan sistem pengadilan.
    • Juni, Britania dibantu prajurit Legiun Mangkunegara menembaki Yogyakarta dengan meriam, merebut, dan merampok kota itu. Pakubuwono IV dari Surakarta tidak banyak membantu. Hamengkubuwono II disingkirkan oleh Britania, dibuang ke Padang, dan digantikan kembali oleh Hamengkubuwono III.
    • Natakusuma menjadi Pangeran Pakualam I, mendirikan Dinasti Pakualam.
    • Oktober Britania menandatangani perjanjian dengan Sultan Banjar.
    • Britania merebut Timor.
    • Britania menguasai Palembang, Britania mengangkat pangeran Adipati menjadi sultan dengan gelar Ahmad Najamuddin II atau Husin Diauddin
    • Britania menguasai Belitung sebagai ganti rugi untuk “pembantaian” di Palembang pada tahun sebelumnya.
  • 1813
    • Britania berdamai dengan Palembang, Mahmud Badaruddin II naik tahta kembali menjadi Sultan Palembang
    • Raffles menghapuskan Kesultanan Banten; Sultan akan diberikan uang pensiun oleh pemerintah Britania.
    • November, Pemberontakan di Belanda melawan Napoleon.
  • 1814
    • Juni Lord Minto, Gubernur Britania di India dan pelindung serta promotor Raffles meninggal dunia. Raffles dituduh korupsi, namun kemudian terbukti tidak bersalah.
    • 21 Juni Perjanjian antara bangsa-bangsa yang berperang melawan Napoleon untuk mendirikan sebuah “Kerajaan Belanda” yang baru.
    • 13 Agustus Britania setuju bahwa semua harta dan kekuasaannya di Hindia Belanda dikembalikan kepada Belanda.
    • Perang Britania dengan orang-orang Bali di Buleleng dan Karangasem karena perdagangan budak.
    • Bone menyerang kekuasaan Britania.
    • Orang-orang Britania ditempatkan di Banjarmasin dan Pontianak.
    • Hamengkubuwono IV berkuasa di Yogyakarta. Diponegoro (kakak laki-lakinya yang menolak naik takhta) ditunjuk sebagai wali dari Sultan yang baru berusia 13 tahun.
    • Ekspedisi Britania melaporkan penemuan Borobudur dan Prambanan ke Eropa untuk pertama kalinya.
  • 1815
    • Sebagian besar dari para bangsawan Minangkabau dibunuh oleh para pendukung Padri; kaum Padri mulai memperluas penyebaran Islam ke daerah-daerah Batak.
    • April-Juli, Gunung Tambora di Sumbawa meletus: 12.000 orang meninggal karena letusan itu sendiri, belakangan 50.000 meninggal karena kelaparan yang disebabkan letusan itu. Gunung Tambora menyemburkan debu vulkanik sejauh beribu-ribu kilometer sehingga iklim dunia berubah drastis.
    • Mei, Raffles mengunjungi Borobudur.
    • Raffles memerintah langsung atas Cirebon, menyingkirkan kekuasaan dari para Sultannya.
    • Pemerintah Belanda membentuk aturan-aturan tentang pemerintahan Hindia Belanda. (Aturan-aturan ini kelak menjadi semacam konstitusi untuk Hindia Belanda, dalam suatu bentuknya atau yang lainnya, hingga 1942.)
    • Pada Kongres Wina, diputuskan bahwa Britania harus mengembalikan Jawa dan kekuasaan Hindia-Belanda lainnya kepada Belanda sebagai bagian dari persetujuan yang mengakhiri Perang Napoleon.
  • 1816
    • Bone kembali menyerang Britania.
    • 19 Agustus, Belanda kembali berkuasa di Batavia. Cornelis Elout melanjutkan kebijakan-kebijakan pembaruan Raffles. Penyerahan kekuasan dari Inggris (letnan Gubernur John Fendall) kepada Belanda (Komisaris Jenderal yang terdiri dari Tiga orang, yakni Elout, Buijskes, Van der Capellen). Jawa dan pos-pos lainnya di Indonesia dikembalikan kepada pihak Belanda sebagai bagian dari penyusunan kembali secara menyeluruh urusan-urusan Eropa setelah perang-perang Napoleon. Thomas Stamford Raffles meninggalkan Jawa kembali ke Inggris.
    • Belanda gagal dalam usahanya membujuk raja-raja Bali menerima kekuasaan Belanda.

Wilayah Hindia Belanda
  • 1817
    • Wilayah Madura disatukan menjadi satu kabupaten/keresidenan.
    • Pattimura memimpin pemberontakan melawan Belanda yang kini kembali di Ambon; digantung pada Desember.
    • 8 Mei, Kebun Raya didirikan di Bogor.
    • Gunung Ijen meletus di Jawa Timur.
  • 1818
    • Maret, Sir Thomas Stanford Raffles dikirim untuk memimpin benteng Britania di Bengkulu. Dari sana ia berusaha mendirikan kekuasaan Britania di Hindia.
    • Raffles mengirim sebuah pasukan kecil ke Lampung untuk membangun kekuasaan Britania di sana; para pegawai Perusahaan Hindia Timur Britania di Kolkata memanggilnya kembali.
    • Raffles mengirim pasukan-pasukan ke Palembang untuk mencampuri perundingan-perundingan antara Sultan dan Belanda. Mereka ditangkap dan dikirim ke Batavia. Para pejabat Britania sekali lagi memerintahkan Raffles untuk mengundurkan diri.
    • Di bawah Cornelis Elout, Belanda mengakhiri perdagangan budak di Jawa.
    • Belanda kembali ke Melaka.
    • Belanda kembali ke Pontianak.
  • 1819
    • 19 Januari, Raffles mendirikan Singapura, setelah membeli pulau itu dari Sultan Johore.
    • Belanda kembali ke Padang. Raffles berusaha membangkitkan aksi-aksi anti-Belanda di pedesaan Minangkabau.
    • Perang Menteng meletus di Palembang.
    • Pangeran Ratu menjadi Sultan Palembang dengan gelar Ahmad Najamuddin III menggantikan ayahnya Sultan Mahmud Badaruddin II.
  • 1820
    • Pakubuwono V menjadi Susuhunan Solo.
    • Belanda mengirim ekspedisi ke Kepulauan Aru.
    • Komisi payung dibentuk untuk mengawasi gereja-gereja Protestan di Hindia Belanda.

1821-1840 (Perang Padri, Perang Diponegoro, Tanam paksa)

  • 1821
    • Para bangsawan Minangkabau yang tersisa menandatangani perjanjian yang menyerahkan Minangkabau kepada Belanda sebagai pembayaran untuk perlindungan terhadap kaum Paderi.
    • Perang Padri” meletus, hingga 1837.
    • Kolera muncul pertama kali di Jawa; panen padi gagal.
    • Britania menguasai Palembang. Sultan Mahmud Badaruddin II dan keluarganya ditangkap dan diasingkan ke Ternate.
    • Prabu Anom menjadi Sultan Palembang dengan gelar Ahmad Najamuddin IV.
  • 1822
    • Hamengkubuwono IV meninggal, sementara menyebar desas-desus bahwa ia telah diracuni. Hamengkubuwono V adalah Sultan yang baru. Diponegoro kecewa karena penanganan situasinya oleh para pejabat Belanda.
    • Gunung Merapi meletus dekat Yogyakarta.
  • 1823
    • Pasukan-pasukan Belanda dikalahkan oleh kaum Padri di Lintau.
    • Gubernur Jenderal van der Capellen menghapuskan penyewaan tanah di Jawa Tengah. Dia memerintahkan sewa-menyewa tanah dihapuskan dan mengembalikan uang muka yang telah dibayarkan penyewa Tionghoa dan Eropa kepada pemilik tanah untuk dikembalikan. Hal ini menjadikan bengsawan kehilangan sumber pendapatannya sementara uang muka yang telah diterima sudah habis digunakan.
    • Pakubuwono VI naik takhta di Solo.
    • Kramo Jayo menjadi Sultan Palembang.
    • Raffles, dalam kondisi kesehatan yang buruk, kembali ke Inggris.
  • 1824
    • 17 Maret, Britania dan Belanda menandatangani Perjanjian London dan membagi Hindia Belanda di antara mereka sendiri. Belanda mengklaim Sumatra, Jawa, Maluku, Irian Jaya, dan lain-lain. Britania mengklaim Malaya dan Singapura, dan mempertahankan kepentingannya di Borneo Utara. Aceh diharapkan akan tetap independen.
    • Bone merebut wilayah-wilayah Belanda di Sulawesi selatan.
    • Hindia Belanda menghadapi krisis keuangan – Gubernur Jenderal van der Capellen menawarkan koloni ini kepada sebuah perusahaan swasta Britania, Palmer and Co., sebagai ganti pinjaman untuk menebus pemerintahan kolonial. (Pemerintah Belanda yang merasa dipermalukan oleh kejadian-kejadian ini, memberikan pinjaman besar kepada Hindia Belanda pada 1826 dan 1828.)
    • Belanda membentuk pemerintahan langsung di Riau.
  • 1825
    • 29 Maret, Nederlandsche Handel Maatschappij (Perusahaan Dagang Belanda) dibentuk. Komoditi-komoditi ekspor seperti kopi, gula, nila yang dihasilkan masyarakat dikapalkan ke Eropa oleh perusahaan ini.
    • Belanda mengalahkan Bone sebelum Perang Diponegoro; pertempuran sporadik berlanjut selama bertahun-tahun.
    • para pejuang Padri merebut daerah Tapanuli selatan. Raja Sisingamangaraja X dari Batak terbunuh dalam peperangan melawan kaum Padri.
    • Belanda menuntut para calon haji yang ingin naik haji untuk memperoleh paspor dan membajar pajak seharga 110 gulden.
    • Mei, Diponegoro dan para penguasa istana bentrok karena pertikaian menyangkut jalan yang baru yang akan dibangun di dekat Tegalreja yang melewati makam dan tanah leluhur.
    • Juli, Belanda mengirim pasukan-pasukannya untuk menangkap Diponegoro, yang mengumumkan pemberontakan. Tegalreja direbut dan dibakar, Diponegoro berhasil melarikan diri. Inilah awal dari “Perang Diponegoro“, yang berlangsung hingga 1830. Perjuangan Diponegoro dibantu Kyai Maja yang juga menjadi pemimpin spiritual pemberontakan.
    • Adam al-Wasi’ Billah menjadi Sultan Banjar.
    • Garis suksesi di Palembang berakhir. Belanda membentuk pemerintahan langsung.
    • Belanda mengeluarkan perintah untuk menangkap Raden Intan di Lampung. Raden Intan meninggal dan digantikan oleh Raden Imba Kusuma.
  • 1826
    • Perang gerilya merebak di seluruh Jawa Tengah dan Timur.
    • Belanda mulai mengorganisasi pasukan-pasukan khusus untuk berperang di Hindia Belanda.
    • Van der Capellen digantikan oleh Du Bus sebagai Gubernur Jenderal.
    • Agustus Belanda membebaskan Hamengkubuwono II dari pembuangan di Ambon, dan mengangkatnya kembali sebagai Sultan Yogyakarta.
    • Oktober, Diponegoro dikalahkan di Gowok, dekat Surakarta. Pasukan-pasukannya dipukul balik.
  • 1827
    • Belanda menata ulang pasukan-pasukannya dalam Perang Diponegoro, mengganti dengan taktik-taktik yang lebih fleksibel, mengadakan serangan-serangan terhadap para pasukan gerilya.
  • 1828
    • April, orang-orang Jawa berhasil menghadapi Belanda.
    • Madura menjadi satu keresidenan dengan Surabaya.
    • Wabah cacar di Bali.
    • Fort Du Bus didirikan Belanda di Papua.
    • November Kyai Maja, penasihat rohani Diponegoro, ditangkap Belanda setelah pertempuran berlangsung.
  • 1829
    • September Pangeran Mangkubumi (paman dari Diponegoro) menyerah. Ia diizinkan kembali ke istananya.
    • Oktober, Panglima Sentot Alibasyah menyerah. Belanda mengangkatnya menjadi Letnan kolonel.

