JEMBATAN UMAT, ULAMA DAN UMARA
Angka nomer 13, nomer sial? Tidak usah dipercaya, sebab nomer itu sama halnya dengan nomer urut yang salin, seperti satu, dua, tiga dan seterusnya. Angka 13 juga bukan angka keberuntungan. Untung atau rugi tergantung pada usaha pribadi masing-masing orang disertai iman dan tawakal pada Allah. Orang yang mengatakan angka 13 adalah angka sial, akan gagal mendapatkan konklusi, apalagi ketika berhadapan dengan Tarmizi Taher yang menjadi Menteri ke-13 pda Kabinet Pembangunan VI. Berbicara tentang Tarmizi Taher justru akan menemukan keberuntungan-keberuntungan. Untung ia seorang mubaligh, untung ia dokter, untung ia tentara, untung ia menteri agama dan seterusnya.
Apakah keberuntungan karena ia mendapat angka 13? Bukan juga, karena keberuntungan yang ia dapatkan adalah hasil jerih payah dari usaha yang teramat panjang dan terus-menerus. Bahkan itu semua merupakan upaya tak kenal lelah dari orang tuanya sejak jaman penjajahan.
Mari kita lihat upaya ayah Tarmizi Taher, Taher Marah Sutan dan ibunya Djawanish yang berusaha membawa dan menjadikan Tarmizi Taher seorang yang berguna di masa mendatang. Pada masa sulit (masa penjajahan) dimana lazimnya mesyarakat pribumi melahirkan anak di rumah dengan bantuan dukun beranak, tapi tidak bagi Tarmizi Taher yang dilahirkan di rumah sakit. Suatu hal yang jarang terjadi di mas penjajahan. Melahirkan di rumah sakit merupakan upaya orang tuanya agar anaknya tidak menjadi manusia kelas dua, tapi manusia yang sama derajatnya dengan yang lain termasuk bangsa Eropa sekalipun.
Tarmizi Taher lahir 7 Oktober 1936 di Padang, Sumatera Barat di Rumah Sakit Ibu an Anak (sekarang rumah skit tentara). Tarmizi Taher anak kedua dari 7 bersaudara, kakaknya Tabrani (Alm), adik-adiknya Kartini, Thamrin, Tnzil, Farida dan Ladianis. Dilihat dari nama-nama saudaranya, orang tua Tarmizi Taher berupaya mengaitkan nama anak-anaknya dengan tokoh pergerakan. Itu merupakan langkah orang tua Tarmizi Taher agar anaknya berguna bagi nusa, bangsa dan agama kelak. Bukankah nama dalam ajaran Islam sama dengan do’a? maka nama yng bik sama dengan do’a?
Tarmizi Taher memang anak beruntung dibandingkan anak sebayanya di kala itu. Sebab ia sampi kini masih menyimpan catatan tentang masa balitanya yang dicatat oleh ayahnya. Ayahnya sangat teliti dan cermat dalam mencatat segala sesuatu tentang anak-anaknya. Tanggal Tarmizi Taher dilhirkan, bisa merangkak, kapan tumbuh gigi dan lain-lain semuanya ada dalam catatan Taher Marah Sutan.
Sikap dan sifat Tarmizi Taher yang toleran dan lebih suka mengambil jalan tengah merupakan sikap kompromi yang diperoleh daripengalaman sepanjang hidupnya. Hal itu bisa diruntut dari sikap dan cita-cita ayahnya yang berjiwa nasionalis serta memiliki intelektulitas tinggi, sementara ibunya adalah seorang mubalighah yang tekun mempelajari agama.
Sebagai orang terpelajar, Taher Marah Sutan menginginkan Tarmizi Taher menjadi seorang dokter, sedangkan ibunya mengharapkan ia menjadi tokoh agama. Sementara Tarmizi Taher sendiri bercita-cita menjadi tentara. Dari semua itu Tarmizi Taher mengambil jalan tengah, dengan melaksanakan ketiga-tiganya. Maka ia benar-benar menjadi dokter, setelah menamatkan kulian di Universitas Airlangga, kemudian ia masuk TNI Angkatan Laut dengan pangkat terakhir Laksamana Muda, dan terakhir ia tidak hanya menjadi mubaligh dan ahli agama, tapi Menteri Agama pada Kabinet Pembangunan VI.
