Gotong royong adalah tradisi masyarakat Jawa yang telah berjalan secara turun-temurun di dalam kehidupan budaya masyarakat Jawa. Gotong royong memiliki bentuk dan perwujudan yang berbeda-beda, sesuai dengan kondisi dan situasi lingkungan kehidupan sosialnya. Adalah sebagai bagian dari latar belakang penulis mengadakan penelitian tentang tradisi gotong royong, dalam wawasan aspek pendidikan, lokasi di Desa Dersansari dipilih demi praktisnya karena merupakan tempat inggal penelitian.
Penelitian ini menggunakan metode historis, yaitu suatu cara pemecahan masalah yang didasarkan atas gejala atau peristiwa amasa lampau. Prosedur dari metode ini meliputi pengumpulan dan penafsiran terhadap gejala, peristiwa atau gejala yang merupakan gagasan yang timbul di masa lampau, untuk menemukan generalisasi yang berguna dalam usaha memahami perkembangan yang akan datang. Objek penelitiannya adalah tradisi gotong royong masyarakat Jawa, sedang lokasi penelitian adalah Desa Dersansari Kecamatan Suruh Kabupaten Dati II Semarang.
Analisis dalam penelitian ini dengan teknis hermeneutika, yang memiliki dua aspek yakni memahami dan menjelaskan. Jadi pesan yang disampaikan merupakan sasaran hermeneutika, bukan wadah-wadah pesan yang menjadi perhatian primernya. Pemahaman itu bagi dirinya sendiri sedang penjelasan untuk orang lain. Analisis penelitian ini meliputi, wujud, latar belakang, manfaat, tujuan, pelaksanaan, dan persepsi masyarakat terhadap tradisi gotong royong serta nilai-nilai pendidikan tradisi gotong royong.
Setelah dilakukan analisis, peneliti mendapatkan kesimpulan dari penelitian ini sebagai berikut : Bahwa persepsi masyarakat Desa Dersansari terhadap gotong royong adalah baik dengan menyadari betul akan arti pentingnya bagi hidup bersama. Bahwa perwujudan gotong royong dengan seluruh klasifikasinya masih terlaksana yang didasari atas kesadaran bersama, yang meliputi kepentingan, sifat dan bentuk munculnya tradisi gotong royong dikarenakan adanya rasa sosial dan rasa saling ketergantungan dalam kehidupan sehari-hari di dalam masyarakat. Nilai pendidikan yang dapat diambil dari tradisi gotong royong ada dua, yaitu nilai pendidikan sosial dannilai pendidikan religius, yang berwujud solidaritas sosial tolong menolong, bantu membantu, rasa persatuan dan kesatuan serta adanya kesadaran masyarakat untuk berketuhanan dengan sesaji, kenduri, selametan, dan sebagainya sebagai wujud pendidikan relegius.