Mataram setelah Perang Diponegoro pada tahun 1830.
    • Maret, Diponegoro setuju mengadakan perundingan Magelang, ditangkap dan dibuang ke Manado, lalu ke Makassar (hingga meninggal tahun 1855).
    • Pakubuwono VI, dicurigai oleh Belanda, dibuang ke Ambon (hingga 1849). Pakubuwono VII menjadi Susuhunan Solo.
    • Johannes van den Bosch tiba sebagai Gubernur Jenderal yang baru, mulai menerapkan cultuur stelsel atau “tanam paksa“. Setiap desa harus menyisihkan sebagian tanahnya untuk ditanami komoditi ekspor khususnya kopi, tebu, nila. Hasil tanaman ini akan dijual kepada pemerintah kolonial dengan harga yang sudah dipastikan (20%) dan hasil panen diserahkan kepada pemerintah kolonial.
    • Tanam paksa tumbuhan indigo (nila) diperkenalkan di Priangan.
    • Kapal uap pertama tiba di Hindia Belanda.
    • Nederlands Zendelinggenootschap (NZG – Perhimpunan Zending Belanda) mulai menawarkan pendidikan kepada anak-anak pribumi.
    • 4 Desember Van den Bosch secara resmi mengorganisasi pasukan Belanda dari Perang Jawa menjadi Oost-Indische Leger, atau “Tentara Hindia Timur” (belakangan dikenal sebagai KNIL).
  • 1831
    • Pemerintah Hindia Belanda berhasil membuat anggaran berimbang.
    • Pasukan-pasukan Belanda memerangi kaum Padri di Sumatra dan mencapai wilayah Bonjol.
  • 1832
    • Belanda menggulingkan Sultan Jailolo dan menguasai Halmahera.
    • Kapal-kapal AS menembaki desa-desa pantai di Aceh dalam upaya mengatasi perompakan.
  • 1833
    • Januari, desa-desa Minangkabau di sekitar Bonjol bangkit dalam pemberontakan rakyat; pasukan-pasukan Belanda di daerah itu dibantai. Perang Padri memanas; Belanda menyegel daerah pantai. Sentot berperang di pihak Belanda, namun kemungkinan di dalam hatinya ia tidak memihak Belanda. Belanda menempatkan Sentot di bawah pengawasan di Bengkulu (hingga 1855).
    • Sultan Jambi meminta bantuan Belanda untuk melawan Palembang.
  • 1834
    • Belanda memaksa Sultan Muhammad Fahruddin dari Jambi mengakui kekuasaan Belanda.
    • Pemerintah Portugis mengusir para pastor Dominikan dari Timor Timur.
  • 1836
    • Belanda mengabaikan Fort Du Bus di Papua.
  • 1837
    • Bonjol di Minangkabau akhirnya jatuh ke tangan Belanda dalam Perang Padri. Tuanku Imam Bonjol menyerah dan dikirim ke pembuangan.
  • 1838
    • Kemenangan Belanda di Daludalu mengakhiri Perang Padri di Minangkabau. Pemerintahan langsung Belanda atas Minangkabau diterapkan (hukum adat dan para bangsawan tampaknya pro-Belanda, para pemimpin Islam anti-Belanda).
    • Ekspedisi Belanda melawan Flores.
    • Bone memperbarui Perjanjian Bungaya; peperangan melawan Belanda mereda.
    • Belanda meresmikan kehadirannya di Nias.
    • Sulaiman mewarisi takhta Aceh, tetapi Tuanku Ibrahim memerintah sebagai wali, dan berkuasa di Aceh hingga 1870.
    • Kerajaan Mataram di Lombok menguasai seluruh pulau, ditambah Karangasem di Bali.
  • 1839
    • Pedagang Denmark, Mads Lange, membuka sebuah pos perdagangan di Kuta, Bali.
  • 1840
    • Cultuur Stelsel sudah menghadapi berbagai masalah. Tanda-tanda penderitaan dikalangan orang pribumi Jawa dan Sunda mulai tampak. Khususnya didaerah penanaman tebu. Pabrik-pabrik gula bersaing dengan pertanian padi untuk jatah air. Tibul paceklik dan harga beras menjadi sangat mahal.

1841-1860 (Perang Bali, Max Havelaar)

  • 1842
    • Belanda menarik diri dari pantai timur Sumatra di sebelah utara Palembang karena kekuatiran Britania.
    • Bangsawan di Surakarta ditangkap karena dicurigai menghasut pemberontakan.
  • 1843
    • Raja Lombok menerima kekuasaan Belanda.
    • Kelaparan di Cirebon.
  • 1844
    • Raja-raja Buleleng dan Karangasem tidak puas dengan Belanda, dan menolak untuk mengesahkan perjanjian.
  • 1846
    • Juni, pasukan-pasukan Hindia Belanda menyerang Buleleng; raja-raja lain diam-diam mendukung kekuatan-kekuatan anti-Belanda. Istana di Singaraja dihancurkan. Raja Buleleng menandatangani perjanjian penyerahan. Hindia Belanda menempatkan sebuah pos pasukan di Singaraja.
    • Ekspedisi Hindia Belanda melawan Flores.
    • Wabah tipus merebak di Jawa.
    • Hindia Belanda menguasai Samarinda.
    • Tambang batu bara komersial pertama dibuka di Martapura, Kalimantan Selatan.
    • Pemberontakan di Banten.
  • 1847
    • Ekspedisi militer Belanda ke Nias.
  • 1848
    • Juni, Hindia Belanda mengirim pasukan militer ke Bali untuk menghadapi konflik yang timbul karena pemaksaan perjanjian dengan raja-raja setempat. Pasukan ini dikalahkan oleh suatu pasukan Bali di bawah pimpinan Gusti Ketut Jilantik di Jagaraga, dan menarik diri dari pulau itu.
    • Konstitusi baru di Belanda: Dewan Negara (parlemen) Belanda mempunyai kuasa atas urusan-urusan kolonial. Sebagian anggota parlemen menuntut diadakannya perubahan di tanah jajahan dan mendesak diadakannya pembaharuan liberal. Pengurangan peranan pemerintah dalam perekonomian kolonial, pembebasan terhadap pembatasan perusahaan swasta, dan diakhirinya tanam paksa.
    • Undang-undang, sipil dan kriminal yang diperbarui untuk Hindia Belanda diperkenalkan, dan berlaku hanya untuk keturunan Eropa saja.
    • Demonstrasi di Batavia, dipimpin oleh Baron van Hoevell (seorang pendeta Hervormd Belanda), memohon kepada Raja Belanda agar diberlakukan kebebasan pers, sekolah menengah untuk masyarakat, dan perwakilan untuk Hindia Belanda di Dewan Negara.
    • Sekolah-sekolah karesidenan untuk pendidikan dan latihan anak-anak para pemerintah dan bangsawan setempat, mulai dibuka.
  • 1849
    • April, Sebuah kekuatan militer Hindia Belanda dalam jumlah besar dikirim ke Bali. Gusti Ketut Jilantik gugur dalam pertempuran. Hindia Belanda menguasai Buleleng dan pantai utara Bali.
    • Mei Pasukan-pasukan Hindia Belanda memasuki Bali selatan untuk pertama kalinya, bergerak melalui Karangasem dan Klungkung untuk memadamkan perlawanan.
    • Raja Lombok menyerang dan merebut Karangasem.
    • Belanda menguasai penuh Palembang.
  • 1850
    • Belanda memulai pekerjaan misi di kalangan suku Batak di Sumatra utara. Pemerintah Hindia Belanda melarang para misionaris Katolik memasuki daerah suku Batak di Sumatra atau Toraja di Sulawesi. Hanya para misionaris Protestan yang diizinkan masuk ke sana.
    • Bala kelaparan di Jawa Tengah.
    • Belanda membeli sisa-sisa benteng Portugis di Flores.
  • 1851
    • Sekolah “Dokter-Jawa” didirikan di Gambir (Weltevreden), Batavia.
    • Billiton Maatschappij memulai pertambangan timah di Belitung. Banyak buruh Tionghoa yang didatangkan ke sana.
  • 1853
    • Belanda mulai mengatur administrasi Bali utara.
    • Mangkunegara IV mengambil gelarnya di Surakarta.
  • 1854
    • Pemerintah Belanda mengeluarkan suatu pembaruan konstitusional untuk daerah Hindia Belanda (“Regeeringsreglement“). Para penguasa setempat di Hindia Belanda akan tetap memiliki kekuasaan tradisional atas warga mereka, dan berkuasa atas nama Belanda. Pemisahan yang ketat antara warga Eropa dan kaum Inlander diakui di dalam undang-undang.
    • Gubernur Jenderal Hindia Belanda memperoleh kuasa untuk mengasingkan siapapun juga; terhukum tidak memiliki hak untuk naik banding atau meninjau ulang keputusannya.
    • Aceh menegakkan kekuasaannnya atas Langkat, Deli dan Serdang di pantai timur Sumatra (“pelabuhan lada”).
    • Tanaman cinchona (kina) diperkenalkan di Priangan, di Cibodas, Jawa Barat.
  • 1855
    • Hamengkubuwono VI menjadi Sultan Yogyakarta.
    • Militer Belanda melakukan ekspedisi ke Nias.
    • Belanda memperluas kekuasaannya atas Kalimantan Barat.
    • Pangeran Diponegoro meninggal di Benteng Rotterdam, Makassar.
  • 1856
    • Aturan Penerbitan memberikan kekuasaan kepada Gubernur Jenderal untuk melakukan sensor pra-penerbitan terhadap pers tanpa kesempatan naik banding atau peninjauan kembali.
    • Maret, Eduard Douwes Dekker dipecat dari posisinya di pemerintahan di Jawa Barat setelah menuduh para bupati setempat melakukan korupsi. (Belakangan, dengan nama pena “Multatuli“, ia menulis novel “Max Havelaar“, yang mengungkapkan kondisi-kondisi dan penindasan di Jawa oleh pemerintah kolonial kepada para pembaca di Belanda.)
    • Ekspedisi militer Belanda ke Flores.
  • 1858
    • Ekspedisi Belanda melawan Sulawesi selatan.
    • Ratu Taha Saifuddin dari Jambi menolak perjanjian dengan Belanda, melarikan diri ke hutan-hutan dengan membawa pusaka (lambang kekuasaan keluarganya), dan berjuang hingga 1904.
    • Belanda mengambil Siak di Sumatra utara melalui perjanjian dan memindahkan pasukan-pasukannya untuk mencegah para petualang Britania mendapatkan tempat berpijak di sana. Perbatasan Siak ditetapkan hingga mencakup Langkat dan Deli, yang berbatasan dengan wilayah Aceh.
    • Pemerintahan Hindia Belanda mengalami defisit karena biaya-biaya militer.
    • Pakubuwono VIII menjadi Susuhunan Solo.
  • 1859
    • Perang Banjarmasin dipimpin oleh Pangeran Antasari; Belanda menarik dukungannya terhadap Tamjidillah, mengirimnya ke Buitenzorg (kini Bogor).
    • Portugis menandantangani perjanjian dengan Belanda: Portugis melepaskan pos-posnya yang jauh dan klaim-klaimnya atas Flores dan Solor kepada Belanda, dan mempertahankan haknya atas Timor Portugis. Pembagian antara Timor Barat dan Timur diputuskan.
    • Pemerintah Belanda melarang perbudakan di Hindia Belanda.
    • Ekspedisi militer Belanda ke Bone untuk menggulingkan Ratu Basse Kajuara.
    • Kabel telegraf dipasang antara Batavia hingga Singapura.