Semangat untuk menekuni agama dan memiliki jiwa kejuangn sudah diwarisi kakeknya. Sebab, ayah Tarmizi Taher, Taher Marah Sutan adalah satu-satunya putra dari Tengku Syekh Sabir. Kakek Tarmizi Taher yang berasal dari Batusangkar tersebut adalah seorang ulama yang dikenal pandai berbicara dan selalu memukau saat berceramah, sehingga digelari “Syekh Berbulu Lidah”.
Taher Marah Sutan memang mendidik Tarmizi Taher untuk tidak rendah diri. Namun bukan berarti harus tinggi hati apalagi sombong. Taher menginginkan Tarmizi Taher berlaku adil, tapi juga mampu menuntut keadilan. Pada saat orang-orang Belanda waktu itu memanggil orang tuanya dengan “Papi” dan “Mami”, Tarmizi Taher merasa berhak pula memanggil orang tuanya dengan sebutan yang sama.
Taher memang tidak mau dianggap bangsa rendah oleh penjajah. Maka ia menyekolahkan anak-anaknya bersama anak-anak Belanda. Jika bepergian, Taher waktu itu naik kereta api dengan memilih gerbong yang diisi penumpang orang Belanda. Itu menunjukkan bahwa ia bukan dari bangsa yang rendah.
Taher menanamkan semangat kebangsaan, semangat belajar dan menuntut ilmu setinggi-tingginya kepada anak-anaknya. Sikap mental penjuang, mandiri, tidak merendahkan diri dan martabat, sudah ditanamkan sejak dini. Taher tidak suka anaknya menjadi seorang penghamba dan bermental anak jajahan. Bagi Taher, semua manusia punya derajat yang sama dari manapun suku dan bangsanya.
Semangat nasionalisme diajarkan Taher kepada Tarmizi dengan menyuruhnya mendengarkan pidato para pemimpin nasional pada masa perjuangan tahun 1947-1950. Taher bangga akan anak-anaknya tapi ia tidak mau memuji langsung saat anak-anaknya mendapat suatu penghargaan atau berhasil dalam melakukan sesuatu. Hal itu agar anak tidak menjadi seorang yang sombong atau sok pintar.
Masa kecil Tarmizi Taher diarahkan untuk banyak belajar di sekolah. Karena itu, Taher Marah Sutan tidak menyukai anaknya mencari uang saat masih sekolah dasar. Ketika masih SD, Tarmizi Taher pernah mencoba mendapatkan pengalaman kerja, yaitu di sebuah pabrik rokok, dengan aktivitas menggulung-gulung rokok. Mengetahui kerja anaknya, Taher Marah Sutan mengadukan perusahaan rokok tersebut ke polisi karena telah mempekerjakan anak di bawah umur.
Sementara ketika di SMP, Tarmizi Taher sempat pula dijadikan sebagai tukang pengambil bola tenis saat para guru bermain tenis. Hal ini dinilai Taher sngat tidk mendidik, karena mempermalukan murid sebagai suruhan atau pembantu. Lantas ayah Tarmizi Taher memberikan surat ke sekolah, mengingatkan sang guru bahwa harga sebuah kemerdekaan sangatlah mahal dan karena itu jangan dijadikan murid-murid sebagai budak.
Pengaruh Djawanis, ibu Tarmizi Taher juga sangat besar, terutama dalam upaya mendalami agama. Masa kecil bagi Tarmizi Taher adalah masa yang paling dekat bersama ibunya. Djawanis yang dalam bahasa Arab berarti Wanita Jawa sering membawa Tarmizi Taher saat berdakwah ke berbagai tempat. Sebagai seorang mubalighah dan sekaligus ketua Aisyiah, Djawanis banyak diundang untuk melakukan ceramah agama. Tarmizi kecil sering tertidur di belakang podium, saat ibunya tengah menyampaikan seruan amar ma’ruf nahi munkar. Kenangan terhadap ibunya inilah yang sangat membekas di hati Tarmizi, agar suatu waktu kelak ia bisa pula mendalami agama Islam dan menjadi juru dakwah.