1861-1880 (Perang Aceh, Perang Batak, UU Agraria)

  • 1863
    • Ekspedisi militer Belanda ke Nias.
    • Britania mengirim kapal-kapal perang ke Langkat dan “pelabuhan-pelabuhan lada lainnya ” di Sumatra.
    • 1 Juli, Perbudakan secara resmi berakhir di Hindia Belanda.
    • Tanaman tembakau diperkenalkan di Sumatra Utara.
    • Fransen van de Putte, seorang bekas pemilik perkebunan di Jawa dan penentang sistem tanam paksa, menjadi Menteri Urusan Koloni Belanda.
    • Wajib tanam cengkeh dan pala diakhiri.
  • 1864
    • 1 April, Perangko Hindia Belanda pertama diterbitkan.
    • Belanda bereksperimen dengan tanaman karet di Jawa dan Sumatra.
    • Belanda mengklaim Kepulauan Mentawai.
    • Sultan Siak terakhir turun takhta.
  • 1865
    • Tanam paksa teh, kayu manis dan nila diakhiri.
    • Belanda memperkenalkan tembakau di Deli dan Sumatra Utara.
    • Belanda melembagakan pemerintahan langsung di Kesultanan Asahan di Sumatra Utara dan menyingkirkan Sultan ke Riau.
    • Undang-undang dan peraturan kehutanan yang baru diperkenalkan.
  • 1866
    • Wajib tanam tembakau diakhiri.
    • Hindia Belanda melembagakan pemerintahan langsung di Sumba.
  • 1867
    • Gunung Merapi meletus dekat Yogyakarta; 1.000 orang meninggal.
    • “Undang-undang Pertanggungjawaban” mewajibkan keuangan Hindia Belanda dipisahkan dari keuangan Belanda.
    • Departemen Pendidikan Hindia Belanda dibentuk.
  • 1868
    • Belanda memperketat kekuasaannya terhadap Bengkulu.
  • 1869
    • Sepertiga penduduk Sabu meninggal karena cacar.
    • Aceh memohon perlindungan kepada Kerajaan Ottoman.
    • Deli Maatschappij didirikan oleh para investor swasta.
    • Pada 1869, Terusan Suez dibuka, sehingga sangat mengurangi waktu dan upaya perjalanan antara Eropa dan Asia lewat laut, dan menjadikan tempat-tempat seperti Aceh jauh lebih penting dan strategis.
  • 1870
    • Wilayah Minahasa ditempatkan di bawah pemerintah langsung Belanda.
    • Sultan Mahmud Syah memerintah di Aceh hingga 1874.
    • Undang-undang Gula mulai suatu masa pembaruan agrikultur.
    • Penyakit melanda tanaman kopi di Jawa.
    • Pelayanan kapal uap yang rutin ke Belanda melalui Terusan Suez dibuka.
  • 1871
    • Undang-undang Agraria, Agrarische Wet, menggalakkan privatisasi pertanian, dan mulai membatalkan berbagai praktik tanam paksa. UU ini dikeluarkan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda sebagai tindak lanjut atas kemenangan partai Liberal di Belanda, sekaligus menggantikan politik Tanam Paksa (Cultuur Stelsel) dengan penanaman modal pengusaha Belanda. Pada pelaksanaannya Agrarische Wet mendukung berdirinya perkebunan-perkebunan besar Belanda di Hindia Belanda, sehingga dapat disebut sebagai upaya menarik modal swasta ke Hindia Belanda.
    • Wabah cacar membunuh 18.000 orang di Bali.
    • Kabel telegraf dipasang dari Banyuwangi, Jawa hingga ke Australia.
    • November, Traktat Sumatra antara Britania dan Belanda: Belanda memberikan Pantai Emas kepada Britania; Belanda dapat mengirimkan buruh-buruh kontrak dari India ke Guiana Belanda (kini: Suriname); Belanda bebas bertindak di Sumatra, Britania dan Belanda mempunyai hak-hak perdagangan di Aceh. Akibat dari perjanjian ini: tidak ada lagi keberatan terhadap upaya Belanda menaklukkan Aceh.

Peta peperangan Hindia Belanda
  • 1873
    • 25 Januari Utusan dari Aceh mengadakan pembicaraan dengan konsul Amerika di Singapura, namun Washington menolak memberikan bantuan AS. Belanda menjawab dengan peperangan.
    • 26 Maret Perang Aceh meletus. Belanda mengebom Banda Aceh.
    • 8 April Belanda mendaratkan pasukan-pasukannya di Banda Aceh.
    • 25 April pasukan-pasukan Aceh memaksa Belanda mundur.
    • Sultan Kutai menandatangani perjanjian yang mengakui Belanda.
    • Tanaman teh Assam dari India diperkenalkan untuk menggantikan tanaman teh dari Tiongkok, yang hasilnya mengecewakan. Produksi teh mulai meningkat.
    • Jalur kereta api pertama dibangun di Jawa.
    • 11 November Belanda menyerang Aceh kembali, dan mempertahankan posisi mereka, namun mengalami kerugian besar karena penyakit.
    • Belanda berperang sia-sia selama lebih dari 30 tahun, berusaha menguasai Aceh, namun tidak pernah benar-benar berhasil.
  • 1874
    • 24 Januari Pejuang Aceh meninggalkan Banda Aceh dan mengundurkan diri ke daerah perbukitan. Belanda mengumumkan bahwa Kesultanan Aceh telah berakhir.
    • Sultan Mahmud Syah dari Aceh meninggal di hutan; Sultan Ibrahim Mansur Syah memimpin kesultanan di bukit-bukit hingga 1907. Teuku Umar, seorang bangsawan Aceh, memimpin pasukan-pasukan Aceh.
    • Ekspedisi Belanda ke Flores.
    • Belanda mengirim seorang utusan ke Kepulauan Aru.
  • 1877
    • Hamengkubuwono VII menjadi Sultan Yogyakarta.
    • Sejak saat ini, pemerintahan Hindia Belanda beroperasi dengan keuangan yang merugi.
  • 1878
    • Tanam paksa gula dan kopi mulai dihapuskan.
    • Ekspedisi di bawah Jenderal Van der Heijden membakar habis 500 desa di Aceh.
    • Teungku Cik di Tiro, seorang ulama Islam, mulai memimpin perlawanan di Aceh.
  • 1880
    • Jalur kereta api antara Batavia dan Bandung diselesaikan.
    • Koelie Ordonnantie (“Ordonansi Kuli”) menguraikan undang-undang kontrak tenaga kerja: majikan harus menyediakan perumahan dan pemeliharaan kesehatan yang memadai, buruh hanya terikat dengan perkebunan selama kontrak yang berlaku. Kontrak harus ditandatangani di hadapan hakim, dan dapat dipertikaian di pengadilan.
    • Susu kental dalam kaleng yang pertama diimpor dari Australia.

1881-1899

  • 1881
    • Para tetua suku Minahasa dijadikan pegawai-pegawai bergaji dari Hindia Belanda.
    • Mangkunegara IV wafat.
    • Pada awal 1880-an, seorang penduduk Kudus yang bernama Haji Jamahri memulai kebiasaan mencampurkan cengkeh dalam rokok yang dilintingnya dengan tangan untuk menolongnya mengatasi gejala-gejala asma. Inilah asal-usul “kretek“. Namun demikian, produksi kretek secara komersial baru dimulai secara serius pada 1930-an.
  • 1882
    • Hindia Belanda melembagakan pemerintahan langsung di Buleleng dan Jembrana di Bali.
    • Hindia Belanda menguasai Karangasem dan Gianyar di Bali. Bali dan Lombok menjadi sebuah Karesidenan; raja-raja di Bali selatan tidak senang dengan hal ini, namun tetap berperang di antara mereka sendiri.
    • Kepulauan Aru dan Tanimbar ditempatkan di bawah administrasi Belanda.
    • 6 Agustus Tjokroaminoto dilahirkan.
    • Penyakit melanda tanaman tebu di Jawa.
    • Ekspedisi militer Belanda di Seram.
    • Minyak ditemukan di sekitar Kutai di Kalimantan.
    • Pengadilan Islam (“priesterraden“) diberikan kekuasaan terbatas di Jawa. Yurisdiksinya dibatasi pada hukum keluarga.
  • 1883
    • Sisingamangaraja XII diusir dari wilayah Batak.
    • Krakatau meletus; 36.000 orang di Jawa Barat dan Lampung meninggal sebagai korban letusan ini.
    • A.J. Zijlker mendapatkan persetujuan dari Belanda untuk memulai pengeboran minyak di Langkat, Sumatra Uara.
    • Pemberontakan yang mendukung Pangeran Suryengalaga gagal di Yogyakarta.
  • 1884
    • Perang gerilya memanas di Aceh. Belanda membangun “Geconcentreerde Linie” (Garis Konsentrasi) di Aceh: suatu rangkaian dari 16 benteng yang dirancang untuk mengepung para gerilyawan.
    • Belanda memberlakukan pemerintahan langsung di Deli.
    • Pelayanan komunikasi dikonsolidiasikan oleh pemerintah ke dalam PTT (Post Telegraaf Telefoon).
  • 1885
    • Sultan Asahan kembali dari pembuangan ke wilayahnya untuk berkuasa atas nama Belanda.
    • Belanda memberlakukan pemerintahan langsung di Madura.
    • Orang-orang keturunan Tionghoa di Hindia Belanda digolongkan sebagai “orang Eropa” hanya untuk tujuan-tujuan hukum dagang semata.
  • 1887
    • Sultan-sultan Madura diturunkan statusnya menjadi bupati saja.
    • Depresi ekonomi melanda Jawa.
  • 1888
    • Gempa bumi terjadi di Bali.
    • Residen Belanda di Surakarta menguasai keuangan keluarga Mangkunegara.
    • Pemberontakan di Banten dipimpin oleh kelompok Qadiriyya.
    • Kalimantan Utara (Sabah) menjadi protektorat Britania.
    • Koninklijke Paketvaart Maatschappij dibentuk sebagai perusahaan pengiriman barang dan penumpang kapal utama antar pulau.
  • 1890
    • Zijlker mendirikan perusahaan yang kelak menjadi Royal Dutch Shell.
    • Ekspedisi Belanda melawan Flores.
    • Hindia Belanda memperkenalkan pajak kekayaan.
  • 1891
    • Mengwi di Bali dikuasai oleh Badung.
    • Pemerontakan Naqshbandiyya di Lombok melawan pemerintah Mataram-Bali; Belanda ikut campur.
    • Buruh-buruh kontrak yang pertama meninggalkan Jawa dan berangkat ke Suriname di Amerika Selatan.
  • 1893
    • Pakubuwono X menjadi Susuhunan Solo.
    • Sekolah-sekolah “Kelas Satu” untuk para penduduk pribumi Indonesia dibentuk.
  • 1894
    • Campur tangan terakhir Belanda di Lombok berhasil; para bangsawan melakukan puputan; Karangasem menjadi wilayah yang tergantung pada Belanda.
    • “Perang Batak” berakhir.
    • Pemberontakan melawan Portugis di Timor Timur.
    • Hindia Belanda mengorganisasi monopoli opium yang diselenggarakan negara untuk menguasai perdagangan candu (Opiumregie).
  • 1895
    • Jami’at Khair didirikan, organisasi ini berdedikasi dalam mengembangkan pendidikan Arab.
    • Timor Portugis, yang mulanya diadministrasi dari Makau, mendapatkan administrasinya sendiri.
    • Perjanjian Britania-Belanda menetapkan batas-batas antara klaim-klaim mereka atas Pulau Papua.
  • 1898
    • Belanda mulai melakukan eksplorasi di Papua.
    • Van Heutsz menjadi Gubernur Belanda di Aceh. Penasihatnya, Snouck Hurgronje memperkenalkan “Korte Verklaring“, (Traktat Pendek), sebuah perjanjian singkat yang isinya mengakui pemerintahan Belanda, untuk menggantikan perjanjian-perjanjian terdahulu yang rumit dengan para pemimpin setempat; Belanda mengadakan aliansi dengan para uleebalang dalam melawan para pemimpin Islam.
    • Juni, Van Heutsz mengirim suatu ekspedisi Belanda yang sukses melawan Pidie, Aceh.
  • 1899
    • R.A. Kartini memulai kariernya dalam menulis surat-surat.
    • Pesantren Tebuireng, sebuah sekolah Islam yang terkenal, didirikan di Jombang, Jawa Timur.
    • Teuku Umar terbunuh dalam suatu serangan Belanda.
    • Van Deventer, seorang pembaharu kolonial, menerbitkan “Een Eereschuld“, yang isinya menuntut agar uang yang dikumpulkan di masa lampau dari Hindia Belanda dikembalikan ke Hindia Belanda untuk menolong membayar utang kolonial yang kian meningkat.