Pada masa kanak-kanak, Tarmizi sudah pernah unjuk kebolehan berpidato di depan orang dewasa. Waktu itu di kampung, di Padang Panjang, dalam suatu acara Kiai yang harus memberi ceramah berhalangan hadir. Sementara warga sudah banyak yang berdatangan sehingga membuat resah panitia. Melihat gelagat yang demikian, kepala kampung mencoba ikut berpidato tapi tidak menarik perhatian hadirin.
Untuk menenangkan keadaan, Tarmizi yang dikenal anak ibu Djawanis, mubalighah yang populer saat itu, didaulat untuk berpidato. Tarmizi Taher mau saja, walau di podium ia harus berdiri di atas bangku agar wajahnya bisa terlihat. Ternyata pidato Tarmizi kecil lebih mengundang tepuk tangan ketimbang pidato kepala kampung.
Di sekolah dasar pun Tarmizi juga pernah tampil berpidato, membawakan tema tentang kemerdekaan dan kebangkitan nasional. Pidato Tarmizi Taher yang teksnya dibuat oleh guru itu juga banyak mendapat pujian karena mampu menggungah hadirin.
Untuk lebih mendalami ilmu agama, ketika masih bersekolah dasar di Padang Panjang, orang tua Tarmizi Taher mengundang guru ngaji untuk pendidikan agama anak-anaknya. Salah seorang guru ngajinya yang dipanggil Pak Yunif adalah orang yang pernah tinggal di Timur Tengah. Tarmizi memang mendapatkan ilmu agama di luar sekolah formal, karena sejak TK hingga perguruan tinggi menempuh pendidikan di sekolah umum. Karena itu sampai saat ini, Tarmizi Taher tidak mau mendaulat dirinya sebagai seoarang kyai atau ulama. Tarmizi lebih suka disebut sebagai mubaligh atau juru dakwah.
Keberanian Tarmizi Taher ternyata memang sudah terlatih sejak kecil, karena dia suka berkelahi. Meskipun masa kecilnya termasuk nakal, namun Tarmizi Taher termasuk anak yang cerdas dan cerdik. Pendidikan SD ditempuh Tarmizi Taher pada tahun 1943 sampai 1949 di tiga tempat. Pada 1945, Tarmizi Taher sekolah di Padang tempat sekolahnya Mohammad Yamin. Ketika perang meletus di Padang (1946-1947) yang mengakibatkan walikota Padang tewas ditembak Belanda, Tarmizi Taher dan keluarga pindah ke Padng Panjang. Tarmizi Taher menempuh Sekolah Menengah Pertama (SMP) tahun 1949 sampai 1952. Awal SMP, Tarmizi Taher di Padang Panjang, kemudian pindah ke Jakarta dan duduk di bangku SMP N 4 yang kini masih terletak di Jl. Perwira samping gedung Departemen Agama Pusat, Lapangan Banteng. Tamat SMP N 4, Tarmizi masuk SMA N 1 (1952) di Jl. Budi Utomo yang terkenal dengan sebutan Boedoet.
Tarmizi Taher tinggal di Jakarta bersama pamannya Ahmad Syafei, di daerah Kwitang Jakarta Pusat. Walau tinggal bersama paman, ayahnya tetap membiayai Tarmizi Taher dengan mengirimkan wesel ke tempat ia belajar. Dari pamannya, Tarmizi Taher banyak ditanamkan sifat adil, jujur dan berani berterus terang. Ahmad Syafei di Jakarta bergerak dalam bidang percetakan dan ketika ia harus mempimpin percetakan Rahman Tamin di Surabaya 91955), ia bersama keluarga, termasuk Tarmizi diboyong ke kota pahlawan tersebut. Tarmizi kemudian masuk SMA 2 Jl. Wijaya Kusuma, kelas III.
Sat bersekolah SMA di Surabaya ini, Tarmizi Taher berteman dengan Try Sutrisno (mantan wakil presiden RI). Keduany stu sekolah, hanya beda kelas, Tarmizi Taher kelas III B-5 dan Try Sutrisno kelas B-2. Sama dengan SMA Boedoet Jakarta, SMA 2 Wijaya Kusuma Surabaya juga sekolah favorit. Tamat SMA, Tarmizi Taher dan Try Sutrisno berpisah, karena Tarmizi melanjutkan ke Fakultas Kedikteran Universitas Airlangga Surabaya, sedangkan Try Sutrisno masuk Atekad (Akademi Teknik Angakatan Darat) di Bandung.
Tarmizi Taher adalah aktivis kampus yang gigih menhadapi komunis. Tokoh yang termasuk angkatan ’66 ini, saat menjadi mahasiswa Fakultas Kedokteran Unair Surabaya (1956-1964), pernah menjabat Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa (1962-1963). Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ketua I Dewan Mahasiswa Unair (1963-1964). Saat menjadi aktivis, Tarmizi Taher adalah seorang mahasiswa yang sangat anti komunis atau PKI. Karena itu ia termasuk orang yang gigih dalam operasi penumpasan Gerakan 30 S PKI. Saat pertemuan dewan-dewan mahasiswa se-Indonesia di Malino, Sulawesi Selatan tahun 1964, Tarmizi Taher gigih membela rekan-rekannya yang berasal dari kalangan HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) dalam berhadapan dengan CGMI (Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia) yang berafiliasi dengan PKI.
Saat kulian di FK Unair, selalu mengikuti aktivitas kampus, Tarmizi Taher juga terus mempelajri agama secara sendiri dengan membaca buku-buku agama. Masalah agama ia perdalam setelah masuk TNI angkatan Laut. Tarmizi Taher makin banyak belajar agama, setelah ia tanpa disangka disuruh menggantikan Buya Ghafar Ismail untuk menyampaikan khotbah Idul Adha di masjid Mujahidin Surabaya tahun 1965.
Waktu itu Buya Ghafar, ayahanda penyair Taufik Ismail, yang seharusnya menjadi khotib berhalangan hadir dan meminta Tarmizi Taher menggantikannya. Permintaan itu seperti mirip pengalaman masa kecil Tarmizi Taher ketika di kampung disuruh berpidato karena penceramah yang sesungguhnya tidak bisa hadir, akhirnya Tarmizi Taher tampil dengan tidak mengecewakan.
Guru agama yang sangat mempengaruhi Tarmizi Taher dalam ilmu agama adalah Umar Hubeys yang saat itu menjadi ketua umum Al Irsyad. Ketika itu, Tarmizi Taher sudah dinas di Angkatan Laut di Moro Krembangan, Surabaya. Dari Umar Hubeys, Tarmizi Taher belajar Al Qur’an. Kemauan belajar Tarmizi Taher memang luar biasa. Selama beberapa tahun, setelah sholat Shubuh ia langsung keluar rumah. Dalam perjalanan ke kantor, ia menyinggahi rumah Umar Hubeys untuk belajar agama. Waktu belajarnya sekitar pukul 05.00 – 06.30 dan pada pukul 07.00 Tarmizi Taher sudah berada di kantornya di satuan Kesehatan TNI Angkatan Laut. Belajar tafsir Al Qur’an ini dilakukan Tarmizi Taher antara tahun 1965 – 1968.
Ilmu agama yang didapat Tarmizi Taher semasa kecil yng kemudian ia tekuni terus setelah perguruan tinggi dan masa awal di TNI Angkatan Lut, ternyata memang mengarahkan aktivitasnya dalam dunia dakwah. Ia sering ikut dalam pelayaran, ikut dalam kapal RI sebagai kepala Departemen Kesehatan. Tarmizi Taher pernah pula mempunyai pengalaman mendampingi jemaah haji, tepatnya saat ia mengikuti KRI Halmahera (1964 – 1965) yang mendapat tugas membawa jemaah haji ke tanah suci.