Abad ke-20

1900-1910

  • 1900
    • Raja Gianyar di Bali takluk kepada kekuasaan Belanda.
    • Sekolah-sekolah menengah di Bandung, Magelang dan Probolinggo ditata kembali untuk mendidik orang-orang Jawa yang ingin menjadi pegawai negeri.
    • 17 Maret 1900, Tiong Hoa Hwee Koan (THHK) terbentuk di Batavia. THHK mendirikan sekolah-sekolah, jumlahnya 54 buah pada tahun 1908 dan mencapai 450 sekolah pada tahun 1934.
  • 1901
    • Jambi ditempatkan di bawah kekuasaan Residen Belanda di Palembang pada saat munculnya masalah suksesi dan pergolakan lainnya yang terkait.
    • Mahyudin Datuk Sutan Marajo menerbitkan koran Warta Berita di Padang, surat kabar berbahasa Indonesia pertama dengan tulisan latin.
    • Perusahaan minyak Zijlker’s Royal Dutch diperluas hingga ke Kalimantan.
    • Belanda menempatkan pasukan keamanan di Kepulauan Mentawai.
    • 6 Juni Soekarno dilahirkan.
    • Ratu Wilhelmina dari Belanda mengumumkan ” Politik Etis” untuk Hindia Belanda.
  • 1903
    • Sultan Aceh, Tuanku Daud Syah, menyerah kepada Belanda, namun tetap mempertahankan hubungan rahasia dengan para gerilyawan.
    • Hindia Belanda mulai membuka sekolah-sekolah MULO untuk pendidikan dasar.
    • Undang-undang Desentralisasi memberikan beberapa kursi kepada pemerintahan lokal dan provinsi kepada penduduk pribumi di Hindia Belanda. Pemilu untuk pertama kalinya diadakan di Jawa.
    • Keuangan Hindia Belanda dipisahkan dari keuangan tanah air Belanda.
  • 1904
    • Van Heutsz, yang sebelumnya adalah Gubernur militer di Aceh, menjadi Gubernur Jenderal (hingga 1909).
    • Taha dari Jambi dibunuh oleh Belanda.
    • Mei, Kapal “Sri Koemala” karam di lepas pantai Sanur, Bali. Penduduk setempat menjarah kapal itu; si pemilik kapal menuntut ganti rugi pemerintah Hindia Belanda. Akibatnya, hubungan antara Hindia Belanda dengan Raja Badung di Bali memburuk.
    • Ekspedisi militer Hindia Belanda menguasai wilayah Batak di Sumatra.
    • Suatu ekspedisi di bawah Kapten Van Daalen ke daerah pegunungan di Aceh menyebabkan matinya lebih dari 3.000 penduduk desa, termasuk lebih dari 1.000 kaum perempuan dan anak-anak.
    • Pemerintah Belanda mulai memberikan bantuan dan pinjaman untuk pembayaran kembali utang Hindia Belanda.
    • Dewi Sartika mendirikan Sekolah Isteri, sebuah sekolah untuk kaum perempuan.
  • 1905
    • Januari, Belanda mulai melakukan operasi militer selama lima bulan di Kalimantan.
    • Belanda mengirim sebuah pasukan militer melawan pemberontakan di Seram.
    • Agustus, pasukan-pasukan Belanda mendarat di Pare Pare. Pasukan Belanda mencapai kemenangan besar di wilayah Sulawesi; Bugis, Makasar, Toraja dikuasai untuk seterusnya. Penguasa Bone digulingkan.
    • Para pemberontak Aceh menghubungi konsul Jepang di Singapura untuk meminta pertolongan.
    • Belanda menduduki Kepulauan Mentawai.
    • Serikat buruh pertama dibentuk oleh para buruh kereta api.
    • 16 Oktober Sarekat Dagang Islamiyah didirikan oleh Kyai Haji Samanhudi, mula-mula untuk melindungi kepentingan-kepentingan para pedagang batik Islam di Surakarta.
    • Dewan kota dibentuk di Batavia dan Bandung.
    • Pemerintah Hindia Belanda mensponsori suatu komunitas petani Jawa yang dipindahkan ke Lampung: inilah contoh transmigrasi pertama.
  • 1906
    • 15 September Belanda membuat berbagai kemajuan besar di Bali; armada Hindia Belanda membuang jangkar di lepas pantai Sanur.
    • 16 September Pasukan-pasukan Hindia Belanda menyerbu Sanur.
    • 20 September Angkatan Laut Belanda menembaki Denpasar dengan meriam.
    • Para bangsawan Badung melakukan bunuh diri dalam sebuah puputan, sambil berbaris di jalan utama Denpasar. Lebih dari 3.600 orang terbunuh.
    • 23 September Belanda membuat kemajuan di Tabanan, Bali. Raja Tabanan menawarkan penyerahan dirinya dengan syarat ia diizinkan mempertahankan gelar dan tanahnya. Residen Belanda menawan Raja hingga ia dapat mendapatkan jawaban dari pemerintah Hindia Belanda di Batavia. Raja Tabanan melakukan bunuh diri di tahanan.
    • Perkebunan karet di Sumatra berkembang dengan berbagai varitas tanaman baru.
    • Belanda menguasai Sumba.
    • Belanda membentuk sebuah protektorat terhadap Berau di Kalimantan Timur.
    • Sensor pasca-penerbitan diperkenalkan: semua penerbitan harus diserahkan dalam tempo 24 jam setelah terbitnya ke badan sensor untuk ditinjau.
  • 1907
    • Militer Belanda memadamkan pemberontakan di Flores, dan kini berkuasa penuh.
    • Pemberontakan di Jambi akhirnya dipadamkan.
    • Para gerilyawan Aceh menyerang Belanda di Banda Aceh.
    • Raja Sisingamangaraja XII memberontak melawan Belanda, dan ditembak dalam konflik itu.
    • Hindia Belanda memperkenalkan pajak terhadap usaha-usaha dagang.
    • Samin Surosentiko, pencetus ajaran Samin, ditangkap di Jawa dan diasingkan ke Padang, Sumatera.
    • Perusahaan minyak Zijlker’s Royal Dutch bergabung dengan Shell Transport and Trading dan menjadi Royal Dutch Shell.
    • Belanda mengirim polisi ke Kepulauan Tanimbar untuk menghentikan konflik antar suku.
    • Program pendidikan baru diperkenalkan dengan maksud menawarkan pendidikan tiga tahun untuk anak-anak, yang terbuka untuk masyarakat umum.
  • 1908
    • Klungkung memberontak melawan Belanda; para bangsawan melakukan puputan untuk mempertahankan kehormatan mereka.
    • Belanda ikut campur dalam konflik-konflik lokal di Sumbawa, hingga lebih ketat menguasai wilayah itu.
    • Buton jatuh ke dalam pemerintah langsung Belanda.
    • VSTP (serikat buruh kereta api) dibentuk, anggota-anggota orang Indonesia diterima.
    • 20 Mei Budi Utomo didirikan di antara para mahasiswa suku Jawa kelas atas di Jawa, termasuk dr. Sutomo dan dr. Tjipto Mangunkusumo, menandai dimulainya era Kebangkitan nasional
    • Oktober Budi Utomo mengadakan kongres di Yogyakarta. Tjipto Mangunkusumo meninggalkan organisasi ini.
    • Indische Vereeniging didirikan untuk para mahasiswa Indonesia di Belanda.
    • Pemberontakan kecil di Minangkabau dipadamkan.
    • Hindia Belanda memperkenalkan pajak pendapatan.
  • 1909
    • Tjokroaminoto menjadi pemimpin Sarekat Dagang Islamiyah.
    • Putri Hindia, sebuah penerbitan untuk kaum perempuan, didirikan.
    • Belanda mengonsolidasikan kekuasaan atas Seram.
    • Belanda menguasai Buru.
    • Adabiah, sekolah Islam modern pertama berdiri di Padang
  • 1910
    • Perlawanan Islam di Aceh dilumpuhkan.
    • Jami’at Khair digantikan oleh Al-Irsyad (Jamiat Islam al Irsyad al Arabia), sebuah organisasi untuk kaum Muslim keturunan Arab di Indonesia.
    • Pemberontakan di Timor Timur di bawah pimpinan Dom Boaventura.
    • Ratulangi mendirikan Perserikatan Minahasa, sebuah organisasi sosial untuk orang Minahasa.
    • Ekspedisi Belanda ke Pulau Komodo melaporkan penemuan komodo kepada masyarakat di Eropa untuk pertama kalinya.

1911-1920

  • 1914
    • Hollandsch-Inlandsche Schools (HIS) dibentuk kembali, menjadi terbuka untuk orang Indonesia.
    • 9 Mei, Sneevliet mendirikan Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV), nantinya menjadi PKI.
    • Perang di Eropa: Pemerintah Belanda mempertimbangkan menggunakan milisi dari Indonesia.
    • Pameran Besar Kolonial di Semarang, dihadiri oleh Pakubuwono X dari Surakarta dan rombongannya.
    • Pemerintah Hindia Belanda membuka fasilitas percobaan penerbangan di Surabaya untuk mempelajari kinerja pesawat dalam kondisi tropis.
    • KNIL membentuk sebuah angkatan udara.
    • Nias sepenuhnya dikuasai Belanda.
    • Pasukan pendudukan KNIL di Bali ditarik mundur dan digantikan oleh unit polisi biasa.
    • Insulinde berdiri, didukung oleh Dr. Tjipto Mangunkusumo, yang telah kembali dari pengasingan.
  • 1916
    • Delegasi anggota dari Budi Utomo, Sarekat Islam, dan organisasi-organisasi lain mengunjungi Belanda
    • Pemerintah Hindia Belanda membentuk “Politiek Inlichtingen Dienst“, sebuah pasukan polisi khusus untuk menyelidiki kejahatan politik (kemudian berganti nama menjadi “Algemene Recherche“).
    • J.P. Count van Limburg Stirum menjadi Gubernur-Jenderal hingga 1921.
    • Soekarno muda bersekolah di Surabaya, tinggal di rumah Tjokroaminoto.
    • Juni, Sarekat Islam menyelenggarakan pertemuan di Bandung; beberapa anggota dan kelompok Jawa tradisional tidak suka dengan modernisasi.
    • Mangkunegara VII mengambil alih tempat tinggalnya di Surakarta.
    • Desember, Dewan Negara (Parlemen) di Belanda meloloskan RUU untuk pembentukan sebuah Koloniale Raad (kemudian dikenal dengan Volksraad) untuk Hindia Belanda.
  • 1917
    • Jong Sumatranen Bond berdiri di Jakarta
    • Sarekat Islam mulai mengambil posisi lebih anti-pemerintah.
    • Kelompok sayap kiri dari Semarang berkumpul di Sarekat Islam dibawah Semaun; Tjokroaminoto tidak melarang mereka.
    • Belanda mempertimbangkan milisi Indonesian untuk dinas militer; anggota sayap kiri di Sarekat Islam menentang.
    • Aisyiyah, organisasi perempuan Muhammadiyah berdiri.
    • Fasilitas pelabuhan modern dibangun di Surabaya.
    • Ki Hajar Dewantara kembali dari pembuangan.
  • 1918
    • 18 Mei Volksraad berapat untuk pertama kalinya. 39% dari anggota-anggotanya adalah orang Indonesia. Anggota-anggotanya dipilih oleh dewan-dewan setempat dari kabupaten. Kebanyakan anggotanya adalah pegawai pemerintah atau bupati. Volksraad terdiri dari satu kamar, dan berfungsi sebagai dewan penasihat saja.
    • Gubernur Jenderal van Limburg Stirum mengangkat Tjokroaminoto menjadi anggota Volksraad. Dr. Tjipto Mangunkusumo juga ditempatkan di sana.
    • ISDV mulai membentuk soviet-soviet (dewan-dewan) di Surabaya.
    • “Sarekat Islam B”, cabang revolusioner rahasia, mulai terbentuk. Anggotanya termasuk Musso (dan kemungkinan juga Tjokroaminoto).
    • Sarekat Sumatra didirikan.
    • Wabah cacar melanda Jawa, Sumatra dan Kalimantan.
    • Organisasi Jong Minahasa didirikan.
    • Pemerintah Hindia Belanda mulai menindas ‘’soviet-soviet’’ ISDV, mengusir anggota-anggota Belanda dari gerakan komunis.
    • “Janji November”: pemerintah Belanda mengatakan bahwa Indonesia akan memiliki pemerintahan sendiri di masa depan yang belum ditetapkan.
    • 14 November anggota-anggota orang Indonesia di Volksraad mengecam Pemerintah Hindia Belanda karena lebih mengutamakan kepentingan-kepentingan orang Eropa.
    • Pemerintah Hindia Belanda membuang Sneevliet.
    • Douwes Dekker kembali dari pembuangan.
  • 1919
    • Mei-Juni Penembakan di Garut; seorang pejabat Belanda di Toli-toli, Sulawesi dibunuh. Belanda menggunakan penembakan ini sebagai alasan untuk menindas Sarekat Islam Seksi B.
    • Indo-Europees Verbond didirikan untuk memajukan kepentingan-kepentingan “orang-orang Indo”, sementara pada saat yang sama juga mendukung Belanda.
    • Haji Misbach mengajarkan “Komunisme Islam” di Surakarta
    • Desember Sarekat Islam mengklaim mempunyai 2 juta anggota; menyelenggarakan kongres di Yogyakarta.
    • KLM membuka pelayanan udara jarak jauh dari Amsterdam ke Batavia.

1921-1930

  • 1921
    • Juni, Jong Java mengadakan kongres di Bandung; Soekarno berbicara di kongres untuk menganjurkan pembaruan bahasa.
    • Fock menjadi Gubernur-Jenderal Hindia Belanda hingga 1926.
    • Timorsch Verbond didirikan.
    • Agustus, Tjokroaminoto ditangkap.
    • Oktober, Kongres Nasional ke-6 Sarekat Islam melarang anggota-anggota SI merangkap sebagai anggota partai-partai lain, termasuk PKI.
    • Banyak cabang Sarekat Islam terpecah menjadi (SI-Merah) yang mengikuti Semaun dan (SI-Putih) yang mengikuti Tjokroaminoto.
    • Semaun berangkat ke Uni Soviet.
    • Tan Malaka berusaha memulihkan perpecahan dalam Sarekat Islam.
    • PKI menolak Tjokroaminoto.
    • Sukarno muda mulai belajar di Technische Hoogeschool di Bandung.
    • Soeharto dilahirkan.
    • Hamengkubuwono VIII menjadi Sultan Yogyakarta.
    • Desember, Tan Malaka menjadi ketua PKI.
  • 1922
    • Perhimpunan Mahasiswa Indonesia didirikan di Belanda. Anggotanya antara lain Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Sutomo, Ali Sastroamidjojo, dan banyak lagi lainnya yang kelak memainkan peranan penting dalam perjuangan kemerdekaan (dan dalam pemerintahan Republik Indonesia pada tahun 1950-an).
    • Maret, Tan Malaka dibuang dari Hindia Belanda.
    • April, Tjokroaminoto dibebaskan dari tahanan sambil menunggu bandingnya.
    • Ki Hadjar Dewantoro mendirikan Taman Siswa di Yogyakarta, sebuah sekolah mandiri tanpa dukungan pemerintah untuk mengembangkan kesenian Jawa maupun pendidikan modern (anti-modernis); menciptakan istilah “demokrasi terpimpin”.
    • Indische Vereeniging di Belanda mengganti namanya menjadi Perhimpunan Indonesia. Anggotanya antara lain Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir; Tan Malaka dan Semaun berbicara dalam pertemuan-pertemuannya.
    • Semaun kembali dari Belanda.
    • Marah Roesli menerbitkan novel “Sitti Noerbaja
    • Pemogokan berlanjut.
    • Kongres Al-Islam diadakan di Cirebon; perdebatan hangat pecah antara pandangan-anggota yang “modernis” dan “tradisionalis” tentang Islam.
    • Pelgrimsordonnantie disetujui; mulailah kontrol pemerintah terhadap perjalanan calon haji.
    • Fasilitas pelabuhan modern dibuka di Belawan untuk melayani Sumatra utara.
  • 1923
    • Februari, Partai Katolik didirikan.
    • Pemogokan kereta api oleh VSTP yang dipimpin pihak Komunis, Semaun sebagai pemimpinnya ditangkap dan dibuang; banyak serikat buruh yang kini didominasi Komunis.
    • Februari, Tjokroaminoto menata kembali Sarekat Islam menjadi Partai Sarekat Islam yang baru. Para pendukung komunis meninggalkan organisasi ini, dan membawa serta banyak anggota bersama mereka; Cabang-cabang SI Merah menjadi Sarekat Rakyat.
    • Tan Malaka ditunjuk sebagai agen Komintern untuk Asia Tenggara, dan berbasis di Guangdong, Tiongkok.
    • 12 September Persatuan Islam (atau Persis), sebuah kelompok modernis garis keras, didirikan di Bandung. Mohammad Natsir yang masih muda adalah salah satu anggota pertamanya.
    • Pasteur Institute dipindahkan dari Batavia ke Bandung.
    • Wajib militer diberlakukan untuk semua warga negara Belanda di Hindia.
  • 1924
    • Perserikatan Komunis di Hindia mengganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia, memutuskan untuk mengadakan pemberontakan. Musso bergabung dengan PKI.
    • Sarekat Hijau” dibentuk oleh Belanda, anggota-anggotanya adalah pejabat-pejabat setempat, kaum kriminal, polisi, dll. yang pro-Belanda.
    • Dr. Sutomo mendirikan Indonesia Study Club.
    • Pelayanan pos udara pertama dari Batavia ke Amsterdam. Penerbangan memakan waktu hampir dua bulan.
    • Biro Malaria Pusat didirikan untuk mengoordinasikan program-program pemberantasan malaria.

Tan Malaka, pencetus Republik Indonesia lewat bukunya Naar de Republiek Indonesia
  • 1925
    • Konstitusi baru: Dewan Hindia menjadi lembaga penasihat, Volksraad mendapatkan kekuasaan legislative terbatas. Gubernur Jenderal dan birokrasi tidak terpengaruh. Orang-orang Tionghoa secara resmi didefinisikan sebagai “vreemde oosterlingen
    • Keanggotaan di Volksraad ditetapkan 60:30; 60 orang Belanda, 25 Indonesia, dan 5 anggota lainnya keturunan Arab atau Tionghoa.
    • Pemogokan yang dipimpin oleh PKI gagal, Tan Malaka berada di Singapura.
    • Sukarno mendirikan Generaal Study Club yang pro kemerdekaan di Bandung, menganjurkan kesatuan bangsa.
    • 23 September Jong Islamieten Bond didirikan di Jakarta; anggota-anggotanya antara lain adalah Haji Agus Salim dan Mohammad Natsir.
    • Tan Malaka mencetus bentuk negara Republik, lewat buku Naar de Republiek Indonesia
    • Sensor film diberlakukan.
    • Stasiun radio komersial pertama di Batavia.
    • Desember, para pemimpin PKI mengadakan rapat di Prambanan untuk merencanakan pemberontakan terbuka.
  • 1926
    • Belanda menangkap lebih banyak anggota PKI; Musso pergi ke Singapura. PKI mendapatkan instruksi dari Moskwa untuk memulai sebuah revolusi, lalu membatalkan instruksi ini. Musso merahasiakan instruksi yang kedua (instruksi untuk tidak memberontak).
    • 31 Januari Komite para ulama Islam berkumpul di Surabaya untuk mengirim sebuah delegasi ke Arab Saudi untuk memprotes syarat-syarat untuk para jemaah haji Indonesia. (Komite ini kelak menjadi benih Nahdlatul Ulama.)
    • Kongres Pemoeda I diadakan di Kota Solo pada tanggal 30 April s/d 2 Mei 1926, dg ketua Mohammad Tabrani (Jong Java)
    • 12 November PKI memberontak di Banten, Batavia, Bandung, Padang. PKI mengumumkan pembentukan sebuah republik. Pemberontakan ini dihancurkan oleh Belanda, yang menangkap sekitar 13.000 orang. Tan Malaka menentang pemberontakan.
    • Sukarno mendapatkan gelar insinyur dalam bidang Arsitektur di Bandung.
    • Sukarno menerbitkan serangkaian tulisan yang berjudul “Nasionalisme, Islam dan Marxisme”, dan menyerukan kerja sama antara ketiga gerakan ini.
    • De Graeff menjadi Gubernur Jenderal hingga 1931.
    • 31 Desember Kyai Haji Hasjim Asjari mendirikan Nahdlatul Ulama, sebuah organisasi Muslim yang berkarya dalam bidang pendidikan, bantuan amal, dan bantuan ekonomi.
  • 1927
    • Januari, pemberontakan PKI di Silungkang, Sumatra Barat dihancurkan.
    • Februari, Hatta dan lain-lainnya menghadiri pertemuan anti kolonial di Brussel bersama dengan banyak nasionalis lainnya dari Asia dan Afrika.
    • 4 Juli Sukarno dan dr. Tjipto Mangunkusumo mendirikan Perserikatan Nasional Indonesia (PNI).
    • September, Hatta, Ali Sastroamidjojo dan lain-lainnya dalam Perhimpunan Mahasiswa Indonesia ditangkap.
    • Dr. Tjipto Mangunkusumo ditangkap dan dikirim ke pembuangan di Banda. Ia tinggal di pembuangan selama 11 tahun.
    • Hindia Belanda membangun kamp penjara Boven Digul di Papua untuk menampung para tahanan politik.
    • Kampanye anti narkotik: Hindia Belanda melarang penanaman koka dan hemp.
    • Desember, Permufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI), kelompok yang menaungi organisasi-organisasi nasionalis dibentuk di Bandung.
    • Jahja Datoek Kajo orang pertama yang berpidato menggunakan bahasa Indonesia dalam sidang Volksraad
  • 1928
    • PNI mengganti namanya menjadi Partai Nasional Indonesia, menerima bendera Merah-Putih, Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, “Indonesia Raya” ciptaan W.R. Supratman sebagai lagu kebangsaan.
    • Maret, Hatta dan pendukung-pendukungnya dibebaskan; pidato-pidato Hatta jelas-jelas anti Belanda.
    • 28 Oktober, Kongres Pemuda II di Batavia menerima “sumpah pemuda“: satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa. Kongres diketuai oleh Sugondo Djojopuspito (PPI)
    • Muhammad Yamin menulis puisi “Indonesia tumpah darahku”.
    • KNILM didirikan sebagai perusahaan penerbangan resmi Hindia Belanda.
    • Perti (Persatuan Tarbiyah Islamiyah) didirikan di Bukittinggi sebagai organisasi pendidikan untuk kaum Muslim Minangkabau yang tradisionalis .
  • 1929
    • Agustus, Pemerintah Hindia Belanda memperingatkan anggota-anggota PNI agar menghentikan aktivitas-aktivitas mereka.
    • Orang-orang Indonesia mendapatkan kursi mayoritas di Volksraad, yang tetap merupakan sebuah lembaga penasihat.
    • Belanda memulihkan para bekas penguasa Bali hingga menjadi penguasa setempat yang berkuasa di bawah wewenang Belanda, dalam sebuah upacara yang panjang di Besakih.
    • 29 Desember Soekarno dan pengikut-pengikutnya ditangkap di Yogyakarta. Mereka dipenjarakan di Bandung.