Walau awalnya tetap sibuk dalam dunia kesehatan TNI Angkatan Laut, pada pertengahan karirnya, Tarmizi Taher juga banyak melibatkan diri pada masalah pembinaan mental personal ABRI. Bicara soal pembinaan, tentu saja tidak lepas dari masalah pembinaan dalam soal agama. Tahun 1979 – 1980, Tarmizi Taher malah dipercaya sebagai Kepala Dinas Pembinaan Mental TNI AL. Dinilai sukses, Tarmizi Taher kemudian diangkat sebagai Wakil Kepala Pust Pembinaan Mental atau Pusbital (1979 – 1980) dan kemudian menjadi Kepala Asbintal ABRI (1982 – 1987). Tahun 1987, Tarmizi Taher diangkat menjadi Sekjen Departemen Agama dan kemudian diangkat menjadi Menteri Agama tahun 1993.
Meskipun menjadi Menteri, Tarmizi Taher mengaku masih melakukan profesinya sebagai dokter. Bahkan selama menjabat Sekjen Departemen Agama, ia masih setia melakukan fungsi dokter di sebuah perusahaan minyak asing di Kuningan Plaza, Jakarta. Tarmizi Taher lulus dari Fakultas Kedokteran Unair (1964). Kemudian bekerja sebagai dokter ngkatan Laut, selanjutnya memimpin rimah skit Angkatan Laut di Tanjung Pinang. Pada tahun 1972, ia mendapatkan kesempatan studi di Pusat Kesehatan angkatan Laut Amerika di San Diego, California dan Pusat Kesehatan AL di Washington dengan penekanan di bidang kesehatan preventif dan manajemen kesehatan.
Beristrikan Ny. Djoesma Tarmizi, putri Ranah Minang kelahiran 13 Juli 1940 ini, Tarmizi Taher memiliki empat orang anak. Keempat anaknya bernama Affan (lahir di Surabaya, 16 September 1965), Sakina (Surabaya, 10 Oktober 1966), Halbana (Tanjung Pinang, 19 November 1968), dan Dirgantoro (Jakarta, 13 Januari 1974). Affan dan Halbana menempuh pendidikan tinggi di Aachen, Jerman, Sakina di IPB dan yang bungsu di Fakultas Ekonomi UI. Dari perkawinan Sakina dengan Dr. Eka Swabhanwa Uttama, putra Dr. Ngesti Oetomo, Tarmizi – Djoesma dikarunia 2 orang cucu.
Sifat Tarmizi Taher ternyata tidak berbeda dengan sifat-sifat orang-orang Minang pada umumnya, suka berbicara. Kalau berpidato di atas mimbar, berdiskusi atau berbincang-bincang, ia sangat terbuka dan blak-blakan. Bahkan berpidato di depan presiden Soeharto, Tarmizi Taher sering keluar teks pidato yang disiapkan. Istimewanya, Tarmizi Taher hafal nama orang perorang, baik nama-nama stafnya, maupun lawan bicaranya. Sehingga, saat bertegur sapa dengan seseorang, ia selalu memanggil nama lawan bicaranya tersebut.
Itulah Tarmizi Taher, anak berbakat dari Sumatera Barat yang terpelihara pendidikannya sejak kecil. Sejak usia belia sudah diajar untuk mengerti arti perjuangan, arti keadilan, kebenaran dan kebaikan, maka di usia dewasa bisa berlaku bijaksana, kompromistis bisa menjadi jembatan yang menjembatani umat, ulama dan umara. Ia memang lebih suka memilih jalan tengah.
DARI TEBUIRENG SAMPAI ISTANA NEGARA
Boleh saja orang mengatakan Abdurrahman Wahid itu kiai mbeling atau ugal-ugalan. Namun, kenyataannya, di mata warga Nahdiyin ia seorang imam yang kharismatik dan terpercaya. Bahkan ada yang menganggapnya setengah wali. Maka, betapapun kontroversialnya, Gus Dur tetap berakar. Dia yang dibesarkan di lingkungan Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang pernah dinobatkan sebagai Presiden Konferensi dunia bagi Agama dan Perdamaian. Dia juga termasuk anggota Dewan Pendiri Shimon Peres Peace Center di Tel Aviv, Israel.