Wilayah birokrasi Hindia Belanda

Pembagian legal Hindia Belanda. Biru tua: Belanda memerintah melalui pemimpin adat yang sudah bersumpah setia pada Belanda (status zelfbestuuren) dibimbing oleh residen2 Belanda. Biru muda diperintah langsung oleh BB (Binnenlands Bestuuren) pemerintah Belanda

1931-1940

  • 1931
    • Perhimpunan Indonesia dikuasai oleh kaum komunis; Sjahrir dan Hatta dipecat.
    • 25 April PNI memutuskan untuk membuarkan dirinya. Partai Indonesia atau Partindo dibentuk sebagai gantinya empat hari kemudian. Beberapa anggota PNI, termasuk Hatta, kecewa.
    • Desember, Sjahrir mendirikan Pendidikan Nasional Indonesia bersama Hatta (“PNI-Baru”).
    • Sukarno dibebaskan oleh de Graeff.
    • Raja Bone dipulihkan kekuasaannya oleh Belanda untuk memerintah dengan pemerintahan mandiri setempat.
    • De Jonge menjadi Gubernur Jenderal hingga 1936.
    • Pemerintah Hindia Belanda memperketat sensor pers.
    • Ong Hok Liong mendirikan perusahaan rokok Bentoel.
    • 31 Desember Sukarno dibebaskan lebih awal dari penjara di Bandung.
  • 1932
    • Sukarno bergabung dengan Partindo; minat terhadap Partindo meningkat.
    • Agustus Hatta kembali dari Belanda.
    • Mohammad Natsir, 24 tahun, bertanggung jawab atas sekolah-sekolah Persatuan Islam yang baru; ia menulis bahwa Islam harus menjadi dasar dari Indonesia yang baru.
    • Belanda menuntut sekolah-sekolah independen untuk meminta izin operasi dari pemerintah; fraksi-fraksi di Volksraad bersatu menentang gagasan ini.
  • 1933
    • 5 Februari Pemberontakan para pelaut Belanda dan Indonesia di atas kapal Belanda “Zeven Provincien”. Pemberontakan ini disebabkan oleh ketidakpuasan karena gaji yang rendah, namun Pemerintah Hindia Belanda memandangnya sebagai suatu pemberontakan politik.
    • Hindia Belanda menekan sekolah-sekolah independen dan para pemimpin politik di Minangkabau.
    • Agustus, Sukarno, Hatta, Sjahrir ditangkap. Sukarno dibuang ke Ende di Flores tanpa pengadilan.
    • Oost-Indische Leger diganti namanya menjadi KNIL (Koninklijk Nederlands-Indisch Leger).
    • Pertemuan-pertemuan organisasi induk PPPKI dilarang.
    • Sutan Takdir Alisjahbana menerbitkan majalah Pujangga Baru
  • 1934
    • Belanda mulai melakukan kebijakan proteksionis untuk menghalangi produk-produk Jepang yang lebih murah dan melindungi produk-produk Belanda yang lebih mahal.
    • Belanda menekan PKN untuk meninggalkan kegiatan politiknya yang terbuka.
    • Februari, Hatta dan Sjahrir ditangkap dan dikirim ke kamp tahanan Boven Digul di Papua.
    • Belanda melarang kongres Partindo.
    • Sayap pemuda Nahdlatul Ulama, Ansor, didirikan.
    • Tjokroaminoto wafat.
  • 1935
    • Al-Ittihadiah (perhimpunan Islam modernis) didirikan di Medan.
    • Nahdlatul Wathan, sebuah organisasi untuk pendidikan Islam, didirikan di Lombok.
    • Nahdlatul Ulama mengeluarkan peraturan bahwa Hindia Belanda adalah sautu negara di mana Islam dapat dipraktikkan, dan harus dibela melawan Jepang.
    • Desember, Budi Utomo dan Persatuan Bangsa Indonesia bergabung untuk membentuk Partai Indonesia Raya (Parindra). Anggotanya antara lain adalah Thamrin dan dr. Sutomo; juga terdapat sejumlah anggota yang pro Jepang. Partai yang baru ini menyerukan kemerdekaan melalui kerja sama dengan Belanda.
  • 1936
    • Van Starkenborgh diangkat menjadi Gubernur Jenderal; jabatan ini dipegangnya hingga sekurang-kurangnya tahun 1945.
    • Hatta dan Sjahrir dipindahkan ke Banda.
    • Juli, “Petisi Sutarjo” diterbitkan, menyerukan kemerdekaan untuk Indonesia dalam tempo 10 tahun.
    • 29 September Volksraad memutuskan untuk mendukung petisi untuk otonomi Indonesia di dalam konstitusi Belanda.
    • Becak menjadi sarana transportasi di Batavia.
    • November, Partindo dibubarkan.
    • Para geologiwan Belanda menemukan bukti kekayaan mineral — besi, tembaga, perak, dan emas — di Papua.
  • 1938
    • Sukarno, yang masih berada dalam penahanan Belanda, dipindahkan ke Bengkulu.
    • Orang-orang luar pertama mencapai Lembah Baliem di Papua.
    • Belanda mengadakan persidangan Tapanuli untuk mendukung para penguasa Batak setempat.
    • Hindia Belanda melembagakan “hukum adat” di Minangkabau dan Banjarmasin.
    • Moskwa menyuruh PKI untuk menghentikan aktivitas-aktivitas anti-Belanda.
    • Persatuan Arab Indonesia terbentuk dari organisasi-organisasi Muslim Arab yang ada.
    • 16 November Pemerintah Belanda menolak petisi otonomi 1936 untuk Indonesia.
  • 1940
    • Februari, Belanda kembali menolak otonomi untuk Hindia Belanda.
    • 13 Februari Jepang menolak perjanjian arbitrase dengan Belanda.
    • 18 Maret Hamengkubuwono IX menjadi Sultan Yogyakarta.
    • Mei, Belanda jatuh ke tangan Jerman, pemerintah Belanda melarikan diri ke London.
    • 28 Juni Jepang mengatakan ingin merundingkan kembali perjanjian dagang dengan Belanda.
    • Juli Barang ekspor Indonesia ke Jepang dihentikan.
    • Agustus, Jepang menyatakan bahwa Perancis Indochina dan Hindia Belanda harus disatukan dengan sepenuh hati ke dalam “East Asia Co-Prosperity Sphere“.
    • 9 Agustus GAPI menghadirkan petisi yang lain tentang “melengkapi demokratisasi Indonesia”.
    • 23 Agustus Komisi untuk Studi Perubahan Konstitutional dibentuk untuk mempelajari permintaan GAPI. Thamrin dkk di Volksraad menarik proposal mereka untuk demokratisasi.
    • September Tentara Jepang bergerak menuju Perancis Indochina.
    • 12 September Pemerintah Hindia Belanda memulai pembicaraan perdagangan dengan delegasi Jepang di bawah pimpinan Kobayashi. Van Mook tidak mau bekerja sama dengan tuntutan Jepang untuk bahan bakar penerbangan.
    • 26 Oktober Jepang dan Belanda mengeluarkan sebuah deklarasi bersama yang berisi Hindia Belanda tidak akan menjadi bagian dari “Co-Prosperity Sphere“.
    • 12 November Kuota atas penjualan minyak ke Jepang dari Hindia Belanda ditetapkan dalam perjanjian

Sejarah Kerajaan Mataram Islam

sejarah islamKerajaan mataram berdiri pada tahun 1582. pusat kerajaan ini terletak di sebelah tenggara kota Yogyakarta, yakni di Kotagede. Para raja yang pernah memerintah di Kerajaan mataram yaitu penembahan senopati (1584 – 1601), panembahan Seda Krapyak (1601 – 1677).
dalam sejarah islam, Kesultanan mataram memiliki peran yang cukup penting dalam perjalanan secara kerajaan-kerajaan islam di Nusantara (indonesia). Hal ini terlihat dari semangat raja-raja untuk memperluas daerah kekuasaan dan mengislamkan para penduduk daerah kekuasaannya, keterlibatan para pemuka agama, hingga pengembangan kebudayaan yang bercorak islam di jawa.
Pada awalnya daerah mataram dikuasai kesultanan pajang sebagai balas jasa atas perjuangan dalam mengalahkan Arya Penangsang. Sultan Hadiwijaya menghadiahkan daerah mataram kepada Ki Ageng Pemanahan. Selanjutnya, oleh ki Ageng Pemanahan Mataram dibangun sebagai tempat permukiman baru dan persawahan.
Akan tetapi, kehadirannya di daerah ini dan usaha pembangunannya mendapat berbagai jenis tanggapan dari para penguasa setempat. Misalnya, Ki Ageng Giring yang berasal dari wangsa Kajoran secara terang-terangan menentang kehadirannya. Begitu pula ki Ageng tembayat dan Ki Ageng Mangir. Namun masih ada yang menerima kehadirannya, misalnya ki Ageng Karanglo. Meskipun demikian, tanggapan dan sambutan yang beraneka itu tidak mengubah pendirian Ki Ageng Pemanahan untuk melanjutkan pembangunan daerah itu. ia membangun pusat kekuatan di plered dan menyiapkan strategi untuk menundukkan para penguasa yang menentang kehadirannya.
Pada tahun 1575, Pemahanan meninggal dunia. Ia digantikan oleh putranya, Danang Sutawijaya atau Pangeran Ngabehi Loring Pasar. Di samping bertekad melanjutkan mimpi ayahandanya, ia pun bercita-cita membebaskan diri dari kekuasaan pajang. Sehingga, hubungan antara mataram dengan pajang pun memburuk.
Hubungan yang tegang antara sutawijaya dan kesultanan Pajang akhirnya menimbulkan peperangan. Dalam peperangan ini, kesultanan pajang mengalami kekalahan. Setelah penguasa pajak yakni hadiwijaya meninggal dunia (1587), Sutawijaya mengangkat dirinya menjadi raja Mataram dengan gelar penembahan Senopati Ing Alaga. Ia mulai membangun kerajaannya dan memindahkan senopati pusat pemerintahan ke Kotagede. Untuk memperluas daerah kekuasaanya, penembahan senopati melancarkan serangan-serangan ke daerah sekitar. Misalnya dengan menaklukkan Ki Ageng Mangir dan Ki Ageng Giring.
sejarah islam
Pada tahun 1590, penembahan senopati atau biasa disebut dengan senopati menguasai madiun, yang waktu itu bersekutu dengan surabaya. Pada tahun 1591 ia mengalahkan kediri dan jipang, lalu melanjutkannya dengan penaklukkan Pasuruan dan Tuban pada tahun 1598-1599.