Hasil poling sebuah koran terbitan Jakarta terhadap 1.158 responden di Jakarta, Surabaya, Medan dan Ujungpandang menyimpulkan Gus Dur memiliki kemampuan mengatasi berbagai persoalan yang dihadapi bangsa saat ini. Ada tiga kelebihan utama Gus Dur yang diakui responden. Pertama, aspek pembawaannya yang kharismatik dan kemampuan dalam komunikasi politik. Kedua, memiliki dukungan dari rakyat dan diakui sebagai sosok pemersatu. Ketiga, ia dianggap sebagai tokoh yang religius sekaligus pemimpin umat.
Kekurangannya, di mata responden, yang paling menonjol adalah kelemahan fisiknya. Sebelum Sidang Umum MPR, dia menjalani operasi mata di RS Morran South Lake City, Amerika Serikat. Gus Dur menyatakan, hasil tes kesehatan matanya oleh tim dokter Jerman dan Swedia kini sedang dipelajari tim dokter amerika Serikat. Dan, kabar dari tim dokter itu menyebutkan, masih ada harapan bagi putra mantan Menteri Agama KH Wahid Hasyim itu untuk bisa melihat kembali. Diagnosa itulah yang dijadikannya bekal maju sebagai calon presiden.
Dalam sebuah pertemuan, Gus Dur sempat melontarkan guyonan. Dia bertanya kepada tim dokter Jerman, adakah kemungkinan penglihatannya pulih kembali, karena hendak dicalonkan sebagai presiden oleh partainya? Dan tim dokter pun menjawab, tipis sekali kemungkinannya. “Ya sudah, nggak apa-apa. Wong tidak jadi presiden saja, semua presiden datang pada saya. Biarlah saya jadi presidennya para presiden.”
Kekurangan Gus Dur yang lain responden menilai dalam bersikap dia seringkali plin plan dan tidak tegas. Menurut pengamat politik Hasnan Habib, dalam politik itu ceplas-ceplos itu kadang-kadang nggak baik. Jadi harus hati-hati. Gus Dur sering menyatakan, “peduli amat orang lain.” Itu ndak bisa. Pemimpin itu melayani rakyat. Memang dia diterima kalangan minoritas. “Karena dia bisa the man who can say no wrong,” kata Habib.
Namanya mencuat ketika dalam Muktamar NU ke-26 tahun 1979 di Semarang terpilih menjadi Katib Aam Pengurus Besar Naddlatul Ulama (PBNU). Lima tahun kemudian dalam Muktamar ke-27 tahun 1984 di Asembagus Situbondo terpilih menjadi Ketua Umum bersama Rois Aam KH Achmad Sidiq. Pada waktu itu pemilihan pengurus tidak dilakukan melalui voting maupun tim formatur, melainkan diserahkan KH As’ad Syamsul Arifin yang ditunjuk sebagai ahlul halli wal aqdi. Dalam muktamar tersebut dicetuskan keputusan mendasar, yaitu “Kembali ke Khittah 1926”. Artinya, Nahdlatul Ulama yang semula malang melintang dalam dunia politik back to basic menjadi organisasi sosial kemasyarakatan. Namun demikian, bukan berarti NU mengharamkan Nahdliyin berpolitik.
Muktamar tersebut juga sangat strategis sebab dijadikan landasan acuan berpikir, bersikap dan bertindak yaitu sikaptawasuth dan i’tidal 9berlaku adil), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang) dan amar makruf nahi munkar 9menyeru berbuat kebaikan dan menjauhi segala kemungkaran). Dalam mukmatar ke-28 di Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta, secara aklamasi Gus Dur terpilih kembali. Bahkn untuk ketiga kalinya dlam Muktamr ke-29 di Pondok Pesantren Cipasung Tasikmalaya, Jawa Barat awal Desember 1994 dia terpilih lagi menjadi Ketua Umum PBNU hingga sekarang. Muktamar inilah yang paling krusial. Selain menghadapi saingan dari kelompok Abu Hasan, tampilnya Gus Dur untuk ketiga kalinya tidak direstui Presiden Soeharto pada waktu itu. Akibatnya secara kelembagaan, PBNU tidak pernah diterima presiden. Pada waktu itu sudh terlanjur membudaya setiap pengurus baru sebuah organisasi selalu sowan presiden.