Sebagai raja islam yang baru, panembahan senopati melaksanakan penaklukkan-penaklukan itu untuk mewujudkan gagasannya bahwa mataram harus menjadi pusat budaya dan agama islam, untuk menggantikan atau melanjutkan kesultanan demak. Disebutkan pula dalam cerita babad bahwa cita-cita itu berasal dari wangsit yang diterimanya dari Lipura (desa yang terletak di sebelah barat daya Yogyakarta). Wangsit datang setelah mimpi dan pertemuan senopati dengan penguasa laut selatan, Nyi Roro Kidul, ketika ia bersemedi di Parangtritis dan Gua Langse di Selatan Yogyakarta. Dari pertemuan itu disebutkan bahwa kelak ia akan menguasai seluruh tanah jawa.

Sistem pemerintahan yang dianut kerajaan mataram islam adalah sistem Dewa-Raja. Artinya pusat kekuasaan tertinggi dan mutlak adaa pada diri sulta. Seorang sultan atau raja sering digambarkan memiliki sifat keramat, yang kebijaksanaannya terpacar dari kejernihan air muka dan kewibawannya yang tiada tara. Raja menampakkan diri pada rakyat sekali seminggu di alun-alun istana.
Selain sultan, pejabat penting lainnya adalah kaum priayi yang merupakan penghubung antara raja dan rakyat. Selain itu ada pula panglima perang yang bergelar Kusumadayu, serta perwira rendahan atau Yudanegara. Pejabat lainnya adalah Sasranegara, pejabat administrasi.
Dengan sistem pemerintahan seperti itu, Panembahan senopati terus-menerus memperkuat pengaruh mataram dalam berbagai bidang sampai ia meninggal pada tahun 1601. ia digantikan oleh putranya, Mas Jolang atau Penembahan Seda ing Krapyak (1601 – 1613).
Peran mas Jolang tidak banyak yang menarik untuk dicatat. Setelah mas jolang meninggal, ia digantikan oleh Mas Rangsang (1613 – 1645). Pada masa pemerintahannyalah Mataram mearik kejayaan. Baik dalam bidang perluasan daerah kekuasaan, maupun agama dan kebudayaan.
Pangeran Jatmiko atau Mas Rangsang Menjadi raja mataram ketiga. Ia mendapat nama gelar Agung Hanyakrakusuma selama masa kekuasaan, Agung Hanyakrakusuma berhasil membawa Mataram ke puncak kejayaan dengan pusat pemerintahan di Yogyakarta.
Gelar “sultan” yang disandang oleh Sultan Agung menunjukkan bahwa ia mempunyai kelebihan dari raja-raja sebelumnya, yaitu panembahan Senopati dan Panembahan Seda Ing Krapyak. Ia dinobatkan sebagai raja pada tahun 1613 pada umur sekitar 20 tahun, dengan gelar “Panembahan”. Pada tahun 1624, gelar “Panembahan” diganti menjadi “Susuhunan” atau “Sunan”.
Pada tahun 1641, Agung Hanyakrakusuma menerima pengakuan dari Mekah sebagai sultan, kemudian mengambil gelar selengkapnya Sultan Agung Hanyakrakusuma Senopati Ing Alaga Ngabdurrahman.

Karena cita-cita Sultan Agung untuk memerintah seluruh pulau jawa, kerajaan Mataram pun terlibat dalam perang yang berkepanjangan baik dengan penguasa-penguasa daerah, maupun dengan kompeni VOC yang mengincar pulau Jawa.
Pada tahun 1614, sultan agung mempersatukan kediri, pasuruan, lumajang, dan malang. Pada tahun 1615, kekuatan tentara mataram lebih difokuskan ke daerah wirasaba, tempat yang sangat strategis untuk menghadapi jawa timur. Daerah ini pun berhasil ditaklukkan. pada tahun 1616, terjadi pertempuran antara tentara mataram dan tentara surabaya, pasuruan, Tuban, Jepara, wirasaba, Arosbaya dan Sumenep. Peperangan ini dapat dimenangi oleh tentara mataram, dan merupakan kunci kemenangan untuk masa selanjutnya. Di tahun yang sama Lasem menyerah. Tahun 1619, tuban dan Pasuruan dapat dipersatukan. Selanjutnya mataram berhadapan langsung dengan Surabaya. Untuk menghadapi surabaya, mataram melakukan strategi mengepung, yaitu lebih dahulu menggempur daerah-daerah pedalaman seperti Sukadana (1622) dan Madura (1624). Akhirnya, Surabaya dapat dikuasai pada tahun 1625.
Dengan penaklukan-penaklukan tersebut, Mataram menjadi kerajaan yang sangat kuat secara militer. Pada tahun, 1627, seluruh pulau jawa kecuali kesultanan Banten dan wilayah kekuasaan kompeni VOC di Batavia ttelah berhasil dipersatukan di bawah mataram. Sukses besar tersebut menumbuhkan kepercayaan diri sultan agung untuk menantang kompeni yang masih bercongkol di Batavia. Maka, pada tahun 1628, Mataram mempersiapkan pasukan di bawah pimpinan Tumengggung Baureksa dan Tumenggung Sura Agul-agul, untuk menggempur batavia.
Sayang sekali, karena kuatnya pertahanan belanda, serangan ini gagal, bahkan tumengggung Baureksa gugur. Kegagalan tersebut menyebabkan matara bersemangat menyusun kekuatan yang lebih terlatih, dengan persiapan yang lebih matang. Maka pada pada 1629, pasukan Sultan Agung kembali menyerbu Batavia. Kali ini, ki ageng Juminah, Ki Ageng Purbaya, ki Ageng Puger adalah para pimpinannya. Penyerbuan dilancarkan terhadap benteng Hollandia, Bommel, dan weesp. Akan tetapi serangan ini kembali dapat dipatahkan, hingga menyebabkan pasukan mataram ditarik mundur pada tahun itu juga. Selanjutnya, serangan mataram diarahkan ke blambangan yang dapat diintegrasikan pada tahun 1639.

Di luar peranan politik dan militer, Sultan Agung dikenal sebagai penguasa yang besar perhatiannya terhadap perkembangan islam di tanah jawa. Ia adalah pemimpin yang taat beragama, sehingga banyak memperoleh simpati dari kalangan ulama. Secara teratur, ia pergi ke masjid, dan para pembesar diharuskan mengikutinya. Untuk memperkuat suasana keagamaan, tradisi khitan, memendekkan rambut bagi pria, dan mengenakan tutup kepala berwarna putih, dinyatakan sebagai syariat yang harus ditaati.
Bagi sultan Agung, kerajaan mataram adalah kerajaan islam yang mengemban amanat Tuhan di tanah jawa. Oleh sebab itu, struktur serta jabatan kepenghuluan dibangun dalam sistem kekuasaan kerajaan. Tradisi kekuasaan seperti sholat jumat di masjid, grebeg ramadan, dan upaya pengamanalan syariat islam merupakan bagian tak terpisahkan dari tatanan istana.

Sultan agung juga berprediksi sebagai pujangga. Karyanya yang terkenal yaitu kitab Serat Sastra Gendhing. Adapun kita serat Nitipraja digubahnya pada tahun 1641 M. Serat sastra Gendhing berisi tetang budi pekerti luhur dan keselarasan lahir batin. Serat Nitipraja berisi tata aturan moral, agar tatanan masyarakat dan negara dapat menjadi harmonis. Selain menulis, Sultan Agung juga memerintahkan para pujangga kraton untuk menulis sejarah babad tanah jawi.
Di antara semua karyanya , peran sultan agung yang lebih membawa pengaruh luas adalah dalam penanggalan. Sultan agung memadukan tradisi pesantren islam dengan tradisi kejawen dalam perhitungan tahun. Masyarakat pesantren biasa menggunakan tahun hijriah, masyarakat kejawen menggunakan tahun Caka atau saka. Pada tahun 1633, Sultan Agung berhasil menyusun dan mengumumkan berlakunya sistem perhitungan tahun yang baru bagi seluruh mataram. Perhitungan itu hampir seluruhnya disesuaikan dengan tahun hijriah, berdasarkan perhitungan bulan. Namun, awal perhitungan tahun jawa ini tetap sama dengan tahun saka, yaitu 78 m. Kesatuan perhitungan tahun sangat penting bagi penulisan serat babad. Perubahan perhitungan itu merupakan sumbangan yang sangat penting bagi perkembangan proses pengislaman tradisi dan kebudayaan jawa yang sudah terjadi sejak berdirinya kerajaan demak. Hingga saat ini, sistem penanggalan ala sultan Agung ini masih banyak digunakan.
Sejak masa sebelum sultan Agung pembangunan non-militer memang telah dilakukan. Satu yang layak disebut, panembahan Senopati menyempurnakan bentuk wayang dengan tatanan gempuran. Setelah zaman senopati, mas jolang juga berjasa dalam kebudayaan, dengan berusaha menyusun sejarah negeri demak, serta menulis beberapa kitap suluk. Misalnya Sulu Wujil (1607 M) yang berisi wejangan Sunan bonang kepada abdi raja majapahit yang bernama Wujil. Pangeran Karanggayam juga menggubah Serat Nitisruti (1612 m) pada masa mas jolang.

Menjelang akhir hayatnya. Sultan Agung menerapkan peraturan yang bertujuan mencegah perebutan tahta, antara keluarga raja dan putra mahkota. Di bawah kepemimpinan Sultan Agung, Mataram tidak hanya menjadi pusat kekuasaan, tapi juga menjadi pusat penyebaran islam.
Sultan agung meninggal pada Februari 1646. ia dimakamkan di puncak Bukit Imogiri, Bantul ,Yogyakarta. Selanjutnya, mataram diperintah oleh putranya, Sunan Tegalwangi, dengan gelar Amangkurat I ( 1646 – 1677). Dalam masa pemerintahan Amangkurat I, kerajaan mataram mulai mundur. Wilayah kekuasaan mataram berangsur-angusr menyempit karena direbut oleh kompeni VOC. Yang paling mengenaskan, pada tahun 1675, Rade Trunajaya dari Madura memberontak. Pemberontakannya demikian tak terbendung, sampai-sampai Trunajaya berhasil menguasai keraton Mataram yang waktu itu teletak di Plered. Amangkurat terlunta-lunta mengungsi, dan akhirnya meninggal di Tegal.
Sepeninggal Amangkurat I, Mataram dipegang oleh Amangkurat II yang menurunkan Dinasti Paku Buwana di Solo dan Hamengku Buwana di Yogyakarta. Amangkurat II meminta bantuan VOC untuk memadamkan pemberontakan Trunajaya.
Setelah berakhirnya Perang Giyanti (1755), wilayah kekuasaan mataram semakin terpecah belah. Berdasarkan perjanjian giyanti, mataram dipecah menjadi dua, yakni mataram sukrakarta dan mataram yogyakarta. Pada tahun 1757 dan 1813, perpecahan terjadi lagi dengan munculnya Mangkunegara dan pakualaman. Di masa pemerintahan Hindia Belanda, keempat pecahan kerajaan mataram ini disebut sebagai vorstenlanden.
Saat ini, keempat pecahan Kesultanan Mataram tersebut masih melanjutkan dinasti masing-masing. Bahkan peran dan pengaruh pecahan mataram tersebut, terutama kesultanan Yogyakarta masih cukup besar dan diakui masyarakat.

artikel di atas merupakan sejarah islam kerajaan mataram

sumber : Kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara, M. Hariwijaya, S. S., M.S.i.