Sejarah perjalanan Gus Dur tidak gampang dirumuskan. Dan tidak sederhana memprediksi kemana arahnya. Namun, dia telah membuat 220 juta manusia Indonesia mengerutkan dahi. Banyak analisis yang bisa menyesatkan jalan pikiran. Terutama manuver-manuvernya yang menggelinding cepat dan menentang arus. Yang bisa diyakini hanyalh, “Gerak langkah Gus Dur punya ari filosofi tinggi.”
Ketika Gus Dur bertemu Habibie, Wiranto dn Soeharto, maka Amien Rais menck-mencak. Ketika menuduh dalang kerusuhan Tasikmalaya, Situbondo dan pembantaian dukun santet Banyuwangi dengan inisial ES, Eggy Sudjana kebakaran jengkot. Ketika mengkritik ICMI, giliran konspirasi Habibie marah. Dari Ahmad Tirtosudiro, Dawan Raharjo sampai Ahmad Sumargono (KISDI) tersinggung.
Mungkin itu cara Gus Dur memancing siapa lawan dan kawan yang sebenarnya. Siapa yang harus dihadapi sekarang? Siapa yang menjegal program dan strateginya? Dengan begitu Gus Dur bisa melihat secara transparan lawan-lawan politiknya.
Pad tahun 1990, ketika Soeharto berkuasa, KH Abdurrahman Wahid memasang posisi diametral. Berkali-kali dia melontarkan pernyataan yang berani. Contohnya, pada bagian buku “A Nation in Waiting”, Indonesia in the 1990 yang ditulis Adam Schwarz. Menurut penulis yang mewawancarai pada Maret 1992, Gus Dur melontarkan kata-kata melecehkan Soeharto. Gus Dur juga menuduh, “Soeharto tak ingin melihat orang lain yang berada di luar kontrolnya menjadi kuat.” Meskipun demikian, dia termasuk orang yang berani menemani Pak Harto setelah lengser dari kursi kepresidenannya. Saat itu Pak Harto dan keluarganya sedang dihujat dan dicaci maki. Namun Gus Dur justru mendatanginya.
Dia pernah menyebut ICMI sebagai wadah eksklusif umat Islam militan yang mengibarkan bendera untuk menghadapi non-muslim, bahkan untuk mendirikan negara Islam. Cucu pendiri NU itu merasa khawatir, ICMI akan berubah jadi Masyumi baru. ICMI dipenuhi orang-orang ambisius yang ingin meloncat ke posisi berpengaruh. ICMI sebagai alat politik pemerintah. Karena itulah, dia kemudian membentuk Forum Demokrasi (fordem) yang beranggotakan tokoh-tokoh Indonesia, termasuk kalangan non-muslim. Disebut-sebut, LB Moerdani dn tokoh-tokoh Katolik juga sering terlibat dalam diskusi yang digelar forum tersebut.
Gus Dur juga termasuk yang paling gencar mengecam program-program “pemberdayaan” ekonomi ICMI, yang dinilai cenderung memusuhi etnis Cina. Bagi dia, pemberdayaan ekonomi umat Islam itu bisa ditempuh justru melalui jalinan kerjasama dengan etnis Cina yang memang merajai perekonomian Indonesia. Maka, terbnetuklah program BPR (Bank Perkreditan Rakyat) Nusumma, program kongsi NU dengan Bank Summa. Nah, ketika rogram BPR yang direncanakan sedikitnya 2.000 buah pada pertengahan 1990 itu tidak berkembang, menyusul kebangkrutan Bank Summa, Gus Dur menuduh Soeharto-lah yang sengaja menghambat rencana besarnya itu.
Pertengahan 1994, Gus Dur menyerukan agar warga NU yang kecewa pada PPP dan Golkar agar beralih mendukung PDI pada Pemilu 1997. Pada saat Muktamar ke-29 di Cipasung, sebagian kyai mempersoalkan kunjungan Gus Dur ke Israel. Apalagi dalam kunjungan itu dia memuji-muji negeri kaum Yahudi itu. Bahkan dia mengatakan, Indonesia harus belajar demokratis dari bangsa yang di Al Qur’an disebut selalu memusuhi Islam tersebut.
Gus Dur pernah mengganti kalimat Assalamualaikum menjadi selamat pagi. Inilah yang membut konroversi di kalangan umat. Lalu melalui buku “Nahdlatul Ulama, tradisional Islam and Modernity in Indonesia”, Gus Dur menentang pelarangan pemerintah terhadap peredaran buku “The Satanic Verses” karya Salman Rusdhie.
Putra mantan Menteri Agama KH Wahid Hasyim ini juga menentang pembredelan tabloit Monitor yang dianggap menghina Nabi Muhammad SAW. Dia juga menghadiri acara-acara gereja Kristen dan menjalin hubungan dekat dengan intelektual atau usahawan Kristen maupun Cina. Fenomena membingungkan yang melekat pada diri Gus Dur juga tampak menjelang Pemilu 1997 lalu. Jauh-jauh sebelum pemilu digelar, Gus Dur terlihat sangat mesra bahkan terkesan runtang-runtung dengan putri sulung Soeharto, Siti Hardiyanti Rukmana (Mbak Tutut).
Padahal sebelumnya, dia terlihat sangat dekat dengan Megawati. “Mbak tutut itu tokoh masa depan,” tutur Gus Dur enteng di sela-sela Mujahadah Kubro di Lapangan Pancasila Semarang. Konon, kesraan dengan Mbak Tutut itu merupakan salah satu langkah dia mendekati pemerintah. Tapi ada yang menilai, justru Mbak tutut yang ingin menarik kekuatan NU ke Golkar. 23 Juli 1998 usai deklarasi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Gus Dur menghimbau agar seluruh warga NU mencoblos partai ini dalam pemilu Juni 1999. Kenyataannya PKB hanya meraih suara 10,20 persen atau 51 kursi di DPR RI. Partainya menempati urutan keempat setelah PPP.
BIODATA GUS DUR
N a m a : KH Abdurrahman Wahid
Agama : Islam
Lahir : Jombang, 4 Agustus 1940
Istri : Dra. Hj. Siti Nuriyah
Anak : 4 orang
Jabatan : Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama 1984 – 1989, 1989 – 1994, 1999 – sekarang
Pendidikan :
- SD, Jakarta (1953)
- SMEP, Yogyakarta (1956)
- Pesantren Tambak Beras, Jombang (1956 – 1963)
- Department of Higher Islamic and Arabic Studies, Universitas Al Azhar, Kairo
Pengalaman Kerja :
- Di Belanda (8 bulan) dan Jerman (4 bulan)
- Guru Madrasah Mu’alimat Tambak Beras Jombang (1956 – 1963)
- Dosen dan Dekan Fakultas Usluhuddin Universitas ‘Hasyim Azhari” Jombang (1972 – 1974)
- Sekretaris Pesantren Tebuireng, Jombang (1974 – 1979)
- Konsultan di berbagai lembaga dan departemen (1976)
- Pengasuh Pondok Pesantren Ciganjur (1979 – sekarang)
- Katib Aam Syuriah Nahdlatul Ulama (1979 – 1984)
- Anggota MPR RI Golkar (1987 – 1992)
- Ketua Tarfidziah PBNU (1984 – 1999)
Kegiatan lain :
- Ketua DPH Dewan Kesenian jakarta (1983 – 1985)
- Juru Festival Film Indonesia.
- Ketua Kelompok Kerja forum Demokrasi (1991 – sekarang)
- Ketua Dewan Internasional Konferensi Dunia bagi Agama dan Perdamaian (1994)
Penghargaan :
- Bintang Tanda Jasa Kelas I dalam bidang Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Islam dari Pemerintah Mesir (1992)
- Ramon Magsaysay, filipina (1993)