Sejarah Kerajaan Majapahit

peta kerajaan majapahit

Berdirinya Kerajaan Majapahit

Ketika Singasari jatuh ke tangan Jayakatwang, Raden Wijaya (menantu
Kertanegara) lari ke Madura. Atas bantuan Arya Wiraraja, ia diterima kembali dengan baik oleh Jayakatwang dan diberi sebidang tanah di Tarik (Mojokerto).

Ketika tentara Kublai Khan menyerbu Singasari, Raden Wijaya berpura-pura membantu menyerang Jayakatwang. Namun, setelah Jayakatwang dibunuh, Raden Wijaya berbalik menyerang tentara Mongol dan berhasil mengusirnya. Setelah itu, Raden Wijaya mendirikan Kerajaan Majapahit (1293) dan menobatkan dirinya dengan gelar Sri Kertarajasa Jayawardhana.

Perkembangan politik kerajaan majapahit

1. Pemerintahan Raden Wijaya (Kertarajasa)

Untuk meredam kemungkinan terjadinya pemberontakan, Raden Wijaya (Kertarajasa) melakukan langkah-langkah sebagai berikut.

a) Mengawini empat putri Kertanegara dengan tujuan mencegah terjadinya perebutan kekuasaan antaranggota keluarga raja. Putri sulung Kertanegara, Dyah Sri Tribhuaneswari, dijadikan permaisuri dan putra dari pernikahan tersebut Jayanegara, dijadikan putra mahkota. Putri bungsu Kertanegara, Dyah Dewi Gayatri dijadikan Rajapatni. Dari putri ini, Kertarajasa memiliki dua putri, Tribhuwanatunggadewi Jayawisnuwardhani diangkat menjadi Bhre Kahuripan dan Rajadewi Maharajasa diangkat menjadi Bhre Daha. Adapun kedua putri Kertanegara lainnya yang dinikahi Kertarajasa adalah Dyah Dewi Narendraduhita dan Dyah Dewi Prajnaparamita. Dari kedua putri ini, Kertarajasa tidak mempunyai putra.

b) Memberikan kedudukan dan hadiah yang pantas kepada para pendukungnya, misalnya, Lurah Kudadu memperoleh tanah di Surabaya dan Arya Wiraraja diberi kekuasaan atas daerah Lumajang sampai Blambangan. Kepemimpinan Kertarajasa yang cukup bijaksana menyebabkan kerajaan menjadi aman dan tenteram. Ia wafat pada tahun 1309 dan dimakamkan di Sumping (Blitar) sebagai Syiwa dan di Antahpura (dalam kota Majapahit) sebagai Buddha. Arca perwujudannya adalah Harikaya, yaitu Wisnu dan Syiwa digambarkan dalam satu arca. Penggantinya adalah Jayanegara.

2.  Pemerintahan Jayanegara

Masa pemerintahan Jayanegara dipenuhi pemberontakan akibat kepemimpinannya  kurang berwibawa dan kurang bijaksana. Pemberontakan-pemberontakan  itu sebagai berikut.

a) Pemberontakan Ranggalawe pada tahun 1231. Pemberontakan ini dapat  dipadamkan pada tahun 1309.

b) Pemberontakan Lembu Sora  pada tahun 1311.

c) Pemberontakan Juru Demung  (1313) disusul Pemberontakan  Gajah Biru.

d) Pemberontakan Nambi pada tahun  1319. Nambi adalah Rakryan  Patih Majapahit sendiri.

e) Pemberontakan Kuti pada  tahun 1319. Pemberontakan ini  adalah yang paling besar dan berbahaya. Kuti berhasil menduduki ibu kota  kerajaan sehingga Jayanegara terpaksa melarikan diri ke daerah Bedander. Jayanegara kemudian dilindungi oleh pasukan Bhayangkari pimpinan Gajah Mada. Berkat kepemimpinan Gajah Mada, Pemberontakan Kuti dapat
dipadamkan.

Namun, meskipun berbagai pemberontakan tersebut berhasil dipadamkan, Jayanegara justru meninggal akibat dibunuh oleh salah seorang tabibnya yang bernama Tanca. Ia lalu dimakamkan di candi Singgapura di Kapopongan.

3.  Pemerintahan Tribhuwanatunggadewi

Oleh karena Jayanegara tidak berputra, sementara Gayatri sebagai Rajapatni telah menjadi biksuni, takhta Kerajaan Majapahit diserahkan kepada Tribhuwanatunggadewi Jayawisnuwardhana (1328 – 1350) yang menjalankan pemerintahan dibantu suaminya, Kertawardhana. Masa pemerintahan Tribhuwanatunggadewi diwarnai permasalahan dalam negeri, yakni meletusnya Pemberontakan Sadeng. Pemberontakan ini dapat dipadamkan oleh Gajah Mada yang pada saat itu baru saja diangkat menjadi Patih Daha.

4. Pemerintahan Hayam Wuruk

Tribhuwanatunggadewi terpaksa turun takhta pada tahun 1350 sebab Rajapatni Dyah Dewi Gayatri wafat. Penggantinya adalah putranya yang bernama Hayam Wuruk yang lahir pada tahun 1334. Hayam Wuruk naik takhta pada usia 16 tahun dengan gelar Rajasanegara. Dalam menjalankan pemerintahan, ia didampingi oleh Mahapatih Gajah Mada.

foto gajah mada
Dalam kitab Negarakertagama disebutkan bahwa pada zaman Hayam Wuruk, Kerajaan Majapahit mengalami masa kejayaan dan memiliki wilayah yang sangat luas. Luas kekuasaan Majapahit pada saat itu hampir sama dengan luas negara Republik Indonesia sekarang. Namun, sepeninggal Gajah Mada yang wafat pada tahun 1364, Hayam Wuruk tidak berhasil mendapatkan penggantinya yang setara. Kerajaan Majapahit pun mulai mengalami kemunduran.

Kondisi Majapahit berada di ambang kehancuran ketika Hayam Wuruk juga wafat pada tahun 1389. Sepeninggalnya, Majapahit sering dilanda perang saudara dan satu per satu daerah kekuasaan Majapahit pun melepaskan diri. Seiring dengan itu, muncul kerajaan-kerajaan Islam di pesisir.  Pada tahun 1526, Kerajaan Majapahit runtuh setelah diserbu oleh pasukan Islam dari Demak di bawah pimpinan Raden Patah.

Struktur pemerintahan Kerajaan Majapahit

Dalam struktur pemerintahan di Majapahit, raja dianggap sebagai penjelmaan dewa dan memegang kekuasaan tertinggi dalam pemerintahan. Roda pemerintahan dijalankan raja dibantu oleh putra raja, kerabat raja, dan beberapa pejabat pemerintah.

Sebelum menduduki jabatan raja, putra mahkota biasanya diberi kekuasaan sebagai raja muda (Rajakumara atau Yuwaraja). Contohnya, sebelum dinobatkan menjadi raja, Hayam Wuruk lebih dahulu diangkat sebagai Rajakumara yang berkedudukan di Jimna.

Raja juga dibantu oleh dewan pertimbangan kerajaan atau Bhatara Saptaprabu. Tugas lembaga ini adalah memberikan pertimbangan-pertimbangan kepada raja. Anggota dewan ini adalah para sanak saudara raja. Untuk masalah-masalah keagamaan, raja dibantu oleh dewan yang disebut Dharmadyaksa. Dharmadyaksa ri Kasainan bertugas menangani urusan agama Syiwa dan Dharmadyaksa ri Kasogatan bertugas menangani urusan agama Buddha. Para pejabat keagamaan ini dibantu oleh 7 Dharma Upapati, yaitu Sang Panget i Tirwan, i Kandamulri, i Mangkuri, i Paratan, i Jambi, i Kandangan Rase, dan i Kandangan Atuha. Selain sebagai pejabat keagamaan, mereka juga merupakan kelompok cendekiawan

Kehidupan kebudayaan Kerajaan Majapahit

Zaman Majapahit menghasilkan banyak karya sastra. Periodisasi sastra masa Majapahit dibedakan menjadi dua, yaitu sastra zaman Majapahit awal dan sastra zaman Majapahit akhir.
Karya sastra zaman Majapahit awal adalah kitab Negarakertagama karangan Mpu Prapanca (1365), kitab Sutasoma karangan Mpu Tantular, kitab Arjuna Wiwaha karangan Mpu Tantular, kitab Kunjarakama (anonim), dan kitab Parthayajna (anonim).

Karya sastra zaman Majapahit akhir ditulis dengan bahasa Jawa dalam bentuk tembang (kidung) dan gancaran (prosa). Karya-karya sastra pada zaman ini adalah kitab Pararaton yang berisi tentang riwayat raja-raja Majapahit, kitab Sundayana berisi tentang Peristiwa Bubat, kitab Surandaka menceritakan tentang Pemberontakan Sora di Lumajang, kitab Ranggalawe tentang Pemberontaan Ranggalawe dari Tuban, kitab Panji Wijayakrama berisi tentang riwayat Raden Wijaya, kitab Vsana Jawa menceritakan tentang penaklukkan Bali oleh Gajah Mada, kitab Usana Bali mengisahkan tentang kekacauan Bali akibat keganasan Maya Danawa, kitab Pamancangah, kitab Panggelaran, kitab Calon Arang, dan kitab Korawasrama.

Jenis peninggalan kebudayaan yang lain dari Kerajaan Majapahit adalah candi. Candi-candi peninggalan Majapahit, antara lain, candi Sumberjati, candi Sanggapura, candi Panataran, dan candi Pari di dekat Porong. Candi Pari memiliki keistimewaan, yaitu arsitekturnya memperlihatkan adanya langgam bangunan dari Campa.

 

Runtuhnya Kerajaan Majapahit

Kemunduran Majapahit berawal sejak wafatnya Gajah Mada pada tahun 1364. Hayam Wuruk tidak dapat memperoleh ganti yang secakap Gajah Mada. Jabatan-jabatan yang dipegang Gajah Mada (semasa hidupnya, Gajah Mada memegang begitu banyak
jabatan) diberikan kepada tiga orang. Setelah Hayam Wuruk meninggal pada tahun 1389 Majapahit benar-benar mengalami kemunduran.

Beberapa faktor penyebab kemunduran Majapahit sebagai berikut.
a. Tidak ada lagi tokoh di pusat pemerintahan yang dapat mempertahankan kesatuan wilayah setelah Gajah Mada dan Hayam Wuruk meninggal.

b. Struktur pemerintahan Majapahit yang mirip dengan sistem negara serikat pada masa modern dan banyaknya kebebasan yang diberikan kepada daerah memudahkan wilayah wilayah jajahan untuk melepaskan diri begitu diketahui bahwa di pusat pemerintahan sedang kosong kekuasaan.

c. Terjadinya perang saudara, di antaranya yang terkenal adalah Perang Paregreg (1401 – 1406) yang dilakukan oleh Bhre Wirabhumi melawan pusat Kerajaan Majapahit. Bhre Wirabhumi diberi kekuasaan di wilayah Blambangan. Namun, ia berambisi untuk menjadi raja Majapahit. Dalam cerita rakyat, Bhre Wirabhumi dikenal sebagai Minakjingga yang dikalahkan oleh Raden Gajah atau Damarwulan. Selain perang saudara, terjadi juga usaha memisahkan diri yang dilakukan Girindrawardhana dari Kediri (1478).

d. Masuknya agama Islam sejak zaman Kerajaan Kediri di Jawa Timur menimbulkan kekuatan baru yang menentang kekuasaan Majapahit. Banyak bupati di wilayah pantai yang masuk Islam karena kepentingan dagang dan berbalik melawan Majapahit.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.